Serba serbi mengelola perilaku guru

“iya..tapi kan mereka guru yang semestinya…………….!”

Saat saya membuat tulisan ini terkenang diskusi dengan beberapa rekan yang mengelola atau menjadi pemilik yayasan sebuah sekolah, bahwa sulit sekali mengatur guru. Sebagai individu profesional sudah selayaknya guru mudah dan menerima untuk diatur. Walaupun demikian memang satu kaki profesi guru ada pada level yang dianggap ‘mumpuni’. Sehingga sebelum manajemen sebuah sekolah ingin mengatur,  belum-belum para pengelola itu akan berkata, “iya..tapi kan mereka guru yang semestinya…………….!”

Guru juga manusia, mereka perlu diingatkan jika salah, senang dipuji, dihargai dan dilihat usahanya untuk jadi yang terbaik semampu mereka.

Guru apakah karyawan atau pendidik?

jawaban saya dua-duanya. Pada lingkungan  pekerjaan yang membutuhkan kompetensi dan presisi tinggi seperti di pabrik, seorang karyawan yang salah atau keliru dalam bekerja akan langsung mendapatkan sangsi dan hukuman. Sementara di sekolah? saya yakin hal tadi tidak akan terjadi.

Dunia sekolah adalah lingkungan dimana setiap individu berlomba menjadi contoh yang baik. Kepala sekolah memperlakukan guru dengan hormat, sebagai mitra kerja dan cenderung selalu berprasangka baik sambil terus dibina potensinya. Karena seperti itulah sekolah melalui kepala sekolah berharap agar guru melakukan hal yang sama pada siswanya. Bayangkan jika hal itu terjadi, di sekolah akan terbentuk budaya positif dan saling menghargai.

“Tapi kan di setiap sekolah selalu ada guru yang bandel dan keras kepala?”

Untuk tipe guru seperti itu sekolah mesti punya proteksi perlindungan atas kebijakan yang dilakukannya. Hindari menegur guru atas kesalahan yang dilakukan jika tidak ada hitam di atas putih peraturan yang mengatakan bahwa perbuatannya adalah salah. Proteksi bagi sekolah yang saya maksud adalah

  • Buku kode etik guru. tiap sekolah mesti punya buku ini mengatur semuanya sampai berapa harga atau jumlah pemberian hadiah yang ditolerir dari orang tua kepada guru
  • kebijakan cara bergaul dan bersikap di sekolah, terdiri dari pakaian (seragam) apa yang pantas dikenakan, cara bersikap, cara berkata dan cara berhubungan dengan orang tua murid.
  • dihimbau lewat rapat besar. libatkan divisi HRD, tidak mesti yayasan atau kepala sekolah yang bicara, HRD juga mesti dilibatkan
  • visi misi sekolah yang ditempel dimana-mana. Visi misi sangat penting untuk terlihat dan dilihat guru.

Saat menegur guru lakukan hal dibawah ini

  • fokus pada apa yang sudah baik dan dilaksanakan oleh guru
  • sering-sering berbicara dan komunikasi merata pada semua guru, dijenguk bila sakit dan di’manusiakan’, sehingga bila ditegur ia akan merasa seorang teman yang sedang memberitahu bukan atasan yang mencari kesalahan.
  • duduk berdampingan saat menegur bila ingin dilakukan di kantor tertutup. Hindari atasan duduk di seberang meja guru akan merasa diintimidasi
  • saat menegur tempatnya tidak mesti di kantor tertutup bisa juga di lorong sekolah saat ada acara (disela-sela), atau setelah sholat bersama jika muslim.

Jika anda adalah koordinator guru, kepala sekolah atau pengelola yayasan saatnya posisikan diri sebagai mitra. Dijamin banyak masalah perilaku guru yang akan di selesaikan, apalagi jika guru melihat usaha sekolah untuk secara jujur terbuka dan transparan meningkatkan kesejahteraan guru-guru yang menjadi tanggung jawabnya. Sejahtera bukan berarti banyak, ia juga bisa berarti kepastian dan penghargaaan.

Jadi selamat mengelola guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s