Ananta Bangun.net: Ke Labuhanbatu, Melabuhkan Asa Bangsa

anantabangun.net |by Ananta Bangun on October 16, 2012
image
backdrop seminar

Bila tak gegas mengetahui geliat perubahan di Labuhanbatu, daerah-daerah lain mungkin terjingkat kaget jika tiga kabupaten yang lekat dengan perkebunan kelapa sawit ini berpotensi menyandang gelar baru. Ketiganya (Labuhanbatu Induk, Labuhanbatu Utara, dan Labuhanbatu Selatan) berpeluang menjadi teladan pendidikan baru. Detak perubahan tersebut tampak dari antusiasme guru-guru setempat melibatkan diri dalam gebrakan baru bagi pendidikan nasional. Dalam satu seminar pendidikan nasional di Asrama Haji Rantauprapat (pada 13 Oktober lalu), gebrakan tersebut diperkenalkan sebagai program TCDP (Teacher’s Competency Development Program).
Seminar tersebut merupakan satu dari empat program utama yang terangkum dalam TCDP. Dimana, inti dari TCDP ini merupakan upaya mengembangkan kompetensi guru-guru di Indonesia. Mengingat pencetus dan pengembang TCDP merupakan Djalaluddin Pane Foundation (DPF) berasal dari Sumatera Utara. Maka, sasaran perdana TCDP ialah provinsi Sumatera Utara sendiri.
Dengan tema “Indonesia Terdidik Berlandas TIK”, seminar ini digelar sebagai penggugah atas pola fikir lama para guru dalam menguasai TIK untuk pengajaran. Beragam kilah telah tercetus untuk menghindari undangan pelatihan TIK. Sehingga mencuatkan anekdot sederhana ini. Cecep: Cip, mengapa tidak turut serta dalam program pelatihan TIK ini | Cicip: Ah, saya terlalu banyak kekurangan, bang | Cecep: Aih, siapa bilang? Kamu hanya punya satu kekurangan | Cicip: Oh, apa itu, bang? | Cecep: Tidak punya kelebihan.
imagelogo program TCDP
Mengingat pencetus dan pengembang TCDP merupakan Djalaluddin Pane Foundation (DPF) berasal dari Sumatera Utara. Maka, sasaran perdana TCDP ialah provinsi Sumatera Utara sendiri. Sedikit mengerling sejarahnya, DPF merupakan warisan nilai kemanusiaan dari (alm.) Djalaluddin Pane — mantan Bupati Labuhanbatu sebelum dimekarkan menjadi tiga pemerintahan daerah. Program pengembangan kompetensi bagi guru ini ialah  gebrakan baru daripada program bantuan langsung tunai bagi masyarakat. Tindak “memberi ikan” tersebut membuai kemandirian para penerima donor langsung. Musti “diberi (nilai) umpan” agar dapat membangun masyarakat dari keterpurukan ekonomi. Harapan beliau inilah yang kemudian menghantar digelarnya seminar di atas.
Guru: Pengajar yang senang belajar
imagemas Agus Sampurno | gurukreatif,wordpress.com
Karena seminar ini ditujukan bagi guru, sebuah kewajaran pembicara utamanya berasal dari kalangan guru juga, yakni Agus Sampurno. Ia dinilai tepat mempertimbangkan rekam jejak prestasinya sebagai guru yang memberdayakan TIK dalam pengajaran. Pantas bila Acer mengangkatnya sebagai jawara kompetisi Guru Era Baru (Guraru) tahun 2011 lalu.
Sebagai penggugah, Sampurno menampilkan ilustrasi unik: menggambarkan seorang siswi yang tertidur dengan kepala di atas meja belajar. Menurutnya, gambaran tersebut merupakan hasil akhir yang kerap ditemukan dalam lingkungan belajar-mengajar oleh para guru yang enggan belajar. Dalam konteks ini, ia menyayangkan beberapa paradigma negatif yang menghantui fikiran para guru untuk mengadaptasikan TIK dalam budaya belajar-mengajarnya. “Bila dibuat perbandingannya dengan budaya belajar generasi muda terhadap TIK, adalah sebagai berikut: Guru takut salah, senang menghitung untung ruginya menggunakan teknologi, Siswa tidak takut salah dan mau mencoba, Siswa anggap teknologi adalah kesenangan.” Keengganan belajar ini, di sisi lain, turut mendorong budaya Internet tidak sehat bagi pelajar.
imagemas Nugraha ‘Idhan’ Romadhan (Ketua DPF) Ketua DPF, Nugraha
Romadhan meneguhkan semangat DPF yang dipusatkan bagi para guru dilandasi beberapa alasan kuat. Diantaranya, fakta bahwa guru merupakan sosok yang paling berpengaruh membentuk kompetensi pendidikan dan mentalitas SDM Indonesia. Para guru merupakan sosok yang paling kerap bersentuhan dengan generasi muda (pelajar) mengingat perannya sebagai fasilitator pendidikan yang diakui. “TCDP, dalam ihwal ini, menggugah cara guru memfasilitasi muridnya untuk menggali pengetahuan sedalam mungkin,” ia menjelaskan. “Dan perlu juga pembaharuan pola fikir agar teknologi yang kita miliki hendaknya bersumbangsih baik untuk pendidikan dan kesejahteraan ekonomi.”
Menurut Romadhan, TCDP dirancang bernas dan berfaedah dengan empat kegiatan utama: Seminar (digelar pada 13 Oktober 2012 lalu di Rantauprapat) yang bertujuan untuk mengundang dan memotivasi guru untuk ikut dalam Pelatihan TIK (sudah mencapai 7 angkatan alumni pelatihan) selama 3 hari, usai sesi pelatihan para alumni tetap dipantau dan didukung dengan Pendampingan (akan digelar tanggal 14 Oktober 2012 hingga 22 Desember 2012) yang akan berlangsung selama 10 minggu. Puncak pengukuhan prestasi guru dalam TCDP akan ditantang dalam Kontes presentasi karya para alumni pelatihan (akan dinilai dan diumumkan pemenangnya pada akhir pekan Desember 2012).
image
saya mengajak peserta dalam permainan ‘gajah – semut’
Mewakili Armada Trainer TIK (AT-TIK), saya juga memaparkan peranan AT-TIK sebagai mitra DPF dalam pelaksanaan program DPF di lapangan. Amanah yang telah dipercayakan sejak Mei 2012 lalu. TCDP merupakan jembatan yang mempertemukan visi AT-TIK sebagai wadah semangat dan harapan untuk berbagi pengetahuan bagi insani Indonesia. Para relawan AT-TIK ialah para praktisi pendidikan dan TIK dengan beragam latar belakang. Ada yang telah lama bergelut sebagai pengajar, ada yang masih berkutat sebagai mahasiswa, pengusaha maupun penggiat sosial media.
Dengan peta pelaksanaan TCDP yang sederhana dan tepat guna, guru kini memiliki sahabat relawan yang mendukung peningkatan kompetensinya. Utamanya, para guru di Labuhanbatu sendiri dengan semangat dan langkah cepat menguasai TIK bagi pendidikan. Sehingga, gelar kabupaten pendidikan se-Sumatera Utara ialah pencapaian yang akan melabuhkan asa bangsa Indonesia ke jenjang lebih tinggi. Menyongsong Indonesia sebagai pilar kebangkitan Asia. Diam-diam benak saya mengamini.

—- Tulisan ini merupakan buah pendapat yang terbit usai pelaksanaan Seminar Pendidikan Nasional: Indonesia Terdidik Berlandas TIK, pada tanggal 13 Oktober 2012 lalu. Bertempat di Aula Asrama Haji Rantauprapat, Labuhanbatu.

One thought on “Ananta Bangun.net: Ke Labuhanbatu, Melabuhkan Asa Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s