Tipe-tipe guru saat bersentuhan dengan administrasi

Entah kenapa saya punya merasa punya jiwa pengamat yang baik. Saat berinteraksi dengan sesama guru di sepanjang karir, saya banyak bertemu dengan tipe-tipe guru yang punya banyak pandangan mengenai masalah administrasi. Untuk lebih jelasnya silahkan ikuti hasil pengamatan saya sebagai berikut;

Guru yang merasa dirinya sangat ‘organize’

Tipe guru seperti ini, kehidupan mengajarnya hanya soal administrasi saja. Ukuran pertemanan dengan sesama guru adalah kepada orang yang administrasinya juga bagus. Bagus dalam arti lengkap serta komprehensif, diluar itu ia hanya mau berteman dengan sesama guru yang mengaguminya sebagai guru yang pintar dan cakap dalam soal administrasi.

Cara mengajarnya mungkin bagus namun kurang terasa nuansa mengajar karena ‘kurang dekat’ dengan siswanya serta seperlunya saja dalam bersikap. Jika tipe guru ini menjadi kepala sekolah pun yang ia nilai dari guru bawahannya cuma soal administrasi. Jangan harap guru bawahannya dinilai dan dihargai dari soal kontribusi terhadap sekolah, cara mengajar, atau hubungan antar guru dan kepada orang tua. Baginya guru yang bagus adalah guru yang administrasinya bagus, titik. Padahal administrasi hanya salah satu hal yang menentukan keberhasilan sebagai seorang guru. Ironisnya banyak sekolah yang mengangkat tipe guru seperti ini sebagai kepala sekolah, alih-alih berperan sebagai pemimpin guru yang seperti ini cocoknya cuma menjadi manager. Maklum karena ia  terbiasa saat menjadi guru, yang ia cari adalah restu pemimpin diatasnya, tidak heran yang ia lakukan adalah menyelesaikan tugas administrasi dari bos diatasnya secepat dan sebagus-bagusnya. Soal visi ke depan atau upaya membina bawahan serta memperbaharui system di sekolah atau sederet tugas pemimpin malah jadi pilihan no 16 alias tidak jadi fokus perhatian.

Guru spontan

Guru seperti ini baru memikirkan apa yang akan dilakukan bersama siswa saat sudah ada di depan kelas. Hasilnya sebenarnya mudah ditebak , ceramah lagi ..ceramah lagi atau kerjakan halaman sekian lalu ditinggal pergi sekedar mengisi waktu sampai jam habis. Guru spontan adalah guru yang menganggap masalah administrasi adalah masalah yang bisa dilakukan ‘nanti-nanti’ alias gemar menunda-nunda. Rugi sekali siswa yang dirinya ada di kelas yang diajar oleh tipe guru seperti ini, karena tanpa perencanaan (baca administrasi) guru hanya akan mengajar secara menarik jika suasana hatinya sedang enak atau saat sedang senang. Sebaliknya jika suasana hatinya sedang gundah, tingkah laku murid yang berbuat salah sedikit saja akan membuatnya murka dan marah besar. Maklum mengajar tanpa administrasi seperti nakhoda berlayar tanpa kompas.

Guru buat apa?

Buat apa? Itu pertanyaan pertama kali saat guru tipe seperti ini ditanyakan mengenai pendapatnya soal administrasi. Saat ditanya soal administrasi hal yang akan jadi jawabannya malah tidak nyambung. Seperti misalnya lama waktu ia sudah mengajar, untuk membuktikan bahwa ia hapal semua bahan ajar sampai masalah klasik ‘tidak punya waktu’. Untuk pemimpin atau kepala sekolah, tipe guru seperti ini bagaikan duri dalam daging karena sulit diajak berubah. Apalagi jika kepala sekolahnya tipe kepala sekolah yang terobsesi dengan administrasi, dipastikan kepala sekolahnya akan pusing tujuh keliling. Guru seperti ini gemar berkunjung ke internet untuk mencari contoh RPP dan silabus, bukan untuk dipelajari namun untuk di kopi paste mentah-mentah, hanya untuk mengejar target karena sudah dipaksa-paksa dari jauh hari oleh atasannya demi akreditasi misalnya.

Guru yang cinta pada profesi mengajar

Guru tipe ini mungkin bukan seorang yang suka pada tumpukan kertas menggunung. Ia juga bukan tipe guru yang hidupnya jadi tidak enak atau tidak bisa tidur karena belum membuat RPP. Hal yang ia lakukan adalah berkomitmen pada dirinya sendiri, bahwa dirinya sudah memilih profesi mengajar sebagai pilihan hidupnya maka yang ia lakukan adalah mencari cara dan strategi bukannya malah lari dari kewajiban untuk membuat administrasi. Jika administrasinya banyak ia akan cari cara untuk mencicil dan mengerjakan semuanya sedikit-sedikit. Daripada ngobrol ngalor ngidul diruang guru lebih baik ia kerjakan administrasinya sedikit-sedikit. Ia akan lakukan cara yang cerdas misalnya menggunakan headphone saat bekerja di ruang guru supaya tidak diajak nggosip misalnya, atau kerja diruang lain yang sepi supaya tidak diganggu. 30 menit saja tiap hari sudah membuat pekerjaannya beres diakhir semester saat ada pengawas atau kepala sekolah menagih. Ia juga tidak akan lihat siapa yang menagih atau cara orang lain menagih RPP nya karena ia sadar administrasi adalah kewajibannya sebagai guru. Ia sadar bahwa tanpa administrasi pun ia sudah mengajar dengan baik, dan akan lebih baik dan mudah lagi jika ia tertib administrasi.

Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s