Guru Indonesia, Mari Ikuti Acer Guraru Award 2012!

Guraru,

Setahun sudah berlalu sejak pelaksanaan Acer Guraru Award 2011. Tahun ini kami kembali menyelenggarakan Acer Guraru Award.

Apakah Anda guru yang gemar nge-blog atau mengenal blog yang dikelola oleh seorang guru?

Jika ya, ini saatnya menominasikan blog-blog tersebut untuk Acer Guraru Award 2012!

Acer

Guraru Award adalah penghargaan tahunan dari Acer Indonesia untuk para Guru Era Baru yang secara konsisten mengoptimalkan penggunaan blog dan media sosial untuk berbagi seputar pendidikan serta memanfaatkannya untuk berinteraksi dengan murid dan audiens yang lebih luas. Tak hanya itu, guru tersebut juga mendorong penggunaan blog dan media sosial secara positif.

Akan dipilih 1 guru penerima Acer Guraru Award 2012 yang berhak mendapat 1 unit ultrabook Acer Aspire M5, sertifikat, serta uang tunai sebesar Rp. 6.000.000,- Selain itu, Dewan Juri juga akan memilih 2 orang guru penerima penghargaan khusus yang masing-masing berhak mendapat 1 unit ultrabook Acer Aspire M5 dan uang tunai sebesar Rp.3.000.000,-.

Guru Era Baru terpilih akan mendapat kesempatan berbagi pengetahuannya seputar pendidikan melalui berbagi kegiatan Acer Guraru, baik secara online maupun offline (seminar dan workshop).

Untuk keterangan lebih lengkap, silakan klik Guraru Award 2012 dan daftarkan blog andalan Anda.

 

Guru Indonesia, Mari Ikuti Acer Guraru Award 2012!

Beberapa kesalahan yang dilakukan guru saat di awal tahun ajaran baru

Di tahun ajaran baru adalah saat yang tepat untuk menjadi sesorang yang bersemangat. Ada guru yang semangat karena akan bertemu dengan muridnya yang sama sekali baru atau murid yang bersemangat karena akan bertemu dengan teman baru atau teman yang lama tidak bertemu karena liburan. Saking antusiasnya guru menjadi lalai dalam meneguhkan sendi-sendi yang penting dalam membuat satu tahun ajaran menjadi tahun ajaran yang sukses dan bermakna. Sukses yang saya maksud adalah kelas menjadi tempat dimana guru dan siswa menjadi dua individu yang bahu membahu dalam membuat suasana menjadi kondusif untuk digunakan sebagai tempat belajar mengajar.

Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang biasa dilakukan guru di saat tahun ajaran baru.

– Langsung mengajar dan memberikan materi padahal murid masih belum siap menerima pembelajaran
Jika guru memilih untuk langsung memberikan materi pelajaran pada siswa di hari-hari pertama berarti ia melupakan bahwa di minggu pertama baik siswa dan guru ada dalam tahap penjajakan satu sama lain.
– Melupakan sikap tubuh dan cara bersikap di minggu pertama. Bagaimana cara guru menyapa muridnya sangat berpengaruh pada pola hubungan antara keduanya. Sapalah murid di pintu kelas semenjak di hari pertama dan seterusnya. Tampilkan sikap tubuh dan bahasa lisan yang positif sambil terus keduanya dijadikan kebiasaan yang baik selama satu tahun ajaran.
– Melewatkan kesempatan emas untuk membangun ‘budaya’ di kelas. Membangun budaya erat kaitannya dengan membangun kebiasaan yang baik. Kebiasaan yang baik di kelas bisa meliputi menghargai orang yang sedang bicara, memanggil dengan sebutan yang baik, menjaga volume suara selama di dalam kelas sampai kebiasaan untuk selalu menghasilkan yang terbaik dan tepat waktu.
– Enggan mencari dukungan professional yang siap membantu kapan saja jika dibutuhkan. Jaman sebelum ada twitter dan facebook guru senior jadi andalan dalam mencari pengetahuan. Sekarang tinggal klik anda bisa tanya hal apa saja di twitter pada sesama guru. Saat yang sama jika anda punya facebook dan tergabung pada salh satu komunitas guru anda bisa ikut diskusi dan bertanya mengenai isu terkini dalam dunia pendidikan.

Tipe-tipe guru saat bersentuhan dengan administrasi

Entah kenapa saya punya merasa punya jiwa pengamat yang baik. Saat berinteraksi dengan sesama guru di sepanjang karir, saya banyak bertemu dengan tipe-tipe guru yang punya banyak pandangan mengenai masalah administrasi. Untuk lebih jelasnya silahkan ikuti hasil pengamatan saya sebagai berikut;

Guru yang merasa dirinya sangat ‘organize’

Tipe guru seperti ini, kehidupan mengajarnya hanya soal administrasi saja. Ukuran pertemanan dengan sesama guru adalah kepada orang yang administrasinya juga bagus. Bagus dalam arti lengkap serta komprehensif, diluar itu ia hanya mau berteman dengan sesama guru yang mengaguminya sebagai guru yang pintar dan cakap dalam soal administrasi.

Cara mengajarnya mungkin bagus namun kurang terasa nuansa mengajar karena ‘kurang dekat’ dengan siswanya serta seperlunya saja dalam bersikap. Jika tipe guru ini menjadi kepala sekolah pun yang ia nilai dari guru bawahannya cuma soal administrasi. Jangan harap guru bawahannya dinilai dan dihargai dari soal kontribusi terhadap sekolah, cara mengajar, atau hubungan antar guru dan kepada orang tua. Baginya guru yang bagus adalah guru yang administrasinya bagus, titik. Padahal administrasi hanya salah satu hal yang menentukan keberhasilan sebagai seorang guru. Ironisnya banyak sekolah yang mengangkat tipe guru seperti ini sebagai kepala sekolah, alih-alih berperan sebagai pemimpin guru yang seperti ini cocoknya cuma menjadi manager. Maklum karena ia  terbiasa saat menjadi guru, yang ia cari adalah restu pemimpin diatasnya, tidak heran yang ia lakukan adalah menyelesaikan tugas administrasi dari bos diatasnya secepat dan sebagus-bagusnya. Soal visi ke depan atau upaya membina bawahan serta memperbaharui system di sekolah atau sederet tugas pemimpin malah jadi pilihan no 16 alias tidak jadi fokus perhatian.

Guru spontan

Guru seperti ini baru memikirkan apa yang akan dilakukan bersama siswa saat sudah ada di depan kelas. Hasilnya sebenarnya mudah ditebak , ceramah lagi ..ceramah lagi atau kerjakan halaman sekian lalu ditinggal pergi sekedar mengisi waktu sampai jam habis. Guru spontan adalah guru yang menganggap masalah administrasi adalah masalah yang bisa dilakukan ‘nanti-nanti’ alias gemar menunda-nunda. Rugi sekali siswa yang dirinya ada di kelas yang diajar oleh tipe guru seperti ini, karena tanpa perencanaan (baca administrasi) guru hanya akan mengajar secara menarik jika suasana hatinya sedang enak atau saat sedang senang. Sebaliknya jika suasana hatinya sedang gundah, tingkah laku murid yang berbuat salah sedikit saja akan membuatnya murka dan marah besar. Maklum mengajar tanpa administrasi seperti nakhoda berlayar tanpa kompas.

Guru buat apa?

Buat apa? Itu pertanyaan pertama kali saat guru tipe seperti ini ditanyakan mengenai pendapatnya soal administrasi. Saat ditanya soal administrasi hal yang akan jadi jawabannya malah tidak nyambung. Seperti misalnya lama waktu ia sudah mengajar, untuk membuktikan bahwa ia hapal semua bahan ajar sampai masalah klasik ‘tidak punya waktu’. Untuk pemimpin atau kepala sekolah, tipe guru seperti ini bagaikan duri dalam daging karena sulit diajak berubah. Apalagi jika kepala sekolahnya tipe kepala sekolah yang terobsesi dengan administrasi, dipastikan kepala sekolahnya akan pusing tujuh keliling. Guru seperti ini gemar berkunjung ke internet untuk mencari contoh RPP dan silabus, bukan untuk dipelajari namun untuk di kopi paste mentah-mentah, hanya untuk mengejar target karena sudah dipaksa-paksa dari jauh hari oleh atasannya demi akreditasi misalnya.

Guru yang cinta pada profesi mengajar

Guru tipe ini mungkin bukan seorang yang suka pada tumpukan kertas menggunung. Ia juga bukan tipe guru yang hidupnya jadi tidak enak atau tidak bisa tidur karena belum membuat RPP. Hal yang ia lakukan adalah berkomitmen pada dirinya sendiri, bahwa dirinya sudah memilih profesi mengajar sebagai pilihan hidupnya maka yang ia lakukan adalah mencari cara dan strategi bukannya malah lari dari kewajiban untuk membuat administrasi. Jika administrasinya banyak ia akan cari cara untuk mencicil dan mengerjakan semuanya sedikit-sedikit. Daripada ngobrol ngalor ngidul diruang guru lebih baik ia kerjakan administrasinya sedikit-sedikit. Ia akan lakukan cara yang cerdas misalnya menggunakan headphone saat bekerja di ruang guru supaya tidak diajak nggosip misalnya, atau kerja diruang lain yang sepi supaya tidak diganggu. 30 menit saja tiap hari sudah membuat pekerjaannya beres diakhir semester saat ada pengawas atau kepala sekolah menagih. Ia juga tidak akan lihat siapa yang menagih atau cara orang lain menagih RPP nya karena ia sadar administrasi adalah kewajibannya sebagai guru. Ia sadar bahwa tanpa administrasi pun ia sudah mengajar dengan baik, dan akan lebih baik dan mudah lagi jika ia tertib administrasi.

Guru dan Administrasi, Memberatkan atau Saling Melengkapi?

Guru dan administrasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, keduanya saling mendukung dan saling memfasilitasi. Saat di PLPG saya mendengar celetukan rekan guru yang mengatakan bahwa jika guru hanya mengurus administrasi terus maka kapan mengajarnya? Rupanya bagi guru tersebut administrasi adalah RPP dan silabus kegiatan membuat membuatnya adalah sebuah hal yang menyita tenaga waktu bahkan menyita suasana hati.

Sekarang apa sih yang dimaksud administrasi buat seorang guru? Ada beberapa jawaban yang akan muncul, sepanjang pengalaman saya mengajar, kata administrasi menurut seorang guru adalah sebagai berikut;

 

·      Semua yang berhubungan dengan kertas-kertas bertumpuk dan ada deadline nya

·      Semua yang nantinya akan diperiksa oleh kepala sekolah atau pengawas

·      Dokumen pekerjaan siswa yang mesti diperiksa

·      Semua yang berhubungan dengan akreditasi sekolah

·      Semua yang berbau RPP dan silabus

·      Semua yang membuat guru tidak bisa tidur dan tidak enak makan dalam memikirkannya

·      Raport siswa yang mesti diisi

 

Nah semua informasi di atas adalah menurut saya dan bagaimana menurut anda.? Yuk sama-sama berbagi menurut anda apa yang disebut sebagai administrasi bagi seorang guru.

Agus Sampurno di Majalah Ayahbunda

1.    Saat ini, menurut Anda, Anda adalah ayah yang bagaimana di mata anak? Jelaskan!

Menurut saya dimata anak, saya adalah profil ayah yang pengertian dan berusaha selalu mau mendengar apapun cerita mereka mengenai hari-hari yang mereka lalui. Dari komentar mereka saya pernah mendengar bahwa saya adalah ayah yang lucu dan senang tertawa bersama mereka.

2.    Parenting style Anda dalam 3 kata dan jelaskan alasannya!

Love, respect and understand. Kata –kata tersebut adalah cara saya untuk berusaha selalu memposisikan diri sebagai orang tua yang senang jika ada hal pencapaian (sekecil apapun) dari mereka. Karena saya mempunyai 3 orang anak, yang hampir berdekatan usianya, saya banyak menjelaskan ari kata dicintai dan mencintai sambil membuktikan bahwa bagi saya semua anak spesial dimata saya.

3.    Apa yang Anda lakukan bila sedang berdua saja/hanya bersama anak?

Jelaskan! Biasanya saya bercerita mengenai masa kecil atau hal-hal yang saya lakukan dalam keseharian pekerjaan saya. Saya juga banyak memberitahukan mimpi-mimpi saya kepada mereka. Saat menjelaskan mimpi saya katakan jika seseorang berusaha sambil terus fokus maka impiannya akan tercapai.

4.    Kalau tidak sempat bertemu dengan anak dan keluarga karena sibuk, apa yang biasa dilakukan untuk mengobati rasa kangen? Jelaskan!

Jika terlalu sibuk saya akan menelepon segera setelah saya mendapatkan waktu untuk berbicara dengan mereka, menanyakan kabar sekaligus bertanya hal apa yang dilakukan hari ini. Hal yang saya sering saya tanyakan juga adalah ‘bagaimana perasaan mereka hari ini’. Jika berencana pergi agak panjang untuk urusan pekerjaan, jauh-jau hari saya sudah katakan apa yang saya lakukan di luar rumah sambil jelaskan apa kontribusi saya pada masyarakat dengan kegiatan yang saya lakukan.

Lanjutkan membaca “Agus Sampurno di Majalah Ayahbunda”