Guru – Murid di Social Media, Sebaiknya Bagaimana?

Sebagian dari para guru tentu sudah aktif di social media (Twitter & Facebook) dan juga terkoneksi dengan para siswa di channel2 tsb. Sejauh mana sebaiknya hubungan guru-siswa di social media? Apakah menempatkan diri sebagai teman atau masih menjaga ketat peran sebagai guru yg berhak mengingatkan? Sebagai contoh bila kita melihat siswa berkata kotor/marah-marah di status Facebook, apa yg sebaiknya dilakukan… Mengingatkannya via channel tsb atau mengajaknya diskusi secara tatap muka?
Terima kasih.

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan.
Dalam konteks pendidikan, sosial media adalah gambaran kehidupan nyata di kelas. Di kelas situasinya beragam, jika gurunya kaku maka situasi kelas juga akan terasa dingin dan tanpa dialog. Sebaliknya jika situasi kelas demokratis semua pihak bisa memberikan pendapat sepanjang relevan dan guru bersikap tegas tapi ramah. Sosial media hadir menantang kebekuan yang terjadi di kelas-kelas yang diajar oleh seorang guru yang biasa mengajar ‘satu arah’. Padahal semua orang setuju dunia pendidikan itu dinamis dan terus berkembang. Kelas yang gurunya hanya sibuk berceramah dan cenderung satu arah akan terlihat kurang menarik jika dibandingkan dengan gaya komunikasi yang ada di dunia sosial media. Uniknya menghadapi kelas yang Di dunia sosial media semua orang dianggap sama, yang membedakan satu individu dengan individu lainnya adalah kontribusi atau sumbangan pemikiran pada orang lain .

Dalam dunia sosial media sebaiknya guru punya fan page dan tidak langsung berteman dengan siswa di Facebook. Biarkan siswa jadi fan gurunya di facebook. Jika anda sebagai guru sudah terlanjur berteman dengan siswa di FB misalnya, maka konsekuensi untuk mengingatkan siswa terus menerus akan anda terima sebagai konsekuensi. Jika ada murid yang berkata kotor cukup ingatkan saja (langsung atau lewat inbox) bahwa semua yang mereka tuliskan di dunia sosial media tidak akan hilang walaupun sudah dihapus.

Ingatkan juga bahwa di masa depan orang akan melihat rekam jejak seseorang bukan dari surat kelakuan baik yang dikeluarkan oleh kepolisian tetapi dari hasil pencarian lewat google. Lebih baik sarankan siswa untuk isi halaman sosial medianya dengan foto yang menunjukkan pencapaian atau prestasi. untuk anak yang senang seni misalnya minta ia upload gambar atau hasil lukisannya.

Semua hal yang saya sebutkan diatas hanya bisa ditiru siswa jika sebagai guru kita memberikan contoh. Isi facebook kita dengan hal positif dan jauhi berkeluh kesah lewat sosial media.

Posted in Tak Berkategori

4 thoughts on “Guru – Murid di Social Media, Sebaiknya Bagaimana?

  1. Sebaiknya Guru memanfaatkan Social media ini untuk mendukung Pembelajaran, karena kalau tidak pun siswa akan tetap memanfaatkannya. Jadi sekalian mengarahkan pemanfaatan untuk hal-hal positif dan produktif

    1. Benar Pak Bakhrudin, memanfaatkan sosial medi auntuk hal yang positif saat ini memang menjadi tugas semua pendidik. Terima kasih sudah mampir pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s