Resume seminar “Memanfaatkan Film Sebagai Media Pembelajaran” Teater Salihara 26 November 2011 (http://www.kompasiana.com/warnapastel)

 

Sesi 1 : Mengapa memanfaatkan film untuk media pembelajaran?

Pak Agus Sampurno (Pak Agus) memperkenalkan diri. Pak Agus merupakan guru SD di Global International School, dan mengajar dari Senin hingga Jumat. Motonya adalah ‘The world is my classroom, each day is a new lesson and every person I meet is my teacher’

Pak Agus kemudian menjelaskan bahwa ada perbedaan antara siswa sekarang dengan dulu. Siswa sekarang sudah mengenal teknologi di usia yang sangat muda.

Kemudian, Pak Agus mengajarkan guru sebuah strategi manajemen kelas.

“Saya punya salam khas. Kalau saya bilang ‘Hai, hai, hai!’, Bapak Ibu bilang ‘Yes, yes, yes!’, ” kata Pak Agus menjelaskan.

Pak Agus bertanya mengenai bagaimana guru, dulu, meminta kelas untuk diam.

Ada peserta yang menjawab bahwa dulu, guru meminta siswa diam dengan melempar penghapus. Pak Agus menjelaskan bahwa memberikan aba-aba seperti mengucapkan “Hai, hai, hai!” merupakan salah satu cara untuk meminta siswa diam dan memperhatikan tanpa perlu berteriak atau melakukan kekerasan.

Para peserta diajak untuk melakukan kegiatan pair and share. Peserta diminta untuk berkenalan dengan teman di sebelahnya. Secara berpasangan mereka diminta mendiskusikan bagaimana siswa sekarang belajar dibandingkan dengan  di zaman guru dulu belajar. Setelah beberapa menit melakukan diskusi secara berpasangan, beberapa peserta berbagi hasil diskusi mereka. Salah satu contoh hasil diskusi adalah  :

“Beda cara belajar sekarang dan dulu. Dulu belajar dengan suara yang sepi. Seperti makam, tenang. Anak sekarang kalau belajar dengan musik, keras. Ada  walkman [Ipod] di telinga baru belajar. Dulu kita tidak ada internet, sekarang anak-anak sedikit-sedikit carinya di internet. Dan cara guru mengajar berbeda, dulu hanya monoton, sekarang sudah menggunakan IT dengan power point.”

(Asdiyati, Guru SD Pasar Minggu 06 Petang)

Pak Agus merangkum kesimpulan yang didapatkan dari hasil diskusi.Diantaranya adalah bahwa :

– Siswa sekarang bisa belajar hal-hal baru melalui youtube, misalnya belajar gerakan tari tanpa harus les menari.

– Pengaruh luar baik dari internet, televisi, maupun media lainnya tidak bisa dicegah, tetapi siswa bisa diajak berdiskusi mengenai berbagai informasi yang mereka dapatkan sehingga mereka bisa menganalisa media tersebut secara kritis.

– Siswa sekarang sangat akrab dengan teknologi. Dengan mudahnya mereka bisa mengoperasikan handphone, komputer, dan sebagainya. Seringkali mereka belajar mengoperasikan teknologi tersebut tanpa bantuan guru (belajar sendiri).

Pak Agus menjelaskan bahwa teknologi bisa digunakan untuk belajar. Di kelasnya, dia pernah meminta siswanya membuat media untuk melakukan kampanye makanan sehat. Beberapa siswanya membuat video dengan menggunakan handphone (HP). Mereka juga mengeditnya tanpa bantuan guru. Mereka memiliki keterampilan memanfaatkan teknologi dan sebagiknya guru memfasilitasi agar mereka bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk pembelajaran.

Dibandingkan merazia HP, guru bisa mengajak siswa memanfaatkan HP dengan lebih bijaksana, siswa bisa diminta untuk mengamati kalender yang ada di HP-nya dan menggunakannya untuk belajar matematika (mengenai waktu).
Pak Agus menanyakan peserta, “Siapa diantara Bapak Ibu sekalian yang merasa lebih bermakna mengajar setelah menonton Laskar Pelangi?”

Hampir seluruh peserta menunjuk tangan. Guru sendiri bisa belajar dari sebuah film. Anak-anak juga seperti itu, bisa belajar dari mana saja dan bukan hanya dari buku.

 

Pak Agus menjelaskan bahwa di kelasnya, dia baru saja mengundang nenek (dari seorang murid. Nenek ini merupakan saksi sejarah yang pernah ditahan Belanda dan ditempatkan di kamp selama zaman Jepang. Siswa menjadi sangat tertarik untuk belajar sejarah.

“Kalau saya yang cerita mengenai Zaman Jepang maupun Zaman Belanda, gak percaya. Saat mengundang pelaku sejarah, mereka percaya dua kali lipat. Apalagi saat pelaku sejarahnya bisa menunjukkan luka, mereka lebih serius lagi [memperhatikan]. Kalau Pak Agus yang menjelaskan, mereka bilang “Pak Agus baca di buku, aku lihat di internet filmnya!”

Para peserta berdiskusi untuk membahas bagaimana mereka (bisa) memanfaatkan film untuk pembelajaran.

Seorang guru sejarah kelas 9 berkata, “Saya pernah memutar film mengenai perang dunia kedua sampai jatuhnya bom atom. Saya juga pernah memutar mengenai reformasi dan G30SPKI.”

 

Pak Agus mengatakan bahwa melakukan hal seperti itu bisa memancing siswa untuk berpikir kritis, khususnya apabila setelah menonton, dilanjutkan dengan kegiatan diskusi. Siswa berasal dari berbagai latar belakang. Orang-orang dilingkungannya, seperti keluarganya, mungkin punya paradigma sendiri terhadap suatu peristiwa sejarah. Saat diskusi, mereka bisa berbagai mengenai berbagai paradigma yang mereka miliki.

Seorang peserta berkata bahwa dia kesulitan untuk menemukan film-film pembelajaran untuk IPA, kecuali dari Discovery Channel. Peserta lain memberikan masukan mengenai  film-film IPA yang bisa didapatkan di youtube.

Pak Agus mengingatkan bahwa seringkali guru ingin video yang ditampilkan sempurna. Misalnya menjelaskan mengenai ‘atom’ dari A-Z, mulai dari ciri-cirinya, bagaimana atom membelah, dan sebagainya. Terkadang film yang kita temukan tidak selalu selengkap itu. Tetapi guru tetap bisa mengambil cuplikan pendek dari sebuah film untuk membuat siswa tertarik. Saat belajar mengenai atom, siswa bisa diajak untuk melihat  ledakan yang dihasilkan oleh bom atom dari “Hiroshima dan Nagasaki”. Meskipun hanya beberapa menit, siswa menjadi tertarik untuk belajar mengenai atom.

Selain menggunakan film, guru juga bisa menggunakan media lainnya seperti koran. Guru bisa memberikan artikel mengenai bagaimana Iran dimusuhi oleh beberapa negara lain karena membuat reaktor nuklir. Di sisi lain, guru juga bisa memberikan artikel lainnya, misalnya bahwa ada yang menganggap reaktor nuklir digunakan untuk kebaikan umat manusia, menyediakan energi untuk orang banyak. Siswa juga bisa diajak melihat bagaimana alam punya kekuatan, sehingga apa yang didesain oleh manusia, seperti raktor nuklir juga memiliki kemungkinan untuk rusak. Siswa bisa diajak membahas mengenai nuklir dari berbagai sisi.

Sesi 2 : Aplikasi pemanfaatan film sebagai media belajar

Pak Agus menjelaskan mengenai bagaimana teknologi mempengaruhi kehidupan manusia saat ini. Seringkali kita menemui penjual makanan seerti tukang bakso di pinggir jalan yang menggunakan HP untuk berkomunikasi dengan pelanggannya (misalnya untuk memesan makanan). IGI juga memiliki grup facebook dan mailing-list di mana para guru bisa berkomunikasi dan bertukar informasi. Kini juga ada sarana blog yang bisa digunakan untuk menuliskan berbagai hal. Pak Agus sendiri, menggunakan blog untuk berbagi mengenai kegiatan-kegiatannya. Teknologi juga bisa mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat. Serngkali kita melihat orang yang berdekatan sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Teknologi seperti pisau, bisa digunakan untuk hal yang baik maupun sebaliknya.

Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh guru adalah mengajak siswa untuk berkontribusi memproduksi pengetahuan. Mereka bisa meng-upload karya mereka melalui internet agar bisa menjadi sumber belajar bagi orang lain. Siswa bisa diajak membuat video pembelajaran, menulis blog, dan sebagainya.

Memutar Film Panyee Football Club

(http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=jU4oA3kkAWU)

Film Panyee Football Club  adalah sebuah iklan pendek yang merupakan sebuah iklan dari perusahaan telekomunikasi di Thailand. Film ini diangkat dari kisah nyata mengenai sebuah klub sepak bola di sebuah daerah nelayan di Thailand. Di sana tidak ada lahan untuk berlatih bola, sehingga anak-anak yang ingin bermain bola harus membuat lapangan bola sendiri di atas laut. Setiap kali bola keluar dari lapangan, mereka harus berenang untuk mengambil bola. Ini menyebabkan mereka berusaha harus bermain bola sebaik mungkin agar tidak perlu mengambil bola yang jatuh ke laut.  Mereka juga tidak pernah berlatih bola menggunakan sepatu. Saat mereka bertanding bola, mereka menggunakan sepatu bola untuk pertama kalinya. Saat itu lapangan becek sehingga sepatu mereka menjadi basah dan tidak nyamandigunakan. Mereka memutuskan untuk bermain tanpa sepatu. Meskipun saat itu mereka tidak juara satu, pada akhirnya mereka menjadi salah satu klub sepakbola terbaik di Selatan Thailand.

 

Berlatih Mengajukan Pertanyaan

Setelah pemutaran film Panyee Football Club. Para peserta diajak belajar mengajukan pertanyaan yang bisa memancing diskusi di kelas. Beberapa pertanyaan yang diajukan peserta adalah :

– “Apa yang dipikirkan anak-anak tadi agar bisa bermain bola?”

– “Skill apa yang dibutuhkan agar anak-anak bisa main bola di tempat yang terbatas?”

– “Anak-anak apa isi cerita film tersebut? Apa pendapat kalian tentang film itu? Sikap-sikap apa saja yang dimiliki oleh klub tersebut?”

– “Menurut kalian orang tua tadi kenapa menertawakan anak-anak?”

– “Bagaimana caranya anak-anak tersebut membangun lapangan di tengah lautan? Bagaimana cara mereka membawa bahannya? Kenapa tidak tenggelam? Dan sebagainya.”

– “Kira-kira berapa panjang lapangan bola kaki?”

 

Pak Agus mengingatkan bahwa sebagai guru, kita harus siap dengan segala jawaban anak. Di film Panye Football Club  ada adegan di mana orang tua menertawakan anak-anak. Bagi orang dewasa, orang tua tersebut tertawa karena menyepelekan anak-anak, tetapi anak-anak bisa memiliki pikiran yang berbeda. Anak-anak bisa mengatakan bahwa orang tua tersebut tertawa karena ada ada adegan lucu ketika anak-anak bermain bola ataupun hal lainnya.

Selain itu, selain untuk memancing diskusi di kelas, film tersebut bisa juga digunakan untuk memancing anak-anak untuk menulis, membuat ringkasan, menuliskan pendapat mereka mengenai film, dan sebagainya.

Selain untuk memberikan motivasil, film tersebut juga bisa digunakan untuk berbagai pelajaran lain seperti IPA atau matematika. Siswa bisa diajak diskusi mengenai bagaimana caranya membangun lapangan bola di atas laut dan sebagainya.

Permainan Six Thinking Hats

Setelah berlatih bertanya, Pak Agus memperkenalkan permainan Six Thinking Hats (Edward De Bono). Beberapa guru diminta untuk maju ke depan dan memperagakan permainan ‘Six Thinking Hats’.

Masing-masing peserta membayangkan mereka menggunakan topi dengan warna tertentu. Masing-masing topi menyimbolkan sifat tertentu. Yakni :

– Topi putih : senang membicarakan fakta

– Topi kuning : senang membicarakan keunggulan

– Topi hitam : senang membicarakan kelemahan

– Topi merah : senang membicarakan perasaan dan ekspresinya

– Topi hijau : senang membicarakan ide cemerlang, kemungkinan, dan kreatifitas

– Topi biru : senang membicarakan pemikiran-pemikiran yang mendalam dan diperlukan untuk maju dan lebih memahami sesuatu

Peserta yang maju diminta menganalisa film Panyee Football Club menggunakan ‘Six Thinking Hats’.

Agus :

[Topi puti] sesuai film tadi apa fakta dari film tersebut?

Topi putih:

Sepakbola.

Agus :

Apa lagi?

 

Topi putih :

Keadaan alam perairan, lapangan terbatas, ada kompetisi, kalah, juara tiga, ada bonek, diberi seragam, nyeker, alat atau sepatu belum tentu dapat membantu.

Agus :

[Topi kuning],  Apa kekuatan dari film tersebut?

Topi kuning :

Sifat karakter yang baik, tidak putus asa, tidak mudah menyerah.

 

Agus :

[Topi hitam] Apa kekurangan dari film tersebut?

Topi hitam :

Gambar kurang cerah. Bahasanya tidak paham [bahasa Thai]. Kenapa tidak juara satu? Gak ada fotonya waktu mereka juara. Terlalu pendek durasinya. Bukan di Indonesia.

 

Agus:

[Topi merah], bagaimana perasaan dan ekspresi anda?

Topi merah :

Terharu, bangga, terinspirasi, termotivasi.

Agus :
[Topi hijau] apa ide cemerlang yang timbul setelah menonton film ini.

 

Topi hijau :

Membuat lapangan, membuka sepatu, ikut kompetisi meskipun belum pernah bermain di lapangan rumput, membuat klub, kompak.

(Topi biru kesulitan mengemukakan pendapatnya).

Setelah menggunakan ‘Six thinking hats’ untuk menganalisa fil Panyee Football Club, peserta kemudian diminta menganalisa mengenai kamera digital, juga menggunakan ‘Six Thinking Hats’.


Sesi Tanya Jawab dan Sharing

Berikutnya, diadakanlah sesi tanya jawab dan sharing. Para peserta bercerita mengenai pengalamannya memanfaatkan media film untuk pembelajaran. Salah satu sharing dari peserta adalah :

“Di kelas saya, terkadang kami menonton film tapi lebih sering lagi aktivitas anak di kelas. Di SD saya kesulitan untuk materi IPS. Tema di kelas dua dokumen sebagai sumber cerita. Anak mengirimkan email foto keluarga ke guru, buat slide-nya, mereka presentasi, menggunakan foto tersebut, kita rekam. Kemudian Pak Gustaf yang rekam. Setelah itu pertemuan berikut kita putarkan rekaman tersebut sehingga bisa dievaluasi. Kami upload di blog saya. Orang tua bisa melihat, “Oh anak-anak seperti ini pembelajarannya di kelas.” Kita tidak akan kereporan menjawab pertanyaan orang tua. Kalau berupa foto, ada grup BBM kegiatan apapun dishare ke orang tua masing-masing.” (Guru SD Diandaktika, Cinere)

Posted in Tak Berkategori

9 thoughts on “Resume seminar “Memanfaatkan Film Sebagai Media Pembelajaran” Teater Salihara 26 November 2011 (http://www.kompasiana.com/warnapastel)

  1. Sekarang juga bukan lagi hal yang aneh ketika dalam pembelajaran seorang guru memutar film singkat, atau film berdurasi panjang. Tapi bukan hanya sekedar film. Namun, film yang dipertontonkan adalah film yang baik, bermutu, tentunya ada nilai edukasi di dalamnya. Kalau kata pa Agus tadi, menonton bukanlah menjadikan guru malas, akan tetapi ia ingin menjadikan siswanya `paham` dengan cara yang berbeda. Belajar dengan menampilkan sedikit film tentunya sangat menarik sekali untuk siswa-siswa kita, karena mereka saat ini adalah anak-anak jamannya visual. Dengan adanya film singkat pun guru sedikit terbantu untuk menjelaskan suatu materi.

    1. Setuju, guru yang baik akan lakukan banyak cara agar siswanya senang belajar dan menemukan ide baru dalam kehidupannya.
      Terima kasih sudah mampir ya

  2. sekarang guru sangat sejahtra dengan kesengsaraan dibatas moral artinya bahwa,…seperti yang kita lihat para guru honorer swasta misalnya media pembelajaran yang disajikan sangat sesuai dengan kapasitas stantdarnisasi kependidikan. yang saya komentari adalah kesejahtraan guru honorer kesejahtraannya dibawah gaji buruh….. bandingkan maksimal gaji buruh… 30 ribu perhari,….dikali dengan 1 bulan pengahasilannya 900.000,…. guru honorer 750.000 /3bulan….????????? intinya mereka yang jadi buruh itu oleh siapa…..ayo,,,,,,,,?????/!!!!itu kan guru…… secara kolektifnya…. bagai mana mereka dapat berkreasi

    1. Dear Pak Lalu,
      kebijakan guru honorer banyak disorot akhir-akhir ini. Di satu sisi banyak guru yang menjadikannya sebagai terminal peralihan sebelum menjadi guru tetap (pegawai negeri). Permasalahannya kebijakan tiap pemda berbeda sehingga ada guru yang lama sekali baru diangkat.
      Mari kita mensupport terus pemerintah agar menjadikan proses ini tidak terlalu lama dengan demikian semua guru honorer bisa mendapatkan perhatian dan jalan untuk menjadi pegawai tetap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s