Refleksi seminar ‘Movies for Educational Purposes’

View original

rahmilovendutz.blogspot.com

Tak ada guru yang paling hebat selain pengalaman. Guru-guru kita di SD, SMP, SMA, atau bahkan dosen-dosen kita di perkuliahan, seringkali tak memberikan apa yang diberikan oleh sebuah pengalaman. Dari pengalamanlah kita banyak belajar suatu hal yang tak diajarkan.

Seperti halnya hari ini. Alhamdulillah Allah memberikan kesehatan, dan kesempatan untuk ku datang ke Teater Salihara untuk mengikuti seminar Movies For Educational Purposes dan nonton bersama yang diselenggarakan oleh IGI. Tentunya seminar kali ini para pembicaranya adalah Agus Sampurno seorang Guru kreatif, Yadi Sugandi seorang sutradara film Hati Merdeka, dan juga oleh direktur program yaitu Dhitta Puti, yang akrab dipanggil Mba Puti.

Dari mereka hari ini aku belajar, serta sadar, bahwa anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, bahkan SMA jaman sekarang, jaman abad 21 ini, sangatlah berbeda dari anak-anak sekolah jaman abad 20. Dimana dulu each learning selalu teacher center. Selalu guru yang `menyuapi` murid. Selalu guru yang berbicara, bergerak, mencontohkan, dan para siswa hanya duduk manis, melihat, memperhatikan, dan manggut-manggut entah mengerti atau pura-pura mengerti.

Sekarang, di jaman serba teknologi, everything terlihat begitu tergantung dengan teknologi. Lihat, anak-anak SD jaman sekarang, hampir sebagian besar mengenal hp. Bahkan mereka bisa menggunakannya. Hampir sebagian besar anak-anak bangsa kita saat itu tidak lagi buta dengan teknologi. Mereka mengerti apa itu komputer, laptop, gameonline, dan banyak lagi permainan-permainan canggih saat ini. Jika dari cara dan alat-alat permainannya saja sudah berbeda, apalagi dengan cara mereka belajar?

Saat ini bukan lagi jamannya each learning is teacher center, but now, each learning is teacher n student center! Bukan lagi jamannya
membatasi ruang lingkup anak, membatasi pola pikir anak, bukan lagi guru yang terus menyuapi, tetapi sekarang sudah jamannya murid aktif. Guru bukan lagi sebagai orang yang ditakuti dikelas. Melainkan menjadi fasilitator yang baik untuk murid-murid.

Sekarang juga bukan lagi hal yang aneh ketika dalam pembelajaran seorang guru memutar film singkat, atau film berdurasi panjang. Tapi bukan hanya sekedar film. Namun, film yang dipertontonkan adalah film yang baik, bermutu, tentunya ada nilai edukasi di dalamnya. Kalau kata pa Agus tadi, menonton bukanlah menjadikan guru malas, akan tetapi ia ingin menjadikan siswanya `paham` dengan cara yang berbeda. Belajar dengan menampilkan sedikit film tentunya sangat menarik sekali untuk siswa-siswa kita, karena mereka saat ini adalah anak-anak jamannya visual. Dengan adanya film singkat pun guru sedikit terbantu untuk menjelaskan suatu materi.

Tidak semua film menampilkan suatu hal yang buruk, jika kita mau memilahnya. Diantra 10 yang rijek, pasti ada 2 atau 3 yang perfect (bagus). Seperti kata Pa Agus tadi di seminar tadi, beliau mengatakan “I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand.” So, lakukanlah yang terbaik dan perubahan untuk anak-anak didik kita..jangan pernah berhenti belajar dari pengalamn kita. Selalu ada pelajaran yang tersimpan di setiap kejadian yang kita lalui.

Sungguh membakar semangat dalam jiwa setelah mengikuti seminar kali ini. Semua terasa menendang! Menohok! Kedalam pikiran dan hati. Semoga IGI lebih sering mengadakan seminar yang mantaf seperti ini.. amin… I hope..

Posted in Tak Berkategori

One thought on “Refleksi seminar ‘Movies for Educational Purposes’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s