Bersenang-Senang dan Dapat Banyak Ilmu? Cuma di FIMELAFest!

0 By IERA SIPAHUTAR Posted on 5 December 2011

FIMELAFest sebagai rangkaian acara ulang tahun pertama FIMELA.com telah selesai digelar dengan meriah. Berbagai talkshow dan acar hiburan yang digelar bersama dengan berbagai komunitas, sukses menarik minat publik. Bagaimana sih serunya? Simak rangkumannya!

Motivakids (@motivakids)

Bersama komunitas Motivakids, tema FIMELAFest tahun ini yaitu Read2Share, menjadi topik bahasan yang diangkat. Dalam talkshow ini, salah satu founder Motivakids, Adez  Aulia, membuka acara dengan memperkenalkan komunitas yang didirikan sejak 3 bulan lalu bersama dua orang temannya, Royas Amri dan Asha Wadya. “Motivakids adalah sebuah komuitas yang dilatarbelakangi oleh keprihatinan saya dan teman-teman terhadap kondisi Indonesia yang terpuruk”. Ia menilai bahwa yang menjadi sumber masalah adalah dari segi parenting. “Dengan menikah dan punya anak, belum berarti seseorang bisa menjadi orang tua, bahkan banyak hal yang tidak mereka ketahui seputar cara mendidik anak yang baik. Dan, tercetuslah ide membuat akun twitter dimana kita bisa membantu para orang tua di rumah untuk mendidik anaknya”, jelasnya.

FIMELAFest

Talkshow yang mengambil tema “Trik Memotivasi Anak Senang Baca” ini juga mengundang Agus Sampurno yang berprofesi sebagai guru dan Mira Julia (Lala), seorang ibu rumah tangga, dimana kedua narasumber ini memiliki visi yang sama, yaitu ingin menumbuhkan kecintaan membaca pada anak baik di rumah maupun sekolah. Bagi Lala, banyaknya keluhan dari orangtua anak mereka tidak suka membaca, membuatnya gerah karena menurutnya semua harus dimulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga. “Kalau ingin anak kita suka baca, kita harus tunjukkan kalau kita juga suka baca”, ungkap Lala dengan semangat.

Lala juga menjelaskan bahwa orangtua harus bisa menghidupkan suasana membaca dengan cara baca yang lebih ekspresif. “Ketika membacakan buku kepada anak, kita bisa menggunakan suara perempuan untuk karakter perempuan, menggunakan boneka, atau bisa juga diperagakan”, jelas Lala sambil memberikan contoh. Agus pun menambahkan bahwa peran orang tua terhadap minat baca anak di sekolah sangat penting. “Sebenarnya orang tua itu bisa jadi grup penekan dan memberi masukan kepada pihak sekolah. Karena banyak sekolah yang memiliki perpustakaan, bukunya banyak, tapi gurunya ketakutan buku-bukunya rusak”, jelasnya.

Ternyata selain buku-buku dalam bentuk text book, Agus juga mulai menerapkan membaca buku elektronik di sekolah tempat  ia mengajar. “Anak-anak sekarang adalah anak-anak dari generasi C atau creative. Kita tidak bisa membatasi media apa yang akan mereka pakai untuk membaca,” katanya.

Iklan

Blog karya guru ini menurut saya menjadi calon kuat penerima Guraru Award 2012, amin. Saya tertarik dengan isi blognya yang selalu up date dan senang memberi ilmu, sekaligus melaporkan kegiatan yang sehari-hari bapak guru ini lakukan sebagai pendidik dan pengajar. Silahkan membaca laporan Pak guru Koeshariatmo mengenai Workshop saya bersama Pustekkom Diknas

KARYAGURU CENTER

Lihat jam.. sekarang menunjukan pukul 23:52. Mantaps… Malam-Malam Ikut Workshop Jejaring Sosial untuk Portal Rumah Belajar yang dilaksanakan di Hotel Permata Bogor dan penyelenggaranya dari Pustekom Kemdiknas. Satu jam lalu baru saja ditutup sesi pertama yang sebelumnya acara ini dibuka sekitar pukul 19.00. Materi malam ini disampaikan oleh Romi Satrio Wahono. Saya suka cara penyampaiannya.. santai bgt tapi materinya keren bermutu…

Kalau menurut jadwalnya workshop dilaksanakan dari tanggal 05 sampai 07 Desember 2011. Mudah-mudahan materi selanjutnya lebih dahsyat dari malam ini biar puas dateng ke bogor dapat ilmu yang buanyaaak. Karena tadi siang berangkat naik kereta berdiri selama 2 jam.. mpe pegel nih kaki dan seluruh badan.

ok deh.. sekarang mau istirahat dulu karena pagi-pagi saya harus menyelesaikan soal ujian CAD akhir semester untuk minggu depan. Masih kurang 20 soal lagi… ayo semangat!!

besok dilanjut lagi nulisnya…

Lihat pos aslinya 246 kata lagi

Refleksi seminar ‘Movies for Educational Purposes’

View original

rahmilovendutz.blogspot.com

Tak ada guru yang paling hebat selain pengalaman. Guru-guru kita di SD, SMP, SMA, atau bahkan dosen-dosen kita di perkuliahan, seringkali tak memberikan apa yang diberikan oleh sebuah pengalaman. Dari pengalamanlah kita banyak belajar suatu hal yang tak diajarkan.

Seperti halnya hari ini. Alhamdulillah Allah memberikan kesehatan, dan kesempatan untuk ku datang ke Teater Salihara untuk mengikuti seminar Movies For Educational Purposes dan nonton bersama yang diselenggarakan oleh IGI. Tentunya seminar kali ini para pembicaranya adalah Agus Sampurno seorang Guru kreatif, Yadi Sugandi seorang sutradara film Hati Merdeka, dan juga oleh direktur program yaitu Dhitta Puti, yang akrab dipanggil Mba Puti.

Dari mereka hari ini aku belajar, serta sadar, bahwa anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, bahkan SMA jaman sekarang, jaman abad 21 ini, sangatlah berbeda dari anak-anak sekolah jaman abad 20. Dimana dulu each learning selalu teacher center. Selalu guru yang `menyuapi` murid. Selalu guru yang berbicara, bergerak, mencontohkan, dan para siswa hanya duduk manis, melihat, memperhatikan, dan manggut-manggut entah mengerti atau pura-pura mengerti.

Sekarang, di jaman serba teknologi, everything terlihat begitu tergantung dengan teknologi. Lihat, anak-anak SD jaman sekarang, hampir sebagian besar mengenal hp. Bahkan mereka bisa menggunakannya. Hampir sebagian besar anak-anak bangsa kita saat itu tidak lagi buta dengan teknologi. Mereka mengerti apa itu komputer, laptop, gameonline, dan banyak lagi permainan-permainan canggih saat ini. Jika dari cara dan alat-alat permainannya saja sudah berbeda, apalagi dengan cara mereka belajar?

Saat ini bukan lagi jamannya each learning is teacher center, but now, each learning is teacher n student center! Bukan lagi jamannya
membatasi ruang lingkup anak, membatasi pola pikir anak, bukan lagi guru yang terus menyuapi, tetapi sekarang sudah jamannya murid aktif. Guru bukan lagi sebagai orang yang ditakuti dikelas. Melainkan menjadi fasilitator yang baik untuk murid-murid.

Sekarang juga bukan lagi hal yang aneh ketika dalam pembelajaran seorang guru memutar film singkat, atau film berdurasi panjang. Tapi bukan hanya sekedar film. Namun, film yang dipertontonkan adalah film yang baik, bermutu, tentunya ada nilai edukasi di dalamnya. Kalau kata pa Agus tadi, menonton bukanlah menjadikan guru malas, akan tetapi ia ingin menjadikan siswanya `paham` dengan cara yang berbeda. Belajar dengan menampilkan sedikit film tentunya sangat menarik sekali untuk siswa-siswa kita, karena mereka saat ini adalah anak-anak jamannya visual. Dengan adanya film singkat pun guru sedikit terbantu untuk menjelaskan suatu materi.

Tidak semua film menampilkan suatu hal yang buruk, jika kita mau memilahnya. Diantra 10 yang rijek, pasti ada 2 atau 3 yang perfect (bagus). Seperti kata Pa Agus tadi di seminar tadi, beliau mengatakan “I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand.” So, lakukanlah yang terbaik dan perubahan untuk anak-anak didik kita..jangan pernah berhenti belajar dari pengalamn kita. Selalu ada pelajaran yang tersimpan di setiap kejadian yang kita lalui.

Sungguh membakar semangat dalam jiwa setelah mengikuti seminar kali ini. Semua terasa menendang! Menohok! Kedalam pikiran dan hati. Semoga IGI lebih sering mengadakan seminar yang mantaf seperti ini.. amin… I hope..