Bagi pengelola sekolah, belajar lagi itu wajib, apalagi belajar sosial media.

Hari ini bertepatan dengan hari AIDS sedunia, time line twitter saya penuh dengan kata diskriminasi, sekolah dan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Usut punya usut ternyata ini semua berawal dari kejadian yang dialami oleh seorang orang tua siswa yang putrinya ditolak masuk karena ayahnya positif mengidap HIV.

Orang tua tersebut protes keras, sambil mempertanyakan tidak adanya pengertian dan pengetahuan yang dimiliki oleh pihak sekolah mengenai penyakit HIV, mengenai bagaimana penyebaran dan bagaimana penyakit tersebut ditularkan.

Beberapa hal yang bisa saya amati dari peristiwa diatas adalah;

1. Sekolah sebagai institusi menyatakan penolakan penerimaan siswa baru dengan SMS. Sebuah hal yang pasti akan menimbulkan kontroversi. SMS memang sudah diakui sebagai bentuk komunikasi yang resmi, namun menolak dengan SMS akan menjadi hal yang akan menyulitkan sekolah sendiri. Gunakan surat resmi sambil disitu diterangkan jika membutuhkan keterangan lebih lanjut diijinkan untuk mengatur janji.

2. Sekolah memang punya hak untuk menolak siswa, namun mencoret nama siswa yang sudah diterima merupakan keputusan besar dan tidak main-main. Sekolah memerlukan alasan kuat dan benar-benar dilandasi alasan yang meyakinkan.

3. Sekolah mengatas namakan orang tuan lain sebagai alasan mengapa ada siswa yang tidak diterima. Padahal dalam kasus HIV AIDS saatnya sekolah juga belajar dan mendidik seluruh komunitas yang ada di sekolahnya mengenai hal ini. Inilah saatnya pintu masuk yang potensial untuk memulai penyadaran dan kewaspadaan terhadap penyakit HIV AIDS.

4. Sekolah terlewat memperhitungkan gejala ‘world of mouth’ yang begitu menyeruak di Indonesia. Saat ini ada orang yang lebih percaya ‘youtube dibanding polisi, karena saat kecurian ia langsung mengunggah video pencurinya ke youtube, tanpa menunggu penyelidikan polisi selesai. Artinya semua pengelola sekolah mestinya sadar bahwa dunia sosial media menjadi layak untuk dipertimbagkan oleh sekolah manapun sebagai ‘branding’ atau promosi. Sebaliknya saat ada hal yang mengecewakanpun sekolah sudah bisa perkirakan sejauh mana sebuah hal menjadi hal yang besar jika terekspos sosial media.

Akhirnya tidak ada sekolah yang sempurna, walaupun begitu saatnya sekolah juga mengambil bagian dalam mengedukasi komunitas mengenai hal yang baru, dengan kata lain jadi mitra belajar untuk komunitas yang ada di dalam dan di luar sekolah.

Posted in Tak Berkategori

One thought on “Bagi pengelola sekolah, belajar lagi itu wajib, apalagi belajar sosial media.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s