3 pola kemitraan yayasan swasta dan kepala sekolah

Dari judul diatas sebenarnya mudah saja dijawab indikator pencapaiannya berhasil atau tidak yaitu jumlah siswa yang terus bertambah. Ditengah maraknya sekolah negeri yang gratis adalah sebuah keajaiban sekolah swasta bisa terus bertambah siswanya tiap tahun ajaran baru. Hal lain yang bisa dijadikan acuan adalah orang tua siswa tidak protes saat yang sekolah anaknya dinaikkan.

Dua indikator diatas sangat gampang disebut namun perlu perjuangan agar bisa sampai disana. Perjuangan yang utama adalah kemitraan antara yayasan sebagai pemilik sekolah dengan kepala sekolah sebagai pelaksana lapangan. 

Jika seorang kepala sekolah ditanya apa yang ada di pikirannya ketika ditanya komentarnya soal pola kemitraan yayasan atau pemilik sekolah biasanya ini yang akan tercetus.

Pola kemitraan pertama

  • Yayasan sekolah saya cukup kooperatif, permintaan saya akan diakomodir sepanjang dananya mencukupi. Saya diminta membuat rancangan belanja anggaran yang ketika jumlahnya disetujui akan terwujud sepanjang tahun ajaran.

Sebaliknya:

  • Yayasan sekolah saya, Iya Iya saja ketika saya ajukan permintaan pembiayaan program dan uniknya lama sekali diwujudkannya, kalau pun terwujud, dalam bentuk paket hemat tanpa keterangan kenapa kualitas KW yang diberikan.

Pola kemitraan kedua

  • Yayasan tempat saya bekerja terdiri dari orang yang senior dan sudah sepuh namun sangat terbuka pada inovasi dan terbuka jalan bagi saya untuk berproses sebagai pemimpin.

Sebaliknya;

  • Pemilik sekolah saya masih muda hitungannya jika dibandingkan dengan yayasan sekolah lain. Namun uniknya satu sisi sangat inovatif dalam program namun sangat konvensional alias irit dalam hal pembiayaan. Wajar karena dalam prinsip bisnis dengan pengorbanan sekecil kecilnya dapat keuntungan sebesar besarnya. Bayangkan posisi kepala sekolah, diminta dahsyat dalam program namun diminta hidup prihatin dengan pembiayaan. 

Pola kemitraan ketiga

  • Yayasan tempat saya bekerja ada yang berasal dari latar belakang pendidikan ada juga yang bukan. Saya sebagai kepala sekolah diminta se kreatif dan se inovatif mungkin dalam menjalankan sekolah.

Sebaliknya:

  • Yayasan sekolah saya bukan orang pendidikan namun dalam beberapa hal sangat terlihat ahli dibanding saya yang telah makan asam garam dunia pendidikan. Hal yang cukup mengganggu adalah keengganannya belajar kembali dan menganggap sekolahnya adalah tempat kursus dan bukan sekolah dimana semua orang berproses. Semua perubahan inginnya dilihat berubah dalam semalam. Jika coba diyakinkan maka akan keluar ego sebagai pemilik sekolah.

Nah sebagai kepala sekolah tipe yang mana yang saat ini anda sedang ajak kerja sama?

%d blogger menyukai ini: