Liputan Bincang Edukasi dari http://rumahinspirasi.com

Rabu (27/7/11) aku berkesempatan untuk menghadiri acara Bincang Edukasi yang diadakan di atamerica Pacific Place, Jakarta. Acara yang dimotori oleh @kreshna, @bukik, @salsabeela, @inandatiaka, @akhmadguntar, @dwikrid mengambil format mirip dengan TED. Ada 5 pembicara yang diberi kesempatan berbagi di depan audiens, masing-masing 17 menit. Dalam waktu yang singkat tersebut tiap pembicara harus bisa mengemas gagasan mereka sehingga bisa menjadi inspirasi bagi para peserta.

Kebetulan salah satu pembicara malam itu adalah sahabatku Wiwiet Mardiati. Jadilah aku dan beberapa teman datang bersama ke acara tersebut, juga menjadi supporter buat mbak Wiet :)

Acara dibuka oleh @kreshna sebagai salah satu inisiator Bincang Edukasi

Acaranya berlangsung padat, cepat dan penuh inspirasi. Dibuka oleh Kreshna yang menceritakan latar belakang berdirinya Bincang Edukasi serta misi-misi mereka, kami pun seakan larut dalam lautan inspirasi.

Diawali dengan Agus Sampurna [@gurukreatif ], seorang guru kreatif yang berbagi ide serta inspirasi melalui sosial media. Agus merasa situasi pendidikan seakan sama saja dari tahun ke tahun. Banyak guru yang tidak berhasil mengakomodasi keinginan siswa untuk lebih eksploratif. Padahal -menurut Agus- setiap siswa yang duduk di bangku sekolah memiliki sinar mata yang sama, mereka ingin belajar dengan cara yang menyenangkan. Hanya saja belum banyak guru yang berani untuk eksplorasi, kebanyakan bahkan masih bergulat dengan faktor ekonomi.

Dalam salah satu slideshownya Agus memberikan gambaran betapa ironinya, sebuah pelatihan belajar “kreatif” diajarkan kepada guru dengan cara “duduk manis” berjejer berdempetan. Padahal yang namanya “kreatif & aktif” itu berarti berarti banyak bergerak bukan duduk diam. Bagaimana guru bisa mentransfer ilmu kreatif tersebut jika dalam penerimaan pengajarannya saja sudah tidak ada kesan kreatif?

Agus Sampurno – Creative Teaching evangelist

Untuk itulah sebagai pendidik, Agus merasa tergerak untuk berbagi teknik pembelajaran aktif & kreatif kepada rekan-rekannya sesama guru. Agus kemudian membuat blog Guru Kreatif  sebagai sarananya berbagi dengan mitra pendidik lainnya.

Kekuatan sosial media dirasakan Agus amat membantu dirinya dalam berbagi & mengembangkan kreatifitas seorang guru. Agus percaya, ketika keinginan mengajar tumbuh dari dalam hati, tiba-tiba semua orang ingin membantu. Kolaborasi antara para guru di Internet adalah inspirasi yang bagus untuk membuat para murid mau bekerjasama dengan teman-temannya.

Agus juga meyakini bahwa seorang guru yang baik itu bukanlah guru yang sangat jago dalam mata pelajaran tapi seorang guru yang mampu merubah pola pikir murid-muridnya. Act, choose & reflect. Begitulah intisari mengajar Agus. Lanjutkan membaca “Liputan Bincang Edukasi dari http://rumahinspirasi.com”

Liputan workshop 2 Hari “Perencanaan, mengajar dan menilai 5 unsur penting: Pengetahuan, Keterampilan, Sikap, Aksi dan Konsep dalam PYP ” 20-21 Juli 2011

 

Workshop ini akan mengeksplorasi peran unsur-unsur penting dalam PYP tersebut. Ini akan melihat bagaimana guru secara eksplisit memastikan bahwa elemen ini direncanakan, diajarkan dan dinilai dalam konteks yang otentik.

Workshop leader saya kali ini Thomas Woods, Tanya Surawski (Hong Kong Intl School) & Fifi Donohadi (sekolah Ciputra), sambil ikuti workshop saya banyak menulis refleksi saya lewat twitter, silahkan nikmati refleksi saya selama 2 hari kemarin

• Jika siswa pasif di kelas,guru perlu bertanya pd diri sendiri sdhkah sediakan lingkungan yg kondusif utk berpendapat

• Profesi dlm dunia pendidikan hanya bisa dinikmati oleh pribadi yg siap & mau berubah

• Pengalaman belajar yg beragam, hanya bs brmakna jika jelas apa yg ingin anda nilai dr siswa

• proses belajar yg baik bukan cuma soal aktivitas yg beragam tapi jg pembentukan perilaku

• Belajar bukan cuma soal pengetahuan, tp juga soal perilaku dan keterampilan hidup

• Guru berhasil mengajar jika siswa terjawab keingin tahuannya sambil saat yg sama ia tertantang utk ingin lebih tahu

• Guru hebat akan tanya pd siswanya ‘bagaimana kamu akan menunjukkan bahwa kamu mengerti’ gunakan (kecerdasab majemuk)

• tapi guru gunakan ‘profesional judgement’ nya dalam membuat kegiatan belajar beragam dan menantang

• lakukan differentiation di kelas bukan berarti lakukan perbedaan/pemisahan dlm semua kegiatan pengajaran

• Guru yg baik sering2lah melakukan jenis penugasan yg berbeda, itu inti dari differentiation

• Terbukti dalam Bloom taksonomi penguasaan informasi ada di level terbawah

• guru yg baik sibuk mentransfer konsep dan keterampilan dn bukan semata2 informasi

• Jgn sibuk mentransfer pengetahuan & informasi, mereka bisa ketinggalan jaman dlm sekejap

• Yap semua peserta membaca artikel Learning Intentions ditulis oleh Sarah Clarke

• WALT (we are we learning to..), WILF (what im looking for) singkatan yg baik utk memulai pembelajaran

• penilaian formative, ada tujuan pembelajaran, bertanya pd siswa dg efektif, serta apa yg ingin siswa kuasai

• PEnilaian ada formative dan sumative

• Know= pengetahuan, understand = konsep, able to do = skills, prioritaskan mana yg penting siswa ketahui/kuasai

• Dlm penilaian ada hasil yg diinginkan baru rencana kegiatan belajar, apa yg mesti siswa ketahui, mengerti dan mampu lakukan

• Dlm menilai siswa, mulai dr hasil apa yg anda inginkan , bukti apa dan rencanakan pengalaman belajar dg siswa

• Sesi ke 2 tentang assessment and differentiation proses yg dipakai UBD understanding by design

• Contoh action dgn kecerdasan musikal, siswa bernyanyi dan main musik , jg ada siswa yg bertugas mendisain publikasi dll

• Dlm proses action bersama siswa, libatkan semua potensi dan kecerdasan mereka (multiple intelligences)

• Dlm lakukan ‘action’ di kelas ada yg namanya ‘big events’ dan ‘everyday habit’ keduanya penting sbg kebiasaan

• Inisiatif dlm lakukan ‘action’ bersama siswa sama penting dgn tugas guru utk ‘merekam’ prosesnya

• jadikan keinginan utk ‘bergerak’ dan berbuat sesuatu thdp sbuah masalah di masyarakat sbg kebiasaan di kelas

• Biarkan siswa memilih, tugas guru utk jadikan pilihan mereka ‘meaningful’

• Tantangan guru adalah lakukan konsep2 pendidikan yg kelihatannya ‘keren’ diatas kertas jadi kenyataan

• Guru mesti selalu pasang radar siapa dan lembaga apa yg kira2 bisa bantu kelasnya dlm lakukan action

• Give the ‘power’ biarkan mereka lakukan ide2 saat ‘action’, never under estimate children !

• Waktu berjalan terus, jika karena kurikulum guru alasan jd tdk mau adakan action, pliss deh

• Saat mengerjakan action bersama siswa, pintar2nya guru integrasikan dlm kurikulum

• Contoh action lain, peduli binatang langka, buat karya lalu jual hasilnya sumbang LSM lingkungan

• Ralat sedikit, kumpul uang boleh sj dlm action, tp bukan dgn siswa minta ortunya, biarkan siswa ‘usaha’

• Tugas guru dlm ‘action’ buat jurnal utk siswa, buka pintu utk segala kemungkinan dan ide sambil jd mitra

• Acara saat siswa lakukan ‘action’ mungkin cuma sehari, tapi yg lama perencanaan & brainstormingnya

• Tingkat keikut sertaan siswa bisa diukur dgn “Harts Ladder’ http://t.co/XEbiFFt

• Action yg berhasil adlh action yg ‘mungkin’ dilakukan oleh siswa dan punya benefit utk komunitas

• Selalu libatkan siswa dlm menilai mana ‘action’ yg berhasil mana yg tidak hingga mereka bisa pilih

• Jika ada liputan media misalnya soal ‘action’ jgn kepsek atau gurunya yg diwawancara, tapi siswa

• Saat ‘merayakan’ keberhasilan ‘action’ jgn lupa minta siswanya yg menjelaskan, jgn gurunya

• Jika ortu siswa dilibatkan, mereka jg jd sadar bahwa ‘action’ bukan cuma kasih uang amal tiap jumat

• jgn lupa ikut sertakan ortu siswa dlm gerakan ‘action’ ini supaya gerakan yg bagus tdk jd merepotkan mereka

• jika di sekolah ada bagian humas lebih bagus lagi, ‘action’ siswa juga bisa jadi iklan utk sekolah

• Wujudkan agar efektif, tepat sasaran dan jgn lupa ‘rayakan’ bersama2 jika berhasil

• jgn kaget jika siswa ditanya ide2nya akan muncul ide yg nyeleneh its ok tugas guru wujudkan

• Tugas guru dlm ‘action’ adalah mencari tahu kebutuhan sasaran, setelah itu mencari cara spy action efektif

• contoh2 action, pasar murah, buat gerakan di FB, petisi online, koin peduli, dan banyak lg

• Jangan lupa stimulai siswa juga dengan cerita2 mengenai action yg orang2 lakukan dibelahan dunia lain

• Guru sbnrnya cuma mesti kreatif dalam tanya inisiatif siswa utk bersikap thdp sebuah masalah, jadi inisiatif siswa berkembang

• biasa sekali kalau guru yg minta siswa utk action kegiatannya ga jauh dari ‘sumbang uang’ atau minta siswa kumpul uang

• tweeps, bisa berikan contoh ‘action’ apa yg diperbuat bersama siswa di sekolah anda?

• hasil utama dari pendidikan sebenarnya bukan pengetahuan tapi ‘action’ pintar tdk cukup jika tdk peduli

• ‘action speaks louder than words’ kata yg sering kita dengar saat minta siswa untuk ‘berbuat’ demi masyarakat

• Ingat action dalam pendidikan tdk mesti sumbang uang sumbang pakaian, kenapa tdk tanya inisiatif siswa?

• 16. Dari dl kurikulum yaa itu2 saja, tdk berubah, tp cara & usaha agar siswa paham itu yg lbh penting

• 15. Ayo guru, tingkatkan diri spy jd tahu pengetahuan/skills mana yg penting utk masa depan siswa

• 14. Sebaliknya layani rasa ‘ingin tahu’ siswa tp guru tdk ‘nyaman’ akibat target kurikulum lepas

• 13. Buat apa target kurikulum tercapai tp siswa tdk enjoy, pd akhirnya guru jg merasa ‘kosong’

• 12. Tdk ada ukuran pasti mana yg lbh baik, target kurikulum trcapai atau tdk, smuanya trgntung guru

• 11. Momen ‘aha’ ialah saat dimana siswa merasa mengerti & ingin tahu lbh bnyk pengetahuan yg dterima

• 10. Guru sering lewatkan bnyk momen ‘aha’ dari siswanya saat mengajar hanya krn kejar target kurikulum

• 9. Saat peserta diminta mengingat betapa bnyk pengetahuan dr sekolah yg tdk terpakai

• 8. Dlm dunia pendidikan sekolah, ortu & pemerintah saling klaim pengetahuan apa yg mesti siswa kuasai

• 7. Profil dan attitude dlm PYP cek http://tinyurl.com/3prqsnl berlaku di seluruh sekolah PYP sedunia

• 6. Selayaknya tiap sekolah punya profil dan perilaku apa yg diinginkan dr tiap siswa sbg pokok acuan

• 5. Analogi/persepsi bs jadi jembatan agar siswa tambah mengerti & makin paham thdp pengetahuan baru

• 4. Guru bs coba dgn sediakan foto/gambar sebanyak siswa, minta mrk pilih yg sesuai dgn analogi/persepsi masing2

• 3. Aspek ‘hubungan’ atau connection sngt penting dlm membuat siswa mengerti pengetahuan rumit/baru

• 2. arti pembelajaran ‘otentik’ mirip2 sama pembelajrn aktif yg jadikan siswa aktor utama

• urutan mengajar yg baik adlah perencanaan, proses pngajaran, dan penilaian semuanya diupayakan dlm nuansa ‘otentik’

Hadiri Bincang Edukasi kedua di @america, Pacific Place Lt. 3 in Jakarta Selatan

Sebuah ajang meetup pendidikan di mana penggiat pendidikan dapat berbagi gerakan akar rumput yang telah mereka ciptakan untuk berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dan juga membahas tren pendidikan terbaru. Acara ini akan menghadirkan lima presenter, masing-masing akan diberikan 17 menit berbicara. @america, Pacific Place Lt. 3 in Jakarta Selatan, DKI Jakarta  Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Senayan July 27, 2011 at 6:00  – 9:00 malam

Presenter untuk Meetup # 2:

* Agus Sampurno – Enthusiast Pengajaran Kreatif | @ gurukreatif | https://gurukreatif.wordpress.com
* Nandha Julistya – Inisiator Bugs Membaca dan KKS Melati
* Karina Adistiana – Gerakan Peduli Inisiator dari Anak Musik | @ Anyi_Karina
Wiwiet Mardiati * – penggiatHomeschooling | @ wietski | http://atalaprasetyo.com
* Ainun Chomsun – Inisiator dari Akademi Berbagi | @ pasarsapi | http://akademiberbagi.org

Untuk # 2 meetup Gerakan Peduli Anak Musik akan melakukan hidup dan mendistribusikan 150 anak CD musik untuk peserta terdaftar.

Peserta juga dapat mendaftar dengan mengirim email dan menyatakan info@bincangedukasi.com nama dan nomor telepon.

Tambahan info: http://www.bincangedukasi.com

Bincang Edukasi inisiator: @ kreshna, @ bukik, @ salsabeela, @ inandatiaka, @ akhmadguntar, @ dwikrid

2 Hari Pelatihan “Menjadi Guru yang Menginspirasi’ di Kota Pekanbaru

 

Mengajar di kelas dan menjalani pelatihan adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan saat menjadi seorang guru. Dengan adanya pelatihan, guru merasa segar kembali saat kembali berkutat mengajar dikelas. Kelas adalah sebuah tempat dimana guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan tetapi juga memotivasi dan selalu siap akan kejutan dari sisi perubahan perilaku siswa dan semangat mereka dalam menimba ilmu. Tanpa pelatihan guru menjadi kurang tanggap dan tidak peka dalam mejaring momentum perubahan siswa. Ia hanya akan sibuk pada jalani rutinitas dan menjadi guru yang miskin inovasi serta cenderung enggan diajak untuk berubah.

PT Wilmar sadar sekali akan hal ini, dan memasukannya dalam program CSR untuk menggandeng guru-guru yang sekolahnya masuk dalam daerah operasi mereka untuk diajak bersama meningkatkan diri baik keterampilan dan kompetensi dalam belajar mengajar. Selama 2 hari guru yang ada di daerah Pekanbaru dan sekitarnya, asyik bersama dengan saya untuk mendalami kembali serta mengingat kembali hal-hal yang penting dalam menjalani profesi guru. Beberapa hal yang bisa  saya bagi untuk anda antara lain

* Saat mengajar siswa, hematlah kata ‘kamu salah’,perbanyak kata ‘belum berhasil, yuk coba lagi’

* Didiklah siswa dalam ‘tekanan’ dan anda akan menuai kelas yg ‘datar’ tanpa inisiatif dan kreativitas

* Ada 2 tipe guru yg siswa ingat sampai ia dewasa, guru yang dihormati dan guru yang disukai.

* Buah konsistensi sikap anda saat dikelas adalah rasa hormat siswa pada anda

* Sbg guru, jgn jadikan ‘disukai oleh siswa’ sbg tujuan, ‘rasa suka’ akan datang dgn sendirinya setelah ‘rasa hormat’

* Bekerja dengan berkolaborasi, kunci sukses workshop utk guru abad 21

* Sekolah abad 21, anjurkan kolaborasi & menumbuhkan ‘kecerdasan kolektif’ antar guru Lanjutkan membaca “2 Hari Pelatihan “Menjadi Guru yang Menginspirasi’ di Kota Pekanbaru”

‘Kicau’ saya dalam tagar #differentiatedlearning

15. Berikan tugas berangkat dari yg siswa ‘bisa’, dgn prinsip ‘kecerdasan majemuk’ tdk ada siswa yg ‘tdk bisa’ #differentiatedlearning

14. Menarik ada guru cerita jmn dulu gurunya sdh trpkan #differentiatedlearning kita sepakat itu karena beliau mengajar dgn hati

13. Jgn cuma kategorikan perbedaan siswa kita sbg ‘unik’ tp sebut juga hal tsb sbg ‘anugrah’ atau ‘passion’ mereka #differentiatedlearning

12. Siswa akan stress jika disama ratakan oleh guru, ayo kenali potensi siswa, gunakan #differentiatedlearning

11. Guru yg hadir diprkenalkan tipe penilaian ‘rubrik’ yg cocok sekali digunakan utk menilai ‘performa’ siswa http://lockerz.com/s/118126978

10. Pertanyaan klasik guru adlah bgmana cara menilai ‘tipe penugasan’ yg sesuai dgn kaidah #differentiatedlearning

9. Dgn workshop #differentiatedlearning guru jd sadar, selama ini tipe penugasan pd siswa paling tinggi hnya pd level ‘memahami’

8. 2 hal mutlak dlm pelaksanaan #differentiatedlearning yaitu guru mengerti ‘taksonomi bloom’ dan ‘kecerdasan majemuk’

7. Dgn #differentiatedlearning akan membuat siswa lbh ‘bersuara’ dikelas, sebaliknya guru brkurang dominasinya

6. Bandingkan 2 penugasan ini, meminta siswa merangkum sbh buku, dgn meminta mrk mendisain ulang covernya #differentiatedlearning

5. Ciri guru yg sdh terapkan #differentiatedlearning ia memberikan tugas yg ‘menantang’ dn bukan skedar ‘sulit’

4. Membuat siswa mengerti, adlh tugas keseharian guru, tapi setelah mengerti lalu apa? Disitu tantangan #differentiatedlearning

3. Ada 6 ciri siswa yg sdh mengerti/paham, ia bs mengulang, praktekan, berempati, berperspektif,menrapkan, dan memahami diri sndri

2. Saat workshop  #differentiatedlearning  guru mendalami ciri2 siswa yg ‘paham’ atas apa yg diterangkannya

1. Inti #differentiatedlearning bukan skedar siswa yg sdh selesai kerjakan tugas trus disuruh ‘free time’, tapi penugasan yg bermakna

INFO Seminar Series: Re-Imagining Educational Leadership

Re-Imagining Educational Leadership

“Leadership for A Changing World” by: Dr. Michael Bell (Flinders University)

for Teacher Leaders, School Principals, Educational Policymakers

Facing with changes in the 21st century, schools need to redesign to allow new ideas structures, reallocate resources to meet the demands. Students need to acquire skills for independent thinking, imagination, and collaboration. Principals play a vital role in creating successful schools, but existing knowledge on the best ways to prepare and develop highly qualified candidates is sparse. Excellent leadership is essential in order to develop a good quality of graduates ready to face the 21st century requirement.

The seminar series :

1. Leadership for A Changing World (July 2011)

2. Leadership for A Competitive World (October 2011)

3. Leadership for Learning (January 2012)

Date/Time : Thursday, July 28th, 2011/ 8am – 5pm

Venue : Sampoerna School of Education Auditorium

Mulia Business Park, Building D

Jl. MT Haryono Kav 58-60, Pancoran, Jakarta Selatan

Ticket Price (per Seminar) only 54 seats available

Individual : IDR 375.000,-

Group : IDR 300.000,-/person (minimum 3 person)

Information & registration

Emma / Ige – 021 4577 4018

arief.purwoko

*Prices may change for further seminar series

Workshop satu hari di Sekolah Adik Irma Tebet dengan tema ‘Differentiated Curriculum’ 7 Juli 2011

Jika dalam satu kelas ada 35 orang siswa dengan satu guru yang mengajar, menarik sekali melihat usaha guru tersebut dalam menyampaikan pembelajarannya.  Ada berbagai macam tipe dan jenis guru yang akan bisa dilihat dari cara mereka menangani kelas.

  • Guru ‘biasa’ akan mengunakan gaya mengajar yang dahulu di dapatnya berdasarkan pengalamannya saat masih menjadi siswa dengan menjadikan dirinya sebagai ‘pusat’ kegiatan belajar mengajar.
  • Guru yang ‘sedang’ akan merubah gaya mengajarnya menyesuaikan mood nya hari ini, artinya ia sudah mengerti bahwa tidak semua siswa punya gaya belajar seperti dirinya, tapi apa daya tuntutan target kurikulum membuatnya tidak secara konsisten menerapkan semangat untuk memberi yang terbaik pada siswa.
  • Guru ‘luar biasa’ akan merencanakan pembelajarannya sendiri atau bekerja sama dengan guru lain dengan menggunakan banyak sumber belajar dan tipe penugasan  yang membuat siswa merasakan bahwa dirinya dihargai dan bisa berekspresi sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.

Lanjutkan membaca “Workshop satu hari di Sekolah Adik Irma Tebet dengan tema ‘Differentiated Curriculum’ 7 Juli 2011”

Pengalaman saya memfasilitasi program WEPP (Wilmar Education Partnership program) di Labuhan Batu dan Kuala Tanjung Sumatera Utara

PT Wilmar (produsen minyak goreng Sania) lewat program bakti masyarakatnya kembali hadir dengan  program WEPP (Wilmar Education Partnership program). Menarik sekali jika mencermati kata ‘partnership’ yang berarti ‘kemitraan’ disini, karena dari sebutan atau istilah tsb, tercermin betapa PT Wilmar tidak hanya ingin sekedar membantu lewat program CSR nya tetapi juga berusaha membangkitkan semua komponen yang ada di sekolah untuk selalu mengutamakan kebutuhan siswa. Tidak heran  saat dimulainya program ini PT Wilmar memulai dengan pembangunan fisik sekolah, setelah tahap tersebut selesai baru kemudian guru sebagai aktor utama dikelas, mulai diajak untuk berubah dan diberi keterampilan terkini lewat pelatihan agar semakin profesional.

Merupakan kehormatan sekali bagi saya untuk bisa bergabung dalam program ini. Sejak 2009 saya difasilitasi program ini untuk bisa bertemu sambil berbagi pengetahuan dengan guru-guru yang sekolahnya menjadi garapan program WEPP ini. Sekolah tersebut adalah sekolah yang ada di areal perkebunan dan pabrik milik mereka.

Lanjutkan membaca “Pengalaman saya memfasilitasi program WEPP (Wilmar Education Partnership program) di Labuhan Batu dan Kuala Tanjung Sumatera Utara”

3 pola kemitraan yayasan swasta dan kepala sekolah

Dari judul diatas sebenarnya mudah saja dijawab indikator pencapaiannya berhasil atau tidak yaitu jumlah siswa yang terus bertambah. Ditengah maraknya sekolah negeri yang gratis adalah sebuah keajaiban sekolah swasta bisa terus bertambah siswanya tiap tahun ajaran baru. Hal lain yang bisa dijadikan acuan adalah orang tua siswa tidak protes saat yang sekolah anaknya dinaikkan.

Dua indikator diatas sangat gampang disebut namun perlu perjuangan agar bisa sampai disana. Perjuangan yang utama adalah kemitraan antara yayasan sebagai pemilik sekolah dengan kepala sekolah sebagai pelaksana lapangan. 

Jika seorang kepala sekolah ditanya apa yang ada di pikirannya ketika ditanya komentarnya soal pola kemitraan yayasan atau pemilik sekolah biasanya ini yang akan tercetus.

Pola kemitraan pertama

  • Yayasan sekolah saya cukup kooperatif, permintaan saya akan diakomodir sepanjang dananya mencukupi. Saya diminta membuat rancangan belanja anggaran yang ketika jumlahnya disetujui akan terwujud sepanjang tahun ajaran.

Sebaliknya:

  • Yayasan sekolah saya, Iya Iya saja ketika saya ajukan permintaan pembiayaan program dan uniknya lama sekali diwujudkannya, kalau pun terwujud, dalam bentuk paket hemat tanpa keterangan kenapa kualitas KW yang diberikan.

Pola kemitraan kedua

  • Yayasan tempat saya bekerja terdiri dari orang yang senior dan sudah sepuh namun sangat terbuka pada inovasi dan terbuka jalan bagi saya untuk berproses sebagai pemimpin.

Sebaliknya;

  • Pemilik sekolah saya masih muda hitungannya jika dibandingkan dengan yayasan sekolah lain. Namun uniknya satu sisi sangat inovatif dalam program namun sangat konvensional alias irit dalam hal pembiayaan. Wajar karena dalam prinsip bisnis dengan pengorbanan sekecil kecilnya dapat keuntungan sebesar besarnya. Bayangkan posisi kepala sekolah, diminta dahsyat dalam program namun diminta hidup prihatin dengan pembiayaan. 

Pola kemitraan ketiga

  • Yayasan tempat saya bekerja ada yang berasal dari latar belakang pendidikan ada juga yang bukan. Saya sebagai kepala sekolah diminta se kreatif dan se inovatif mungkin dalam menjalankan sekolah.

Sebaliknya:

  • Yayasan sekolah saya bukan orang pendidikan namun dalam beberapa hal sangat terlihat ahli dibanding saya yang telah makan asam garam dunia pendidikan. Hal yang cukup mengganggu adalah keengganannya belajar kembali dan menganggap sekolahnya adalah tempat kursus dan bukan sekolah dimana semua orang berproses. Semua perubahan inginnya dilihat berubah dalam semalam. Jika coba diyakinkan maka akan keluar ego sebagai pemilik sekolah.

Nah sebagai kepala sekolah tipe yang mana yang saat ini anda sedang ajak kerja sama?