Menempatkan diri sebagai orang tua siswa saat pengambilan rapor

Acara pengambilan rapor atau acara student led conference adalah acara yang rutin dilaksanakan di sekolah. Saat yang ditentukan setiap tahun ajaran dalam waktu tertentu, sekolah dan guru mengundang orang tua untuk datang menerima laporan hasil pembelajaran putra-putrinya. Selama 15 sampai 20 menit orang tua diberitahukan mengenai bagaimana perkembangan akademis anaknya. Orang tua juga boleh menanyakan atau menyampaikan hal apa saja yang menjadi kepedulian atau harapan mereka kepada guru dan sekolah. Pokok bahasan dan pembicaraan berkisar antara perihal akademis, dan pola kehidupan sosial dan perilaku anak di sekolah.

Pada dasarnya semua orang tua sudah mengerti ada dimana kemampuan akademis atau bakat serta minat anaknya. Walaupun ia tidak menguasai ilmu pendidikan, orang tua adalah pemilik utama dan individu yang dititipkan oleh Sang Pencipta. Orang tualah yang sebenarnya sangat tahu dan mengerti perihal anaknya. Tugas guru dalam hal ini adalah menjadi pendamping dalam hal akademis, dari sisi emosional menjadi pengganti orang tua di sekolah bagi siswa-siswinya.

Saat orang tua siswa dan guru bertemu bisa ditebak seperti apa suasananya. Banyak hal yang akan didiskusikan dari harapan sampai keinginan dari kedua belah pihak. Tidak ada mekanisme yang ideal atau panduan yang tepat mengenai  bagaimana sebenarnya dialog yang ideal antara orang tua siswa dan guru Dalam hal ini berlaku kasus per kasus, artinya tiap orang tua membawa harapan dan keinginannya sendiri terhadap guru sekolah anaknya. Sebaliknya setiap guru juga punya harapan tersendiri terhadap setiap siswa yang diajarkannya. Namun dari situs angelamaiers.com saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. Pertanyaan yang isinya merupakan suara hati orang tua dimana pun mereka berada saat acara pengambilan rapor tiba.

  • Apakah anak saya diperhatikan?

Inilah pertanyaan mendasar bagi setiap guru yang berniat dan beritikad untuk mengajar dengan sebaik-baiknya. Apakah anak mereka anda perhatikan. Perhatian yang saya maksud disini adalah apakah anda tahu dan mengerti harapan atau keinginan siswa serta perilaku apa saja yang baik atau perilaku apa yang kurang dalam mendukung pembelajaran di kelas. Apakah anda sebagai guru ‘ada’ saat ada kejadian penting yang melibatkan siswa di sekolah. Dimana posisi anda ketika ada siswa yang bermasalah dengan siswa lainnya. Apakah anda tahu dan menindak lanjuti jika siswa melakukan sesuatu yang baik atau kurang sesuai dengan perilaku yang diharapkan oleh sekolah.

  • Apakah anak saya ditandai/diberi ciri?

Ditandai yang saya maksud apakah anda punya catatan mengenai perilaku atau perkembangan siswa anda yang ‘unik’ atau menarik. Sebagai contoh saat berhadapan dengan orang tua yang anaknya punya masalah dengan ‘perilaku’ di kelas, apakah anda punya catatan saat anak itu berbuat baik, diluar perilakunya yang dikeluhkan. Cara pencatatan yang dianjurkan dalam hal ini adalah dengan cara membuat catatan yang bersifat ‘anekdotal’.

  • Apakah anak saya dihargai?

Penghargaan dan dihargai adalalah sifat dasar manusia. Sebagai individu siswa kita di kelas memiliki sifat dan perilaku, bakat dan kecenderungan masing-masing. Dengan demikian menghargai kelebihan mereka akan membuat orang tua ‘nyaman’. Menghargai dan mendukung kekurangan siswa untuk jadi lebih baik akan membuat orang tua semakin yakin bahwa anaknya bisa berubah.

  • Apakah anak saya didengar?

Jika anda adalah guru yang mengajar 30 orang siswa atau lebih dalam satu kelas, bukan perkara mudah untuk bisa mendengar mereka satu persatu. Mendengar bukan berarti begitu saja menyediakan waktu kepada siswa tanpa ‘mengatur’ sedemikian rupa agar pembicaraan dengan siswa menjadi ‘hidup’ lewat pertanyaan-pertanyaan yang membuat siswa mau membuka diri bahkan termotivasi untuk menjadi lebih baik. Dengan demikian kita sebagai guru bisa melakukan hal ini tidak hanya saat di depan kelas, guru bahkan bisa melakukannya di saat santai informal. Dibutuhkan guru yang mempunyai pikiran rileks dan fokus agar setiap saat dalam keseharian dengan siswa, guru bisa memaknai dengan baik semua hal yang menjadi tanggung jawabnya dalam usaha ‘mendengarkan’ siswa.

  • Apakah anak saya dicintai.

Dicintai dalam kalimat diatas berarti, guru berusaha dengan serius sesuai kemampuan profesionalnya menjadi seorang yang mencintai muridnya. Anda tidak perlu menjadi orang yang kelihatan ‘penyayang dan penyabar’ untuk bisa memenuhi criteria guru yang menyayangi muridnya. Apa artinya menjadi guru yang berbagi rasa sayangnya yang berlebihan kepada siswa yang hanya akan membuat siswa malah tidak berkembang aspek emosionalnya menjadi individu. Selalu tekankan rasa untuk mendahulukan kepentingan kemajuan akademis siswa dibalik rasa untuk menyayangi siswa. Dengan mendahulukan kemajuan akademis siswa, guru akan punya banyak cara untuk menunjukkan rasa sayang mereka kepada siswanya. Caranya bisa hadiah sampai pujian, dari tepukan di pundak sampai surat ucapan selamat yang di desain khusus untuk siswa. Mari bedakan menyayangi dan ‘menyuap’. Banyak guru yang ‘menyuap’ agar siswa termotivasi, tetapi ia sendiri sebenarnya merasakan bahwa hal tersebut hanya berlaku jangka pendek dan tidak menetap dalam diri siswa.

  • Apakah kehadiran anak saya berarti dikelas?

Jika seorang siswa sering absen atau terlambat dan anda tidak mengangkat itu dalam pertemuan dengan orang tua siswa, maka orang tua akan menganggap kehadiran anaknya tidak penting di kelas. Orang tua mungkin akan mengernyitkan dahi ketika anda katakan bahwa anda peduli pada ketidak hadiran atau keterlambatan anaknya di sekolah. Namun bersiaplah dengan data bukti absensi untuk menguatkan alasan anda mengangkat hal tersebut menjadi perhatian. Ketidak hadiran siswa akan membuat siswa tertinggal pembelajaran, keterlambatan akan membuat seisi kelas terganggu dan siswa itu sendiri akan kesulitan untuk menyerap isi pembelajaran dari awal.

Kehadiran siswa juga bisa dimaknai anda sangat senang ia ada dan hadir di kelas karena ide-idenya yang brilian atau kemampuannya dalam bekerja kelompok yang membuat tiada hari yang tidak berkesan dengan kehadirannya.

Pertanyaan-pertanyaan diatas diatas sangat membantu saya dalam menempatkan diri sebagai orang tua saat acara pengambilan rapor. Jika hal itu sudah terjadi maka kesuksesan kita sebagai guru saat menerima orang tua untuk berkonsultasi sudah 80 persen. Sebagai guru anda akan lebih nyaman dalam berkata-kata tanpa mesti khawatir untuk salah atau berbicara tanpa dasar. Jadi selamat menjadi guru yang profesional saat pengambilan rapor!

Posted in Tak Berkategori

2 thoughts on “Menempatkan diri sebagai orang tua siswa saat pengambilan rapor

    1. Thanks komentarnya Ibu Ima, terima kasih sudah memberi komentar. Blog Bu Ima bagus sekali salam saya untuk semua yang ada di MIN Ciputat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s