Tamu dari Sekolah Sukma Aceh

Hari Jumat tanggal 22 Januari 2010 merupakan hari yang istemewa untuk kelas dimana saya mengajar. Kelas yang saya ajar di Global Jaya International School kedatangan dua orang pendidik yang mengajar di Sekolah Sukma di Nangroe Aceh Darussalam. Saya bisa berkenalan dengan mereka lewat blog ini. Ibu Ivat adalah salah satu dari pembaca pertama dari blog saya.

Ibu Ria dan Ibu Ivat adalah dua orang guru yang mengajar di sekolah Sukma di Pidie dan Lhokseumawe Nangroe Aceh Darussalam. Akhirnya kesempatan mempertemukan kelas yang saya ajar dengan beliau. Saat ada kesempatan Ibu Ria dan Ibu Ivat  kembali ke kampung halaman dari tempat mengajarnya di Aceh saya mendapat kehormatan didatangi oleh beliau berdua pendidik yang mengajar di Aceh .

Kali ini kelas saya sedang membahas tentang ‘Bencana Alam’ maka sebagai dua orang pendidik yang mengajar di sekolah di daerah yang pernah terlanda bencana, maka kedatangan mereka merupakan anugrah yang tidak terhingga bagi saya dan siswa-siswi saya. Banyak pengetahuan  yang dijelaskan dan dibagikan kepada siswa siswi saya, malah diakhir sesi Ibu Ivat sempat mengajarkan kami tari Saman dari Aceh yang terkenal itu. Berikut ini adalah refleksi dari salah satu siswa saya mengenai kedatangan beliau di kelas yang saya ajar.

Tamu Dari Aceh: Ibu Ria dan Ibu Ivat

Oleh :Abby

Ibu Ria  dan ibu Ivat mengajar di Aceh, mereka mengajar korban-korban tsunami dan korban-korban konflik. Ibu Ivat dan ibu Ria dari Jakarta dan Bogor. Mereka tinggal di Jakarta tetapi tugas mereka di Aceh. Anak-anak korban masih takut dengan orang yang bukan dari Aceh dan mereka juga takut sekali dengan tsunami. Disana banyak sekali gempa bumi jadi tidak banyak yang khawatir. Gempa bumi bisa mengayun ke kanan dan kekiri atau kedepan dan kebelakang atau juga bisa bergetar dan kebawah.

Tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Saat kejadian itu anak dari SMA yang nama nya Lutfi ketemu dengan ular python dan ular itu membelitnya. Ular itu membawanya keatas atap dan menyelamatkannya dari tsunami. Dari 26 anak hanya 7 yang dari yatim piatu. Disana mereka haya bisa bahasa Aceh. Mereka tidak bisa bahasa Indonesia dan kadang-kadang gurunya, ibu Ria dan ibu Ivat harus memakai bahasa isyarat karena mereka tidak tahu banyak bahasa Aceh.

Ibu Ivat dan ibu Ria tidak kerja di sekolah yang sama, ibu Ria berkerja di Lhokseumawe dan ibu Ivat mengajar di Pidie. Disana panas sekali, sehingga kalau mau merebus telur ita hanya perlu meninggal kan telur di bawah panas dan akan matang sendiri. Di Aceh jarang ada gedung yang bertingkat, atap nya terbuat dari seng supaya kalau ada gempa tidak gerak. Disana (sekolah) ada banyak kantor tetapi kelasnya sedikit.


Posted in Tak Berkategori

3 thoughts on “Tamu dari Sekolah Sukma Aceh

  1. Wah saya jadi tersipu-sipu nih pak Agus🙂

    Satu anugerah juga buat saya bisa bertemu dengan pak Agus secara langsung di sekolah Global Jaya.

    Senang bisa berbagi pengalaman dengan anak-anak didik pak Agus yang sangat luarbiasa dan antusias bertanya.

    Dibandingkan dengan sekolah Global Jaya, bangunan gedung dan fasilitas pendukung di sekolah kami masih belum memadai, tapi itu bukanlah alasan untuk tidak bisa menjadi guru yang kreatif dan sekolah yang kreatif. Bukan begitu pak Agus ?

    Banyak hal yang bisa saya pelajari dari “satu hari kunjungan ke Global Jaya” semoga saya bisa mengaplikasikannya di sekolah Sukma Bangsa tercinta

    Salam manis untuk anak-anak didik pak Agus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s