Strategi pembelajaran ‘Human Continuum’

 

Strategi ini saya gunakan untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka terhadap keterangan atau topik yang sudah saya bahas di kelas. Daripada anda bertanya satu-satu kepada siswa anda apakah mereka sudah mengerti atau belum, lebih baik lakukan strategi ini.

Langkah pertama.

Jika anda (misalnya) sedang menjelaskan mengenai topik bencana alam, minta mereka bersikap terhadap pertanyaan ‘apakah kamu bisa menyebutkan jenis bencana alam yang terjadi di Indonesia ?

Minta mereka bersikap dan bertanya pada diri sendiri  sejauh mana mereka menguasai pengetahuan yang diajarkan. Minta mereka berdiri berjajar dari merasa paling banyak menguasai  sampai yang yang paling sedikit menguasai.

Langkah kedua

Minta mereka berjajar dari yang paling tahu sampai yang paling sedikit tahu. Lalu minta ujung barisan bertemu dengan ujung baris yang satunya. Biarkan yang paling tahu mengajari yang paling sedikit tahu. Dengan demikian mereka saling berbagi informasi dan berbagi bersama temannya dikelas.

Iklan

Tamu dari Sekolah Sukma Aceh

Hari Jumat tanggal 22 Januari 2010 merupakan hari yang istemewa untuk kelas dimana saya mengajar. Kelas yang saya ajar di Global Jaya International School kedatangan dua orang pendidik yang mengajar di Sekolah Sukma di Nangroe Aceh Darussalam. Saya bisa berkenalan dengan mereka lewat blog ini. Ibu Ivat adalah salah satu dari pembaca pertama dari blog saya.

Ibu Ria dan Ibu Ivat adalah dua orang guru yang mengajar di sekolah Sukma di Pidie dan Lhokseumawe Nangroe Aceh Darussalam. Akhirnya kesempatan mempertemukan kelas yang saya ajar dengan beliau. Saat ada kesempatan Ibu Ria dan Ibu Ivat  kembali ke kampung halaman dari tempat mengajarnya di Aceh saya mendapat kehormatan didatangi oleh beliau berdua pendidik yang mengajar di Aceh .

Kali ini kelas saya sedang membahas tentang ‘Bencana Alam’ maka sebagai dua orang pendidik yang mengajar di sekolah di daerah yang pernah terlanda bencana, maka kedatangan mereka merupakan anugrah yang tidak terhingga bagi saya dan siswa-siswi saya. Banyak pengetahuan  yang dijelaskan dan dibagikan kepada siswa siswi saya, malah diakhir sesi Ibu Ivat sempat mengajarkan kami tari Saman dari Aceh yang terkenal itu. Berikut ini adalah refleksi dari salah satu siswa saya mengenai kedatangan beliau di kelas yang saya ajar.

Tamu Dari Aceh: Ibu Ria dan Ibu Ivat

Oleh :Abby

Ibu Ria  dan ibu Ivat mengajar di Aceh, mereka mengajar korban-korban tsunami dan korban-korban konflik. Ibu Ivat dan ibu Ria dari Jakarta dan Bogor. Mereka tinggal di Jakarta tetapi tugas mereka di Aceh. Anak-anak korban masih takut dengan orang yang bukan dari Aceh dan mereka juga takut sekali dengan tsunami. Disana banyak sekali gempa bumi jadi tidak banyak yang khawatir. Gempa bumi bisa mengayun ke kanan dan kekiri atau kedepan dan kebelakang atau juga bisa bergetar dan kebawah.

Tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Saat kejadian itu anak dari SMA yang nama nya Lutfi ketemu dengan ular python dan ular itu membelitnya. Ular itu membawanya keatas atap dan menyelamatkannya dari tsunami. Dari 26 anak hanya 7 yang dari yatim piatu. Disana mereka haya bisa bahasa Aceh. Mereka tidak bisa bahasa Indonesia dan kadang-kadang gurunya, ibu Ria dan ibu Ivat harus memakai bahasa isyarat karena mereka tidak tahu banyak bahasa Aceh.

Ibu Ivat dan ibu Ria tidak kerja di sekolah yang sama, ibu Ria berkerja di Lhokseumawe dan ibu Ivat mengajar di Pidie. Disana panas sekali, sehingga kalau mau merebus telur ita hanya perlu meninggal kan telur di bawah panas dan akan matang sendiri. Di Aceh jarang ada gedung yang bertingkat, atap nya terbuat dari seng supaya kalau ada gempa tidak gerak. Disana (sekolah) ada banyak kantor tetapi kelasnya sedikit.