Menciptakan guru yang gemar berbagi pengetahuan

Seorang guru selayaknya adalah sumber pengetahuan bagi siswanya, dari seorang guru kita semua bisa dan mempu menjadi seperti sekarang ini. Melihat judul diatas sudah pasti seorang guru adalah seorang yang suka berbagi kepada siapa saja, baik itu pengetahuan sampai saran dan nasehat yang mungkin berguna bagi orang yang memintanya. Di jaman sekarang ini seorang guru dituntut untuk tidak hanya berbagi pada siswanya tapi juga berbagi kepada sesama guru.

Sebuah sekolah yang baik akan menciptakan sebuah situasi yang ‘aman’ bagi guru untuk mau dan tidak sungkan berbagi pengetahuan. Berbagi pengetahuan bukan berarti ‘sok tahu’, atau mesti dilakukan di forum resmi, tapi bisa juga dilakukan di forum informal seperti obrolan ringan antar guru sampai rapat mingguan. Beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk mewujudkan hal ini adalah;

 

  1. Hilangkan batas senior dan yunior, menjadi guru senior bukan jaminan anda akan tahu segalanya, sebaliknya menjadi guru yunior bukan berarti anda ‘kosong’ tidak tahu apa-apa. Jika batas itu sudah lewat maka sekolah akan menjelma menjadi sekolah yang sehat dan aman bagi siapa saja berbicara.
  2. Biarkan guru lama berbagi mengenai ‘asam garamnya’ mengajar dan biarkan guru baru berbagi semangatnya yang masih menggebu-gebu. Bayangkan jika kedua jenis guru tersebut diberikan sebuah ‘metode’ baru maka persentuhan kedua jenis guru akan sangat menarik. Yang satu akan mempraktekkan sesuai dengan lamanya pengalaman yang ia punyai, yang satu akan bersemangat untuk secara ‘mentah-mentah’ mempraktekan.
  3. Tanamkan bahwa tidak mesti berbagi sebuah hal yang ‘besar’ dan ‘njlimet’. Berbagi kepada sesama guru bisa berarti juga berbagi cerita dan tips dan trik. Karena bisa saja buat seorang guru sebuah pengalaman adalah hal yang biasa, namun bagi orang lain pengalaman itu adalah hal yang luar biasa bahkan mengispirasi.
  4. Jangan selalu kaitkan berbagi ilmu dengan sesama guru sebagai beban, atau mesti ada imbalannya. Berbagi pengetahuan berarti kita sedang memberi dan menerima ilmu dan jangan lupa nantikan berkahnya.
  5. Nuansa berbagi ilmu di sekolah akan menciptakan suasana yang profesional diantara para guru, sehingga guru akan merasa ‘utuh’ dalam menjalani profesinya.
  6. Jika anda adalah seorang siswa, saya yakin anda akan merasa bangga bisa menjadi siswa dari seorang guru yang selal belajar dan mau berbagi, saat yang sama anda adalah role model baginya.
  7. Jangan kaget jika anda mau ‘maju’ dan berbagi pada rekan guru lainnya, maka sejuta kesempatan akan menanti didepan anda, dari undangan untuk memberikan ilmu di sekolah lain sampai kesempatan yang membuat anda berpikir betapa berbagi itu tidak akan rugi.
Iklan

Ikuti seminar Manajemen kelas

Assalamu’alaikum

Kepada : Para Pendidik, Orangtua, dan Praktisi Pendidikan

Hadiri dan Ikutilah….!
Seminar Nasional Pendidikan Anak Islam
Tema : Classroom Management for Fun Learning
Waktu : Ahad, 27 Februari 2011, pukul : 09.00 WIB
Tempat : Restoran Amazy Crispy, Jl. Kaliurang, km : 5.6 (Area UGM)
Yogyakarta
Pembicara : Agus Sampurno (Trainer Nasional Guru Kreatif dari Global
International School Jakarta)

Investasi Rp 100.000 (Sertifikat, Handout, Sticker, Makan Siang)
Tranfer ke Bank Mandiri a.n. Muhammad Arifin No.rek 128.000.4929.250 atau ke BNI
Syariah a.n. Muhammad Arifin No.rek 0199745300.

struk atm atau bukti transfer dibawa utk ditukar dengan tiket saat hari H.
KOnfirmasi setelah transfer ketik : NAMA LENGKAP_ALAMAT_TGL TRANSFER_BANK kirim
ke 085742299312 (Ganda Wicaksono)
cth : AISYAH RAHMAWATI_BANDUNG_14 FEB 2011_BANK MANDIRI

info lebih lengkap hub : 085742299312 (Ganda Wicaksono)
atau kunjungi http://portalkreatif.wordpress.com/

Wassalamu’alaikum Warohmatullah Waborakatuhu.

Organized by : LEBAH Community (Komunitas Pembelajar Yogyakarta

Strategi pembelajaran ‘Human Continuum’

 

Strategi ini saya gunakan untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka terhadap keterangan atau topik yang sudah saya bahas di kelas. Daripada anda bertanya satu-satu kepada siswa anda apakah mereka sudah mengerti atau belum, lebih baik lakukan strategi ini.

Langkah pertama.

Jika anda (misalnya) sedang menjelaskan mengenai topik bencana alam, minta mereka bersikap terhadap pertanyaan ‘apakah kamu bisa menyebutkan jenis bencana alam yang terjadi di Indonesia ?

Minta mereka bersikap dan bertanya pada diri sendiri  sejauh mana mereka menguasai pengetahuan yang diajarkan. Minta mereka berdiri berjajar dari merasa paling banyak menguasai  sampai yang yang paling sedikit menguasai.

Langkah kedua

Minta mereka berjajar dari yang paling tahu sampai yang paling sedikit tahu. Lalu minta ujung barisan bertemu dengan ujung baris yang satunya. Biarkan yang paling tahu mengajari yang paling sedikit tahu. Dengan demikian mereka saling berbagi informasi dan berbagi bersama temannya dikelas.

Tamu dari Sekolah Sukma Aceh

Hari Jumat tanggal 22 Januari 2010 merupakan hari yang istemewa untuk kelas dimana saya mengajar. Kelas yang saya ajar di Global Jaya International School kedatangan dua orang pendidik yang mengajar di Sekolah Sukma di Nangroe Aceh Darussalam. Saya bisa berkenalan dengan mereka lewat blog ini. Ibu Ivat adalah salah satu dari pembaca pertama dari blog saya.

Ibu Ria dan Ibu Ivat adalah dua orang guru yang mengajar di sekolah Sukma di Pidie dan Lhokseumawe Nangroe Aceh Darussalam. Akhirnya kesempatan mempertemukan kelas yang saya ajar dengan beliau. Saat ada kesempatan Ibu Ria dan Ibu Ivat  kembali ke kampung halaman dari tempat mengajarnya di Aceh saya mendapat kehormatan didatangi oleh beliau berdua pendidik yang mengajar di Aceh .

Kali ini kelas saya sedang membahas tentang ‘Bencana Alam’ maka sebagai dua orang pendidik yang mengajar di sekolah di daerah yang pernah terlanda bencana, maka kedatangan mereka merupakan anugrah yang tidak terhingga bagi saya dan siswa-siswi saya. Banyak pengetahuan  yang dijelaskan dan dibagikan kepada siswa siswi saya, malah diakhir sesi Ibu Ivat sempat mengajarkan kami tari Saman dari Aceh yang terkenal itu. Berikut ini adalah refleksi dari salah satu siswa saya mengenai kedatangan beliau di kelas yang saya ajar.

Tamu Dari Aceh: Ibu Ria dan Ibu Ivat

Oleh :Abby

Ibu Ria  dan ibu Ivat mengajar di Aceh, mereka mengajar korban-korban tsunami dan korban-korban konflik. Ibu Ivat dan ibu Ria dari Jakarta dan Bogor. Mereka tinggal di Jakarta tetapi tugas mereka di Aceh. Anak-anak korban masih takut dengan orang yang bukan dari Aceh dan mereka juga takut sekali dengan tsunami. Disana banyak sekali gempa bumi jadi tidak banyak yang khawatir. Gempa bumi bisa mengayun ke kanan dan kekiri atau kedepan dan kebelakang atau juga bisa bergetar dan kebawah.

Tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Saat kejadian itu anak dari SMA yang nama nya Lutfi ketemu dengan ular python dan ular itu membelitnya. Ular itu membawanya keatas atap dan menyelamatkannya dari tsunami. Dari 26 anak hanya 7 yang dari yatim piatu. Disana mereka haya bisa bahasa Aceh. Mereka tidak bisa bahasa Indonesia dan kadang-kadang gurunya, ibu Ria dan ibu Ivat harus memakai bahasa isyarat karena mereka tidak tahu banyak bahasa Aceh.

Ibu Ivat dan ibu Ria tidak kerja di sekolah yang sama, ibu Ria berkerja di Lhokseumawe dan ibu Ivat mengajar di Pidie. Disana panas sekali, sehingga kalau mau merebus telur ita hanya perlu meninggal kan telur di bawah panas dan akan matang sendiri. Di Aceh jarang ada gedung yang bertingkat, atap nya terbuat dari seng supaya kalau ada gempa tidak gerak. Disana (sekolah) ada banyak kantor tetapi kelasnya sedikit.


Seminar Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Banda Aceh Bersama LP3TI.

Lewat situs jejaring facebook saya mengenal dan bersilaturahmi dengan Pak Muslim Amiren dari Banda Aceh, seorang pakar teknologi informasi yang peduli dengan pengembangan dan penggunaan Teknologi Informasi di kalangan siswa dan guru. Beliau dan saya banyak berdiskusi dan terakhir (tanggal 23 Januari 2011) beliau mengundang saya untuk datang dan berbicara didepan guru-guru di Banda Aceh.

Sebuah kehormatan saya untuk bisa datang dan berbagi, apalagi bersama saya juga datang secara khusus ke Banda Aceh, senior dan sahabat saya Bapak Wijaya Kusuma, seorang fasilitator handal yang sudah banyak berbicara dalam seminar pemanfaatan TIK di tingkat nasional. Beberapa hal yang saya sampaikan di depan guru-guru yang hadir antara lain, mengenai bagaimana tingkat pemanfaatan TIK di sekolah bagi guru dan siswa. Berikut ini saya sarikan untuk anda.

Lanjutkan membaca “Seminar Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Banda Aceh Bersama LP3TI.”