Refleksi dari Parent gathering kelas 4 & 5 seminar dengan tema “Kurikulum Abad 21: Implementasinya di SD YPPI-1 Surabaya“. di Sekolah Dasar YPPI 1 Surabaya, Senin 22 November 2010

Surat Bapak Markus salah satu peserta yang hadir lewat email.

 

“…….Pertama-tama saya orang tua siswa mengucapkan terima kasih diberi kesempatan mendapatkan pencerahan wawasan pendidikan dari Bp Agus Sampurno. Saya salut dengan acara semacam itu dan berharap kedepan SD YPPI makin matching dengan tuntutan era abad 21 yg makin canggih dan ada kerja-sama yang baik antara orang-tua/wali dan pihak sekolah.

Saya juga sudah mengunjungi situs blog dari Bp Agus, banyak informasi yg bermanfaat bagi kami orang tua murid. Terima kasih untuk Pak Agus yang bersedia membagikan ilmunya melalui internet……..”

Bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan di Indonesia POCARI SWEAT menyelenggarakan seminar ” Terimakasih Guruku ” di Hotel Garuda Plaza Medan 13 November 2010

Sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan di Indonesia Pocari Sweat menyelenggarakan kegiatan yang bertemakan, “Terima kasih Guruku” di Garuda Plaza Hotel Medan, Sabtu (13/11). Kegiatan yang digelar PT Amerta Indah Otsuka ini merupakan kegiatan perusahaan demi membangun pendidikan di Indonesia.
“Di tahun 2010, kegiatan seperti ini akan dilaksanakan di sepuluh kota termasuk Medan. Kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November nanti,” seru Promotion Head PT Amerta Indah Otsuka (Pocari Sweat) Ratna Yudythia kepada wartawan, kemarin.
Menurut wanita ini seminar “Terimakasih Guruku” merupakan bentuk dukungan Pocari Sweat kepada guru yang merupakan elemen penting pendidikan di Indonesia. Tema yang diusung di acara adalah “Tantangan Guru sebagai Fasilitator Pendidikan Abad 21” dengan menghadirkan narasumber dari pakar pendidikan: Agus Sampurno.
Menurut Ratna tema tersebut diangkat untuk memberikan wacana kepada para pendidik bahwa pendidikan menjadi katalisator atau motor penggerak perubahan di abad 21, yang memerlukan energi dan kerja keras agar bisa bersaing dan bertahan.
Sementara menurut pakar pendidikan Agus Sampurno memberikan materi kepada guru-guru bahwa di abad 21 ini hal yang terpenting dalam mendidik siswa adalah membangkitkan kemampuan untuk bertanya dan melatih siswa untuk efektif dan percaya diri dalam bertanya saat pembelajaran di kelas. “Jadi untuk mewujudkan hal tersebut guru harus melatih diri mencari pengetahuan tentang bagaimana membuat siswa mau bertanya dan senang bertanya,” pungkas Sampurno.

Sumber berita

http://www.harian-global.com

Lembaga Pelatihan “Erlass” prokreatif Indonesia bersama Agus Sampurno mengadakan Pelatihan “Kiat Praktis menjadi Guru Kreatif” di Gedung Phibeta Gamma Penerbit Erlangga

Lembaga Pelatihan “Erlass” prokreatif Indonesia bersama Agus Sampurno telah mengadakan Pelatihan “Kiat Praktis menjadi Guru Kreatif” di Gedung Phibeta Gamma pada hari Sabtu, 16 Oktober 2010 dengan peserta 69 orang.
Dalam pelatihan ini, peserta di kelompokkan menjadi group-group kecil berjumlah 5 orang (mengelilingi meja) dan 4 group besar (banjar).
Beberapa Hal yang mendapat perhatian besar dari Nara sumber antara lain:
* Bagaimana memahami dan melaksanakan 4 kompetensi Guru berdasarkan Undang-Undang nomor 14 tahun 2005
* Bagaimana memahami Karakteristik Pendidikan Abad ke 21
* Ketrampilan yang mesti dilakukan oleh Guru yaitu: Terampil mengelola Kelas, Memiliki kemampuan menggunakan Multi media, Memahami dan mampu menciptakan Strategi Belajar.

DI dalam pelatihan ini, para peserta menyadari berdasrkan quesioner : Apa yang menyebabkan siswa senang belajar, Apa yang harus dimiliki oleh Seorang guru Profesional dan Apa harapan orangtua terhadap Siswa.
Berdasarkan keinginan tersebut, pelatihan pun berjalan dengan bergairah dan tanpa terasa sudah berakhir.

Hari Sabtu, tanggal 06 November 2010, erlass dan Agus Sampurno kembali akan melakukan pelatihan kepada 65 orang Guru SD di Gedung Phibeta,
Jalan H. Baping Raya No.100, Jakarta 13740

Bagi para peminat dapat menghubungi Mbak Tama di 081364180551
atau Mbak Nelly dan Erida di 021 8710108

Menumbuhkan budaya bertanya di kelas

Bukan jamannya lagi kelas yang hanya berisi ceramah guru sepanjang jam pelajaran. Bukan jamannya lagi guru yang memonopoli pembicaraan dan merasa sudah memberikan hak siswa untuk bertanya dengan menanyakan kepada siswanya, “apakah ada pertanyaan?”

Karena siapapun siswanya akan merasa ditodong saat gurunya bertanya seperti itu. Siswa akan merasa terbebani ketika di keheningan kelas ia mesti mengajukan pertanyaan. Belum lagi jika iklim dikelas  belum kondusif, maka yang terjadi siswa lainnya akan memberi cap, ‘sok tahu’ dan lain sebagainya, apalagi jika ada siswa yang bertanya menjelang akhir jam pelajaran, maka seisi kelas akan ‘memusuhi’.

Kelas yang baik memang berisi dialog antar guru dan siswa, dan jenis dialog yang dilakukannya bisa individu, guru dengan kelompok kecil atau antar guru dengan seisi kelas.  Sebuah pertanyaan bisa membuat dialog yang terjadi menjadi bermakna dan punya maksud untuk tidak hanya menjadikan siswa mengerti tetapi juga siswa menjadi terlatih menjadi seorang pemikir kritis.

Jenis pertanyaan yang bisa anda ajukan pada siswa bisa saya contohkan sebagai berikut;

  • Apa yang semestinya kita/kamu  lakukan sebagai…
  • Apa yang bisa kamu simpulkan dari kejadian/peristiwa ini…
  • Apa yang bisa kamu perhatikan/cermati  dari …..
  • Katakan pada saya mengenai hal ini……
  • Apa yang kamu lihat dari….
  • Coba bayangkan…
  • Coba perkirakan …
  • Jika……. Lalu……
  • Mungkinkah…..
  • Apakah kamu bisa menciptakan/mengkreasikan….
  • Kemungkinan apa sajakah yang bisa dicermati dari…
  • Bagaimana jika….