Refleksi menghadiri workshop ‘Action dalam PYP’

Di banyak sekolah di Indonesia masih banyak pengertian bahwa jika kita ingin membantu sebuah komunitas yang tertimpa bencana atau orang yang kurang beruntung mesti dengan uang dan sumbangan. Jika belum memberi kedua hal tersebut selayaknya belum disebut sebagai tindakan untuk berpartisipasi meringankan beban orang lain.

Mari kita garis bawahi yang disebut sebagai ‘tindakan’ atau action. Dalam dunia pendidikan kata ‘action’ sangat penting sekali. Dikarenakan kritik terbesar dari sistem pendidikan selama ini adalah di sekolah sepertinya siswa hanya sibuk dibimbing untuk menyerap pengetahuan dan luput diajarkan untuk melakukan ‘tindakan’ untuk lingkungan sekitarnya. Tidak heran saat ada diperguruan tinggi pun mahasiswa seperti kebingungan mesti berbuat apa saat berada di tengah masyarakat, karena memang sejak dini tidak dibiasakan untuk menghubungkan hasil pembelajaran di sekolah dengan aksi atau tanggung jawab yang bisa dilakukan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Padahal sejak dini siswa mesti dibiasakan untuk memilih dan bertindak, serta melakukan refleksi atas tindakan atau aksi yang mereka lakukan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Selama 2 hari diawal tahun ajaran 2010-2011 saya menjalani workshop mengenai ‘Aksi dalam PYP’. Dalam kerangka Primary Years Programme, pendidikan mesti diperluas menjadi tidak hanya masalah akademis saja tetapi juga tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial yang dimaksud tidak hanya inisiatif untuk menyumbangkan uang atau materi kepada yang membutuhkan namun juga sebuah aksi yang benar-benar tepat dan berasaskan pada asas keberlanjutan (sustainability).

Lanjutkan membaca “Refleksi menghadiri workshop ‘Action dalam PYP’”

Iklan

Anda sudah menjadi pengganti orang tua bagi siswa anda di sekolah jika..

Salah satu tugas guru di sekolah selain mengajar siswa pengetahuan adalah bersikap menjadi pengganti orang tua siswa saat di sekolah. Sebuah sekolah yang baik memang tidak semata-mata peduli pada aspek akademis siswanya tetapi juga aspek perilaku dan motivasi saat siswa berada di lingkungan sekolah. Walaupun benar adanya bahwa waktu yang dilalui siswa lebih banyak dilalui di rumah dibanding di sekolah, namun tetap saja sekolah membutuhkan guru yang bisa menggantikan peran orang tua siswa saat disekolah.

Berikut ini adalah beberapa prinsip yang bisa dijadikan acuan agar guru bisa menjadi pengganti orang tua di sekolah.

  1. Anda tidak harus menjadi   seseorang yang berkeluarga terlebih dahulu untuk bisa menjadi orang tua siswa di sekolah. Inti dari menjadi orang tua di sekolah adalah peduli dan mau mendengar serta bersedia mencari jalan keluar yang terbaik bagi permasalahan yang siswa hadapi.
  2. Anda bisa dan biasa memanggil siswa anda dengan sebutan ‘nak’. Lanjutkan membaca “Anda sudah menjadi pengganti orang tua bagi siswa anda di sekolah jika..”