Memfasilitasi guru dari Selandia Baru dalam program Asia NZ 2010

Senang sekali bisa bertemu dengan rekan seprofesi dari negara lain. Kali ini saya bertemu dengan Julia dan Debra, mereka berasal dari Auckland Selandia Baru. Mereka akan tinggal selama 2 minggu di Yogyakarta. Yayasan Bina Antarbudaya meminta saya untuk memberikan sesi orientasi sebelum mereka tiba di Yogyakarta.

Berikut surat dari Kak Diar Direktur Program Bina Antarbudaya.

Dear  Kak Agus,

It was very enjoyable to meet you and have you  as the facilitator.  The sessions seems to be an excellent match for what the teacher needs before their departure to their program.

Thank you so much for bringing and sharing your experiences with the participants.  We appreciate the time you took to come and volunteering with us.

Sincerely,

Diar Andiani
Program Director
Bina Antarbudaya
The Indonesian Foundation for Intercultural Learning
Jl. Limau No. 22, Kebayoran Baru, Jakarta 12130
Phone : +6221 7222291, +6221 7235832, Fax : +6221 7267118
Website   : www.bina-antarbudaya.info
Twitter    : www.twitter.com / binabud
Facebook : www.facebook.com / Bina Antarbudaya

Refleksi Workshop “Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam untuk SMA” dengan tema “Kita Wujudkan Guru PAI Kota Tangerang Selatan yang Profesional”.

Pada Sabtu, 21 Agustus 2010, saya hadir di SMAN 4 Tangerang Selatan, Jl.WR.Supratman No.1 Komplek Pertamina Pondok Ranji, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Dalam rangka kegiatan workshop “Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam untuk SMA”

Tujuan diadakannya kegiatan “Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam untuk SMA” adalah untuk menemukan hal-hal baru dalam penyelenggaraan proses belajar Pendidikan Agama Islam untuk SMA, sehingga tujuan Pendidikan Agama Islam di SMA dapat terwujud secara maksimal. Kegiatan ini melibatkan guru-guru Pendidikan Agama Islam tingkat SMA Negeri/Swasta se-Kota Tangerang Selatan yang berjumlah 85 orang.

Kegiatan Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam untuk SMA mengambil tema: “Kita Wujudkan Guru PAI Kota Tangerang Selatan yang Profesional”.

Hasil yang akan dicapai dengan workshop Pengembangan bahan ajar Pendidikan Agama Islam SMA adalah: “Pembekalan kepada guru agama Islam SMA di Kota Tangerang Selatan tentang kepentingan bahan ajar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan terwujudnya suatu produk bahan ajar Pendidikan Agama Islam di SMA”.

Terima kasih yang tak terhingga untuk rekan baik saya Bapak M. Edi Suharsongko, S.Ag. yang telah mengundang dan berpartisipasi aktif demi keberhasilan acara ini. Maju terus guru PAI Kota Tangerang Selatan..!

Refleksi menghadiri workshop ‘Action dalam PYP’

Di banyak sekolah di Indonesia masih banyak pengertian bahwa jika kita ingin membantu sebuah komunitas yang tertimpa bencana atau orang yang kurang beruntung mesti dengan uang dan sumbangan. Jika belum memberi kedua hal tersebut selayaknya belum disebut sebagai tindakan untuk berpartisipasi meringankan beban orang lain.

Mari kita garis bawahi yang disebut sebagai ‘tindakan’ atau action. Dalam dunia pendidikan kata ‘action’ sangat penting sekali. Dikarenakan kritik terbesar dari sistem pendidikan selama ini adalah di sekolah sepertinya siswa hanya sibuk dibimbing untuk menyerap pengetahuan dan luput diajarkan untuk melakukan ‘tindakan’ untuk lingkungan sekitarnya. Tidak heran saat ada diperguruan tinggi pun mahasiswa seperti kebingungan mesti berbuat apa saat berada di tengah masyarakat, karena memang sejak dini tidak dibiasakan untuk menghubungkan hasil pembelajaran di sekolah dengan aksi atau tanggung jawab yang bisa dilakukan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Padahal sejak dini siswa mesti dibiasakan untuk memilih dan bertindak, serta melakukan refleksi atas tindakan atau aksi yang mereka lakukan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Selama 2 hari diawal tahun ajaran 2010-2011 saya menjalani workshop mengenai ‘Aksi dalam PYP’. Dalam kerangka Primary Years Programme, pendidikan mesti diperluas menjadi tidak hanya masalah akademis saja tetapi juga tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial yang dimaksud tidak hanya inisiatif untuk menyumbangkan uang atau materi kepada yang membutuhkan namun juga sebuah aksi yang benar-benar tepat dan berasaskan pada asas keberlanjutan (sustainability).

Read More »

Anda sudah menjadi pengganti orang tua bagi siswa anda di sekolah jika..

Salah satu tugas guru di sekolah selain mengajar siswa pengetahuan adalah bersikap menjadi pengganti orang tua siswa saat di sekolah. Sebuah sekolah yang baik memang tidak semata-mata peduli pada aspek akademis siswanya tetapi juga aspek perilaku dan motivasi saat siswa berada di lingkungan sekolah. Walaupun benar adanya bahwa waktu yang dilalui siswa lebih banyak dilalui di rumah dibanding di sekolah, namun tetap saja sekolah membutuhkan guru yang bisa menggantikan peran orang tua siswa saat disekolah.

Berikut ini adalah beberapa prinsip yang bisa dijadikan acuan agar guru bisa menjadi pengganti orang tua di sekolah.

  1. Anda tidak harus menjadi   seseorang yang berkeluarga terlebih dahulu untuk bisa menjadi orang tua siswa di sekolah. Inti dari menjadi orang tua di sekolah adalah peduli dan mau mendengar serta bersedia mencari jalan keluar yang terbaik bagi permasalahan yang siswa hadapi.
  2. Anda bisa dan biasa memanggil siswa anda dengan sebutan ‘nak’.Read More »

Serba-serbi menciptakan kelas yang hidup (Refleksi workshop guru kreatif di Sekolah Islam Terpadu Al Izzah Taman Adyasa Tangerang)

Ini adalah kunjungan saya yang kedua di sekolah Islam Terpadu Al Izzah Tigaraksa Tangerang.  Bersama 25 guru yang bersemangat tanggal 10 Juli 2010, saya membahas cara dan metode untuk menjadikan kelas tempat kita mengajar menjadi kelas yang hidup. Berikut ini adalah ringkasan pembahasannya.

Read More »