Workshop guru profesional di SDIT Adzkia Sukabumi

Siti Nurul Aeni May 1 at 5:36pm subhanallah materi anda tadi benar2 yg sedang ana butuhkan sekarang,,,jazakillah semoga sukses…

(Surat dari guru yang menjadi salah satu peserta lewat facebook)

Di Sukabumi, bulan Mei lalu saya datang dan bersilaturahmi dengan guru-guru di SDIT Adzkia Sukabumi. Saya berbagi dengan guru-guru yang bersemangat dalam memberikan yang terbaik untuk siswa. Terbukti dengan lancarnya acara dan antusiasnya mereka ketika workshop sehari berlangsung.

Tema yang dibahas adalah mengenai menjadi guru yang professional dan tantangan abad 21 ke depannya sesuai dengan pilihan kita sebagai individu sebagai guru.

Saya mencoba mengingatkan diri saya sendiri dan guru yang hadir mengenai pentingnya keluar dari rutinitas dalam keseharian kita sebagai guru . Caranya adalah dengan bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut ini setelah kita mengajar siswa di kelas.

  1. Apakah saya dapat menjelaskan komponen utama dari pelajaran?
  2. Apakah saya mengerti bagaimana pelajaran yang saya sampaikan tadi berhubungan dengan unit / sebelumnya dan unit berikutnya?
  3. Di manakah posisi pembelajaran tadi dalam kurikulum?
  4. Apa saja strategi pembelajaran digunakan?
  5. Apakah saya menggunakan praktek-praktek terbaik dalam mengajar dan menyampaikan hal yang manjadi target standar kurikulum?
  6. Apakah saya membangun dan mengembangkan konten, produk atau proses dari pelajaran sebelumnya?
  7. Bagaimana pelajaran ini menjadi batu loncatan untuk pelajaran berikutnya?
  8. Bagaimana aku bisa menyesuaikan pendekatan instruksional untuk pelajaran lain?
  9. Mungkinkah pelajaran ini dimodifikasi untuk siswa yang berbeda?
  10. Apa latar belakang pengetahuan dan keterampilan yang saya asumsikan membawa siswa untuk pelajaran?
  11. Apakah saya menggunakan strategi pengajaran yang tepat untuk tugas ini?
  12. Apakah saya melihat pola dalam cara saya mendekati pelajaran – seperti berjalan  mondar-mandir di kelas, sampai melakukan pengelompokan terhadap siswa?
  13. Apakah saya melihat pola dalam gaya mengajar saya – misalnya cara komentar setelah setiap jawaban siswa?
  14. Apa hasil pendekatan yang saya digunakan – apakah itu efektif, atau mungkin ada langkah lain yang lebih efektif?

Workshop yang berlangsung sehari benar-benar merupakan hal yang baru untuk saya, karena dari banyak guru yang hadir saya pun juga belajar. Belajar untuk bisa menjadi guru yang terbaik bagi siswa dan mempersiapkan mereka agar bisa menjadi orang yang lebih baik dari generasi kita sekarang.

Acara ditutup di sore hari dan saya pun melanjutkan perjalanan saya kembali ke Jakarta. Untuk segenap manajemen dan leadership dan Pak Dede Dzkiri yang telah berkenan mengundang saya datang saya ucapkan terima kasih. Doa saya agar SDIT Adzkia bisa terus menjadi market leader dalam dunia pendidikan di Sukabumi.

Iklan

5 panduan sukses mengelola siswa bagi guru ditahun ajaran baru

1.     Kenali siswa sedapat mungkin. Siswa kita adalah individu yang akan bekerjasama dengan kita sebagai guru untuk hasil yang terbaik bagi kita sebagai pengajar dan mereka sebagai individu pembelajar.

2.     Syukuri siapa saja siswa yang ada dikelas anda. Dengan mensyukuri mereka sebagai siswa anda tahun ini maka akan lebih mudah jalannya tahun ajaran baru yang anda alami.

3.     Hindari melabel atau meneruskan ‘cap’ pada siswa anda. Cap bisa berarti baik dan buruk. Siswa kita adalah individu yang sedang berproses. Memberi cap atau label (meskipun positif) pada mereka hanya akan menghambat proses mereka sebagai pembelajar.

4.     Mendengarkan apa yang guru sebelumnya katakan mengenai siswa anda. Sekolah yang baik punya arsip dan dokumen mengenai pembelajaran dan bagaimana siswa anda belajar dan bersikap tahun lalu. Boleh juga mendengarkan apa yang guru sebelumnya katakan mengenai siswa anda tahun ini, tapi akan lebih baik jika melihat data tertulis yang sekolah anda keluarkan.

5.     Terbuka terhadap perubahan kurikulum dan srategi mengajar. Banyak sekolah melakukan rapat 3 hari atau pelatihan di awal tahun ajaran. Mari berhenti melakukan hal-hal tsb sebagai rutinitas belaka. Jika sekolah anda mendatangkan pembicara atau pakar  diawal tahun ajaran, silahkan gunakan metode atau pengetahuan yang diberikan

Tren Pendidikan Internasional Sekolah-Sekolah yang Berwawasan Internasional (Ian Hill)

Translated by: Ibu Wendy, Ibu Elly and Ibu Fitri – Sekolah Global Jaya, Jakarta, Indonesia

Pendidikan inernasional tidak selalu merupakan dominasi sekolah-sekolah internasional. Sejumlah besar sekolah negeri menawarkan program yang sejenis dengan apa yang ditawarkan oleh institusi sekolah internasional. Sebagai konsekwensinya, upaya untuk merumuskan apa yang disebut pendidikan inetrnasional akan terjawab jika kita membedakan usaha untuk merumuskan apa sebenarnya arti sekolah internasional, atau bagaimana seharusnya sekolah internasional itu, dan sebagai gantinya mamusatkan pemikiran kita kepada sekolah-sekolah yang berwawasan internasional. Dr. Hill mendeskripsikan sejumlah besar tipe sekolah berwawasan internasional yang menawarkan program tersebut, terutama sekolah-sekolah negeri atau sekolah-sekolah yang dibiayai oleh pemerintah. Ia menyuguhkan contoh praktis apa yang menjadi dasar dan aspek-aspek utamasebuah sekolah yang berwawasan internasional, terutama pemahaman inter-kultural dan bagaimana hal tersebut dapat diajarkan di sekolah manapun baik nasional maupun internasional.

Sekolah-sekolah internasional bukanlah satu-satunya jenis sekolah yang menyuguhkan pendidikan internasional. Sekolah-sekolah nasional, baik negeri maupun swasta, juga dapat menjadi partner setara. Hal ini mulai nampak pada dekade ’90-andan melalui beberapa penulis, seperti misalnya Peels (1998 halaman 12), telah mengarah kepada hal tersebut. Walker (1995 halaman 14) berkata: “Sekarang ini sejumlah besar sekolah negeri nasional…menggalakkan perkembangan jalur pendidikan internasional”. Menarik untuk disimak bahwasanya 1080 sekolah-sekolah International Baccalaureate Organization (IBO) di bulan Mei 2000, 43% diantaranya adalah sekolah negeri. 57% dari sisanya, sepertiga adalah sekolah swasta nasional. Dengan demikian berarti hanya sepertiga dari seluruh sekolah yang menyelenggarakan program IBO merupakan sekolah-sekolah internasional independen milik swasta. Diskusi menawarkan deskripsi sekolah-sekolah internasional, sekolah-sekolah nasional dan pendidikan internasional; yang dikatakan bahwasanya konsep sekolah-sekolah “international-minded” (berwawasan internasional) lebih cocok dengan peningkatan pendidikan internasional dan upaya untuk mengilustrasikan hal ini melalui sebuah contoh pengajaran yang berupaya membangun pemahaman inter-kultural.

Ciri-Ciri Sekolah Nasional
Sebuah sekolah nasional biasanya mengajarkan kurikulum yang ditetapkan oleh kementrian pendidikan dari negeri yang bersangkutan dan memiliki baik siswa maupun staff dari dalam negeri. Sebagian besar adalah sekolah negeri yang dibiayai oleh pemerintah (tanpa uang sekolah), dan sejumlah besar sekolah swasta (yang menerapkan uang sekolah). Kebanyakan sekolah ini berlokasi di dalam negeri, sebagian di luar negeri yang didirikan untuk warga Negara negeri yang bersangkutan, seprti misalnya sejumlah sekolah Amerika, Inggris dan Perancis.

Dalam beberapa kasus, sekolah nasional akan mengajarkan program pendidikan nasionalnya, program negeri lain atau sebuah program internasional. Beberapa sekolah swasta, seperti sekolah nasional di Afrika Selatan, mengajarkan CCE “A” level sebagai tambahan pembelajaran matrikulasi nasional. Sebagian besar negeri-negeri di Afrika yang berbahasa Perancis memiliki sejumlah kecil sekolah swasta-nasional yang mengajarkan baccalaureat Perancis bersamaan dengan baccaulaureate lokal dimana sekolah itu berada. City Technology College, Kinghust, Birmingham, adalah sebuah sekolah negeri yang manawarkan Program IB Diploma dan tidak menyelenggarakan “A” level (namun menyuguhkan program nasional Inggris lainnya yang berorientasi pada pendidikan vokasional/keterampilan).

Sebuah contoh lain, banyak dari sekolah-sekolah di Amerika Utara yang ada di luar Amerika, menawarkan Program IB sebagai tambahan dari diploma SMA dan ujian Advanced Placement; beberapa diantaranya diberi nama “The American International School of…” yang menandakan bahwasanya mereka mempertahankan etos ke-Amerika-annya namun juga menawarkan dimensi internasional. Sekarang ini, banyak sekolah sekolah Amerika yang berkedudukan di luar negeri yang hanya memiliki sejumlah kecil siswa yang berasal dari Amerika dan sisanya datang dari budaya yang berbeda-beda, namun staffnya sebagian besar adalah warga negara Amerika. Di satu sisi, mereka ini memiliki kualifikasi sebagai sekolah-sekolah internasional, namun mereka mempromosikan budaya dan system pendidikan Amerika dan dengan demikian merupakan sekolah nasional ditinjau dari asal-usul dan etosnya.

Sekolah Internasional – apa artinya?
Sebuah sekolah internasional biasanya melayani siswa yang berasal dari sejumlah besar budaya yang berbeda. Mereka sering berpindah berpindah dari satu negera ke negera lainnya, karena biasanya mereka adalah pegawai salah satu organisasi PBB atau perusahaan swasta multinasional. Staffnya juga terdiri dari orang-orang berbagai bangsa tanpa memiliki satu budaya yang dominan. Sekolah-sekolah sejenis ini biasanya menawarkan satu atau lebih program internasional (namun biasanya bukanlah program dari negeri dimana sekolah ini berada) atau merupakan kombinasi dari keduanya. Sekolah-sekolah ini adalah sekolah swasta yang menerapkan sistem uang sekolah dan tersebar di seluruh dunia. Mereka juga melayani orang tua (kebanyakan orang asing dan juga lokal) yang menginginkan putera-puterinya menerima pendidikan yang berbeda dari program lokal (walaupun ada juga sejumlah kecil sekolah yang tetap menawarkan program lokal, seperti misalnya International School of Geneva yang juga mengajarkan maturite Swiss). Orang tua siswa lokal terkadang juga tertarik oleh percampuran budaya yang terjadi di sekolah yang bersangkutan.

United World Colleges adalah contoh yang tepat untuk sekolah-sekolah internasional, seperti halnya sekolah-sekolah yang didirikan oleh PBB, misalnya: International School of Geneva, the UN International School (New York) dan Bienna International School. Ada juga sekolah-sekolah Uni Eropa (EU) yang untuk pertama kalinya menawarkan European Baccalaureate pada tahun 1959, yang sebagian besar merupakan representasi pembauran berbagai budaya negara-negara anggota Uni Eropa. Program-program sekolah ini menyatukan berbagai aspek kurikulum nasional sehingga setiap siswanya ter-ekspos dengan paling sedikit dua bahasa nasional dan budaya secara mendalam.

Sebuah sekolah internasional murni dapat dikatakan sebagai sebuah sekolah yang tidak melakukan penekanan pada budaya dan sistem pendidikan dari sebuah negara tertentu.

Sekolah Negeri Internasional – jenis ini benar-benar ada
Sebuah institusi hybrid adalah sekolah nasional dengan bagian internasional khusus. Jenis sekolah semacam ini dapat ditemukan di Belanda, Negara-negara Scandinavia seperti (Swedia, Denmark, Norwegia , Finlandia dan Iceland) dan dari Eropah Timur; ada sekitar 75 institusi dengan kurang lebih 45 berada di Negara –negaea Scandinavia. Dari sekolah-sekolah negeri ini yang mengajarkan bahasa nasional, ada bagian khusus yang mengajarkan bahasa Inggris dan menawarkan program eksklusif IB-biasanya untuk tingkat diploma namun secara berkala juga menawarkan Middle Years Programme (MYP). Semuanya, termasuk staff pengajar, disediakan oleh Negara. Di Belanda, seksi internasional sebagian besar dipadati oleh siswa-siswi asing dengan beberapa siswa Belanda yang pernah tinggal di luar negeri. Orang tua membayar uang sekolah yang jumlahnya tidak banyak ditambah dengan uang ujian IB. Di negeri-negeri Scandinavia dan Eropah Timur, seksi internasional ini biasanya melayani siswa-siswi dari dalam negeri tanpa perlu membayar uang sekolah namun tetap membayar ujian IB. Dalam setiap kasus, staff sekolah didominasi oleh orang-orang lokal, dengan sejumlah kecil native speakers bahasa Inggris dari luar negeri.

Perancis juga memiliki 8 lycees (sekolah) negeri yang menawarkan program internasional dengan seksi ingternasional bilingual yang mengajarkan bahasa Inggris dan sebuah bahasa lain. Bergantung pada ukuran sekolah, dapat terjadi bahwa sekolah yang bersangkutan memiliki satu atau lebih seksi internasional, masing-masing dengan bahasa keduanya sendiri contohnya: Bahasa Inggris, Spanyol, Portugis, Jerman, Itali, Jepang, Swedia. Sarana dan fasilitas serta materi disediakan oleh pemerintah Perancis, termasuk guru-guru yang mengajar dalam bahasa Perancis. Program IB Diploma ditawarkan oleh salah satu lycess ini, atau program yang dipakai adalah baccalaureat francais a option internationale (yang dipersiapkan oleh kementrian pendidikan) yang diuji untuk pertama kalinya pada tahun 1984 (terinspirasi oleh IB Diploma). Program ini identik dengan baccalaureate nasional dengan perkecualian bahasa asing yang digantikan dengan kelas sastra pada tingkatan siswa native speakers yang dilaksanakan enam kali seminggu dan 3 kali seminggu untuk sejarah/geografi dalam bahasa lain. Guru-guru pelajaran yang menggunakan bahasa asing (kecuali Inggris) disediakan oleh pemerintah dari negeri yang bahasanya diajarkan., melalui persetujuan bi-lateral dengan kementerian pendidikan Perancis. Native Speakers bahasa Inggris direkrut oleh seksi yang bersangkutan dan dibiayai oleh pembayaran yang ditarik dari orang tua. Seksi-seksi internasional mayoritas terdiri dari siswa asing dengan sejumlah siswa Perancis.

Pengecualian dapat terjadi, namun typolog sekolah ini dapat dipahami jika kita tidak secara otomatis mengasosiasikan pendidikan internasional hanya diberilkan oleh sekolah-sekolah internasional dan sekolah nasional hanya memeberikan pendidikan nasional.

Apa yang dimaksud dengan pendidikan internasional?
Banyak pendidik internasional telah berusaha merumuskan ‘pendidikan internasional’ selama bertahun-tahun. Deskripsi di bawah ini berisi pendekatan-pendekatan yang dimengerti oleh sebagian orang tentang apa itu pendidikan internasional dan menjadi topik utama dalam artikel ini.
Definisi UNESCO tentang pendidikan internasional menekankan kepada pendidikan bagi perdamaian, hak azasi dan demokrasi (UNESCO 1974). Definisi ini dipertegas dengan adanya deklarasi pada konferensi internasional dalam hal pendidikan (ICE), Geneva, 1994 dan disokong oleh konferensi umum UNESCO di Paris tahun berikutnya. ICE dikelola oleh Biro Pendidikan Internasional (UNESCO) dan mengajak serta Menteri Pendidikan dari seluruh Negara. TUjuan dari pendidikan internasional ini diperkenalkan dengan deklarasi ini (UNESCO, 1996, p. 90 untuk mengembangkan :

• Nilai yang universal bagi adanya budaya perdamaian,
• Kemampuan untuk menghargai kebebasan dan tanggung jawab warganegara yang ada didalamnya,
• Pemahaman antar budaya yang mendorong pemersatuan ide dan solusi untuk memperkuat perdamaian,
• Kemampuan untuk memecahkan konflik tanpa kekerasan,
• Kemampuan untuk membuat pilihan-pilihan,
• Menghargai warisan budaya dan pemeliharaan lingkungan,
• Rasa solidaritas dan keadilan pada tingkat nasional dan internasional

Lanjutkan membaca “Tren Pendidikan Internasional Sekolah-Sekolah yang Berwawasan Internasional (Ian Hill)”