Waspadai Penyakit Kronis Pendidikan

Jawa Pos Guru-guru yang enggan belajar menjadi penghambat pengembangan pendidikan. Pengamat pendidikan Agus Sampurno menyebut saat ini muncul penyakit kronis di lingkungan pendidik, yaitu kendurnya semangat mencari ilmu. “Kasarnya, guru sekarang sudah ogah belajar,” tegas Agus dalam seminar di Empire Palace kemarin (22/5).

Seminar Terima Kasih Guru dengan tema Karakteristik Pembelajaran Abad Ke-21 itu diadakan oleh PT Amerta Indah Otsuka. Di depan ratusan guru peserta seminar, Agus menyatakan bahwa penyakit kronis tersebut menuntut segera diobati. Jika tidak, pendidikan di tanah air ini bakal stagnan.

“Bagaimana tidak jika gurunya sendiri memilih stagnan,” jelas pengajar sekaligus pelatih para guru itu. Akibat paling berbahaya jika guru tidak mau belajar adalah pendidikan tidak akan mampu mengikuti arus perkembangan zaman yang cukup kencang.

Agus menjelaskan, salah satu ciri pembelajaran yang tidak berkembang adalah model pembelajaran satu arah. ”Guru memosisikan diri sebagai satu-satunya sumber ilmu,” tuturnya. Padahal, lanjut Agus, ilmu pengetahuan itu bisa digali dari berbagai sumber. Mulai media masa, lingkungan sekitar, sampai internet.

“Berikanlah kebebasan kepada siswa untuk mencari sumber ilmu yang lain,” tutur pengajar di School Teacher Indonesia itu. Dengan memberi sedikit kebebasan ke siswa, kewibawaan guru tidak bakal luntur. Bahkan, Agus menjelaskan saat ini siswa lebih suka dengan guru yang memiliki sikap demokratis yang tinggi. “Di mana pun dan kapan pun siap menerima pertanyaan siswa,” jelasnya.

Di antara guru yang hadir kemarin adalah Harjito. Guru pendidikan kewarganegaraan di SMA YPPI 1 itu menjelaskan, permasalahan guru di tingkat bawah cukup kompleks. Di satu sisi, mereka diwajibkan menjalankan program pemerintah yang “kaku”. Di sisi lain, guru dituntut mencari inovasi-inovasi serta sedikit memberi siswa kebabasan untuk mencari ilmu. “Dua persoalan itu cukup kontradiktif,” papar Harjito.

Sampai sekarang, belum ada titik temu antara dua persoalan tersebut. Harjito menjelaskan, dirinya lebih memilih menjalankan keduanya beriringan. “Dijalankan mengalir begitu saja,” katanya. Ratna Yudythia, wakil dari PT Amerta Indah Otsuka, mengatakan sangat concern kepada dunia pendidikan. Acara Terima Kasih Guru itu diselenggarakan dalam rangkaian menciptakan pendidikan nasional yang lebih baik. Guru, menurut dia, merupakan tulang punggung pendidikan. “Ini merupakan kontribusi yang cukup signifikan,” jelas Yudythia. (wan/c10/roz)

Sumber

http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=135488

Iklan

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

4 tanggapan untuk “Waspadai Penyakit Kronis Pendidikan”

  1. menurut saya tidak semua guru tidak inovatif dan kreatif. kendala adanya sistem management suatu lembaga yang seringkali tidak memberikan ruang dan gerak bagi guru inovasi karena dalam kutib ada kepentingan /pandangan subyektif. Kiranya guru-2 yang terhambat dapat tetap bertahan dengan idealismenya, terlebih mampu sharekan pengetahuan walaupun kesempatan dibatasi. salam edukasi.

    1. Bu Ary yang baik,
      Tantangan guru yang punya banyak inovasi adalah lingkungan sekitarnya. Dalam banyak kesempatan saya sering menyemangati guru agar berubah bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: