Mengubah warna pendidikan

RABU, 31 MARET 2010 | MEDIA INDONESIA Sosok | hal 29

Oleh Maria Jeanindya

Foto oleh Usman Iskandar

Agus Sampurno tak ingin hanya berdiri

sebagai seorang guru yang berceramah di

depan kelas. Dia mendobrak pakem lewat

kelas yang ramah secara intelektual.

Pria berdasi biru tampak  sibuk hilir mudik ke berbagai sudut ruangan. Suara-suara anak-anak dari sisi lain laboratorium computer tersebut memanggil namanya. “Pak Agus, bagaimana cara nge-savenya?” tanya suara tersebut.

Agus Sampurno, sang guru, menghampiri sumber suara. Menanggapi pertanyaan seorang gadis kecil. Di sisi ruangan lainnya, Tommy, bocah berusia enam tahun, sedang menatap lekat-lekat layar monitor. “Ini lagi bikin cerita bergambar. Cerita-nya, aku dari rumah mau pergi ke ITC,” ucapnya polos, saat ditanya apa yang sedang ia lakukan.

Tak lama berselang, Agus meminta seluruh anak didiknya mematikan komputer masingmasing dan berkumpul ke tengah ruangan lantaran jam pelajaran komputer Selasa (30/3) siang telah habis. Agus dekat dengan muridnya yang masih duduk di tingkat satu Global Jaya International School tersebut. Dia pasang kuping ketika seorang muridnya bercerita tentang apa yang dia lakukan dengan internet saat masa liburan lalu. Cara mengajar yang diterapkan Agus memang sedikit berbeda. Ia tidak banyak bicara. Sebaliknya, ia hanya melontarkan beberapa pertanyaan. Ini dilakukan untuk merangsang siswa agar berani tampil dan menjawab pertanyaan, sekaligus menjelaskan kepada kawan kawan sekelasnya. Agus menyebut kondisi tersebut sebagai ‘kelas yang ramah secara intelektual’. Dengan menggunakan metode ini, ia mengaku, sebanyak 50% pengetahuan yang dimiliki siswanya berasal dari eksplorasi mandiri tiap murid. “Peran guru dalam metode ini sekitar 30%, dan didukung dari buku teks sebesar 20%,” ucapnya seusai mengajar. Membuat kondisi kelas yang ramah secara intelektual masih belum banyak dilakukan guru guru di Indonesia. “Tantangan pendidikan saat ini adalah kebebasan untuk meng akses informasi yang mampu membuat siswa-siswi menjadi lebih kritis. Guru harus siap menghadapinya,” kata Agus.

Para tenaga pendidik di Indonesia, lanjut Agus, sering kali masih menempatkan diri sebagai sumber ilmu di dalam kelas. Hingga tak jarang, guru tersinggung saat murid menyerangnya dengan berbagai pertanyaan. “Guru sering takut diremehkan secara intelektual. Murid yang banyak tanya juga tidak jarang dianggap menguji sang guru. Malah ada yang diberi nilai jelek gara-gara kebanyakan nanya,” tutur pria berkacamata itu tertawa. Untuk menghadapi tantangan tersebut, selain membuka diri dengan informasi baru melalui dunia maya, sang guru harus bersikap sportif. “Kalau enggak tahu, ya bilang tidak tahu. Dan minta murid itu yang menjelaskan di depan kelas kepada teman- temannya,” ucapnya.

Lanjutkan membaca “Mengubah warna pendidikan”

%d blogger menyukai ini: