Menjadi sekolah yang efektif dengan menciptakan komunitas pembelajar di sekolah (Laporan workshop ‘sekolah efektif’ se Bandung Raya)

Sekolah Tunai Indonesia kembali mengadakan pelatihan untuk kepala sekolah se Bandung Raya. Kali ini saya memfasilitasi 160 lebih kepala sekolah yang hadir dalam topik ‘Sekolah yang efektif”. Berikut ini adalah gambaran materi yang disampaikan.

Upaya mewujudkan sekolah sebagai komunitas belajar bisa dibilang sulit tapi juga bisa menjadi mudah. Mudah dikarenakan sekolah sebagai tempat persemaian ilmu pengetahuan dan tempat dimana ide-ide serta impian dijalankan. Dengan demikian ide untuk menjadikan sekolah sebagai komunitas pembelajar sangat relevan.Hal utama yang perlu dipahami adalah siapa saja yang terlibat dalam komunitas belajar. Mereka adalah siswa, guru, orang tua bahkan tata usaha sekolah. Jadi anggapan selama ini di masyarakat yang mengatakan bahwa sekolah merupakan tempat belajar hanya bagi bagi siswa tidaklah benar.

Berikut beberapa pernyataan yang bisa membantu terbentuknya komunitas belajar di sekolah;

“Komunitas merupakan hal yang sangat penting”, menjadi tugas sekolah yang sangat penting untuk membawa siswa dan guru bersama-sama kedalam sebuah komunitas yang mendukung pertumbuhan guru dan siswa sebagai pribadi maupun kelompok. Banyak tempat yang bisa menjadi ladang persemaian hal ini, di kelas, dirumah maupun lewat dunia maya.

“berpikir kritis”– Sekolah sedapat mungkin membuat siswa dan guru berpikir secara kritis, dengan seringnya mempertanyakan diri sendiri misalnya dengan pertanyaan, “mengapa kita mengajar apa yang kita ajarkan?”

” Mengambil resiko” – sekolah secara aktif membuat siswa dan guru mau mengambil resiko dalam kaitan pencarian terhadap hal yang paling penting dalam kehidupan mereka sebagai pembelajar. Denga demikian masukan aspek refleksi siswa dalam kegiatan pembelajaran dikelas.

” Berpusat pada siswa” – Sekolah sedapat mungkin menyiram guru dan siswa dengan gagasan-gagasan serta informasi, membuat guru dan siswa mau terus mencari pengetahan dengan cara yang tidak harus sama. Tentu saja dikarenakan sebagai pribadi tiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda tetapi semuanya diupayakan agar punya pengaruh positif pada komunitas di sekolah

“Keberagaman”– Sekolah sebagai lembaga, punya peran aktif dalam membuat suasana yang nyaman dari sisi komunikasi sehingga sekolah bisa dengan cepat menerima beragam masukan. Hal ini berarti pihak yang memberi masukan juga akan senang hati memberikannya pada pihak sekolah sambil berpikir bahwa masukan yang akan diberikannya akan ditindak lanjuti.Maklum unsur sekolah biasanya terdiri dari beragam unsur dan beragam pula latar belakangnya, baik sosial maupun pengetahuan.Hal yang paling praktis adalah mengadakan pelatihan singkat bagi tenaga pendukung di sekolah dari tenaga pembersih samai satpam, sampaikan apa yang sekolah harapkan dari peran mereka.

“Menumbuhkan semangat pembelajar”– Sekolah sedapat mungkin membuat siswa, guru , administrasi dan orang tua agar mau terus tumbuh dan belajar. Libatkan tata usaha dan orang tua dalam workshop pendidikan disekolah merupakan ide yang brilyan.

“Berinovasi”– Dengan menyertakan semua unsur dalam institusi, sekolah berusaha terus melakukan inovasi dalam hal teknologi serta hal lain yang sejalan dengan kemajuan jaman.

“Sekolah yang baik meluluskan orang yang baik pula”– Sekolah selalu berusaha untuk mengajarkan siswa mereka perduli dan menghargai amal baik serta mau berpartisipasi dalam masyarakat lewat program yang dirancang dengan baik pula misalnya program ‘community service’.

Silahkan melihat keseluruhan foto pada event ini pada link berikut ini

http://picasaweb.google.com/a.sampurno/PelatihanUntukKepalaSekolahSeBandungRayaTemaMenjadiSekolahEfektif?feat=directlink

Mengubah warna pendidikan

RABU, 31 MARET 2010 | MEDIA INDONESIA Sosok | hal 29

Oleh Maria Jeanindya

Foto oleh Usman Iskandar

Agus Sampurno tak ingin hanya berdiri

sebagai seorang guru yang berceramah di

depan kelas. Dia mendobrak pakem lewat

kelas yang ramah secara intelektual.

Pria berdasi biru tampak  sibuk hilir mudik ke berbagai sudut ruangan. Suara-suara anak-anak dari sisi lain laboratorium computer tersebut memanggil namanya. “Pak Agus, bagaimana cara nge-savenya?” tanya suara tersebut.

Agus Sampurno, sang guru, menghampiri sumber suara. Menanggapi pertanyaan seorang gadis kecil. Di sisi ruangan lainnya, Tommy, bocah berusia enam tahun, sedang menatap lekat-lekat layar monitor. “Ini lagi bikin cerita bergambar. Cerita-nya, aku dari rumah mau pergi ke ITC,” ucapnya polos, saat ditanya apa yang sedang ia lakukan.

Tak lama berselang, Agus meminta seluruh anak didiknya mematikan komputer masingmasing dan berkumpul ke tengah ruangan lantaran jam pelajaran komputer Selasa (30/3) siang telah habis. Agus dekat dengan muridnya yang masih duduk di tingkat satu Global Jaya International School tersebut. Dia pasang kuping ketika seorang muridnya bercerita tentang apa yang dia lakukan dengan internet saat masa liburan lalu. Cara mengajar yang diterapkan Agus memang sedikit berbeda. Ia tidak banyak bicara. Sebaliknya, ia hanya melontarkan beberapa pertanyaan. Ini dilakukan untuk merangsang siswa agar berani tampil dan menjawab pertanyaan, sekaligus menjelaskan kepada kawan kawan sekelasnya. Agus menyebut kondisi tersebut sebagai ‘kelas yang ramah secara intelektual’. Dengan menggunakan metode ini, ia mengaku, sebanyak 50% pengetahuan yang dimiliki siswanya berasal dari eksplorasi mandiri tiap murid. “Peran guru dalam metode ini sekitar 30%, dan didukung dari buku teks sebesar 20%,” ucapnya seusai mengajar. Membuat kondisi kelas yang ramah secara intelektual masih belum banyak dilakukan guru guru di Indonesia. “Tantangan pendidikan saat ini adalah kebebasan untuk meng akses informasi yang mampu membuat siswa-siswi menjadi lebih kritis. Guru harus siap menghadapinya,” kata Agus.

Para tenaga pendidik di Indonesia, lanjut Agus, sering kali masih menempatkan diri sebagai sumber ilmu di dalam kelas. Hingga tak jarang, guru tersinggung saat murid menyerangnya dengan berbagai pertanyaan. “Guru sering takut diremehkan secara intelektual. Murid yang banyak tanya juga tidak jarang dianggap menguji sang guru. Malah ada yang diberi nilai jelek gara-gara kebanyakan nanya,” tutur pria berkacamata itu tertawa. Untuk menghadapi tantangan tersebut, selain membuka diri dengan informasi baru melalui dunia maya, sang guru harus bersikap sportif. “Kalau enggak tahu, ya bilang tidak tahu. Dan minta murid itu yang menjelaskan di depan kelas kepada teman- temannya,” ucapnya.

Lanjutkan membaca “Mengubah warna pendidikan”

Laporan workshop untuk guru ‘Menciptakan kelas Asyik dan Menarik’ bersama Teachers Working Group Cileduk Tangerang

Nuning Sari Narulita saya sangat berkesan dgn acara yg di isi pak agus sampoerno kemarin.
acaranya menyenangkan, informatif dan nambah wawasan
snack-nya jg enak loch..(hehehe) ^_^
SUKSES utk TWG !!

Komentar dari salah satu peserta pelatihan pada halaman Komunitas Teachers Working Group di Facebook.

Tanggal 21 Maret saya mendapat kesempatan emas untuk hadir di sebuah komunitas yang bernama Teachers Working Group (Twg). Bertempat di Masjid Al Madinah Cileduk Tangerang, komunitas ini mengadakan pelatihan guru yang bertajuk ‘bagaimana membuat kelas menjadi tempat yang syik dan mnyenangkan’. Komunitas Twg  mempunyai tujuan  sebagai  wahana silaturahim, lintas informasi dan  tempat mengakomodasi aspirasi, apresiasi para guru dan pendidik.

Selama 4 jam saya berbagi dan berdiskusi dengan 100an guru mengenai cara agar sebuah kelas bisa menjadi tempat yang asyik dan menyenangkan. Tentunya tidak hanya bagi siswa nya tapi juga bagi gurunya sebagai aktor utama di kelas.

Lanjutkan membaca “Laporan workshop untuk guru ‘Menciptakan kelas Asyik dan Menarik’ bersama Teachers Working Group Cileduk Tangerang”

Program CSR Wilmar Group ‘The Inspiring Teacher Training Program’ di Taluk Kuantan Riau

Setelah Dumai, saya lalu meneruskan perjalanan saya bersama Pak Elim, rekan saya dari PT Wilmar Group menuju kota Taluk Kuantan masih di propinsi Riau. Disana saya bertemu dengan 62 guru yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi dan sekitarnya. Selama 2 hari ( 24-25 Maret 2010) saya berbicara dan berbagi mengenai pengelolaan kelas, bagaimana menjadi guru yang menginsppirasi sambil berbagi resep bagaimana membuat kelas menjadi kelas yang aktif.
Senang sekali melihat kesungguhan dari para guru yang hadir. Masa kerja mereka bervariasi dari hitungan bulan sampai yang sudah senior, namun semangat mereka sama yaitu semangat ingin berubah demi siswa-siswi mereka di kelas.

Dalam membahas pembelajaran aktif saya banyak membicarakan mengenai hal-hal dibawah ini ;

Pembelajaran aktif (active learning) tampaknya telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran aktif ini terasa semakin mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional, sekitar akhir tahun 90-an. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran siswanya.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa inti dari reformasi pendidikan ini justru terletak pada perubahan paradigma pembelajaran dari model pembelajaran pasif ke model pembelajaran aktif.

Merujuk pada pemikiran L. Dee Fink dalam sebuah tulisannya yang berjudul Active Learning, di bawah ini akan diuraikan konsep dasar pembelajaran aktif. Menurut L. Dee Fink, pembelajaran aktif terdiri dari dua komponen utama yaitu: unsur pengalaman (experience), meliputi kegiatan melakukan (doing) dan pengamatan (obeserving) dan dialogue, meliputi dialog dengan diri sendiri (self) dan dialog dengan orang lain (others)

Model Pembelajaran Aktif

Dialog dengan Diri (Dialogue with Self) :

Dialog dengan diri adalah bentuk belajar dimana para siswa melakukan berfikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang atau harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajarinya. Mereka “memikirkan tentang pemikirannya sendiri, (thinking about my own thinking)”, dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas, dan tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif semata.
Lanjutkan membaca “Program CSR Wilmar Group ‘The Inspiring Teacher Training Program’ di Taluk Kuantan Riau”

Program CSR Wilmar Group ‘The Inspiring Teacher Training Program’ di hotel Comfort Dumai

Disarikan dari situs satuRiau.com

http://www.saturiau.com/read/dumai/3971/2010/03/22/wako–kehadiran-wilmar-berdamp-html

Senin, 22 Maret 2010 | 16:02

DUMAI (satuRiau) – Kehadiran PT Wilmar di kota Dumai membawa dampak positif terhadap masyarakat. Selain mampu mengurangi jumlah pengangguran, perusahaan itu juga sangat peduli dan memiliki program yang berpihak kepada masyarakat.

Walikota Dumai Drs H Zulkifli AS MSi menyebutkan, kepedulian Wilmar terhadap masyarakat Dumai cukup besar. Perusahaan itu juga dinilai konsisten membantu program Pemko Dumai dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM).  “PT Wilmar Group asset dan bahagian dari masyarakat kita. Selain mengurangi jumlah pengangguran, Wilmar Group juga dinilai berperan aktif dalam peningkatan SDM Dumai,” tegas Zulkifli AS dalam sambutannya pada acara pembukaan The Inspiring Teacher Training Program di hotel Comfort Dumai Senin (22/3).  Acara yang diselenggarakan Senin (22/3) sampai Selasa (23/3) tersebut diikuti 65 orang peserta diantaranya 61 guru SD se Kecamatan Medangkampai dan 4 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Bunga Bangsa Kelurahan Buluh Kasap Kecamatan Dumai Timur itu merupakan kerjasama Wilmar Group dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Dumai.

Lanjutkan membaca “Program CSR Wilmar Group ‘The Inspiring Teacher Training Program’ di hotel Comfort Dumai”

Workshop Active learning dan Integrasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dengan kurikulum di sekolah (laporan pelatihan 2 hari bagi guru bidang studi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) PT. Cal Tunas Indonesia 20-27 Maret 2010)

Day 1
Day 1
Day 1

Melihat perkembangan TIK di dalam dunia pendidikan sepertinya sudah begitu penting untuk dijadikan alasan mengapa sama pentingnya mengajarkan anak membaca dan mengajarkan mereka menggunakan computer. Pendapat ini didukung dan dibuktikan oleh PT Cal Tunas Indonesia sebuah perusahan yang bergerak di bidang pengajaran dan pendidikan computer di sekolah-sekolah. PT Cal adalah perusahaan yang banyak membantu sekolah-sekolah dalam penyediaan guru dan computer sekaligus pembelajaran yang terintegrasi dengan mata pelajaran dari SD sampai SMP.

Saya bertemu dengan 30 peserta yang merupakan guru computer PT Cal yang area tugasnya menyebar se Jabodetabek bahkan sampai Cibinong. Bertempat di sekolah Adik Irma di Tebet saya berbagi dan melakukan pelatihan untuk guru-guru PT Cal selama 2 hari.

Lanjutkan membaca “Workshop Active learning dan Integrasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dengan kurikulum di sekolah (laporan pelatihan 2 hari bagi guru bidang studi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) PT. Cal Tunas Indonesia 20-27 Maret 2010)”

Inilah 17 alasan mengapa kita mesti menjadi guru yang lebih baik dari hari ke hari.

http://1.bp.blogspot.com

Dari situs

http://homeschooling-indonesia.com/28-tidak-percaya-sekolah/

Berikut 17 alasan mengapa aku tidak mau menyerahkan anak-anakku kepada lembaga pendidikan bernama sekolah formal:

1. Orang tua membayar guru untuk melakukan satu hal saja yaitu: menolong anak-anak belajar. Tetapi jika anak-anak tidak belajar, guru tidak mungkin mencoba cara-cara baru sampai ada satu cara yang berhasil membuat mereka semua paham. Guru akan terus melanjutkan pelajaran untuk mengejar target kurikulum dengan meninggalkan anak-anak  yang tetap tidak paham. Kegagalan sebenarnya ada pada sistem: satu orang dewasa mengajar banyak anak, tetapi kesalahan dilimpahkan pada anak-anak. Anak-anak ditempeli cap bodoh, pemalas, diberi ranking terendah, bahkan belakangan ada cerita tentang guru yang berani memberi label ADHD kepada anak-anak didiknya.

2. Kalau anak-anak menjadi pintar, sekolah yang berbangga diri dan dipuja-puja. Kalau anak-anak nilainya buruk, yang salah anak itu sendiri bahkan orang tuanya dinilai tidak becus membimbing anak belajar atau menjatuhkan tuduhan tentang kondisi keluarga yang tidak harmonis. Anak yang menyulitkan sekolah akan ditendang keluar. Sekolah tidak akan pernah mau bertanggung jawab atau pun mengakui bahwa telah gagal mendidik anak.

3. Anak-anak yang paling membutuhkan bimbingan malah dihukum dengan nilai buruk, disetrap, ranking rendah, dan dihancurkan kepercayaan dirinya. Tidak manusiawi.

4. Sekolah boleh-boleh saja menjalankan hukuman keras, kekerasan fisik, atau pun tekanan mental kepada anak-anak didiknya atas pelanggaran minor, dan anak-anak tidak diberi kesempatan diadili secara proporsional. Orang tua lebih sering tidak diberi tahu sekolah soal insiden yang melibatkan anaknya.

5. Guru boleh-boleh saja menurunkan nilai rata-rata ujian anak ataupun memberikan nilai di bawah lima kepada anak-anak yang dianggapnya tidak menurut atau sering membolos. Bahkan guru tidak malu-malu mengancam murid-muridnya soal hal ini meskipun tindakan itu merupakan pemalsuan data prestasi akademik, dan berarti guru-guru ini berdusta. Guru seperti ini terutama guru untuk mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, dan Agama yang menentukan kenaikan kelas atau kelulusan.

Lanjutkan membaca “Inilah 17 alasan mengapa kita mesti menjadi guru yang lebih baik dari hari ke hari.”