Menjadikan murid kita pintar di abad 21 ini belum cukup, mari kita jadikan murid kita ‘murid yang kreatif’. Laporan seminar guru Muhammadiyah di Palembang (2)

Lupakan sejenak istilah ‘murid pintar’. Sebuah istilah yang terkadang menjerumuskan siswa kita bahkan kita sendiri saat kita menjadi siswa dahulu.  Ketika cap siswa pintar menempel di dalam diri siswa, yang terjadi adalah siswa jadi takut tersaingi, tidak siap kalah, dan berorientasi individual.

Bersama penyelenggara seminar, paling kanan adalah Mas Adi (terima kasih mas Adi atas bakti dan jerih payahnya untuk pendidikan dan guru di Sumsel)

Mari sekarang kita berkonsentrasi pada usaha menjadikan murid kita menjadi ‘murid kreatif’. Murid kreatif akan selalau mempertanyakan semua hal di sekelilingnya, mau mencoba, tidak takut salah, fleksibel dan berusaha untuk melakukan sebuah proses dengan sebaik mungkin sesuai kapasitas dirinya. Karena ternyata menjadikan murid pintar di abad 21 ini belum cukup. Tapi mari saat yang sama kita jadikan siswa kita sebagai ‘murid yang kreatif’.

Agus Sampurno dan Hizbul Wathan
Hizbul Wathan sampai ke hati (foto saya bersama bapak yang berseragam pramuka Muhammadiyah). Beliau tekun menyimak presentasi saya dari awal sampai akhir dengan serius.

Lanjutkan membaca “Menjadikan murid kita pintar di abad 21 ini belum cukup, mari kita jadikan murid kita ‘murid yang kreatif’. Laporan seminar guru Muhammadiyah di Palembang (2)”

Iklan