9 keluhan terhadap perilaku guru

Walaupun tidak semua, banyak guru yang mengatakan orang tua siswa  adalah gudangnya keluhan. Hampir dari segala hal dikeluhkan dari kinerja guru sampai ketidak seimbangan antara apa yang dibayarkan sebagai uang sekolah dengan apa yang didapat oleh putra-putrinya di sekolah

Namun sadarkah kita bahwa ketika orang tua mengeluhkan soal guru, banyak dari hal yang dikeluhkan itu adalah masalah perilaku guru dan bukan masalah kompetensi guru. Untuk itu mari jadi guru yang tidak hanya sekedar pintar tapi juga bertanggung jawab.

Beberapa hal yang sering orang tua keluhkan adalah;

1. Tidak punya empati terhadap siswanya

2. Memilih menjadi guru yang galak dan bukan guru yang tegas

3. Cepat naik darah untuk hal sepele.

Lanjutkan membaca “9 keluhan terhadap perilaku guru”

6 tanda siswa senang belajar dengan kita

1. Siswa mengatakan begini kepada kita sebagai gurunya, “Pak, dirumah saya coba-coba lakukan hal yang kita lakukan di kelas kemarin itu lho..!”

2. Siswa bertemu dengan kita dan langung ingat hari ini ada pelajaran kita di kelasnya.

3. Siswa bertanya dengan tidak sabar kepada kita sebagai gurunya sebelum pelajaran berlangsung, ” Pak kalo hari ini kita akan belajar apa ya?”

Lanjutkan membaca “6 tanda siswa senang belajar dengan kita”

Posisikan diri anda sebagai ‘mitra kerja’ saat menilai siswa dan bukan ‘atasan’

1 . menggunakan kriteria yang sudah siswa ketahui, artinya guru tidak menyembunyikan atau membuat siswa bertanya-tanya sebenarnya apa yang guru mau  dari hasil kerja atau proses kerja yang siswa lakukan. Dengan demikian guru dan siswa bekerja sama untuk hasil yang terbaik.

2. Menggunakan prinsip satu pertanyaan banyak kemungkinan jawaban, dengan demikian siswa dilatih upaya nya untuk melakukan analisa dan sintesa dan bukan hanya menghafal satu jawan yang benar. Jadi berikan kesempatan pada siswa untuk berekspresi seluas-luasnya sesuai dengan kecerdasan dan gaya belajarnya. Untuk itu dibutuhkan bukti mengenai hal ini. Semakin banyak bukti semakin valid lah penilaian guru. Saat yang sama guru berkonsentrasi pada kekuatan siswa bukan pada kelemahan yang siswa miliki.

Lanjutkan membaca “Posisikan diri anda sebagai ‘mitra kerja’ saat menilai siswa dan bukan ‘atasan’”

Bermalam minggu bersama 50 siswa MTSN Pagedangan Serpong Banten dalam acara Latihan Dasar Kepemimpinan Sekolah dengan tema ‘Menjadi pemimpin yang tangguh’

Calon-calon pemimpin masa depan, yang antusias bermain dalam tim, demi belajar mengenai arti kerjasama, komunikasi yang baik dan menjadi 'team player'

Saat SMP dahulu, saya merasakan dunia penuh dengan sejuta kemungkinan dan impian. Mau jadi ini mau jadi itu dan ingin menjadi seperti seseorang yang saya kagumi, saat yang sama saya juga berpikir apakah bisa melalui semuanya dengan baik sampai saat saya dewasa dan mandiri nanti.

Lanjutkan membaca “Bermalam minggu bersama 50 siswa MTSN Pagedangan Serpong Banten dalam acara Latihan Dasar Kepemimpinan Sekolah dengan tema ‘Menjadi pemimpin yang tangguh’”

Pendidikan Indonesia dan Guru 2.0

“Saat ini, kita mempersiapkan siswa kita untuk pekerjaan yang belum ada. Kita persiapkan mereka mengakrabi teknologi untuk memecahkan masalah yang  belum ada.”

Kira-kira begitulah yang disampaikan Agus Sampurno–seorang guru SD yang fasih menggunakan social media termasuk blog, Twitter dan Facebook. Pak Guru yang aktif di Twitter dengan akun @gurukreatif ini yakin bahwa guru, dengan segala keterbatasannya, bisa menjadi guru yang kreatif.

“Guru dan buku bukan lagi sumber pengetahuan saat ini,” kata Pak Agus. “Murid-murid sudah fasih mencari bahan-bahan dan informasi di Google dan search engine lainnya. Guru harus siap dengan ini semua,” ujarnya saat berkunjung untuk sharing session mingguan Maverick Jumat lalu.

Lanjutkan membaca “Pendidikan Indonesia dan Guru 2.0”

Jejaring sosial antara dilema dan manfaatnya untuk Guru

Pembaca yang baik dimulai dengan status di halaman facebook saya seperti dibawah ini;

“Banyak guru yang meng-add murid-muridnya di Facebook, namun ketika ia berkomunikasi dengan kawan-kawannya di Facebook, ia menggunakan bahasa yang kurang baik atau ia meletakkan foto-foto yang kurang sopan. Ia tidak sadar bahwa murid-muridnya juga bisa melihat foto-foto ini. Ini
harus diperhatikan, karena bagaimanapun juga, ia adalah seorang guru.”


Kemudian muncul banyak komentar dari rekan pendidik, beberapa diantaranya saya cuplikan disini. Buat saya jejaring sosial punya manfaat yang besar dalam memacu perbincangan yang profesional antar pendidik, so lets join the conversation..

Lanjutkan membaca “Jejaring sosial antara dilema dan manfaatnya untuk Guru”

‘Live report’ kru pecha kucha vol. 4 lewat media Twitter

Berikut ini saya sajikan adalah ‘live report ‘ kru pecha kucha ketika berlangsung presentasi yang saya bawakan di lobby Rasuna Epicentrum (di belakang rumah sakit MMC, Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan). Saat yang sama saya bisa merasakan dahsyatnya media sosial dalam menghubungkan kita dengan satu kejadian atau menghubungkan kita dengan orang lain.

Lanjutkan membaca “‘Live report’ kru pecha kucha vol. 4 lewat media Twitter”

Berpresentasi di Pecha Kucha Jakarta, bagaikan mimpi menjadi kenyataan. (Terima kasih kepada seluruh pembaca blog ini)

Pengunjung yang datang hampir 100 orang lebih. Hujan yang mengguyur Jakarta tidak menghalangi mereka untuk hadir.

Rumus 20/20 adalah sebuah rumus presentasi yang unik. Dalam 20 detik kita diminta mempresentasikan satu slide. Jika slide yang ditampilkan ada 20 slide maka waktu yang dibutuhkan adalah 6 menit sampai 7 menit.

(Masih ingat sampul buku pelajar seperti yang ada di layar?) Ayo guru, jadikan buku paket sebagai mitra dan bukan satu-satunya sumber pelajaran dikelas.

Lanjutkan membaca “Berpresentasi di Pecha Kucha Jakarta, bagaikan mimpi menjadi kenyataan. (Terima kasih kepada seluruh pembaca blog ini)”

Berbagi bersama kru Maverick

Maverick sebuah perusahaan konsultan kehumasan di Jakarta yang menjadi konsultan dan penggagas hajat Pesta Blogger, aksiguru dan Pecha Kucha, mengundang saya untuk berbagi di akhir hari kerja di Minggu ke 2 bulan November, bersama staff nya yang rata-rata muda dan brilian. Sebuah nuansa yang unik dikarenakan biasanya saya berhadapan dengan rekan dari satu profesi kali ini saya diminta berbagi dihadapan para konsultan kehumasan yang meminta saya berbagi mengenai blog yang saya tulis yaitu blog gurukreatif serta kiprah saya dalam mendampingi guru berubah ke arah yang lebih baik.

Bersama Nena dari Maverick Jakarta, Thanks atas undangannya untuk bisa hadir di Maverick. Sukses terus untuk semua kiprah yang anda dan kru lakukan.

Lanjutkan membaca “Berbagi bersama kru Maverick”

Laporan dari workshop setengah hari bagi para trainer di lingkungan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Bekasi dengan tema ‘Menjadi guru yang siap berubah’ di Aula Departemen Agama Kota Bekasi Sabtu 7 Nov 2009

Kata  ‘belajar’ dan ‘perubahan’ adalah sinonim. Perubahan itu tidak akan menjadi masalah jika masuk akal dan mereka yang terlibat merasa menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Pada kenyataannya perubahan adalah proses yang berkelanjutan, yang melibatkan kebingungan dan hambatan bagi semua pihak yang melaksanakannya.

Tetapi apakah hanya karena perubahan itu berat maka guru sebagai pendidik di sekolah memilih untuk tidak berubah? Jika iya jawabannya maka sayang sekali, karena siswa kita pasti kan menuai dampak buruk di masa depan hanya karena keputusan kita sebagai pendidik untuk tidak mau berubah kea rah lebih baik.

Saya sedang memandu sesi 'Pro Kontra', sebuah sesi dimana peserta diminta bersikap terhadap sebuah pernyataan. Guru-guru yang menjadi peserta dengan sigap dan percaya diri mengambil sikap terhadap pernyataan yang saya lontarkan. Setelah itu mereka saling memberikan alasan mengenai sikap yan diambilnya.

Lanjutkan membaca “Laporan dari workshop setengah hari bagi para trainer di lingkungan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Bekasi dengan tema ‘Menjadi guru yang siap berubah’ di Aula Departemen Agama Kota Bekasi Sabtu 7 Nov 2009”

%d blogger menyukai ini: