Sertifikasi Guru Gilas Idealisme

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Dr Arief Rachman mengaku prihatin terhadap kondisi pendidikan di Tanah Air khususnya dalam pembinaan watak yang tidak terlayani secara baik dan sistematik.

“Ini cukup mengerikan karena peserta didik tidak mendapatkan pembinaan moral dan budi pekerti yang layak sebab kecenderung yang terjadi guru tidak mengajar tetapi mendidik,” ungkap Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Prof Dr Arief Rachman.

Guru-guru sekarang lebih senang mengajar daripada mendidik. Mengajar berarti guru hanya memberikan bahan ajar berupa teori dan praktik sesuai kurikulum yang ada tanpa dibarengi dengan olah rasa sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Guru masa kini jauh dari tokoh yang digambarkan dalam sosok Oemar Bakrie yang bersahaja dan sebagai pegawai negeri ia melakoni hidup untuk mengajar dengan olah rasa, olah pikir dan olah hati.

Ada apa dengan kondisi guru masa kini?

Tabrani Yunis, guru senior yang kini mengajar Bahasa Inggris di SMA Granada Banda Aceh, selama 25 tahun malang melintang di dunia pendidikan tanah “Serambi Mekah”, bersuara soal kontroversi moral guru masa kini.

“Soal pengabdian, sosok guru masa lalu dan masa kini tidak ada yang berubah. Jangan menggunakan ukuran kota sebab masih banyak guru-guru masa kini yang rela mengabdi di daerah pelosok dengan segala keterbatasannya. Mereka tidak tersentuh oleh “demam” sertifikasi guru yang ujung-ujungnya pada penambahan gaji,” katanya.

Tabrani pernah merasakan asam garam mengajar dari sekolah ke sekolah lainnya baik negeri maupun swasta menyatakan profesi guru masih merupakan kunci dalam dunia pendidikan. “Oleh sebab itu, wajar kalau guru selalu dituntut untuk terus mengembangkan diri untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman”.

Ia tidak memungkiri kualitas guru hingga kini masih menjadi sorotan. “Sangat banyak guru yang sesungguhnya tidak layak mengajar karena kapasitas yang rendah. Survei yang dilakukan beberapa lembaga di tingkat Kabupaten dan bahkan nasional yang mengungkapkan hal ini, seperti di Aceh Besar sebesar 60 persen guru tidak memenuhi kelayakan mengajar”.

Padahal, pemerintah baik pusat maupun daerah sudah banyak melakukan upaya peningkatan kapasitas guru melalui berbagai kegiatan penataran guru meski memang belum merata, katanya.

Nasib guru diakui Totok Supriyanto, Guru SMA Negeri I Merauke, Papua dalam beberapa tahun terakhir sudah membaik baik dari sisi penghargaan terhadap profesi maupun kesejahteraan.

“Namun penghargaan dari sisi kesejahteraan itu kenyataannya belum merata dan menyentuh bagi teman-teman yang ada di daerah terpencil di pedalaman Papua khususnya Merauke. Bahkan masih banyak guru di Papua yang belum pernah mengikuti pelatihan yang menyangkut sertifikasi guru akibatnya kurangnya informasi,” katanya.

Totok mengatakan, guru di daerah apalagi di daerah pelosok hanya “menonton” teman-teman guru yang beramai-ramai mengikuti program sertifikasi. “Sebab jangankan memeroleh perbaikan kesejahteraan, banyak sekali guru di daerah kami yang belum berpendidikan sarjana (S1) dan masih membutuhkan peningkatan kualitas”.

Bagi Mulyati, guru SMP Negeri 25 Solo peningkatan kesejahteraan sudah sewajarnya diterima guru setelah sekian tahun `terpuruk` dalam posisi tawar yang rendah.

Ia memaklumi bila belakangan ini profesi guru banyak menjadi sorotan masyarakat utamanya terkait dengan menurunnya kualitas guru.

“Wajar saja setelah sekian lama menunggu kemudian terbitkan UU Guru yang antara lain implementasinya berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan guru kemudian banyak guru berlomba-lomba meraih sertifikasi agar kesejahteraannya meningkat. Akibatnya memang guru harus bekerja keras antara mengajar dan mempersiapkan diri mengikuti program sertifikasi”.

Mulyati mengakui beban kerja guru yang dulu lebih ringan kini semakin berat karena bila dulu 18 jam mengajar, sekarang menjadi 24 jam mengajar.

“Saya rasa tidak masuk akal mengingat beban kerja guru tidak hanya melulu tatap muka di kelas, tetapi tugas tambahan lain berupa perencanaan dan evaluasi mengajar yang sering tidak terselesaikan di sekolah. Alasan lain beban kerja guru tidak semata-mata mengerjakan tugas terkait `bendamati`seperti di instansi lain, tetapi menyangkut peserta didik yang menuntut tanggung jawab moral tinggi.

Bila profesi guru saat ini mulai dilirik banyak pencari kerja, bagi Mulyati guru SMP Negeri 25 Solo kondisi itu karena tergiur oleh kesejahteraan guru yang belakangan ini semakin meningkat.

“Sekarang ini banyak orang berlomba-lomba menjadi guru terutama saat pengangkatan guru bantu. Kondisi ini akan berdampak kurang baik terhadap proses pembelajaran, karena dari awal mereka tidak berminat menjadi guru, sehingga secara psikologis juga tidak siap menjadi guru. Karena menjadi guru bukan sekadar transfer pengetahuan tapi juga pembentukan karakter,” katanya.

Harapan terhadap pemerintah disuarakan oleh Agus Sampurno, Guru SD Global Jaya Internasional Bintaro agar pemerintah lebih menerapkan kebijakan peningkatan kualitas guru yang bersifat terstruktur, sistematis dan mempunyai arah dan tujuan yang jelas untuk sehingga pada pelaksanaannya betul-betul dapat memberikan hasil bagi pencapaian kualitas guru di Indonesia.

Empat tahun

Genap empat tahun Undang-Undang Guru dan Dosen no 14 tahun 2005 disahkan DPR RI sebagai “hadiah” setelah penantian panjang selama puluhan tahun mengabdi sebagai sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Namun implementasi undang-undang tersebut yang berimplikasi pada kesejahteraan guru masih belum merata dirasakan hingga ke pelosok Tanah Air.

Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo meminta pemerintah segera merealisasikan peraturan pemerintah tentang Guru sebagai amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

“Sebagai refleksi peringatan Hari Guru, sejumlah persoalan yang dihadapi guru dan belum tuntas adalah permasalahan sertifikasi bagi 2,6 juta guru. Persoalan sertifikasi guru selayaknya dapat dinikmati seluruh guru di Tanah Air sehingga ke depan hanya ada guru profesional dengan kualifikasi sarjana terkait dengan bidang pendidikan, katanya.

Selain itu, Ketu Umum PGRI ini mengharapkan agar pemerintah dan pemerintah daerah agar ikut peduli terhadap peningkatan mutu pendidikan salah satunya dengan memberikan peluang bagi guru-guru agar dapat mengikuti program sertifikasi guru.

Saat ini, kuota sertifikasi khususnya di wilayah-wilayah tertentu yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal akibat rendahnya mutu guru sehingga tidak lolos dalam proses penilaian portofolio.

Sulistyo melihat banyak guru yang tidak memiliki kesempatan meningkatkan kualifikasinya akibat keterbatasan sarana dan prasarana serta kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan sebagainya.

“Guru yang mengajar di daerah pelosok seringkali harus mengajar untuk beberapa kelas dalam satu hari, sementara di wilayah lain sekolah menghadapi kelebihan guru. Guru di pelosok sulit memiliki kesempatan sertifikasi”.

Sementara, di wilayah lain terdapat ribuan guru yang lulus proses penilaian portofolio dan berhak memperoleh tunjangan profesi, namun hingga kini nasibnya terkatung-katung belum menerima surat keputusan dari pusat apalagi menerima tunjangannya.

Sebagai contoh, saat ini ribuan guru di NTB yang telah dinyatakan lulus sertifikasi ternyata belum menerima SK dan uang tunjangan.

Karena itu, PGRI meminta agar pemerintah daerah berperan aktif mendata guru-guru yang memenuhi kualifikasi untuk dapat mengikuti program sertifikasi serta membantu mensosialisasi persyaratan untuk mempercepat terbitnya surat keputusan bagi guru-guru yang telah lulus sertifikasi guru.

“Kebijakan pendistribusian guru ada di pemerintah kabupaten/kota sehingga peran mereka sangat besar dalam menentukan nasib guru,” kata Sulistyo.

Ia mengatakan, ada sejumlah kondisi yang bisa mendukung hak-hak guru dapat dipenuhi tetapi ada kondisi yang tidak menunjang yaitu birokrasi kinerja pemda di daerah dalam soal pembinaan yang masih terbatas.

“Kenyataannya banyak pemda yang kurang peduli soal sertifikasi dan pemerataan guru,” kata Sulistyo.

Survei Depdiknas dan Bank Dunia terkait ketersediaan tenaga guru menunjukkan fakta tidak ada persoalan ratio jumlah murid dan guru. Survei itu menyebutkan rasio guru dan siswa di Indonesia termasuk yang termewah dan cenderung boros yaitu di tingkat SD satu guru : 20 siswa, SMP 1:17 dn SMA 1:14 sehingga sesungguhnya tidak ada kekurangan guru tetapi yang terjadi belum terjadi pemerataan guru di daerah-daerah.

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof Dr Said Hamid Hasan mengatakan guru lebih beruntung dibandingkan insinyur tetapi masalah konseptual pendidikan guru serta keterkaitannya dengan dunia kerja masih mengandung masalah.

“Sertifikat guru (TK, SD, SMP, SMA sederajat) yang dinyatakan dalam UU Guru dan Dosen masih akan memberikan banyak persoalan dalam penugasan dan pembinaan. Belum lagi permasalahan yang terkait dengan hak guru sebagaimana yang dinyatakan dalam UU Guru dan Dosen belum tuntas,” katanya.

Berkenaan dengan pembinaan pekerjaan guru sebagai suatu profesi, Prof Hamid Hasan mengharapkan pemerintah meninjau ulang kebijakan sertifikasi guru bagi mereka yang sudah memiliki kualifikasi S-1 dan Akta Mengajar.

“Pada saat sekarang proses sertifikasi itu hanya menghabiskan uang negara dan tidak punya dampak bagi peningkatan mutu sehingga pemerintah peru mengembangkan kebijakan pembinaan guru bersama pemerintah daerah sehingga guru mendapatkan haknya sebagaimana dinyatakan dalam UU Guru dan Dosen serta memiliki kesempatan yang lua dalam mengembangkan profesinya sehingga mampu menjamin guru selalu segar, kreatif, dan inovatif dalam mengembangkan proses pembelajaran”.

Beban mengajar guru Indonesia masih sangat tinggi,yakni di atas 1000 jam per tahun. “Ini harus dikurangi sampai paling banyak 700 jam per tahun. Sisanya, 300 jam harus digunakan untuk pengembangan kemampuan profesional guru dan ini penting untuk menjadi kepeduliaan utama”, katanya.

Prof Hamid mengingatkan, Indonesia sudah tertinggal jauh dan faktor utamanya adalah karena kondisi kerja (termasuk beban kerja) dan lingkungan kerja (yang menyebabkan guru menjadi lone raider di sekolah).

Kebijakan baru tentang guru tidak hanya berkenaan dengan entry qualification sebagaimana yang dilakukan sekarang tetapi harus total mencakup keseluruhan aspek pekerjaan guru sebagai suatu profesi.

“Kewajiban guru mengikuti pelatihan, temu dan diskusi dengan sejawat, mengikuti seminar yang terkait dengan updating materi ajar, pengembangan silabus dan RPP, cara mengajar serta asesmen hasil belajar, harus menjadi program terencana dan berlangsung secara berkesinambungan berdasarkan suatu kebijakan yang jelas dari Mendiknas, bukan berorientasi proyek dan tidak sustainable seperti yang terjadi pada saat kini,” tambahnya.(*an/z)

Sumber

http://matanews.com/2009/11/23/sertifikasi-guru-gilas-idealisme/

Posted in Tak Berkategori

6 thoughts on “Sertifikasi Guru Gilas Idealisme

  1. talenta adalah syarat wajib seorang guru, banyak dari mereka para guru yang tdk menyadari hal tersebut. seorang pengajar yang latar belakangnya bukan dari pendidikan bisa lebih berhasil mendidik siswanya ketimbang yang berlatar belakang jurusan pendidikan sehingga tidak heran kalau mengajarnya pun ga ada “powernya”. Guru yang ga punya talenta cenderung ga mau “belajar”, cukup dengan satu dua buku paket serta pengalaman keguruannya dan yang penting tiap bulan dapat gaji kalo kurang demo atau sekolah lagi biar gajinya naik bukan peningkatan kualitas mendidik.

  2. menurut saya,,,mengajar itu panggilan jiwa. seperti senimanpun begitu. tidak bisa mengajar bila tidak ada ke ikhlasan n visi memajukan anak bangsa di dalam dada. Saya jg melihat banyak yang bukan dr lulusan fkip malah mengajar dengan baik dan kreatif. gimana ini?? apa dibubarkan saja itu fkip atau dibenahi dulu dalamnya….:(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s