Sir Ken Robinson: Do schols kill creativity? (Apakah sekolah membunuh kreativitas?)

Silahkan pilih Subtittle dalam Bahasa Indonesia

Transcript;

Good morning. How are you? It’s been great, hasn’t it? I’ve been blown away by the whole thing. In fact, I’m leaving.

There have been three themes, haven’t there, running through the conference, which are relevant to what I want to talk about.

One is the extraordinary evidence of human creativity in all of the presentations that we’ve had and in all of the people here. Just the variety of it and the range of it.

The second is, that it’s put us in a place where we have no idea what’s going to happen, in terms of the future, no idea how this may play out.

I have an interest in education — actually, what I find is, everybody has an interest in education; don’t you? I find this very interesting. If you’re at a dinner party, and you say you work in education — actually, you’re not often at dinner parties, frankly, if you work in education, you’re not asked. And you’re never asked back, curiously. That’s strange to me. But if you are, and you say to somebody, you know, they say, “What do you do,” and you say you work in education, you can see the blood run from their face. They’re like, “Oh my god,” you know, “why me? My one night out all week.” But if you ask people about their education, they pin you to the wall. Because it’s one of those things that goes deep with people, am I right?, like religion, and money, and other things.
Lanjutkan membaca “Sir Ken Robinson: Do schols kill creativity? (Apakah sekolah membunuh kreativitas?)”

Iklan

100 Tickets for 100 Bloggers

MarkPlus Conference 2010 is giving away 100 Tickets for 100 Bloggers!

Lanjutkan membaca “100 Tickets for 100 Bloggers”

‘Wahai para guru, jangan asal memuji siswa tapi berikan juga pengakuan dan penghargaan’ Laporan dari workshop setengah hari bagi para trainer di lingkungan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Bekasi dengan tema ‘Pengelolaan Kelas’ di Aula Departemen Agama Kota Bekasi Sabtu 21 Nov 2009

Sebagai seorang guru kita tidak hanya perlu memberikan peringatan atau perhatian pada siswa yang melanggar atau berbuat kesalahan di kelas tetapi juga memberikan pujian kepada siswa yang melakukan hal yang baik. Pada dasarnya memang siswa suka dipuji, karena jangankan siswa, kita pun sebagai orang dewasa senang dipuji. Namun memuji karena tanpa ‘bermuatan’ pengakuan dan penghargaan hanya akan membuat tindakan memuji tidak tepat sasaran dan terkesan menghambur-hamburkan pujian.

Guru yang hadir melakukan praktek langsung mengenai cara memasyarakatkan peraturan kelas dan konsekuensi di awal tahun ajaran kepada siswa. Bagi siswa TK sebaiknya peraturan ditulis dengan bahasa sederhana dan digunakan simbol sehingga gampang dimengerti oleh siswa
Guru berpikir kritis dan menjadi komunikator yang efektif dalam manjawab pertanyaan saya perihal "apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas" dan "mengapa guru memerlukan pengetahuan dalam hal mengelola kelasnya".

Lanjutkan membaca “‘Wahai para guru, jangan asal memuji siswa tapi berikan juga pengakuan dan penghargaan’ Laporan dari workshop setengah hari bagi para trainer di lingkungan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Bekasi dengan tema ‘Pengelolaan Kelas’ di Aula Departemen Agama Kota Bekasi Sabtu 21 Nov 2009”

Sertifikasi Guru Gilas Idealisme

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Dr Arief Rachman mengaku prihatin terhadap kondisi pendidikan di Tanah Air khususnya dalam pembinaan watak yang tidak terlayani secara baik dan sistematik.

“Ini cukup mengerikan karena peserta didik tidak mendapatkan pembinaan moral dan budi pekerti yang layak sebab kecenderung yang terjadi guru tidak mengajar tetapi mendidik,” ungkap Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Prof Dr Arief Rachman.

Guru-guru sekarang lebih senang mengajar daripada mendidik. Mengajar berarti guru hanya memberikan bahan ajar berupa teori dan praktik sesuai kurikulum yang ada tanpa dibarengi dengan olah rasa sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Guru masa kini jauh dari tokoh yang digambarkan dalam sosok Oemar Bakrie yang bersahaja dan sebagai pegawai negeri ia melakoni hidup untuk mengajar dengan olah rasa, olah pikir dan olah hati.

Ada apa dengan kondisi guru masa kini?

Lanjutkan membaca “Sertifikasi Guru Gilas Idealisme”