Pendidikan Indonesia dan Guru 2.0

“Saat ini, kita mempersiapkan siswa kita untuk pekerjaan yang belum ada. Kita persiapkan mereka mengakrabi teknologi untuk memecahkan masalah yang  belum ada.”

Kira-kira begitulah yang disampaikan Agus Sampurno–seorang guru SD yang fasih menggunakan social media termasuk blog, Twitter dan Facebook. Pak Guru yang aktif di Twitter dengan akun @gurukreatif ini yakin bahwa guru, dengan segala keterbatasannya, bisa menjadi guru yang kreatif.

“Guru dan buku bukan lagi sumber pengetahuan saat ini,” kata Pak Agus. “Murid-murid sudah fasih mencari bahan-bahan dan informasi di Google dan search engine lainnya. Guru harus siap dengan ini semua,” ujarnya saat berkunjung untuk sharing session mingguan Maverick Jumat lalu.

MENGAJAR KREATIF

Pak Agus pun bertutur mengenai bagaimana seorang guru di era 2.0 ini harus mengubah sikap dan pola pikir mereka. Kedisiplinan tidak bisa lagi diterapkan lewat rasa takut atau sikap galak; tetapi lewat rasa hormat. Rasa hormat timbul ketika siswa bisa merasa nyaman berada di kelas, dan merasa bebas untuk berinteraksi dengan gurunya. Rasa nyaman inilah yang harus dipupuk oleh seorang guru kepada para siswanya.

Salah satunya, lewat cara belajar yang kreatif.

Guru Kreatif - Menulis Mengenai Kunjungannya ke Maverick

Untuk ujian, misalnya, siswa-siswa diberikan proyek untuk dikerjakan secara berkelompok. Kemudian hasilnya harus dipresentasikan di depan kelas. Guru tidak menyuruh siswa mencatat atau meminta siswa menghapal rumus, tetapi hanya menjadi fasilitator sekiranya ada siswa yang mengalami kesulitan.

Tugas presentasi nantinya dinilai berdasarkan kelengkapan data, slide yang menarik, pembawaan materi yang interaktif, dan pengetahuan siswa terhadap subjek yang dibawakan. Penilaiannya pun dilakukan terang-terangan. Siswa diberi tahu di tempat apa yang kurang dan apa yang bisa ditingkatkan.

Lewat pendidikan semacam ini, siswa diajarkan untuk mencari sendiri sumber-sumber referensi ketika mengerjakan suatu proyek (termasuk dari Internet), kemudian juga dipupuk kemampuannya agar dapat bekerja sama dalam tim. Mereka juga dilatih untuk percaya diri dan mampu berbicara di depan umum serta menyampaikan gagasannya kepada orang lain.

BLOG – BERBAGI METODE PENGAJARAN KREATIF

“Saya mencoba mempopulerkan cara pengajaran kreatif ini lewat blog saya,” kata Pak Agus, yang secara rutin memperbarui blog Guru Kreatif-nya–Blog Pendidikan Terbaik versi ICT Watch.

“Dan lewat blog ini juga, saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan guru-guru di berbagai sekolah dan pergi ke daerah-daerah untuk menyebarkan cara pendidikan kreatif. Ini tidak pernah saya duga sebelumnya, ternyata banyak sekali kesempatan yang saya dapatkan setelah nge-blog.”

Blog Guru Kreatif

Pak Agus pun mencoba meyakinkan rekan-rekan sesama guru untuk nge-blog. Menurut Pak Agus, lewat blog, para guru bisa membagi pengalaman dan metode pengajaran mereka kepada guru-guru lain serta memicu diskusi yang sehat mengenai dunia pendidikan di Indonesia.

“Karenanya saya senang sekali ada blog seperti Aksi Guru yang bisa menyebarkan juga metode pengajaran kreatif serta ide-ide mengajar kreatif yang sudah dterapkan guru-guru di berbagai daerah di Indonesia.”

GURU HARUS BIJAKSANA MENGGUNAKAN SOCIAL MEDIA

Di era 2.0 ini guru juga mesti lebih berhati-hati, terutama ketika menggunakan jaringan sosial. “Memang guru itu manusia juga, tetapi harus diingat bahwa guru adalah sebuah profesi, dan ini seperti menandatangani kontrak seumur hidup,” kata Pak Agus.

Ia menekankan pentingnya guru memperhatikan apa yang mereka publikasikan di social media, misalnya Facebook. “Banyak guru yang meng-add murid-muridnya di Facebook, namun  ketika ia berkomunikasi dengan kawan-kawannya di Facebook, ia menggunakan bahasa yang kurang baik atau ia meletakkan foto-foto yang kurang sopan. Ia tidak sadar bahwa murid-muridnya juga bisa melihat foto-foto ini. Ini harus diperhatikan, karena bagaimanapun juga, ia adalah seorang guru.”

GURU HARUS MENGUBAH NASIB MEREKA

Guru Kreatif di Pecha Kucha JakartaPak Agus juga menekankan bahwa guru memang harus berubah di era 2.0 ini. Mereka harus terus menemukan metode pengajaran yang lebih interaktif dan bermanfaat bagi siswa–serta sesuai dengan perkembangan jaman. Menurutnya, label ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ bukan berarti guru harus menerima saja dan pasrah terhadap ‘nasib’.

“Guru itu profesi juga, sama seperti pengacara atau dokter. Dan guru harus berupaya mengubah nasibnya dengan terus membuka diri terhadap perkembangan baru yang ada,” kata Pak Agus–yang sempat juga menjadi salah satu pembicara dalam ajang Pecha Kucha Jakarta bertajuk Agents of Change.

Dan perbincangan sore dengan seorang guru kreatif seperti Pak Agus Sampurno ini membuat saya merasa lebih optimis terhadap dunia pendidikan di Indonesia.

Tulisan dari HANNY KUSUMAWATI

http://www.maverick.co.id/ideas/2009/11/pendidikan-indonesia-dan-guru-2-0/

3 thoughts on “Pendidikan Indonesia dan Guru 2.0

  1. Terima kasih atas semua info terkini khussunya tentang guru kreatif.
    kami masih sangat membutuhkan data-data lain terkait guru kreatif, dengan demikian kami dapat berkembang tentunya dengan membaca dan memahami opini anda. salam perjuangan

  2. sangat bermanfaat skali,terutama bagi saya yang berada di desa untuk menerapkan pembelajaran seperti yg ada di kota meskipun cuma sdikit sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s