Saya bersyukur karena punya rekan kerja yang saling mendukung satu sama lain.

Dibawah ini adalah email yang saya terima pagi ini. Saya bersyukur karena punya rekan kerja yang saling mendukung satu sama lain.

Pak Agus,

Maaf belum sempat kasih tahu, waktu pak Agus tidak masuk,kelas Reception membuat Kidpix dengan background interior rumah dan aku suruh mereka mewarnai dan menaruh sticker di dalam gambar mereka. Setelah itu mereka save di dokumen mereka masing2 under the name of their room, ex: bathroom, kitchen, etc. Aku baru baca cover lesson pak agus setelah anak2 sudah selesai dengan kidpix nya! Maaf jadi belum sempat melakukan yang pak Agus minta. Semoga info ini berguna 🙂

Kania R. Purnomo

Primary

Global Jaya School

Jakarta, Indonesia

Lanjutkan membaca “Saya bersyukur karena punya rekan kerja yang saling mendukung satu sama lain.”

Orang tua saya di sekolah, adalah kepala sekolah saya (7 tantangan kepala sekolah masa kini)

Analogi diatas sepertinya terlalu berlebihan, karena mungkin saja anda sendiri berpikir di jaman sekarang mana ada orang yang repot-repot menyediakan waktu dan perhatian untuk orang lain (bawahan) dengan sedemikian rupa. Bahkan dengan menyediakan diri sebagai orang tua bagi orang lain yang menjadi tanggung jawabnya. Namun sekolah yang baik adalah gambaran sebuah kehidupan dan masyarakat yang baik pula. Di dalamnya kita bisa melihat peran-peran dalam masyarakat bersinergi satu sama lain untuk menghasilkan yang terbaik sebagai sebuah ikatan kerjasama yang positif.

Menjadi seorang kepala sekolah di masa kini bukan sekedar merasa nikmat karena memiliki kekuasaan dalam mengatur sekolah dan memberdayakan guru untuk jadi lebih baik, namun juga mempunyai banyak sisi yang membutuhkan penanganan dikarenakan jaman yang sudah berubah. Tantangan tersebut antara lain;

Lanjutkan membaca “Orang tua saya di sekolah, adalah kepala sekolah saya (7 tantangan kepala sekolah masa kini)”

567 tweets di #hariguru

Bapak ibu guru yang terhormat, selamat hari guru, semoga semua doa yang baik mengenai sosok guru akan naik ke langit dan digantikan dengan turunnya rahmat serta rejeki berkah kesehatan untuk semua individu yang berprofesi menjadi guru dimana saja anda berada di bumi pertiwi Indonesia yang kita cintai.

Hari guru yang jatuh pada 25 November kemarin telah membuat saya berpikir kembali mengenai peran guru dimata individu-individu yang menjadi siswa nya. Sengaja saya sebut individu, karena mungkin saja mereka masih di TK, SD, SMP atau SMA saat anda ajar, namun ada saatnya mereka akan dewasa dan menjadi seorang individu yang kemudian di hari guru ini mereka mencoba berefleksi mengenai hubungan mereka dahulu bahkan sekarang, dengan guru-guru yang pernah melakukan kontak sepanjang karir mereka sebagai pembelajar. Ada yang kemudian di hari guru ini mereka meminta maaf, atau malah masih menyimpan marah di dalam hati. Tidak apa, saya yakin semua guru hatinya baik dan ingin yang terbaik juga bagi siswa nya, hanya memang cara setiap guru berbeda dalam menyampaikan hal yang terbaik pada anak didiknya.

Saat membaca tweet dibawah ini ada beberapa yang membuat saya terharu, betapa tidak? mereka mengenang guru sedemikian rupa, guru yang dimaksud adalah guru yang bisa menginspirasi dan mengubah hidup mereka bahkan sampai sekarang. Hal lain adalah beberapa dari mereka dibawah ini punya orang tua yang berprofesi sebagai guru, dan betapa mereka juga berterima kasih, ah saya ingin seperti mereka para orang tua yang berhasil, baik sebagai guru dan sebagai orang tua di rumah bagi anak kandungnya. Akhirnya selamat menikmati, jika ada kata yang tidak akrab ditelinga kita para guru, tidak apa minimal kita jadi pernah mendengar kata-kata tsb. Please enjoy

Silahkan Bapak Ibu pilih mana yang paling menarik aatau menginspirasi anda untuk jadi guru yang lebih baik lagi bagi siswa-siswi di kelas. Tulisan ini saya kopi paste langsung dari topik mengenai hari guru yang ada di Twitter (biasa dimulai dengan menaruh tanda hashtags # atau tanda pagar di depannya.

Lanjutkan membaca “567 tweets di #hariguru”

Mengajar Lewat Blog

Oleh: Wicaksono*

Mengapa membuat blog? Begitulah pertanyaan yang sering saya dapat dari kawan- kawan. Pertanyaan ini mereka ajukan setelah mereka tahu saya memiliki blog dan rajin mengisinya.

Jawaban saya selalu sama: saya membuat blog karena suka menulis. Lewat tulisan saya mengutarakan gagasan, pendapat, perasaan, informasi, pengetahuan dan sebagainya agar diketahui orang lain. Dengan kata lain, saya ingin berbagi melalui tulisan kepada siapa saja. Nah, blog membantu saya membagikan ide dan opini itu tersebar luas ke delapan penjuru angin.

Lantas apa hubungan antara blog dan guru? Menurut saya, guru adalah profesi yang juga selalu berbagi. Mereka membagikan pelajaran, ilmu, gagasan, dan sebagainya kepada anak didik – setiap hari. Ibarat sumur, seorang guru tak akan pernah kekeringan bahan untuk dibagikan.

Salah satu blog guru: Guru KreatifSalah satu blog guru: Guru Kreatif

Lanjutkan membaca “Mengajar Lewat Blog”

Sir Ken Robinson: Do schols kill creativity? (Apakah sekolah membunuh kreativitas?)

Silahkan pilih Subtittle dalam Bahasa Indonesia

Transcript;

Good morning. How are you? It’s been great, hasn’t it? I’ve been blown away by the whole thing. In fact, I’m leaving.

There have been three themes, haven’t there, running through the conference, which are relevant to what I want to talk about.

One is the extraordinary evidence of human creativity in all of the presentations that we’ve had and in all of the people here. Just the variety of it and the range of it.

The second is, that it’s put us in a place where we have no idea what’s going to happen, in terms of the future, no idea how this may play out.

I have an interest in education — actually, what I find is, everybody has an interest in education; don’t you? I find this very interesting. If you’re at a dinner party, and you say you work in education — actually, you’re not often at dinner parties, frankly, if you work in education, you’re not asked. And you’re never asked back, curiously. That’s strange to me. But if you are, and you say to somebody, you know, they say, “What do you do,” and you say you work in education, you can see the blood run from their face. They’re like, “Oh my god,” you know, “why me? My one night out all week.” But if you ask people about their education, they pin you to the wall. Because it’s one of those things that goes deep with people, am I right?, like religion, and money, and other things.
Lanjutkan membaca “Sir Ken Robinson: Do schols kill creativity? (Apakah sekolah membunuh kreativitas?)”

‘Wahai para guru, jangan asal memuji siswa tapi berikan juga pengakuan dan penghargaan’ Laporan dari workshop setengah hari bagi para trainer di lingkungan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Bekasi dengan tema ‘Pengelolaan Kelas’ di Aula Departemen Agama Kota Bekasi Sabtu 21 Nov 2009

Sebagai seorang guru kita tidak hanya perlu memberikan peringatan atau perhatian pada siswa yang melanggar atau berbuat kesalahan di kelas tetapi juga memberikan pujian kepada siswa yang melakukan hal yang baik. Pada dasarnya memang siswa suka dipuji, karena jangankan siswa, kita pun sebagai orang dewasa senang dipuji. Namun memuji karena tanpa ‘bermuatan’ pengakuan dan penghargaan hanya akan membuat tindakan memuji tidak tepat sasaran dan terkesan menghambur-hamburkan pujian.

Guru yang hadir melakukan praktek langsung mengenai cara memasyarakatkan peraturan kelas dan konsekuensi di awal tahun ajaran kepada siswa. Bagi siswa TK sebaiknya peraturan ditulis dengan bahasa sederhana dan digunakan simbol sehingga gampang dimengerti oleh siswa
Guru berpikir kritis dan menjadi komunikator yang efektif dalam manjawab pertanyaan saya perihal "apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas" dan "mengapa guru memerlukan pengetahuan dalam hal mengelola kelasnya".

Lanjutkan membaca “‘Wahai para guru, jangan asal memuji siswa tapi berikan juga pengakuan dan penghargaan’ Laporan dari workshop setengah hari bagi para trainer di lingkungan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Bekasi dengan tema ‘Pengelolaan Kelas’ di Aula Departemen Agama Kota Bekasi Sabtu 21 Nov 2009”

Sertifikasi Guru Gilas Idealisme

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Dr Arief Rachman mengaku prihatin terhadap kondisi pendidikan di Tanah Air khususnya dalam pembinaan watak yang tidak terlayani secara baik dan sistematik.

“Ini cukup mengerikan karena peserta didik tidak mendapatkan pembinaan moral dan budi pekerti yang layak sebab kecenderung yang terjadi guru tidak mengajar tetapi mendidik,” ungkap Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Prof Dr Arief Rachman.

Guru-guru sekarang lebih senang mengajar daripada mendidik. Mengajar berarti guru hanya memberikan bahan ajar berupa teori dan praktik sesuai kurikulum yang ada tanpa dibarengi dengan olah rasa sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Guru masa kini jauh dari tokoh yang digambarkan dalam sosok Oemar Bakrie yang bersahaja dan sebagai pegawai negeri ia melakoni hidup untuk mengajar dengan olah rasa, olah pikir dan olah hati.

Ada apa dengan kondisi guru masa kini?

Lanjutkan membaca “Sertifikasi Guru Gilas Idealisme”

Apapun kelas dan bidang studi yang kita ajar, semua dari kita adalah guru â€Ś

Guru bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia , artinya apa pun bidang studi yang kita ajar mau tidak mau kita mesti menjadi membenahi produk tulisan yang siswa buat baik dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, juga saat berbicara dan berpendapat. Ini saatnya kita belajar terus mengenai berbahasa yang benar lisan maupun tulisan, bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, atau malah dalam beberapa bahasa lain jika sekolah anda juga mengajarkan bahasa selain dua bahasa tersebut.

Guru komputer, siswa anda kesulitan dalam melakukan pencarian dengan mesin pencari google, apakah anda langsung memanggil guru komputer untuk membantu, atau berbalik mengeluhkan kinerja guru komputer karena tidak serius mengajari siswa anda menggunakan mesin pencari? Saran saya 2 hal tadi boleh saja anda lakukan tetapi untuk lebih cepat dan tidak membuang waktu, bantu saja siswa sambil anda sendiri juga belajar. Tidak bisa dihindarkan pembelajaran sekarang memang menggunakan teknologi, jadi anda pun sebaiknya menguasai walaupun sedikit, dan mau membuka diri untuk membantu. Lanjutkan membaca “Apapun kelas dan bidang studi yang kita ajar, semua dari kita adalah guru â€Ś”

Luar Biasa! Kakek 81 Tahun Ikuti Ujian Setara SD

Tarlan (81), kakek 19 cucu, serius mengerjakan ujian Paket A setara SD, Jumat (20/11)

Jumat, 20 November 2009 | 08:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China. Pepatah itu kiranya terasa pas menggambarkan semangat Tarlan dalam menuntut ilmu. Bagaimana tidak? Di usianya yang sudah sangat senja, menginjak 81 tahun, kakek 19 cucu ini masih bersemangat mengikuti ujian Paket A setara SD.

Meski sesekali mengerutkan dahinya, Tarlan terlihat serius mengerjakan soal-soal ujian yang diberikan oleh pengawas dalam ujian Paket A setara (SD) yang diselenggarakan Suku Dinas Pendidikan Menengah (Sudin Dikmen) Jakarta Pusat, Jumat (20/11). Sikap Tarlan patut diacungi jempol. Di usianya yang melewati ambang batas ternyata masih bersemangat untuk belajar.
Lanjutkan membaca “Luar Biasa! Kakek 81 Tahun Ikuti Ujian Setara SD”