Semiloka Pembuatan Blog dan SAGUSALA FAIR Jakarta, 27 Mei 2009

Banyak guru memiliki kemampuan membuat karya tulis yang rendah. Data kepegawaian menunjukkan banyak guru yang karirnya terhenti di golongan IV A, karena salah satu persyaratan naik ke golongan IV B adalah mampu membuat karya tulis. Menurut Badan Kepegawaian Nasional (2005) jumlah guru golongan IV A 334.184 dan hanya 2.318 orang guru yang bisa naik ke golongan IV B.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, apalagi di masa depan akan diusulkan agar penulisan karya tulis ilmiah ini dipersyaratkan pada kenaikan golongan dari III B menjadi III C, dimana guru dipandang masih memiliki semangat tinggi untuk membuat karya tulis ilmiah. Usulan ini akan disampaikan melalui Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara yang baru tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Di sisi lain, teknologi internet yang berkembang pesat telah memungkinkan orang kini dengan mudah membuat blog sebagai website pribadi di dunia maya. Guru juga perlu memanfaatkan blog sebagai sarana berlatih menulis karena kemudahan proses pembuatan dan pengelolaannya. Di samping blog juga diperlukan sebagai sarana berinteraksi guru dengan muridnya, atupun antar sesama guru dimana guru bisa saling berbagi informasi, pengetahuan, metode pengajaran, dan lain-lain, sehingga guru bisa saling belajar dengan teman sejawatnya di seluruh dunia.

Lanjutkan membaca “Semiloka Pembuatan Blog dan SAGUSALA FAIR Jakarta, 27 Mei 2009”

Suatu saat anak kita akan memilih situs pertemanan nya sendiri

Saya punya banyak teman di facebook yang  merupakan siswa-siswi saya sendiri. Tidaklah mengherankan jika sekarang makin banyak anak-anak yang dalam usia cukup muda sudah mempunyai akun di facebook atau friendster. Dalam kaitan dengan penggunaan foto dan tulisan di situs pertemanan hasil dari rekomendasi dari workshop teknologi informasi bagi kaum ibu yang kami lakukan adalah sering-seringlah melakukan percakapan dengan putra putri di rumah mengenai hal apa saja yang mereka alami selama menggunakan situs pertemanan.

Beberapa pertanyaan yang bisa digunakan dalam percakapan adalah (diambil dari situs thinking stick.com);

  • Menurut mu gambar yang kamu pasang di halaman mu di facebook akan mencerminkan apa mengenai dirimu?
  • Apakah kamu mengenal semua orang yang kamu sebut sebagai ‘teman’
  • Jika kamu menaruh sebuah foto di halamanmu di facebook, apakah kamu yakin temen-teman mu tidak akan mendownloadnya?
  • Jika kamu menaruh sebuah pernyataan atau kalimat  sebagai status mu difacebook, kira-kira akan mencerminkan hal apa tentang dirimu
  • Apakah dirimu ingin dikenal sebagai pribadi yang seperti itu?

Memata-matai anak di internet bolehkah?

Merupakan sebuah dilema bagi semua orang tua yang anaknya menggunakan internet untuk mengetahui apa yang anaknya lakukan didunia maya. Saat yang lain kita mengajarkan anak mempunyai privasi tapi saat yang lain kita ingin melindungi mereka dari orang yang mungkin bermaksud jahat. Hasil kesimpulan kami di workshop teknologi informasi bagi kaum ibu, boleh saja memata-matai anak di internet bukan dengan tujuan membatasi atau ikut campur kehidupan pribadi namun lebih kepada upaya membuat mereka aman saat berada didunia maya.

Lanjutkan membaca “Memata-matai anak di internet bolehkah?”

‘Katakan tidak! pada sebutan ibu gaptek..’(Laporan dari serial workshop Teknologi informasi bagi kaum ibu Sekolah Global Jaya Jakarta)

Mengajar Teknologi informasi dan komunikasi kepada siswa buat saya bukan sebuah hal yang sama sekali baru. Saya sudah melakukannya sejak awal karir saya menimba ilmu sambil mengajar. Namun merupakan sebuah hal yang baru ketika saya dihadapkan pada tugas untuk berbagi bersama para ibu orang tua siswa murid-murid saya dikelas.

Dimulai sejak Januari 2009, setiap dua minggu sekali saya dan kaum ibu yang merupakan orang tua siswa bertemu dan berbagi. Sengaja dipilih waktu pagi hari mengingat saat yang sama mereka juga datang ke sekolah untuk mengantar  putra-putrinya ke sekolah. Saya walaupun diberi tanggung jawab sebagai untuk berdiri didepan sebagai nara sumber saat yang sama juga berusaha segala cara agar para ibu yang hadir mau berbagi mengenai pengalaman mereka menggunakan teknologi sekaligus menjadi mitra bagi anak-anak nya saat menggunakan teknologi.

Lanjutkan membaca “‘Katakan tidak! pada sebutan ibu gaptek..’(Laporan dari serial workshop Teknologi informasi bagi kaum ibu Sekolah Global Jaya Jakarta)”

%d blogger menyukai ini: