Refleksi workshop Digital citizenship Sampoerna Foundation Teacher Institutes. Jakarta 20 Februari 2009.

Refleksi workshop Digital citizenship Sampoerna Foundation Teacher Institutes. Jakarta 20 Februari 2009.

workshop-digital-citizenship-sfti2

Layaknya kita hidup di sebuah kampung ,desa atau sebuah komplek tempat tinggal, hidup bersama di dunia maya punya banyak sisi dan tantangan yang lumayan banyak untuk dijalani dan diatasi. Jika tinggal di kampung atau desa bahkan negara punya istilah menjadi ‘warga yang baik’, begitu juga dunia maya atau hidup dunia digital perlu ada kesepakatan secara kesadaran mengenai bagaimana menjadi warga yang baik.

Pada salah satu milis pendidikan di internet, seorang anggota menegur anggota lainnya untuk tidak menyampah atau mengisi milis dengan iklan-iklan yang tidak berhubungan dengan tema besar dari milis yaitu pendidikan. Sementara di salah satu tayangan televisi infotainment seorang pesohor (baca selebritis) berkampanye untuk tidak membeli barang bajakan album yang dikeluarkannya.

Dua cerita diatas memberikan kepada kita mengenai gambaran hal yang dahulu mungkin belum terjadi. Dahulu komunikasi dilakukan langsung dua arah. Bisa dengan tatap muka atau berkirim surat dan melakukan komunikasi lewat suara (telepon). Dari mimik muka atau nada suara kita bisa tahu kondisi emosional lawan bicara, marah sedih atau senang.

Jaman dahulu impian seorang penyanyi adalah melakukan rekaman. Tetapi sekarang mungkin ia akan berpikir seribu kali untuk melakukan rekaman mengingat hari ini ia meluncurkan album, esoknya sudah ada di internet atau di lapak penjual cd bajakan.

Sementara saat ini komunikasi bisa dilakukan dengan tulisan tetapi bersifat real time, jadi seperti layaknya orang sedang ngobrol (chatting). Bicara mengenai mimik muka atau keadaan emosional lawan bicara? Jangan khawatir ada emoticon yang menggambarkan keadaan sedih senang atau bahagia. Dunia digital juga bisa menyatukan dan memfasilitasi interest atau kesukaan orang perorang sehingga bisa ngobrol atau bertemu di dunia maya lewat milis dan forum.

Dalam dunia pendidikan, siswa dan guru seperti memasuki juga dunia yang sama sekali baru. Di banyak sekolah diajarkan mengenai pendidikan kewarga negaraan, tapi bisa dihitung dengan jari sekolah yang mengajarkan netizen atau internet citizenship atau digital citizenship.

Untuk itu sebagai lanjutan dari Seminar Digital immigrants dan Digital natives dan demi membekali guru agar bisa melindungi serta manjadi kan siswa menjadi warga dunia digital yang baik, Sampoerna foundation Teacher Institutes mengadakan workshop mengenai Digital Citizenship yang berlangsung tanggal 20 Februari 2009 di lantai 25 gedung Sampoerna strategic square.

Dibawah ini beberapa faktor yang membuat pembelajaran mengenai digital citizenship menjadi sangat penting;

1. Ketika seseorang berada di dunia maya (online), banyak yang kemudian merasa bebas dan menjadi lebih ekspresif dibandingkan saat berada didunia nyata. Seseorang yang saat chatting sangat aktif dan terkesan seperti orang menyenangkan, saat bertemu muka dengan lawan bicara nya didunia nyata terkadang malah menjadi pendiam dan menjadi salah tingkah karena tidak terbiasa menghadapi seseorang secara fisik dan nyata (offline).

2. Saat di dunia maya berlaku semboyan, You Don’t Know Me: sangatlah sulit untuk mengetahui dengan siapa kita sedang berkomunikasi. You Can’t See Me: seseorang bisa saja memalsukan identitas saat berada di dunia maya, mengaku sebagai remaja padahal berusia setengah abad, hanya untuk bisa menarik dan mengambil keuntungan dari lawan bicara yang nota bene adalah orang yang jauh lebih lemah bahkan anak kecil (internet predator)

3. It’s Just a Game: Banyak orang melihat keberadaannya didunia maya bukan sebuah hal yang serius. Hanya main-main katanya, jadi tidak heran banyak perilaku yang meyimpang dari kehidupan didunia nyata. Bahayanya ini akan menyangkut kredibilitasnya didunia nyata. Karena main-main seseorang akan menaruh foto nya sedang mabuk misalnya disebuah pesta, pada situs pertemanan. Bayangkan ketika dia melamar ke sebuah perusahaan dan calon pemberi kerja melihat foto tersebut lewat internet.

4. Pemakaian waktu yang sangat banyak dari seseorang untuk selalu berada di depan computer (kecanduan). Bermain game atau melakukan chatting dengan orang lain sampai berjam-jam dan hingga larut malam. Bayangkan jika esoknya seorang pelajar masih harus sekolah, padahal malamnya sampai dini hari ia sibuk chatting dan bermain game di internet.
5. Tidak digunakannya kompas moral serta etika sehingga tidak menghargai karya cipta orang lain, baik yang berupa karya ilmiah atau sebuah hasil karya cipta seni, musik misalnya, dengan cara mengunduh dari internet.

6. Pornografi, banyak remaja yang kemudian menjadi produsen materi pornografi yang bahkan melibatkan dia sebagai pelakunya. Sengaja atau tidak sengaja remaja akan berpikir bahwa yang ia lakukan adalah untuk ‘konsumsi pribadi’ dan bukan untuk disebarluaskan. Tanpa berpikir panjang bahwa materi itu akan membawa dampak yang sangat besar di kehidupan masa depan. Padahal sepanjang masih berupa materi digital, video di hp atau foto yang ia masukkan di situs pertemanan, akan memancing orang lain untuk menyebarkan.
7. Cyberbully, berbeda dengan kasus bully didunia nyata. Cyberbully bisa berlangsung 24 jam dan 7 hari seminggu alias setiap saat dan waktu. Bully diupayakan untuk menekan orang lain yang akan menimbukan ketidak nyamanan dan dilakukan lewat alat digitl, computer, internet atau HP. Hal yang menjadi perbedaan mendasar orng yang dibully tidak melihat siapa yang melakukannya. Bisa juga pelaku menyebarkan foto atau materi yang bersifat pribadi milik orang lain yang kemudia akan mempermaluka orang yang bersangkutan.

Menurut situs Digizen.org

“Digital citizenship isn’t just about recognizing and dealing with online hazards.
It’s about building safe places and communities…how to manage personal information …being internet savvy using your online presence to grow and shape your world in a safe creative way and inspiring others to do the same.”

“Digital citizenship bukan hanya usaha untuk mengenali dan mengendalikan bahaya yang ada di internet. Tetapi lebih kepada membangun tempat dan komunitas yang aman …bagaimana mengelola data pribadi…saat yang sama bagaimana agar menjadi mahir didunia internet dan memaknai keberadaan di dunia maya untuk menjadi lebih berkembang secara kreatif tetapi tetap menutamakan keamanan dan bisa menginspirasikan orang lain untuk berbuat hal yang sama. ”

Dengan demikian penting sekali bagi siswa serta guru atau siapa saja yang sering berada di dunia maya untuk mempraktekan prinsip dibawah ini.

1. You are what you post! Anda adalah apa yang anda posting di internet
Tanyalah pada diri sendiri sebelum memasukkan sesuatu di internet.
· Mengapa saya ingin memasukkan tulisan atau gambar dan pesan seperti ini
· Siapa yang ingin saya tuju, apakah saya ingin respon lebih lanjut.
· Hal yang saya kirim atau posting ini, apakah akan mempengaruhi penilaian orang terhadap saya dan reputasi saya di dunia internet?
· Bagaimana orang lain menafsirkan hal yang saya posting ini?
· Bagaimana jika orang tu, guru , serta calon pemberi beasiswa atau calon pemberi kerja
2. Think before you click!
· Dalam dunia online semua yang terlanjur terkirim tidak bisa ditarik kembali.
· Jadi , fikirkan sebelum mengirim sesuatu kepada orang lain dengan email misalnya.
· Saat berkomunikasi secara langsung lewat fasilitas instant messaging (chatting)

Sebagai fasilitator saya beruntung sekali bisa memfasilitasi sebuah workshop yang sangat menarik dan membuat pencerahan bagi yang hadir. Dengan diskusi dalam grup, role play serta bekerja dengan kolaboratif dalam mengomentari pertanyaan dengan menggunakan fasilitas google docs. Sebuah teknologi dari google yang memungkinkan semua peserta yang hadir mengedit satu dokumen saat bersamaan.

Adapun rekomendasi yang semua setuju untuk dilakukan disekolah masing-masing sekembalinya dari tempat workshop adalah;

1. Memasukkan pembelajaran mengenai digital citizenship sebagai muatan disekolah, Bisa guru TIK yang mengajarkan bekerja sama dengan guru bimbingan konseling.
2. Perbaharui terus pengetahuan guru dan orang tua siswa mengenai hal yang mesti diwaspadai di dunia online dengan cara yang berkelanjutan.
3. Perlunya dibuat peraturan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakuakn didunia maya untuk semua komponen di sekolah, guru, orang tua, siswa dan karyawan perihal cara menggunakan internet dan berkomunikasi di dunia maya. (Acceptable use policy)

Akhirnya ucapan terima kasih serta hormat saya yang sebesar-besarnya kepada semua peserta yang hadir. Mereka semuanya adalah pendidik yang briliyan. Ucapan terima kasih saya haturkan secara khusus kepada Markus Mardianto, dan bantuan Aditya Dharma, Firman Fridayanto, dan Simon kesemuanya adalah program officer Sampoerna foundation Teacher institutes yang telah membantu terselenggaranya acara ini.

Sumber tulisan juga bisa anda akses di

http://delicious.com/agusampurno/digital

Silahkan melihat ulasan mengenai workshop ini pada blog Ibu Komariyah

http://komariah.wordpress.com/2009/02/22/digital-learning-a-new-perspective-in-utilizing-interactive-website-web-20-technologies-to-enhance-learning-processeshow-to-develop-digital-citizenship-by-a-sampurno-and-how-to-utilize-web-2/

2 thoughts on “Refleksi workshop Digital citizenship Sampoerna Foundation Teacher Institutes. Jakarta 20 Februari 2009.

  1. Bagaima menjadi anggota sampoerna foundation? Saya sebagai pendidik ingin rasanya memantapkan kestabilan dan keajegan dalam menjalankan tugas di sekolah. Banyak hal yang membuat saya sangat mencintai profesi ini. Organisasi yang menaungi dimana para guru ini berada belum sepenuhnya bisa mnjembatani khususnya menjadi guru yang profesional dan tetap menjalankan amanahnya dengan benar.Rasanya senang sekali pada saat saya bisa berbagi pengalaman dan cerita yang berkenaan dengan dunia pendidikan yang tidak akan pernah lekang oleh jama dan waktu. saya yakin dengan semakin banyak guru yang terlibat didalamnya yang notabene berkiprah untuk kemjuan pendidikan, yakin lambat laun tapi pasti sampoerna foundation akan banyak memfasilitasi kami khususnya para guru.thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s