Empowerment atau control, mana yang paling penting dalam mendampingi anak di dunia maya (Refleksi dari Seminar Digital Immigrants Sampoerna Foundation Teacher Institutes 19 Februari 2009)

dsc00947Bagi para orang tua, pekerjaan melindungi serta membesarkan anak seperti tiada habisnya. Sebab saat ini tidak hanya harus melindungi anak di dunia nyata (offline) tapi juga harus melindungi mereka di dunia maya (on line). Begitu juga dengan guru, yang mendampingi anak didik nya juga di dua alam yang berbeda.

Permasalahannya adalah adanya jurang antara dua generasi. Satu generasi guru dan orang tua yang terkadang harus ‘berjuang’ untuk mempelajari sesuatu yang baru (teknologi misalnya) serta generasi anak didik yang nota bene adalah anak-anak yang terlahir bersamaan atau sudah saat teknologi tercipta dan digunakan secara luas.

Jika kita para orang tua dan guru mempelajari teknologi digital dari buku manual atau menu ‘help’ yang terdapat di setiap produk teknologi digital, anak-anak kita tidak perlu itu. Mereka akan sibuk mencoba kesana kemari sambil terus mencoba-dan mencoba tanpa takut produk teknologi itu menjadi rusak atau tidak berfungsi.

Untuk lebih jelasnya ada bisa membaca direfleksi saya mengenai digital immigrants dan digital natives yang sebelumnnya menjadi tema dalam acara berbagi juga di Sampoerna Foundation Teacher Institutes. Silahkan klik

https://gurukreatif.wordpress.com/2009/01/27/refleksi-dari-educator-sharing-network-sampoerna-foundation-digital-immigrant-versus-digital-natives/

Dunia digital yang saya maksud di sini adalah teknologi seperti handphone, computer, internet dan lain sebagainya. Mau tak mau teknologi semacam itu akan terus berkembang. Karena mereka memanfaatkan insting alam manusia yang paling mendasar yaitu berkomunikasi satu sama lain. Tidak heran jika banyak anak kita yang menghabiskan waktu dengan chatting sampai dini hari padahal esoknya masih harus sekolah.

Selama setengah hari saya dan pak Gerald Donovan, memfasilitasi Seminar mengenai Digital Immigrants versus digital Natives di Sampoerna Foundation. Peserta yang datang ada orang tua, guru serta praktisi di bidang computer. Smua yang datang sibuk bertukar pikiran berdiskusi sambil berefleksi mengenai tema yang menjadi pembahasan.

Berikut ini adalah beberapa hal saya anggap bisa mewakili dari hasil seminar kali ini.

1. Orang tua dan guru setelah tahu dirinya adalah immigrants jangan lantas berkecil hati. Rangkullah siswa dan Tanya apa yang anda tidak mengerti. Jika anda baru pertama kali mendengar kata youtube jangan sungkan untuk meminta mereka menjelaskan.

2. Mari kita tinggalkan semoyan guru di kelas harus tahu segalanya. Saatnya kita menjadi fasilitator bagi siswa untuk mendampingi mereka memasuki masa depan yang sama sekali baru buat kita dan mereka. Caranya dengan terus meningkatkan diri dan mau terus belajar bahkan dari siswa. Jika siswa lebih menguasai mengapa tidak kita belajar padanya.

3. Guru dan orang tua harus berubah. Jika ingin anak-anaknya selamat didunia nyata dan dunia maya tidak harus tidak harus belajar dan mau membuka diri serta tidak memandang dunia digital dari melulu sisi negatifnya saja.

4. Multitasking tidak selamanya bagus. Banyak anak dan siswa kita yang melakukan semuanya saat bersamaan. Sambil mengerjakan tugas di computer mereka mendengarkan music, chatting mendownload dan lain sebagainya. Akbat yang ditimbulkan mereka akan menjadi tidak focus dan pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan akan menjadi panjang dan lama untuk bisa selesai.

5. Peran guru dan orang tua sangat dibutuhkan agar siswa tidak menjadi kecanduan computer dan internet. Bekali mereka dengan keterampiln untuk mereka bertahan didunia nyata. Misalnya cara berkomunikasi yang sopan, membawa diri didepan umum sampai keterampilan lain yang mereka kadang lupakan karena biasa berkomunikasi di dunia maya.

3 thoughts on “Empowerment atau control, mana yang paling penting dalam mendampingi anak di dunia maya (Refleksi dari Seminar Digital Immigrants Sampoerna Foundation Teacher Institutes 19 Februari 2009)

  1. Terima Kasih Pak Agus atas Kontribusi plus refleksinya.
    Ada satu hal lain yang ingin saya garis bawahi bahwa guru dan orangtua juga perlu mengetahui, mengidentifikasi, memahami dan terlebih-lebih “memasuki dunia anak kita”.
    Maksud saya bukan jadi “temannya”, namun “pembimbing” mereka, supaya keberadaan kita sebagai pendatang betul-betul dirasakan juga kehadiarannya diantara mereka. Apa sih kesukaannya, seperti apa bentuknya, apa manfaatnya bagi orang banyak, apa keterkaitannya dengan yang lain, dan berbagai pertanyaan lainnya yang memungkinkan kita dan anak-anak menjalin sebuah sinergi dalam mengembangkan life skill untuk menghadapi masa depan yang kita semua tidak tahu apa yang akan terjadi.

    “Experience is not what happens to you, Experience is what you DO with what happens to you”

    (Ralph, 2000)

    Terima kasih, semoga menginspirasi!

  2. Change could be scary!
    Yes, we should accompany, empower and control our kids and develop them to become better digital citizen.
    So, for us (adults) it simply to ‘belajar lagi dan belajar terus…’

  3. Thanks Pak sharingnya. Setuju, belajar dimana saja, kapan saja dan dengan siapapun. Kenapa harus malu bertanya kepada murid? seringkali malah menjadi diskusi yang sangat menyenangkan loh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s