Akhir yang baik dan cinta sejati

foto-mbah-tolib

Pembaca yang budiman, dua istilah diatas mewarnai perjalanan hidup saya di beberapa  hari terakhir. Tanggal 22 Januari 2009, pukul 18.30 saya bergegas pulang dari kantor setelah menyiapkan segalanya untuk materi presentasi Digital Immigrants vs Digital Natives di Sampoerna Foundation, setelah bertemu istri dan membelai bayi serta berbicara ringan dengan dua kakaknya, saya dan istri berangkat ke kediaman orang tua saya di Pondok Aren yang masih satu kawasan dengan tempat tinggal saya juga. Maklum malam itu adalah peringatan 2 tahun meninggalnya ibunda saya dan Mbah putri untuk anak-anak saya.

Sampai ditempat, saya bertemu dengan Ayahanda, kami memanggilnya Mbah Kakung yang akan berangkat ke masjid untuk sholat isya bersama dua kakak saya yang lain yang terlebih dulu datang.

Beliau hanya tersenyum saat saya datang bersama istri, ternyata itulah senyum terakhir yang beliau berikan pada saya. Tidak lama kemudian ada orang yang mengabarkan bahwa beliau tidak sadarkan diri setelah menunaikan sholat Isya.

Saya tergopoh-gopoh mendatangi Masjid dan yang saya dapati adalah beliau yang sudah menghembuskan nafas terakhir di pintu masjid sambil dikelilingi jamaah lainnya.

Perasaan saya bercampur aduk menjadi satu antara sedih, kehilangan sambil bangga di sisi lainnya. Saya jadi teringat hal yang sering diucapkan beliau saat sedang berbincang dalam beberapa kesempatan dengan semua anak-anaknya, bahwa ingin sekali beliau wafat dalam kondisi sedang beribadah dan tidak menyusahkan kami sebagai anak-anaknya dan kerabat yang lain.

Dan Allah SWT pun menyambut keinginan beliau. Ayahanda wafat saat kami semua sudah berkumpul. Anak-anak yang mencintainya serta kerabat yang menghormatinya. Beliau dipanggil pada tanggal yang hanya berbeda satu hari dengan hari wafatnya istri tercinta 2 tahun lalu.

ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO

” Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”

Tulisan terkait ; http://dedidwitagama.wordpress.com/2009/01/24/berjumpa-terakhir-dengan-mbah-tolib-sutrisno-utomo/

Posted in Tak Berkategori

10 thoughts on “Akhir yang baik dan cinta sejati

  1. turut berduka cita atas Kepulangan Ayahanda Pak Dedi dan Pak Agus.
    Semoga Tuhan memberikan kelimpahanNya melalui rencanaNya yang agung ini.

    Semoga arwah Ayahanda diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin.

  2. Innalillahi waa Inna Illaihi Ro’jiun. Semoga sempurna jalan menuju yang Abadi. Amin.
    Pak agus, salut saya, tgl 23 sore spirit pak guru untuk memberi motivasi kami tetap terjaga. Malah sempat ngerjain peserta, ketawa bareng, dsb. Padahal itu hari berpulangnya ayahanda ya.
    Ternyata benar ya, tiap sesuatu memiliki banyak dimensi pembelajaran yang ‘unik. tinggal kita memaknainya sebagai apa. Brkl, disitulah “kedalaman” kita ya. Duka cita yang dalam, pak agus!
    Jabat erat!

  3. sebelum beliu meninggalkan kita semua beliau sempet mampir ke tempat kerjaan istri setelah cek up dipuskesmas pesanggrahan dan beliau dengan hangat mengatakan saya kangen nduk.. dan seperti biasa beliau memberikan petuah2 yang dalam pada istri saya.
    pada kesempatan yang lain tepatnya hari jum’at saya bertemu beliau di masjid jami’ bintaro jaya, saya kaget karena tidak biasanya beliau jum’atan sejauh ini yang lebih kaget lagi setelah saya ajak pulang bareng naik motor beliau menolak karena mau jalan kaki padahal jarak antara masjid dengan rumah cukup jauh. karena penasaran saya mengikuti beliau dari belakang. saya bertambah penasaran karena beliau menyapa setiap pedagang dan orang yang beliau temui di jalan dengan hangat dan lambaian tangan seakan mengucapkan salam perpisahan.ternyata itu adalah pertemuan saya yang terakhir dan terindah dengan beliau, selamat jalan mbah Tholib… teramat berharga pellajaran
    yang mbah Tholib ajarkan kepada kami.

  4. Innalillahi waa inna Illaihi ro’jiun. Saya turut berduka cita atas wafatnya ayahanda tercinta. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah beliau dan bagi keluarga yang ditinggalkan selalu dilimpahi kesabaran.

  5. Turut berduka atas berpulangnya ayahanda pak Agus, subhanallah, semoga khusnul khotimah, diampuni segala dosa dan diterima segala amal sholehnya, dan ditempatkan disisi Allah dengan tempat yang terbaik… dan yang ditinggalkan diberi kesabaran dan selalu bisa mendoakan beliau … amiin

  6. Innalillahi waa inna Illaihi ro’jiun.
    Turut berduka cita yang mendalam ya Pak Agus. Orang yang baik pasti surga didapatnya. Apalagi semua anak-anak yang beliau besarkan sudah dapat mengamalkan ilmunya di jalan ALLAH, itu juga melancarkan jalannya.
    Siapa yang tak ingin penghabisannya ada dirumah Allah dan sedang menjalankan ibadah yang diperintahkanNya. Amin.

  7. Assalamu’alaikum,

    turut berduka cita buat Pak Dedi dan Pak Agus,
    semoga kebaikan beliau semasa hidupnya diterima di surga.
    Maaf apa Pak Dedi dan Pak Agus bersaudara?

    Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s