Komputer sebagai ‘alat’ di sekolah

Setiap sekolah kebanyakan punya ruang komputer, isi, kemampuan  dan jumlahnya bisa variatif tergantung kemampuan sekolah. Biasanya ada seseorang yang bertugas mengajar di ruang komputer. Selain untuk mendamping proses belajar siswa juga dikaryakan bila komputer ada kerusakan.

Terkadang fungsi ruang komputer hanya dijalankan bila siswa ada pelajaran komputer. Dikarenakan pemikiran bahwa ruang komputer hanya untuk mempelajari komputer saja.

Untuk itu mari rubah paradigma diatas. Wahai para guru kelas bawa siswa anda ke ruang komputer pada jam matematik, IPA, atau IPS serta pelajaran lainnya. Karena siswa kita adalah anak kandung abad 21 yang lahir dengan teknologi sebagai perangkat sehari-hari.

7 thoughts on “Komputer sebagai ‘alat’ di sekolah

  1. Harus terus dikembangkan metode ini. kalo bs semua lab kompter di indo harus OL pake internet biasr tambah kaya konten pembelajaranya.
    tul gak??

  2. Sekarang ini dan seterusnya DEPDIKNAS sedang bagi-bagi perangkat komputer plus penunjangnya dan software pembelajaran untuk sekolah. Sekolah mendapat dana yang cukup besar untuk membeli perangkat tersebut.

    Yang menjadi tantangan ke depan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru untuk menggunakan alat elektronik tersebut sebagai media belajar dan mengajar.

    Mas Agus, yang mungkin bergaul dengan guru-guru di kota (baca di Jawa) mungkin akan terkejut dengan kesenjangan yang ada dengan guru-guru yang ada di luar Jawa.

    Saya bertemu dengan guru-guru yang ketika dihadapkan dengan komputer masih gemetar, gemetar dalam arti literal, alias ndredeg beneran.

    Gelontoran dana dari pemerintah patut diapresiasi, namun juga harus diingat bahwa mental pemerintah ini masih mental proyek, yang penting kasih alat, selanjutnya terserah Anda. Untuk beberapa hal ini menjadi positif, untuk banyak kasus bisa jadi hal yang memprihatinkan. Seperti di P. Buton, ada guru yang bilang kepada saya bagaimana komputer ini bisa dipakai kalau listrik di sini hanya menyala di malam hari?

    Juga yang patut dipikirkan adalah isi dari SI 2006 tentang TIK di SD dan SMP. Standar Isi tersebut jika diterjemahkan kedalam kurikulum sekolah akan amat sangat membatasi kreatifitas guru. Mayoritas dari guru belum bisa berpikir keluar dari kotak.

    Ajakan Mas Agus untuk mengoptimalkan komputer patut disambut. (Ada tapinya… tapi ajari dulu gurunya….)

    Agung W

  3. Guru nggak gatek so pasti murid juga, tapi guru aja takut untuk pegang komputer alagi mouse aja mungkin nggak perna nyentuh. Gimana tuh pak? Guru pinter dan mampu menguasai IT mudah-mudahan lebih memudahkan dalam membagi ilmu secara online.
    Maju terus cikgu jangan ketinggalan dari muridmu.

    Salam,

    cafestudi061

  4. Saya pernah melihat berita singkat di salah satu tv swasta yang meliput tentang produsen “hardware” yang membagi-bagikan komputer “second” ke sekolah-sekolah. Namun, hal ini dikomentari oleh pakar pendidikan yang mengatakan bahwa sebelum memiliki fasilitas yang canggih, sekolah harus membangun guru-guru yang “canggih” terlebih dahulu.

    Pengertian “canggih” dalam hal ini adalah paradigma yang canggih. Banyak pihak sekolah yang cemburu ketika melihat sekolah tetangganya mendapatkan bantuan beberapa perangkat komputer. Tapi, setelah dilihat di lapangan sebagian komputer tersebut masih terbungkus rapi dan bersih. Sebagian dipakai untuk administrasi, dan tak satupun yang digunakan untuk proses pembelajaran. Ketika ditanyakan apakah siswanya pernah mencoba untuk menggunakannya, jawabannya cukup unik, “nanti, komputernya cepet rusak karena terus-terusan dipake’ anak-anak”.

    Jelas, memang paradigma menentukan keterbatasan ini. Saya teringat ketika berkunjung ke daerah Kalimantan Timur, di atas sebuah Delta terbesar Mahakam, berdiri sebuah sekolah sangat sederhana, memiliki satu unit komputer yang diletakkan di ruang perpustakaan. Setiap pagi, sebut saja Aji namanya, anak Pak Zainudin (Kepala Sekolah SD Muara Pantuan) menyalakan genset untuk menyalakan komputer tersebut. Beberapa saat kemudian, datanglah satu, dua sampai lima guru mengantri untuk minta diajarkan bagaimana mengoperasikan komputer. Aji yang hampir lulus SMA tersebut secara sukarela membantu Ayahnya untuk mengajarkan IPTEK kepada guru-guru tersebut. Karena, memang tidak satu gurupun di sekolah tersebut yang paham komputer, kecuali Aji.

    Jadi jelas, paradigma guru yang canggih akan mengubah segala “keterbatasan” menjadi terbukanya jalan menuju kreativitas. Kepala Sekolah juga berperan sangat penting layaknya Pak Zainudin yang terus memikirkan kemampuan gurunya. Salah satu strateginya adalah cari sisi positif dari segala keterbatasan tersebut, seperti Aji, seorang anak SMA yang “MAU” memberi manfaat bagi masyarakat.

    Semoga Menginspirasi,
    Markus Mardianto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s