Menghormati siswa

Siswa dihormati, wah bukannya sebaliknya? guru yang harus dihormati bukan siswa. Siswa itu harus di didik dan disiplinkan! Demikian kira-kira pikiran yang masih timbul di benak kita ketika berpikir soal hierarki guru dan siswa.

Dalam praktek pembelajaran sehari-hari dikelas dilema hierarki seperti itu kerap timbul. Apalagi jika kita sebagai guru belum banyak mempunyai koleksi cara untuk menjadikan hubungan guru dan siswa menajdi harmonis. Padahal jika hubungan ini harmonis pembelajaran dikelas akan menjadi mengasyikkan dan guru bisa menempatkan diri menjadi fasilitator untuk memuaskan dahaga anak akan pengetahuan.

Pasti anda pernah berada dalam situasi, kelas yang ribut dan siswa sibuk mengobrol seperti pasar saja layaknya, riuh rendah tak keruan. Apa yang biasa anda lakukan? kalau ingin menempuh jalan yang singkat cukup berteriak saja atau memukul-mukulkan penghapus ke papan white board maka saya yakin siswa akan diam (sementara) , atau malah perilaku anda membuat kelas anda sendiri tambah ribut? Atau lakukan yang ini, anda meneriaki satu anak “Rizal.. jangan ngobrol terus!!” maka saya yakin siswa yang anda panggil namanya akan mengelak, “saya tidak ngobrol kok..!”

Untuk itu mulailah menghormati siswa dengan mengatakan ‘maaf’. “Maaf ya bapak menginterupsi sebentar..!” setelah itu katakan “ya..terima kasih Rizal atas perhatiannya..!” baru anda mulai mengatakan sesuatu pada semua kelas, tapi tunggu sampai semuanya benar tenang dan diam.

8 thoughts on “Menghormati siswa

  1. Salam kenal, saya apresiatif terhadap komitmen dan berbagai kreatifitas yang dijalankan di sekolah tempat anda mengajar. Selamat ya ….

  2. Sip dah pak tutorialnya, Saling menghormati dan menghargai antara guru dan siswa. Kita sebagai guru memang perlu belajar memanajemen kelas kita. Kalau hanya dengan emosi tidak akan menyelesaikan masalah justru akan membawa kita kepada masalah.

  3. mengajarlah dengan hati maka siswa akan selalu rindu dengan kedatangan gurunya dan guru tidak akan sabar untuk bertemu dengan siswanya.
    salam kenal pak Agus

  4. Ya, saya sangat setuju.

    Sekarang sudah jauh beda dengan dulu waktu kita masih menjadi siswa.

    Anak-anak sekarang, semakin dikerasi malah semakin “nakal”

    Tapi kebanyakan guru berpikir dan menyamakan sama seperti keadaan dulu ketika mereka yang menjadi siswa

    Saya sendiri menganggap siswa yang saya ajar sebagai teman dalam belajar di mana terkadang saya pun mendapat ilmu baru dari mereka.

    Bukan saatnya lagi seorang guru tampil sebagai seseorang yang tau segalanya karena pada kenyataanya, guru banyak tertinggal apalagi dalam bidang teknologi🙂

    Seorang guru geografi “dipermalukan” ketika seorang siswa menunjukkan aplikasi Google Earth dan dengan bebas menuju ke belahan bumi manapun. Sayangnga, guru tersebut menolak mentah-mentah aplikasi itu dan bersikeras menggunakan peta atlas.

    Sebenarnya memang ada benarnya belajar menggunakan atlas, tapi alangkah lebih baiknya jika guru tersebut MAU belajar dan memadukan atlas dan Google Earth, tentunya sangat menarik buat siswa bukan?

    Saya pun banyak mendapat ilmu dari siswa, saya menjadikan mereka teman tetapi mereka pun tetap menghormati saya selayaknya seorang guru.

    Saya membuka layanan diluar jam pelajaran sekolah melalui email, YM dan web site saya.

    Sebagai guru, kitapun sebanarnya harus terus belajar karena tidak menutup kemungkinan, siswa kita mempunyai ilmu yang belum kita miliki.

    Intinya adalah harus ada komunikasi yang baik antara guru dan siswa, bukan zamannya lagi guru jadi jaim (jaga image)… Apa kata dunia? Hehe

    Guru harus jadi jawaban buat siswa, tapi bagaimana bisa jadi jawaban jika guru tersebut tidak mau belajar?

    Sebagai guru marilah kita juga belajar untuk memberikan apresiasi (penghargaan) berupa pujian yang akan memotivasi siswa. Ubah kalimat negatif menjadi kalimat positif dan percayalah dengan demikian, kita sedang membentuk karakter positif pada siswa (penerus bangsa) kita🙂

    Salam sukses, 2009 will be better

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s