Guru bukan teman untuk siswa, 6 hambatan guru dalam mengelola kelas.

Saat guru dikelas, adalah saat siswa merasakan aura dan pesonanya. Aura yang saya maksud adalah segala tindak tanduk serta perilaku yang tercermin dari saat memasuki kelas sampai mengakhiri kelas setelah mengajar yang membuat sukses tidaknya kelas yang dikelolanya. Hampir semua pendidik dan pengajar ingin kelas yang dipegangnya lancar dan tidak ada hambatan. Namun sadarkah kita jika terkadang hambatan itu datang dari diri kita sendiri? Berikut 6 indikator hambatan yang berasal dari diri guru itu sendiri.

  • Kontrol dan batasan terhadap siswa sangat ketat, atau malah guru menerapkan sedikit sekali kontrol. Guru tidak tegas dalam menjalankan peraturan kelas (inkonsisten). Cenderung menjadi teman bagi siswa, permisif atau serba boleh atau malah tidak mau terlibat dengan siswa sama sekali.
  • Lay out kelas tetap sama, tidak mengubah -ubah letak tempat duduk siswa sesuai dengan kegiatan pembelajaran.
  • Siswa melanggar langsung dihukum, guru tidak mau mendengar alasan siswa,keputusan semua berasal dari guru. Siswa mengalami kekurangan motivasi karena aspirasinya tidak didengar.
  • Komunikasi hanya satu arah, kelas baru dianggap baik apabila sunyi. Saat guru berbicara, siswa mendengar saja , siswa menjadi tidak berinisiatif karena siswa tidak boleh interupsi. Siswa takut menjalin komunikasi dengan guru.
  • Tidak ada minat dan perhatian terhadap siswa, Tidak perhatian pada siswa , telalu memperhatikan emosi siswa dari pada kesuksesan pengelolaan kelas. Tidak menerapkan disiplin kepada siswa, hanya memperhatikan siswa jika mereka berbuat negatif, tidak ada penghargaan bagi mereka yang sudah berbuat positif.
  • Tidak kreatif, menggunakan materi yang sama setiap tahun, tidak ada variasi, guru tidak mempersiapkan kelasnya.

13 thoughts on “Guru bukan teman untuk siswa, 6 hambatan guru dalam mengelola kelas.

  1. Dear Pak Agus,
    Memang mengelola kelas tidaklah mudah. Banyak faktor yang diperhatikan telah mengganggu proses pembelajaran. Dari keenam indikator tersebut di atas, mungkin perlu indikator tentang kemampuan guru untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran kelas. Biasanya guru setelah selesai mengajar, terus mengoreksi pekerjaan siswa, selebihnya berdiskusi (curhat kejadian di kelas)dengan yang lain. Selanjutnya,… terulang kembali kegiatan tersebut dan tidak ada perubahan.
    Bagaimana kalau sudah seperti ini ?
    salam,
    octa

    Saat yang terbaik adalah, saat rapat kelas paralel atau sesama bidang studi apa yang jadi maslah diangkat untuk dicari penyelesaiannya.
    Terima kasih atas komentar Pak Okta

  2. Benar Pak Agus.
    Kadang guru bisa kehilangan wibawa karena terlalu berkawan dengan siswa. Saya save posting ini sebagai referensi buat saya Pak. Makasih.

    Silahkan Pak Haji.

  3. sungguh itu tak sependapat dengan aku,,,,,,,
    karena segalah komponen dalam management sekolah itu harus di perdayakan, baik siswa, guru, lingkungan, orang tua dll. Semua dalam membantu satu dengan yang lain.kewibaan itu perlu, dan penting tapi tidak semua akan tidak ada, jika harus berkomunitas dengan siswa. Sunnguh itu keliru besar jika guru bukan teman siswa.
    Guru dalah teman segala galanya, begaimana menempatkannya. Siswa disini tetap status anak didik, Guru disapa “Pa”, dan ssiswa deisapa “Na”, demikian tanggapan saya. slam kenal dari syarifuddin phasa guru SMK 5 Negeri Makassar

    Salam kenal kembali Pak Syarifuddin, terima kasih tanggapannya.

  4. Makasih Mas Agus.

    Benar-benar penting bagi para pengajar dan murid untuk mengetahui boundaries masing-masing…

    Betul Mas Bisma
    Terlalu dekat akan menyulitkan kita juga nantinya.

  5. wah seyogyanya pertemanan+pengawasan+ pengajaran [6 indikator]nya itu diukur memakai jurus ke 7 ..kuno.. saja ya…

    “ngono yo ngono ning ojo ngono” = begitu ya begitu tapi jangan begitu ; saja pak. alat ukurnya diri inilah, elastis tak beku melainkan dinamis, nilai “kepantasan” tak ada standar baku nasional tapi lokal. karena itu …
    semua ada ilmunya,sesuai tulisan diatas
    semua ada saatnya,sewaktu diterapkan

    ada unen-2/pemeo/pamali kuno:
    dirabek kethek =
    dijauhi ketakutan, diramahi menakutkan [karna jadi berani/kurang ajar/nglunjak

    cara menghindarinya ya itu tadi… pake jurus ke 7.. semoga cocog juga manjur..

    matur nuwun sedoyo… pareng

  6. Salam kenal Mas Agus Sampurno,

    Saya juga pengajar di sekolah, malah sekolahnya nggak jauh-jauh amat dari Mas Agus. Saya juga sering membaca dan mengagumi tulisan Mas Agus. Luar biasa Mas. Khusus untuk tulisan kali ini saya juga sangat setuju, tetapi memang harus disadari kondisi dan situasi kelas memang juga banyak dintukan bukan hanya oleh sikap dan kemampua guru, tetapi juga sangat ditentukan oleh latar belakang anak (siswa) dan kesiapan mereka dalam belajar (terutama kesiapan dan kesediaan keluarga) di sekolah. Pengalaman saya, banyak anak yang senang ke sekolah karena ingin menghindari situasi rumah yang tidak menyenangkan, sehingga di sekolah bukan siap untuk belajar,tetapi siap untuk bersenang-senang. Tapi ini pengalaman pribadi lho mas…, tentu teman-teman guru yang lain tidak sama pengalaman pribadinya….

    Semoga dengan mengetahui 6 hal diatas, kita sebagai pengajar bisa membuat kelas menjadi sangat suportif untuk belajar.

    Salam kenal juga, mas Indriyanto, senangnya dikunjungi tetangga.
    Saya sendiri memandang bahwa sekolah tempat anda mengajar sudah berhasil menciptakan suasana yang menyenangkan untuk siswa. Mudah-mudahan ini menjadi modal untuk guru agar bisa lebih menyajikan pembelajaran yang menarik. Pembelajaran yang menyenangkan bisa dimulai dari tahap ini.

    Terima kasih komentarnya.

    Matur nuwun Mas..

  7. pak, kayaknya kalimatnya kurang tepat, guru sekarang seharusnya bisa jadi teman buat siswanya, mungkin yang dimaksud adalah guru jangan kompromi dengan siswa🙂

    Karena kalo bukan teman ya, musuhan donk.. Hehe🙂

  8. Guru boleh berteman dengan siswa biar siswa bisa mencurahkan segala uneg2 sehingga kontrol kita lebih enak. tapi meski begitu guru juga harus memberikan pengertian pada murid bahwa aturan didalam kelas atau sekolah dan diluar kelas lain…
    salam dari Sidoarjo pak…thx ilmunya banyak yang tak ambil

  9. Tulisan dan penjelasannya sangat membantu pak, terima kasih atas pencerahannya. Saya mengajar beberapa kelas yang kondisinya selalu ribut sampai saya kewlahan..sehingga tidak bisa mengelola kelas dengan baik..

    1. Terima kasih kembali pak saya ucapkan, justru saya yang jadinya yang meras beruntung bisa dikunjungi bapak. Kalau bapak kewalahan berarti tandanya anda ingin memberikan yang terbaik untuk kelas yang bapak ajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s