4 resep membuat atmosfir yang kondusif demi tercapainya kedisiplinan di sekolah

 disiplin-sekolah.jpg

Sebuah kelas dalam institusi sekolah adalah gambaran dari pengelola dan warganya. Pengelola kelas dalam hal ini adalah guru dan manajemen sekolah, sementara warganya adalah siswa yang ada di kelas tersebut. Banyak sekolah yang telah membatasi jumlah siswa yang terdapat di dalam satu kelas. Tidak hanya itu sekolah juga menambah jumlah guru yang ada di kelas menjadi dua orang. Semua kebijakan tersebut diupayakan agar guru dan siswa dapat lebih berkonsentrasi dalam belajar dan mengajar. Dengan komposisi tersebut sekolah dan guru berharap akan lebih mudah menerapkan disiplin. Padahal jumlah siswa dan kedisiplinan tidak saling berhubungan. Hal yang diperlukan dalam menumbuhkan kedisiplinan adalah suasana yang kondusif dan terjaga dengan baik secara terus menerus disetiap kelas sebagai komunitas inti dari sekolah.

Suasana kondusif sebagai prasarana terciptanya kedisiplianan bisa terjadi lewat resep dibawah ini;

  1. Menciptakan dan menerapkan kesepakatan kelas

Kesepakatan di kelas juga bisa disebut sebagai peraturan, bayangkan jika kelas tidak mempunyai peraturan. Kelas akan menjadi ribut dan guru menjadi mudah emosi dan marah menghadapi tingkah laku siswanya. Tanpa peraturan biasanya guru cenderung menjadi pilih kasih dan tidak adil. Sebuah peraturan atau kesepakatan kelas juga merupakan sebuah standar yang menjadi acuan seluruh warga dan membuat seluruh warga merasa dikontrol dan terkontrol.

Sebagai guru terkadang kita merasa harus membuatkan peraturan untuk kelas kita, padahal akan lebih mudah dan ringan bagi kita jika melibatkan seluruh warga kelas dalam membuat peraturan. Di jamin mereka merasa memiliki dan diingatkan secara halus dikarenakan mereka sendiri yang membuat dan bersepakat.

Setelah kesepakatan atau peraturan kelas disepakati, jangan hanya disimpan didalam buku guru namun pajang dan biarkan seluruh warga kelas melihat dan mencermati. Apabila sekolah anda sudah mempunyai buku komunikasi, silahkan di tempel di dalam buku tersebut. Orang tua dirumah dapat melihat juga apa yang menjadi peraturan di kelas putra putrinya disekolah. Dengan demikian orang tua dapat membantu guru mengingatkannya dirumah.

Guru juga harus menjadi seseorang yang memelihara dan memastikan terjadinya peraturan yang sudah disepakati kelas. Apabila kepala sekolah berperan sebagai pemelihara peraturan di sekolah, guru berperan sebagai pemelihara peraturan dan kedisiplinan disekolah.

  1. Menumbuhkan kerja sama.

Kerja sama merupakan salah satu kunci dalam menumbuhkan kedisiplinan. Mengingatkan seluruh warga kelas untukbekerja sama menerapkan hal-hal yang sudah disepakati bersama. Anda dapat meminta seluruh warga kelas untuk mulai bekerja sama dan bersepakat dalam menerapkan peraturan serta berdisiplin sejak diawal tahun ajaran.

Untuk melatih kerja sama anda bisa mengajak mereka bermain sambil belajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang menggunakan metode kerja sama. Semakin mudah siswa bekerja sama semakin mudah pula aura kedisiplinan akan semakin terbentuk.

  1. Berkomitmen.

Peraturan mengenai kedisiplinan dikelas bisa berbeda-beda di setiap kelas dan sekolah. Tetapi ada sebuah hal yang sama yang harus ada sejalan dengan peraturan yang telah dibuat. Hal tersebut adalah komitmen. Komitmen adalah sebuah sikap yang menjadikan kedisiplinan sebuah hal yang akan terjadi secara natural dan tanpa dipaksakan.

Komitmen harus ditumbuhkan oleh seluruh warga dikelas. Biasakan seluruh warga untuk saling mengingatkan saat sebuah kesalahan terjadi. Sebuah kesalahan belum layak disebut sebagai kesalahan apabila baru terjadi pertama kalinya. Kesalahan untuk pertama kalinya disebut sebagai pembelajaran.

  1. Berpikiran terbuka (open mind)

Dalam menerapkan kedisiplinan, dibutuhkan perangkat tertulis yang mengaturnya. Namun bukan berarti peraturan tersebut tidak dapat dikoreksi atau dikembangkan. Bersama seluruh warga kelas adakan class meeting setiap dua minggu sekali untuk membahas seluruh isu-isu yang berkaitan dengan masalah disiplin. Guru dalam hal ini semampu mungkin menjadi fasilitator yang baik, dan lewat pertanyaan memancing partisipasi siswa saat membahas mengenai peraturan yang berlaku disekolah atau dikelas.

10 thoughts on “4 resep membuat atmosfir yang kondusif demi tercapainya kedisiplinan di sekolah

  1. Kok kayaknya hal2 di atas terlalu banyak menyita waktu, yah? Misalnya ada class meeting dua minggu sekali… wah, untuk sekolah kami yang padat jadwalnya, akan sulit diterapkan. Di atas semua itu, guru dalam hal ini harus menjadi contoh nomor satu yang menjalankan peraturan kelas yang berlaku untuk umum. Setuju, Pak Agus?
    Mampir ke rumah saya, Pak tapi baru aja sebulan dibangun.
    Ini alamatnya: http://www.wydpress.wordpress.com


    Ibu Wyd, dalam keadaan sesibuk apapun menurut saya ada baiknya untuk berhenti sebentar dan mengevaluasi semua yang sudah dijalankan. Class meeting yang saya maksudkan, tidak memakan waktu lama hanya 20 menit saja.

    Saya sudah mampir ke blog anda.

  2. Postingan yang bagus dan inspiratif. Salut melihat semangat guru-guru memanfaatkan teknologi blog untuk mengembangkan diri dan menyebarkan pengetahuan.

    bagi yang mungkin berminat, aku baru saja memposting artikel “12 Juta Anak Indonesia Putus Sekolah” di :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/

    salam hangat

    M E R D E K A !

    Lae Robert,
    salam kenal juga, terima kasih sudah mampir..

  3. pak agus…ada saran untuk menerapkan disiplin pada anak umur 15 – 17 an (SMP) tinggal di desa, dekat lokalisasi baturaden, dimana pemikirannya lebih cenderung ke s*x, dan jauh dari perhatian orang tua (karena 70 % orangtua bercerai dan tidak harmonis)…mohon saran pak..matur nuwun…


    Terima kasih sudah mampir Mbak Bhadra,
    saya konsultasi kan dahulu dengan rekan saya yang bekerja sebagai counsellor di sekolah saya.
    Mudah-mudahan jawabannya bisa saya sajikan dalam waktu dekat.

  4. pak agus…dipenulisan ini anda membicarakan tentang kedisiplinan siswa didalam kelas jadi otomatis anda membicarakan ttg pengelolaan/manajemen kelas yang baik, jadi apabila guru dapat mengelola kelas ya dgn baik insya allah kedisplinan itu dapat terwujud namun tidak sebatas hanya kedisplinan saja yang musti menjadi acuan keberhasilan proses pembelajaran akan tetapi masih banyak faktor2 lain yang mempengaruhi proses belajar mengajar. jadi menurut anda indikator apa saja yang dapat dikatakan kelas itu sudah dikelola dengan baik.

    Trimsss

    Terima kasih juga sudah mampir Ibu Ayu.
    Jawaban saya akan jadi tulisan saya yang berikutnya.

  5. Selamat pagi pak,
    saya tertarik dengan tulisan anda. Saya merasa sangat pas sekali dengan pembahasan makalah saya. Saat ini saya masih dalam tahap penelitian, saya ingin bertanya, bagaimana menurut anda dengan adanya hukuman bagi siswa yang tidak disiplin? kemudian apakah penerapan hukuman tersebut wajib dan efektif bagi siswa?
    terima kasih pak.
    Tuhan memberkati.

    1. Hukuman rawan sekali untuk membuat dendam pihak yang dihukum. Buat saya ada banyak cara untuk membuat siswa sadar. Guru yang kreatif mencari cara yang terbaik agar siswa sadar tanpa dipaksa dan merasa ditekan.
      Selamat meneruskan penelitian bu Evie.

  6. Pak Agus..saya saat ini mengajar di sebuah sekolah nasional plus yang menerapkan sistem nulti age..jadi kelas 8 digabung dengan kelas 9. Saya ada kendala di kelas saya yang sekarang ini. Murid-murid saya yang kelas 8 dan 9 sangat berbeda kepribadian.Dan sulit sekali menerapkan disiplin pada mereka..Kita sudah membuat rules, konsekuensi dan selalu kita review setiap pagi (karena kita ada Morning Advisory).Menurut Bapak, apa yang harus saya lakukan untuk membuat kelas saya bisa kondusif dan disiplin..
    Terimakasih

    1. Halo Bu Nia, menurut saya jika umurnya tdk terlalu jauh (kelas 8 dan kelas 9) kita jadi lebih mudah dalam menerapkan aturan. Saran saya jangan menerima ‘excuse’ bahwa kelas 8 susah diatur, bersikaplah tegas, dan konsisten saat bersikap pada mereka.
      Semoga berhasil ya bu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s