Pengalaman menjadi ‘tour guide’ saat Open Day 2008

flyers-open-day.jpg

Pembaca, saya sertakan pengalaman siswa kelas 6 saat memandu tamu di acara promosi sekolah atau Open Day. Saya ingin membagi cerita betapa tugas tersebut bisa membuat siswa belajar menjadi komunikator yang efektif. Ada Radika dan Widi siswa kelas 6 A yang akan berbagi ceritanya menjadi tour guide selama acara tersebut.

On the 2nd of February Sekolah Global Jaya had open day. For the open day students guide guests around the school. I was one of the students who guided the guests. I guided the guests with Andrew. First we took the guests to the kindy, reception and the year one’s shared area because the guests child wants to go to kindy. We explained the guests about all the things that we knew about the kindy. Next we guided the guests to the year one and two’s shared area. Then we guided them to the second floor. First we guided to the IT room. We explained about the things we’ve done in IT lessons . then we guided them to other facilities, like the library, the gym, and the swimming pool. When we went to the library our class was there so it was surprising. Then we guided them to the swimming pool. When we told them that our swimming pool can be a free public swimming pool, they were amazed. After that we went to the gym. They were also surprised when we told them that the gym floor was made of rubber. We also explained about music and art class but we didn’t come in. after that we guided them home.

It was a really great experience and it was really, really fun. There comment was that our English is really well. I really like being a tour guide and I want to do it again sometime later. (Radika, 6A)

 

Pada hari Sabtu saya menjadi Tour Guide untuk Open day Sekolah Global Jaya. Saya menjadi Tour Guide pada hari itu dan saya menjelaskan kepada seorang ibu yang ingin memasukan anaknya ke Sekolah Global Jaya. Ibu itu mempunyai anak berumur 3 ½ tahun yang mau di masukan ke Reception. Anak tersebut bernama …. ia masih sangat kecil tetapi sudah sangat pintar saat ditanyakan beberapa pertanyaan bahasa Inggris. Untuk mendapatkan 1 visitor aku memerlukan 1 jam mengunggu karena sangat sepi saat pagi hari. Saya menunggu di Pintu Barat bersama yang lain. Saya mengantar Ibu dan anak itu bersama Awe. Ibu itu hanya ingin melihat tempat-tempat yang berhubungan dengan TK A karena bila ia melihat kelas lain ia berfikir bahwa tidak perlu karena masih kecil. Aku mengantar mereka ke Reception dan Kindy Shared Area, menonton angklung, IT room, kelas TK A ibu Egy, ke kolam renang, gym, Tempat bermain di dalam Shared Area, Art room di Shared Area Reception and kindy. Saya memberitahu banyak fasilitas yang berhubungan dengan kelas yang mau di lihat oleh Ibu tersebut. Saya sangat menyukai pengalaman menjadi Tour Guide ini karena saya bias mendapatkan pengalaman lebih dan saya bisa mendapatkan teman. Ibu tersebut selalu bertanya kepada anaknya apakah ia menyukai sekolah ini dan anaknya nerkata iya, mungkin anak dan ibu tersebut mau masuk ke Global Jaya. Kami juga pergi ke perpustakaan dan anaknya membaca buku anak- anak dan sangat menyukainya. Tetapi mungkin anak itu tidak masuk ke Sekolah ini karena umurnya yang belum mencapai 4 tahun. Saya menjelaskan banyak informasi tentang sekolah ini. Saya merasa senang karena bisa menjadi Tour Guide dan saya merasa sedikit kecewa karena Ibu itu tidak mengikuti aturan sekolah ini. Terakhir saya tidak mengembalikan Ibu itu ke Administrasi karena ia mau berbicara dengan ibu Egy lalu saya selesai jam 10.20. (Widi 6A)

One thought on “Pengalaman menjadi ‘tour guide’ saat Open Day 2008

  1. Satu hal yang kerap dikritik dari para siswa lulusan sekolah adalah rendahnya kemampuan dalam berkomunikasi. Saya tak habis pikir mengapa bisa begitu, padahal mereka adalah orang-orang yang punya pengetahuan, punya ketrampilan, yang selalu belajar. Logikanya, mereka tidak akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, malah mereka pasti akan percaya diri karena punya banyak pengetahuan dan keterampilan. Setelah saya amanati dan saya renungkan ternyata tidaknya adanya keberanian atau lebih tepatnya keberanian kita tidak dibangun. Nah, berbeda dengan SGJ yang memang memiliki profil siswa (learner profile), yang salah satunya adalah pengambil resiko (risk taker), dalam bahasa awamnya orang yang berani, berani berpendapat, berani bertanya, berani bertanggung jawab, dan berani mengakui kesalahan. Sayangnya, tidak semua sekolah atau lembaga pendidikan mencantumkan profil siswa secara eksplisit, sehingga profile tersebut menjadi salah satu kriteria penilaian siswa yang tertulis di buku rapor. Alhasil, dalam konteks SGJ, kita tidak merasa heran melihat siswa yang bagus komunikasinya, percaya diri, dan pintar-pintar karena memang kita bukan hanya mengajar mereka, tapi juga mendidik mereka. Sungguh, beruntunglah siswa yang bersekolah di Sekolah Global Jaya.


    setiap sekolah sebenarnya punya apa yang disebut sebagai visi dan misi.
    Sebaiknya memang, visi dan misi itu di pecah menjadi ungkapan-ungkapan yang singkat dan jelas, misalnya ‘percaya diri’ atau ‘bisa bekerja sama’.
    apabila mungkin hal-hal itu dijadikan bagian dari pembelajaran.
    Saat yang sama lingkungan sekolah, kelas dan lain sebagainya di display oleh ungkapan tersebut.
    Dengan demikian hal-hal yang menjadi visi misi bisa merasuki dalam semua aspek kegiatan disekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s