Perbedaan kelas tradisional dengan kelas yang mulai menggunakan metode inkuiri.

inquiry.jpg

Dalam kehidupan ada pepatah kuno yang mengatakan ‘katakan sesuatu pada saya dan saya akan lupa, perlihatkan pada saya dan saya akan ingat, libatkan saya dan saya akan mengerti’. Atau pepatah yang ini ‘tidak ada seorang pun yang mampu begitu saja menguasai semua pengetahuan, namun setiap orang dapat belajar bagaimana cara mengerti atau menguasai sebuah pengetahuan’. Kedua pepatah tersebut memberikan pembelajaran pada kita mengenai gambaran situasi di dalam kelas, semakin banyak kita libatkan siswa atau membuat siswa menjadi aktif, maka akan lebih cepat mereka menjadi mengerti subyek pelajaran yang kita sampaikan.

Dua kata bijak diatas menjadi sebuah batu pijakan dari konsep inkuiri dalam pembelajaran. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan inkuiri? Inkuiri adalah sebuah sistem dalam cara dalam melihat sebuah pengetahuan atau hal baru. Cara pandang inkuiri membantu pengembangan pola dan cara berpikir yang akan terus bertahan dalam perjalanan siswa sebagai pembelajar.
Apabila cara berpikir tadi sudah menjadi cara berpikir siswa kita maka siswa kita akan menjadi pemikir yang kreatif dan pribadi yang mampu memecahkan masalah.

Pertanyaan nya sekarang adalah apa perbedaan kelas yang masih tradisional dengan kelas yang sudah mulai menerapkan metode inkuiri.

Kelas tradisional

• Guru begitu saja memberi informasi sebanyak-banyaknya. Proses ini di ibaratkan bagaikan seseorang yang mengisi sebuah teko sampai penuh dengan air.
• Satu-satu nya hal yang diharapkan dari siswa adalah sedapat mungkin menguasai atau hapal semua informasi yang diberikan dari guru dan buku paket.
• Menghapal dan menghapal banyak sekali fakta dan informasi adalah hal yang paling dititikberatkan di kelas.
• Pembelajaran dirancang atau dibuat untuk konsumsi seluruh siswa yang ada didalam kelas tanpa memandang kecerdasan apa yang dimiliki siswa serta modalitas belajar yang dimiliki siswa
• Informasi yang didapat siswa terbatas pada apa yang diberikan guru dan buku paket.
• Pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau komputer semata-mata hanya untuk menjadikan anak menguasai tools-tools yang terdapat di dalam setiap program komputer yang diajarkan. Dengan kata lain siswa hanya dibuat terampil menggunakan komputer tanpa diaplikasikan dalam pelajaran yang lain. Guru tidak berusaha menjadikan keterampilan dalam TIK sebagai ‘alat’ dalam pelajaran yang lain..
• Saat menilai siswa, guru menggunakan sistem hanya ada satu pertanyaan dan satu jawaban yang benar dan menggunakan satu macam siistem penilaian saja.

Kelas yang mulai menggunakan sistem inkuiri

• Guru menjadi fasilitator dan memandu siswa untuk mengerti bagaimana mencari dan menemukan informasi yang ingin siswa ketahui dari berbagai media sumber pengetahuan. (buku, koran, majalah, internet dan lain-lain)
• Suasana pembelajaran dikelas banyak diwarnai dengan diskusi sebagai cara untuk mencari kebenaran dan pengetahuan dari sebuah subyek pembelajaran.
• Siswa diajarkan untuk memproses informasi yang dia dapatkan
• Pembelajaran menggunakan pendekatan konstruksivisme berawal dari apa yang siswa ketahui, apa yang ingin siswa ketahui dan yang terakhir apa yang siswa telah pelajari (gunakan pendekatan KWL).
• Siswa belajar memecahkan masalah dengan ‘melakukan’ atau ‘hands on approach’
• Bersama dengan siswa guru banyak melakukan pembelajaran singkat (mini-lessons focus)
• Pembelajaran dilakukan dalam sistem grup atau kelompok
• Pembelajaran Teknologi informasi dan komunikasi digunakan untuk menghubungkan siswa dengan komunitas lokal dan dunia.
• Pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi di integrasikan dengan subyek pembelajaran lain. Misalnya saat belajar topic mengenai lingkungan siswa membuat brosur, poster, presentasi power point untuk mempengaruhi orang lain agar mau perduli dengan pelestarian lingkungan.
• Banyak cara yang digunakan untuk menguji pengetahuan siswa. Aspek yang dinilai dengan cermat antara lain, pengetahuan, keterampilan dan perilaku siswa. Misalnya cara siswa memanfaatkan waktu dalam penyelesaian tugas dan lain-lain

19 thoughts on “Perbedaan kelas tradisional dengan kelas yang mulai menggunakan metode inkuiri.

  1. Ass…
    Semakin sering saya membaca blog anda, semakin saya ingin menjadi guru yang kreatif seperti pak agus. Tapi bagaimana caranya ya pak, kadang kalau sudah di depan komputer saya malah kehilangan kata-kata (jadinya malah main games), padahal banyak sekali yang ingin saya tulis. Tentang pengalaman mengajar anak-anak yang tidak punya motivasi belajar sedikitpun.. Cape deeeh kan pak…
    Kasih tips nya ya pak agar saya bisa se-kreatif pak Agus.

    Thanks bu Ivat, silahkan mengikuti blog saya terus semoga bisa memenuhi harapan

  2. salut banget untuk bapak!
    saya lihat bapak sangat produktif dalam menulis dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap dunia pendidikan.
    saya lagi cari2 artikel untuk kakak saya yang juga seorang guru di madrasah di kampung. metode yang digunakan masih tradisional karena memang belum ditunjang fasilitas yang memungkinkan. untuk mencari internet saja harus ke kota yang kalo naik motor butuh waktu 30 menit.
    semoga saja pemerataan pendidikan di Indonesia bisa segera terwujud. amien…
    sekedar sharing aja. beberapa waktu lalu saya baru saja membaca novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. saya pikir itu sebuah novel yang sangat menarik dan dapat membangkitkan semangat untuk pantang menyerah dan terus berkarya di dunia pendidikan , sekalipun menghadapi masa-masa yang sulit.
    maju terus para guru!!
    sukses selalu untuk pendidikan Indonesia!!

    Pak Ganesh yang baik,
    memang blog saya ini saya persembahkan untuk orang-orang seperti kakak anda itu yang mendidik dengan hati dan menjadikan semua kesulitan sebagai tambahan semangat dalam membelajarkan siswa.

    Sukses juga untuk Pak Ganesh.
    Sampaikan salam hormat saya untuk kakak anda .
    Trims sudah mampir ya..

  3. Sekedar mau Sharing soal inkuiri…Sebenarnya proses inkuri itu susah-susah gampang. Guru harus mengerahkan semua kemampuan (pikiran dan tenaga) untuk menggelitik murid-murid agar tertarik pada topik yang ingin dpelajari dan kemudian tune in.

    Ok, jadi yang kita lakukan adalah membuat anak tertarik dengan topik yang kita pelajari, misalnya dengan menghadirkan nara sumber, nonton video yang berhubungan dengan topik..dan lain-lain

    Saya selalu berusaha keras untuk menempatkan diri saya diposisi mereka,seusia mereka, sehingga saya dapat “menurunkan ekspektasi”. Memang bukan hal yang mudah, mengingat masing-masing anak mempunyai pola pikir yang berbeda.

    Wah, anda sudah memasukkan aspek differentiated learning ya

    Terkadang kita sendiri sebagai guru kurang menguasai topik tsb (guru juga manusia biasa), namun jangan pernah malu untuk mengakui kekurangan kita kepada murid-murid dan mengajak mereka untuk mencari tahu bersama. Yang pasti,jangan mudah menyerah!

    Setuju Bu Windy, pada pembelajaran aktif guru tidak malu mengakui bahwa belum tahu..tapi kemudian ajak siswa untuk mencari tahu bersama-sama

    Sekian Pak Agus…..

    thanks for your comment..

  4. Setuju sekali dengan isi postingnya. Perkembangan metode pembelajaran sekarang memang mesti berpijak pada keragaman dan dinamika pengembangan pribadi yang ditopang penguasaan IT.

    Hmm….semoga semua murid kita berhasil menjadi manusia yang tidak hanya pintar tetapi juga berkarakter. Amien….

    Terima kasih doanya Mas Bisma

  5. Salam hormat Pak Agus …

    Tulisan-tulisan Pak Agus telah mengobati kesedihan saya setelah bertemu dengan beberapa guru (bahkan kepala sekolah) yang tetap bertahan dengan model tradisional … buku-buku pelajaran yang tidak berpihak pada perkembangan anak … pejabat-pejabat dinas pendidikan yang tidak memahami makna dari belajar dan berlindung pada aturan-aturan administratif …

    Terus berjuang Pak karena jalan masih panjang untuk dapat menjadikan bangsa ini lebih terhormat di mata dunia …

    Maaf kalau kata-kata saya jadi terkesan negatif, karena saya sedang benar-benar kecewa …

    Saya bisa mengerti kekecawaan anda, namun yang bisa terus sama-sama kita upayakan adalah membawa nuansa perubahan sedikit demi sedikit mulai dari diri sendiri dan hal yang bisa kita lakukan.
    Saya sudah berkunjung ke situs organisasi anda, yang sangat menarik. Saya yakin anda bersama organisasi anda sudah menyumbang banyak bagi nuansa perubahan dalam dunia pendidikan di negara kita tercinta Indonesia ini.

    Tetap semangat Bu Yanti, doa saya untuk anda.

  6. pak saya mau tanya apakh metode inkuiri dapat di terapkan di kelas dua?mohon segera di balas. atas jawabannya di ucapkan terima kasih

  7. Pak agus yang terhormat,
    Saya sering mendengar dan membaca berkali-kali, bahwa dalam penerapan metode inkuiri, guru menjadi fasilitator. Pertanyaan saya adalah, Apa maksud fasilitator tersebut? (maaf saya kurang paham makna fasilitator itu). Fasilitator yang bagaimana yang seharusnya? Tolong beri contoh konkrit, karena saya masih bingung. Terimakasih atas jawabannya.
    Salam

    Pak Gatot yang baik, menjadi fasilitator artinya, guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Peran guru juga bisa lebih ke arah memfasilitasi apa yang siswa ingin ketahui. Misalnya anda sedang belajar sains mengenai ‘tubuh’ di kelas. Dengan perantaraan anda sebagai guru anda memfasilitasi kunjungan ke RS terdekat atau mengundang dokter masuk ke kelas untuk belajar soal ‘tubuh’.

  8. Bpk Guru,
    saya lagi cari tentang kelemahan dan kelebihan CTl.
    apakah anak usia kelas 1 -4 bisa ber-ctl. mereka khan sulit berinkuiri

  9. Mas…Inilah cermin guru visioner…selamat,atas kerja kerasnya…Mari bersama kita cerdaskan anak bangsa…Saya guru fisika tugas nun jauh di kabupaten sana, dibalik bukit…tapi dengan penuh semangat ku ingin anak2 didikku cinta fisika…aku ingin kita bisa saling bertukar pengalaman…Tesisku pun pendalaman tentang inkuiri…

  10. Merancang Metode Mengajar Mata Pelajaran TIK untuk SMP Terpencil yang tidak memiliki fasilitas komputer. tapi kwalitasnya sama dengan siswa-siswi yang sekolahnya full fasilitas. Itulah harapan saya mohon doa restunya…. “Daerah bisa terpencil tapi wawasan dan pola pikir jangan sampai terpencil”

  11. Aslmkm…

    terima kasih dengan pandangan yang kiranya dapat membantu saya dalam memahami perbezaan antara penggunaan inkuri ini di dalam bilik darjah…saya telah banyak membaca blog anda,ia sangat membantu saya untuk lebih bersemangat dan sentiasa mencari idea dalam penyampaian pengajaran saya terhadap murid2,thanks!..saya guru sains dari Sabah, Malaysia.

    Waalaikum salam
    terima kasih sudah mampir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s