Istimewa

Ragam Topik Pelatihan Pembelajaran Jarak Jauh Efektif Bagi Guru dan sekolah anda

  1. ‘Strategi efektif manajemen kelas online bagi siswa generasi Z’

Deskripsi pelatihan.
Peserta pelatihan akan diberikan tata cara yang aplikatif dan efektif dalam mengelola kelas secara online yang berisi siswa bertipe generasi z. Generasi yang sekarang ada di bangku sekolah dan menjadi perhatian karena kritis dan kemampuannya yang baik dalam hal teknologi dan berbeda gaya komunikasi dan cara belajarnya.

Peserta akan mempertimbangkan dampaknya terhadap pembelajaran siswa dan akan dibekali cara serta strategi dalam mengelola kelas dengan cara efektif dengan strategi kekinian yang membuat siswa merasa dimengerti dan dihargai oleh guru sebagai fasilitator pembelajaran.

  1. ‘Penggunaan strategi pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran online’

Deskripsi pelatihan.

Workshop ini akan memberi peserta kesempatan dalam menelaah lebih dalam mengenai teori belajar dan desain instruksional pembelajaran jarak jauh serta prinsip-prinsip yang mendukung kurikulum dalam situasi seperti saat ini. Peserta akan membahas pertanyaan utama “Seberapa baik kita selama ini dalam belajar dan mengajar secara jarak jauh?”.

Peserta akan diperkenalkan ke berbagai strategi pengajaran praktis yang efektif dalam membantu memfasilitasi gaya pembelajaran serta kecerdasan siswa yang berbeda di kelas. Peserta akan membahas questioning skills (keterampilan bertanya), diferensiasi, pengelompokan dan gaya belajar, digaris bawahi oleh prinsip-prinsip Backward design dan penilaian efektif untuk belajar. Diharapkan setelah pelatihan ini guru mampu mengekslorasi Kurikulum nya sendiri sebagai peta dan semakin memilki kreativitas dan rasa percaya diri sebagai energi untuk menapakinya.

Lanjutkan membaca “Ragam Topik Pelatihan Pembelajaran Jarak Jauh Efektif Bagi Guru dan sekolah anda”

5 cara me’restart’ sekolah dan cara mengajar dalam menghadapi tantangan perubahan.

Apakah HP anda pernah ‘ngelag’? Itilah ngelag adalah bahasa murid kita sekarang ketika mereka main game dan game tersebut lambat/kurang responsif saat dimainkan. Jika mengalami hal seperti itu yang saya lakukan biasanya adalah merestart gawai saya.

Jika anda adalah guru atau kepala sekolah. Apa yang akan anda lakukan jika sekolah atau kelas anda ‘melambat’ kinerjanya?

Prof. Clayton Christensen, pencipta teori disrupsi, pada tahun 2014 memberikan prediksi : “50% dari seluruh universitas di AS akan bangkrut dalam 10-15 tahun ke depan.” Penyebabnya, karena universitas-universitas itu terdisrupsi oleh beragam terobosan inovasi seperti online learning dan MOOCs (Massive Online Open Courses). Pandemi yang sedang dialami dunia ternyata mempercepat ramalan ahli tersebut.

Pakar dan lembaga think tank global tersebut menjadi wake-up call bagi stakeholders pendidikan kita. Bahwa kalau dunia pendidikan dikelola dengan cara-cara yang BAU (business as usual) pada akhirnya akan menjadi obsolete (usang), tak relevan, dan akhirnya melapuk.

Mari melihat situasi dunia persekolahan kita saat ini. Selalu ada kekhawatiran namun ada juga optimisme. Apa yang membuat khawatir? Ada learning loss (Kehilangan Pembelajaran). Hal lain yang dikhawatirkan adalah menurunnya disiplin siswa karena lama tidak tersentuh oleh aturan. keduanya adalah akibat berhentinya pembelajaran tatap muka.

Hal apa yang masih membuat tetap optimis? kerja sama guru dan orang tua yang erat karena keharusan orang tua jadi guru anaknya di rumah. Guru guru yang makin terampil gunakan teknologi untuk mengajar jarak jauh. Dari grup whatsapp sampai menggunakan Learning Management System semacam kelas virtual.

Sekarang mari gabungkan keduanya. Demi untuk ‘merestart’ sekolah atau kelas anda. Berikut adalah lima caranya:

  1. jika anda adalah pemimpin di unit anda (kepala sekolah dll) tempatkan diri anda sebagai pembelajar. Pemimpin yang sejati tidak malu mengakui dirinya tidak tahu. Ia bahkan tampil mensupport bawahannya untuk lebih maju. Pemimpin tidak khawatir kehilangan pamor dan wibawa saat ada anak buahnya yang lebih pintar. Tugasnya malah menjadi lebih ringan jika anak buah nya lebih pintar darinya. Dengan demikian si pemimpin itu fokus saja pada nilai nilai prinsip yang menjadi proritas bagi perbaikan dan perubahan ke arah lebih baik.
  2. Sekolah sibuk menyadarkan beratnya tantangan didepan. Ada dua tipe sekolah sebagai lembaga pendidikan. Tipe pertama sekolah yang mempersiapkan muridnya untuk masa depan. Tipe kedua adalah sekolah yang memberikan kenyamanan bagi orang dewasa (guru) untuk hidup nyaman di ‘masa lalu’.
  3. Sekolah menggunakan gaya berjejaring (networking) dalam tata kelolanya. Dalam artikel Harvard Business Review 2012, John Kotter, memperkenalkan konsepnya mengenai network (jejaring) dalam organisasi. Terbukti membantu mengembangkan organisasi dengan lebih cepat dan gesit. Sebuah sekolah tentu saja tetap membutuhkan hierarki untuk “berjalan dan beroperasi”, tetapi gaya koordinasi ‘networking’ dapat membantu sekolah beradaptasi dan menghadapi tantangan jaman.
  4. Sekolah mengubah cara pandang mengenai nilai. Selama ini guru mendapatkan nilai dengan mencari kesalahan. Memberikan siswa masukan dengan cara mengkritik dan menghakimi. Padahal cara yang benar adalah dengan memberikan feedback atau umpan balik. Jika sebuah sekolah sudah bertransformasi maka pertanyaan orang tua siswa kepada anaknya bukan ‘kamu dapat nilai berapa?’ menjadi ‘pengetahuan/keterampilan apa yang sudah kamu kuasai’. Bahaya terbesar dari sekedar mengejar nilai adalah orang tua siswa merasa bahwa anaknya nilai nya tinggi namun tidak menguasai konsep-konsep yang penting untuk ke jenjang berikutnya.
  5. Sekolah mereview atau mengevaluasi lagi visi misinya. Penyebabnya adalah 65% anak-anak kita yang kini memulai sekolah nantinya bakal mendapatkan pekerjaan-pekerjaan yang saat ini belum ada. 75 juta (42%) pekerjaan manusia akan digantikan oleh robot dan artificial intelligence pada tahun 2022 (World Economic Forum, 2018). 60% universitas di seluruh dunia akan menggunakan teknologi virtual reality (VR) pada tahun 2021 untuk menghasilkan lingkungan pembelajaran yang imersif (Gartner, 2018).

Anak didik kita saat ini adalah generasi yang menolak untuk digurui. Ia adalah sosok yang lebih ingin agar guru gurunya menjadi sosok mentor, motivator, dan teladan yang bisa mereka dengar dan tiru. Mereka adalah self-learner yang selalu mencari sendiri pengetahuan yang mereka butuhkan melalui youtube dan sumber pengetahuan lain yang dinamis dan menawarkan keluasan berpikir sesuai dengan minat bakat mereka.

Sinyal/alarm perubahan bisa datang dari siapa saja. Bisa datang dari guru muda biasa yang baru ‘kemarin sore’. Bisa datang dari guru senior, orang tua siswa atau bahkan dari peserta didik kita sendiri di kelas.

Saatnya sekolah dan guru merestart cara pandang dan praktek belajar mengajar dengan tujuan untuk lebih tanggap terhadap tantangan masa depan.

3 resep jitu menjadi guru di era tatap muka terbatas.

Sekolah yang sudah melakukan tatap muka terbatas mulai kembali menyesuaikan diri dalam memberikan layanan pendidikan. Guru yang menanti-nantikan tatap muka pastinya adalah guru yang khawatir jika siswa terlalu lama terputus kontak fisik dengan sekolah maka akan terjadi learning loss. Istilah ini mengacu pada hilangnya kemampuan akademik pengetahuan atau keterampilan peserta didik.

Lalu apakah masalah learning loss saja yang mesti anda waspadai?

Tulisan ini akan membahas tantangan yang mungkin anda hadapi saat pembelajaran dengan tatap muka terbatas sudah mulai dilakukan. Jika sekolah anda belum masuk pun anda tetap bisa mengambil manfaat dari tulisan ini demi bersiap untuk segala kemungkinan dan menguatkan mental.

1. Perbedaan hasil belajar siswa saat PJJ dan pada saat tatap muka.Siswa yang selama ini tepat waktu dan bagus pekerjaannya dalam pengumpulan tugas saat PJJ bisa saja karena dibantu penuh oleh orang tua siswa. Guru boleh saja kaget dengan situasi ini. Bagaimana tidak? setelah anak masuk dan guru melihat serta membandingkan kemampuan nya selama PJJ bedanya sangat jauh sekali. Padahal selama ini tugasnya lancar tepat waktu dan mutunya bagus.

Apa yang mesti guru lakukan?

Tetap menghormati usaha yang orang tua siswa lakukan. Berikan test diagnostik kepada anak anak yang menjadi tanggung jawab anda. Test diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mendiagnosa kelemahan dan kekuatan siswa pada pelajaran tertentu. Kemudian mulai dari situ untuk membangun pemahaman anak didik tentang aspek kunci yang mesti ia kuasai. Kepada orang tua siswa berikan penghargaan dan tetap jaga semangatnya agar setia mensupport perkembangan belajar putra/putrinya. Di internal sekolah bersama guru satu KKG/MGMP lakukan pemetaan bersama untuk menentukan bagian mana dari kurikulum yang perlu diprioritaskan untuk ditekankan dan diajarkan secara intensif.

  1. Disiplin dan karakter siswa yang perlu di ‘charge’ kembali.
    Bayangkan selama 2 tahun pandemi terjadi. Orang tua siswa yang kelelahan karena situasi ekonomi atau kesehatan saat yang sama mesti jadi guru anaknya di rumah. Pasti akan terjadi lepas kontrol dalam mendidik. Bentuknya bisa macam macam. Ada anak yang tidak terjadwal istirahatnya (tidurnya) sehingga jam biologisnya terganggu sampai anak yang menjadi punya kebiasaan berbicara kotor karena terlalu sering ‘mabar’ games favorit bersama teman temannya.

Apa yang mesti guru lakukan?

Lakukan diskusi dengan guru lain dan kepala sekolah. Jadikan sekolah dan guru menjadi tempat dan sosok yang menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar dan berinteraksi. Buat lingkungan fisik yang mendukung pembinaan kembali karakter peserta didik. Hindari menghakimi siswa karena kita tidak tahu situasi apa yang terjadi pada saat 2 tahun ini kita ‘jauh’ dari mereka. Buat program khusus mengenai pembiasaan dan penguatan karekter positif di sekolah dengan melibatkan orang tua siswa.

  1. Siswa yang enggan kembali ke sekolah.
    Ada yang unik dari situasi ini, jangan melulu anggap siswa yang enggan kembali ke sekolah adalah siswa yang malas. Bisa saja anak anak tersebut adalah siswa introvert yang sudah nyaman belajar dengan online. Dikarenakan ia merasa mampu dan lebih bebas melakukan eksplorasi dari materi pembelajaran yang guru sampaikan dengan lebih dalam. Alasan lain adalah tipe anak seperti ini malas ke sekolah jika harus hadapi guru di sekolah yang gayanya ‘catat buku sampai habis’. Siswa yang memang tipe ekstrovert mungkin malah senang kembali ke sekolah karena memang kebutuhannya untuk bertemu teman dan guru.

Apa yang perlu anda lakukan?

Berefleksi lah dengan cara mengajar anda sebelum pandemi terjadi. Buang cara mengajar yang konvensional dan pertahankan cara mengajar yang kreatif. Tetap pertahankan kelas virtual atau LMS anda. Tetap aktifkan dan efektifkan grup Whatsapp kelas dan orang tua siswa di kelas anda. Tegakkan etika dan aturan saat siswa berkomunikasi dengan siswa dan guru via online.
Tetap niatkan berikan pengalaman yang sama saat dahulu PJJ dilakukan. Guru tetap membuat video pembelajaran dan penugasan via online (hanya untuk membaca pelajaran dan tidak mengerjakan soal latihan yang sulit). Tetap jaga komitmen orang tua yang selama ini senang membantu anaknya belajar. Ambil alih tugas mereka selama ini dengan anda lakukan elaborasi pengetahuan dan materi pembelajaran di kelas tatap muka walaupun singkat. Dijamin orang tua bangga dan senang karena sekolah anaknya tidak meninggalkan hal yang selama ini sudah baik.

Bagi orang tua siswa yang protes kenapa masih ada kelas online silahkan berikan pengertian padanya bahwa saat ini adalah jamannya metode ‘flipped learning/classroom’. Flipped classroom adalah model pembelajaran dimana siswa sebelum belajar di kelas mempelajari materi lebih dahulu di rumah sesuai dengan tugas yang diberikan oleh guru. Di sekolah guru tinggal melakukan elaborasi (diskusi tanya jawab) dengan cara kreatif lewat grouping dan sistem center.

Wajar jika di era kembali ke sekolah dalam situasi tatap muka terbatas ini fokus anda sebagai pendidik adalah semata mengejar ketertinggalan pada aspek akademi semata. Namun jika anda lupa bahwa ada aspek karakter, jati diri siswa dan motivasi siswa tidak dibenahi dahulu maka akan membuat guru mendapatkan masalah sepanjang tahun ajaran dan mewariskannya pada guru di kelas berikutnya.

Fokus akademik boleh tapi semata fokus ke sana tanpa persiapan dan kerja kolaborasi meningkatkan karakter anak didik akan membuat guru dan sekolah akan kerepotan. Sekolah yang cuma sibuk hanya menantikan siswa kembali setelah PJJ akan kerepotan sendiri jika tidak mempunyai program untuk menerima dan menyetel kembali adab, karekter dan motivasi siswa.

Anda sudah punya momen dan kenangan manis atau pahit saat bekerja sama dengan orang tua siswa saat PJJ kemarin. Jadikan itu langkah menuju komunitas pembelajar.

5 kiat sukses manajemen pembelajaran di era pembelajaran campuran #blendedlearning

Status PPKM di beberapa daerah perlahan sudah turun. Saatnya sekolah untuk percaya diri menggunakan pembelajaran campuran #blendedlearning sebagai bagian dari pembelajaran dengan tatap muka terbatas.

Apa pengertian pembelajaran campuran? pembelajaran yang mengkombinasikan sedemikian rupa strategi pembelajaran sinkron dan asinkron dalam rangka menciptakan pengalaman belajar untuk mencapai capaian pembelajaran yang telah ditentukan secara optimal.

Ada pembagian menarik dari proses belajar dengan tatap muka terbatas ini. 30:70 ada prosentasi yang bisa dijadikan acuan dalam jenis pembelajaran campuran.

Berikut ini adalah detail pembagiannya30% sinkron (pembelajaran tatap muka terbatas).Waktunya seperti yang digariskan oleh Kementrian pendidikan yaitu 2 jam.

Apa saja yang bisa guru lakukan saat separuh muridnya hadir di kelas untuk tatap muka dalam satu jam pelajaran.

Berikut ini adalah gambaran skenarionya.

  1. Guru memberikan pengajaran singkat 10 menit
  2. Guru meminta anak memberikan 3 penugasan yang berbeda. (siswa berganti tugas atau melakukan rotasi tiap 10 menit) Siswa bergerak dengan lancar melalui rotasi (station) dan bekerja dengan kecepatan mereka
  3. Penutup dan guru meminta anak mengerjakan kuis singkat (penilaian formatif)

Di sekolah guru dan siswa bekerja sama dalam mengelaborasi pengetahuan yang sudah siswa baca melalui penugasan via LMS atau penugasan online lewat pengalaman belajar yang bermakna. Dengan demikian saat tatap muka guru menggunakan banyak cara agar siswa bisa bekerja dalam kelompok mengelola pengetahuan yang ia miliki.

70% asinkron. Siswa belajar melalui penugasan lewat LMS (google classroom, edmodo dll)

Kegiatan yang bisa siswa lakukan adalah

  1. membaca buku dan membuat catatan
  2. Melihat video yang dibuat oleh guru atau dipilihkan guru
  3. Mendengarkan podcast
  4. Mengeksplorasi tugas yang sudah dirancang oleh guru lewat #hyperdocs
  5. Diskusi online dengan teman
  6. Mengerjakan tugas latihan
  7. Melakukan riset sederhana
  8. Berefleksi mengenai pembelajaran

Komposisi 30:70 dalam pembelajaran campuran memerlukan manajemen kelas dan manajemen pembelajaran online/offline yang direncanakan.

Walaupun hanya 30 persen kehadiran siswa di sekolah mesti dioptimalkan dengan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan dengan cara

  1. Memastikan motivasi siswa. Guru secara rutim menggunakan penilaian diagnostik di awal mulai pembelajaran sampai menggunakan penilaian formatif untuk memastikan arah belajar siswa dan pengajaran guru sudah sesuai dengan perencanaan.
  2. Guru sebagai fasilitator. Guru mendukung siswa untuk mengajukan pertanyaan mendalam dan menemukan jawaban yang kompleks saat melakukan pembelajaran. Siswa mempunyai pilihan aplikasi yang beragam dalam mengerjakan tugas dan berkomunikasi dengan gurunya. Diskusi yang aktif oleh siswa terlihat jelas dikarenakan peran guru yang memfasilitasi dan sebagai pembuat skenario pembelajaran.
  3. Pengelompokkan siswa di kelas dan saat online melalui breakout room. Grup berubah sesuai kebutuhan (harian, mingguan, dll.). Guru memiliki berbagai cara dalam melakukan pengelompokan (berpasangan, seluruh kelas, kelompok kecil, mandiri, online, dll.)
  4. Aplikasi yang beragam dan sesuai kebutuhan. Siswa mengetahui aplikasi apa saja yang tersedia, cara menggunakannya dan dapat serta memiliki kemandirian dalam menggunakannya . Sekolah dan guru secara terstruktur dan bertahap memperkenalkan aplikasi yang diperlukan oleh siswanya.
  5. Melibatkan orang tua siswa. Pembelajaran campuran adalah kesempatan bagi guru untuk lebih melibatkan orang tua siswa lewat target yang dibicarakan serta konten pembelajaran yang disampaikan perminggu kepada orang tua agar maksimal dalam membantu anaknya.

Pembelajaran campuran bukan sekedar penggunakan alat atau teknologi. Dalam pembelajaran campuran ini selain guru berperan sebagai fasilitator, mentor, coach, guru juga seorang ‘desainer’ atau perancang pengalaman belajar siswa.

7 Persiapan dalam membantu orang tua siswa persiapkan pembelajaran tatap muka.

Akhirnya hal yang ditunggu datang juga. Apakah itu? Berita mengenai akan diberlakukannya Pembelajaran tatap muka (PTM). Walaupun masih dengan cap terbatas namun sudah sedikit melegakan bagi pendidik dan orang tua siswa yang menantikannya.

Bagaimana dengan anak atau siswa sendiri? Apakah mereka merindukan pembelajaran tatap muka? jawabannya bisa iya atau tidak. Diantara pendidik yang bahagia akan datangnya PTM dan siswa yang belum tentu mau datang ke sekolah untuk PTM ada orang tua siswa yang cemas berharap.

Ada beberapa tipe orang tua siswa yang ada di sekolah selama masa pembelajaran jarak jauh ini

  1. tipe semangat membara. Ia ada di jajaran terdepan orang tua murid yang tanya ini dan itu kepada guru di awal pandemi sampai sekarang. Aktif di grup whatsapp orang tua dan yang merasa paling stress karena PJJ ini.
  2. tipe pasrah. Tipe yang baru mau komunikasi jika guru sudah japri. Jika tidak dijapri maka orang tua jenis ini merasa semuanya baik baik saja,. Padahal guru sudah khawatir pada anaknya.
  3. tipe wait and see. Ini adalah tipe yang tidak akan terburu buru menyatakan persetujuan saat mengisi survey kesiapan masuk sekolah.

Ada beberapa anggapan sekolah kepada orang tua siswa

  1. sebagai pengawas
  2. sebagai pelanggan (customer)
  3. sebaga mitra
  4. sebagai pelengkap semata

Mari kita bahas posisi orang tua siswa sebagai mitra sekolah dalam membelajarkan anaknya. Di masa PJJ ini tidak jarang ada banyak curhatan dan pertanyaan mereka. Saya akan membaginya untuk anda

  1. Model pendidikan terbaik apa yang bisa diterapkan di Indonesia dan di sekolah anak saya? Apakah model pendidikan di Finlandia bisa diterapkan di sekolah anak saya?
  2. Bagaimana memotivasi anak saya agar semangat belajar?
  3. Apa metode belajar yang terbaik bagi anak saya?
  4. Apakah ada penilaian hasil belajar yang tidak semata mengutamakan nilai?
  5. Anak saya kecanduan Gadget karena dampak PJJ bagaimana mengatasinya?
  6. Adakah cara terbaik pemberian PR agar tidak membuat anak bosan dan keberatan?
  7. Pola asuh bagaimana yang bisa mendukung karakter anak sehingga menjadi anak yang sukses sebagai pembelajar?

7 pertanyaan diatas adalah pertanyaan orang tua siswa sebagai hasil dari ‘kawah candradimuka’ pembelajaran jarak jauh selama 2 tahun ini. Menarik bukan? saya pribadi terkejut dengan kualitas pertanyaan orang tua siswa saat ini. Lalu hal apa yang bisa sekolah lakukan.

  1. Sekolah meminta gurunya berkolaborasi memetakan kurikulum mana yang penting dan prioritas. Guru mesti dibiasakan punya kemampuan bekerja sama dengan sesamanya merencanakan kurikulum. Finladia bisa maju dikarenakan pendidikannya mengutamakan kolaborasi dan bukan kompetisi.
  2. Sekolah anggap dinas Pendidikan sebagai mitra dalam berkembang dan berinovasi. Berita baik nya saat ini kementrian menerapkan AKM yang membuat sekolah tidak semata mengejar nilai. AKM (Assessmen Kompetensi Minimum) ini menggantikan peran UN atau Ujian Nasional
  3. Sekolah berusaha menyesuaikan visi misi, kompetensi lulusan dan karakter (learner profile) terhadap situasi terkini dalam Pendidikan dan perkembangan dunia karier dan pekerjaan di dunia saat ini.
  4. Sekolah mempunyai konsep dan kebijakan mengenai ‘grading’ atau penilaian siswa. Secara singkat konsep penilaian yang baik adalah memberikan umpan balik yang konstruktif dan bermakna kepada siswa dan bukan mencari kelemahan siswa
  5. Membuat School board semacam dewan sekolah yang menjadi mitra Yayasan dalam menentukan arah Pendidikan.
  6. Memberikan workshop atau pelatihan singkat dengan topik seperti ‘Math is fun’, ‘Reading is fun’, ‘penilaian autentik” dan topik lain yang memberikan orang tua siswa gambaran bagaimana mendampingi anaknya belajar di rumah.
  7. Mengaktifkan dan memberikan ekskul porsi besar dan sama pentingnya dengan proses pembelajaran walaupun di masa pandemi dan pada saat tatap muka. Dikarenakan ekskul terbukti menjadi jalan keluar bagi anak yang punya hambatan dalam bersosialisasi dan motivasi belajar.

Langkah diatas bisa dilakukan sekolah sebagai ucapan terima kasih karena dedikasi yang luar biasa bagi orang tua siswa di masa pandemi ini. Semua yang baik yang terjadi saat pembelajaran daring pantas dan harus diteruskan. Akan menjadi sia sia jika sekolah sebagai komunitas pembelajar memilih untuk menjadikan percikan api semangat orang tua dalam hal pendidikan ini sekedar sebagai ‘bumbu bumbu’ masa PJJ. Saat nya orang tua siswa diberdayakan sebagai bagian dari komunitas pembelajar di sekolah.

Let’s keep learning. Together.

5 Prinsip strategi efektif penugasan atau pemberian PR kepada siswa di era pembelajaran campuran.

Ada banyak situasi yang terjadi dalam proses pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran campuran (blended learning) yang menyebabkan komunikasi antara rumah dan sekolah menjadi tidak nyaman. Masalah yang biasanya terjadi adalah pemberian tugas kepada siswa yang terlalu berat. Hal lain yang dikeluhkan adalah orang tua siswa diminta mengajar anaknya sendiri oleh guru tanpa panduan yang jelas dan cukup.

Penugasan PR di era PJJ ini sebenarnya sah sah saja mengingat banyak sekali keterbatasan dari sisi waktu dan pelaksanaan pembelajaran. Apalagi jika guru masih mempunyai cara berpikir dan mengajar masih sama sebelum pandemi berlangsung yaitu menghabiskan target kurikulum. Cara yang paling konvensional adalah menghabiskan buku teks. Komunikasi antara orang tua siswa dan guru seakan hanya dimediasi oleh buku teks yang belum tentu bisa dimengerti orang tua siswa.

Mari kita berpikir mengenai PR ini dari tiga sisi yaitu guru, orang tua siswa dan siswa sebagai subyek pembelajaran.

  1. Dari sisi guru, PR adalah sebagai cara guru melengkapi pembelajaran yang tidak tuntas.
  2. Dari sisi orang tua mengenai PR ini biasanya sikapnya netral. Mereka sebenarnya dengan senang hati membantu mengenai PR ini asalkan saja komunikasi antara sekolah ke rumah jernih dan jelas. Orang tua pun senang jika dirinya terupdate atau tersampaikan materi apa yang sedang anaknya pelajari saat ini. Jika anak merasa asik dan fokus saat mengerjakan PR biasanya orang tua akan tidak berkeberatan dan ada kebanggaan saat anaknya fokus
  3. Dari sisi siswa, mereka senang mengerjakan sesuatu yang membuat dirinya mengetahui sebuah hal baru dan makin dihargai oleh orang orang disekitarnya.

Apa saja kekeliruan terbesar guru saat memberikan PR atau penugasan kepada siswa dalam situasi PJJ Ini?

  1. Guru berasumsi siswa punya orang tua yang support dan selalu ada untuk membantu siswa.
  2. Guru berasumsi siswa punya kemampuan mengerjakannya sendiri.
  3. Guru berasumsi siswa punya waktu, tempat, kesempatan dan kebiasaan untuk mengerjakan tugas dari sekolah.
  4. Guru berasumsi bahwa hanya ia sebagai guru yang memberikan PR kepada siswa

Lalu bagaimana dengan siswa yang kurang beruntung. Siswa yang mesti bekerja, mungkin harus menjaga adik atau mempunyai orang tua yang awam mengenai pendidikan.

Bagaimana jalan keluar agar guru bisa tetap menyelesaikan target kurikulum dan siswa bisa mengerjakan PR yang bermakna dan tidak sekedar membuatnya sibuk. Berikut ini adalah prinsip yang bisa digunakan

  1. Prinsip diferensiasi: Guru memberikan peluang untuk siswa mengerjakan penugasan yang diberikan dengan cara yang berbeda beda (boleh mengacu pada kecerdasan majemuk). Waktu penugasan lebih dari sehari. Menggabungkan antara HOTS dan LOTS. Siswa bisa memilih mana yang lebih dulu ia ingin kerjakan. Jika siswa selesai lebih dahulu ia boleh mengajar temannya. Guru terbuka akan masukan orang tua siswa
  2. Prinsip komunikasi. Guru membekali orang tua siswa dengan materi ajar yang sudah disesuaikan dalam bahasa mudah dan sederhana agar ortu siswa tahu apa yang anaknya sedang pelajari. Siswa dibolehkan dan diberikan kesempatan seluas luasnya untuk bertanya dan berdiskusi online dengan rekannya. Siswa diberikan penugasan yang simple, ringkas namun membuat ia berpikir mengenai pembelajaran yang dilakukan. Contohnya meminta siswa menulis 3 pertanyaan mengenai pembelajaran dan lain lain.
  3. Prinsip eksplorasi. Siswa boleh mencari tahu dan berefleksi mengenai topik yang diajarkan oleh guru dari berbagai sumber bahkan dari orang orang terdekatnya di rumah. Siswa digali ketertarikannya pada topik yang guru ajarkan.
  4. Prinsip inovasi dan kreativitas. Guru melibatkan teknologi dalam memberikan tugas kepada siswa. Hyperdocs atau Choice board masuk dalam kategori ini. Guru berinovasi lewat jenis tugas, media tugas sampai cara menyampaikan sebuah materi yang baru kepada siswa. Guru memberikan kesempatan siswa untuk mempunyai portfolio digital lewat media seperti canva yang kemudian di upload di media sosial. Siswa punya kesempatan diapresiasi oleh audiens diluar lingkup sekolahnya.
  5. Prinsip latihan. Gunakan PR untuk memperkuat aspek yang penting dalam kapasitas sebagai pembelajar atau keterampilan dalam belajar (study skills) dan bukannya untuk menguasai materi yang harusnya diajarkan oleh guru. PR bukan diberikan untuk mengejar kurikulum atau pembelajaran yang kurang waktunya karena PJJ Ini. Berikanlah siswa PR terkait dengan penguatan aspek aspek yang bermanfaat. Aspek literasi membaca dan literasi informasi, matematika dasar, aspek TIK dan banyak lagi keterampilan yang jika siswa pelajari maka akan membantu skill dasar bagi masa depannya.

Semua prinsip diatas hanya bisa berhasil jika guru sudah berhasil melewati ‘jebakan’ kurikulum. Bersama rekan sekerjanya di sekolah ia sudah berhasil memilah milah mana yang penting dan prioritas untuk disampaikan kepada siswa. Kepada orang tua siswa tipe guru seperti ini tidak akan cuma mengajak bermitra namun juga disempatkan mengedukasi lewat penugasan kepada siswa nya yang mempererat hubungan orang tua dan anak dan tidak sebaliknya menjadikan suasana rumah menjadi ‘panas’ karena tugas yang ia berikan.

Melakukan supervisi guru di era blended learning

Era pembelajaran campuran memang menarik untuk semua pendidik melakukan eksperimen. Tidak hanya dalam soal pembelajaran dalam hal supervisi pun sekolah boleh saja melakukan eksperimen. Hal yang saya maksud adalah sekolah melakukan hal yang belum pernah dilakukan atau memperkuat hal yang selama ini ada.

Sebelum era pandemi supervisi guru adalah proses dimana:
1. guru dicek RPP nya oleh kepala sekolah
2. guru disaksikan tau diobsevasi pembelajarannya oleh kepala sekolah
3. guru diberikan umpan balik atau feedback
4. guru diberikan penilaian atau skor yang ada hubungannya dengan gajinya tahun depan (hanya terjadi di sekolah swasta)

Dalam situasi sebelum pandemi tidak banyak guru yang menggunakan TIK atau IT. Dalam pembelajaran tatap muka guru biasanya fokus pada alat bantu ajar dan metode pembelajaran cooperative atau belajar dengan bekerja sama.

Apa yang bisa diperkuat atau dilakukan oleh sekolah dalam menyikapi situasi terkini dimana guru sering menggunakan hal yang baru. Entah itu aplikasi atau metode terkini yang ada dalam konsep pembelajaran campuran.

Berikut ini adalah hal yang baru yang mungkin saja bisa anda praktekan:

1. guru diminta mengundang sesama rekannya untuk meyaksikan pembelajarannya lewat teknik pinneaple chart. Apa itu Bagan Nanas (pineapple chart) ?
Jika seorang guru memiliki rencana pelajaran yang diyakini akan diminati oleh guru lain, apakah itu untuk teknik pengajaran tertentu yang akan digunakan dikelas, mengajar dengan aplikasi tertentu atau sebuah metode yang baru. Guru dapat memposting atau menempel informasi itu di ruang guru (atau di mana pun guru berkumpul) pada bagan nanas.Inti gagasannya adalah guru mengundang guru lainnya untuk mengobservasi atau menonton dirinya mengajar.

2. Guru yang tampil mengajar kemudian diberikan masukan oleh guru lain yang melihat ia mengajar. Dari sisi penghantaran pembelajaran sampai penggunaan teknologi (whatsapp, zoom, Teams atau Google Meet). Hal yang unik dari metode ini guru diberikan feedback dari sesamanya. Maklum saat memncoba hal yang baru pasti ada rasa gugup dan tak nyaman dari seorang guru. Untuk itu saat seorang guru melihat rekan lainnya mengajar, sekolah membantu dengan menyediakan rubrik mengajar yang bisa dilihat bersama sama. Hal ini bisa berlaku bagi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online.

3. guru berdiskusi dengan rekannya dan rekan yang melihatnya mengajar kemudian memberikan masukan. Topik pembelajaran ini nanti yang akan dibawakannya juga di depan kepala sekolah

4. guru meminta waktu kepala sekolah untuk melakukan supervisi pembelajarannya

5. Kepala sekolah memberikan umpan balik

Langkah diatas membuat sekolah menjadi sekolah yang berisi para pembelajar. Bagi guru langkah diatas membuat dirinya lebih rileks karena rencana pengajaran dan pembelajarannya sudah dilihat dan diberikan masukan dahulu oleh sesama rekan. Dengan demikian saat kepala sekolah mengobervasi ia tinggal melaksanakan apa yang sudah ia laksanakan sebelumnya dengan penyesuaian yang didapatkan dari saran sesama guru. Tentunya agar anak tidak bosan hindari untuk menggunakan materi yang sama dengan sebelumnya saat akan diobservasi oleh kepala sekolah.

8 tips agar siswa dengan senang hati mengerjakan PR

Dalam situasi pembelajaran tatap muka ada banyak cerita guru yang mengeluh siswanya menolak atau tidak tidak mengerjakan PR. Mari berkaca apa saja kontribusi guru saat memberikan PR bagi siswanya hingga menyebabkan hal ini terjadi.

  1. Guru memberikan PR karena ingin mengejar targat kurikulum.
  2. Guru memberikan PR karena ingin mengejar waktu yang terbuang karena situasi pandemi ini.
  3. Guru memberikan PR sebagai hukuman.
  4. Guru memberikan PR dengan jenis tugas yang tidak membuat siswa tambah terampil dan jenis penugasannya hanya sekedar untuk menguasai/memahami informasi dan bukan pengetahuan yang berguna bagi masa depan siswa.

Hal yang dimaksud dalam point 4 adalah tugas yang diberikan bisa merupakan keterampilan belajar (study skills) sampai penugasan yang melibatkan prinsip 4C yaitu critical thinking (berpikir kritis), creative thinking (berpikir kreatif), communicating (berkomunikasi) , dan collaborating (berkolanorasi) .

Apa yang bisa guru lakukan agar siswa mau dengan senang hati mengerjakan PR ?

  1. Ukur dahulu penugasan yang diberikan pada siswa. Jika terlalu berat atau terlalu ‘besar’ pecah pecah menjadi beberapa tugas kecil yang mudah dikerjakan oleh siswa.
  2. Ukur dan perkirakan waktu pengerjaan yang siswa perlukan. Berikan estimasi waktu pengerjaan ini saat memberikan tugas pada siswa. Sebagai gambaran, 15-30 menit adalah waktu yang cocok untuk siswa kelas Tk- kelas 3, untuk anak yang lebih besar misalnya 60 menit.
  3. Guru memberikan estimasi waktu pengerjaan tugas bersamaan saat memberikan tugas. Baik guru dan siswa akan menjadi tahu berapa lama waktu yang diperlukan dalam mengerjakan sebuah tugas. Orang tua siswa, guru dan siswa pun akan berefleksi atau menyadari jika waktu yang diperlukan lebih lama maka ada hal yang mesti diubah atau diperbaiki dari sisi kinerja siswa atau cara guru dalam memberikan tugas.
  4. Berikan penugasan di waktu yang sama dan jam yang sama tiap minggunya. Artinya rutinitas ini membuat siswa dan orang tua menjadi bersiap siap dan waspada untuk saling berbagi tanggung jawab di rumah. Orang tua siswa meluangkan waktu sementara siswa akan sampaikan jika ada hal yang masih belum ia mengerti.
  5. Berikan pilihan bagi siswa. Bisa berupa pilihan tingkat kompleksitas tugas (tingkat kemudahan atau kesulitan). Sampai pilihan jenis tugas yang akan dikerjakan oleh siswa menggunakan prinsip hyperdocs.
  6. Berikan tambahan waktu atas dasar kesepakatan dengan siswa. Prinsip pemberian tugas adalah guru ingin menangkap karya terbaik dari siswanya. Bukan sekedar ingin tahu siswa salahnya atau lemahnya dimana.
  7. Lakukan pendampingan ‘one on one’ atau melakukan pendampingan langsung kepada anak yang memerlukan support lebih dari guru. Bagi rata saja dan targetkan tiap minggu anda mendampingi satu siswa. Tidak terasa dalam satu semester anda sudah pernah mendampingi siswa secara ‘one on one’.
  8. Selalu ingat bahwa relasi atau hubungan anda dengan siswa adalah segalanya. Hindari mengeluarkan perkataan yang membuat siswa patah semangat sedih dan merasa tidak dihargai. Hanya karena ia tidak mengumpulkan tepat waktu atau hasil pekerjaannya tidak sesuai harapan anda sebagai guru.

Pekerjaan Rumah adalah cara dan bahan bagi guru dan siswa untuk berkomunikasi. PR akan menjadi komunikasi yang dipaksakan jika penugasannya hambar tidak menarik dan membuat perpecahan antara orang tua dan anak. Sebaliknya jika PR nya dikomunikasikan dengan baik, dalam jangka waktu tertentu dan memberikan kesempatan siswa mempraktekan apa yang penting bagi masa depannya maka guru hadir sebagai pemersatu dirumah siswa. Karena tugas yang seru dan menantang maka akan hadir dialog dan komunikasi yang intens dan berkualitas dirumah antara siswa dan orang tuanya.

5 tanda anda guru yang efektif mengajar online dengan efektif

Berbeda dengan mengajar tatap muka, saat mengajar online guru punya banyak kesempatan untuk membuat siswa makin kritis cara berpikirnya. Ada 3 kesempatan emas bagi guru untuk membuat siswa paham dan enjoy dalam belajar

Sebelum pertemuan pembelajaran: Guru sudah memberikan materi lewat kelas onlinenya atau simple dikirimkan ke grup whatsapp kelas dan minta murid menonton atau membaca.

Selama pertemuan pembelajaran: guru meminta siswa mengelaborasi pengetahuan yang ia dapatkan lewat membaca/memperlajari materi sebelum pembelajaran. Guru memberikan kuis sederhana dan singkat. Guru melakukan tanya jawab santai dan bermakna. Guru memberikan penguatan baik secara moril dan materi pembelajaran lewat penugasan yang bisa dikerjakan siswa saat itu juga (bukan PR).

Setelah pembelajaran: guru meminta siswa mengerjakan hyperdocs dan meminta siswa membuat digital portofolio dengan waktu yang terukur dan tidak terlalu lama atau terlalu singkat. Aktivitas ini membuat siswa asyik merenungi kembali pembelajaran dan bahkan bertanya kepada guru yang sudah siap dengan jam jam konsultasi yang disepakati bersama.

Ada 5 tanda bagi anda jika anda sudah mengajar siswa anda dengan efektif secara online

Perencanan Pembelajaran. Guru merencanakan pembelajaran lewat RPP atau mind map. Ada ringkasan materi yang bisa diakses oleh orang tua dan siswa. Guru mempunyai instruksi yang jelas (teks atau video) agar siswa paham. Guru merencanakan penilaian formatif dan sumatif.

Kurikulum. Guru melakukan pemetaan kurikulum dan memilih aspek mana saja yang mesti dikuasi siswa. Guru mempunyai pertanyaan kunci yang berhubungan dengan indikator pembelajaran yang akan dipelajari, ada ekspektasi yang jelas apa/mengapa/bagaimana yang siswa akan pelajari.

Komunikasi. Ada empati yang guru tunjukkan dalam berkomunikasi efektif secara online/offline. Deadline penugasan yang wajar. Guru melakukan survey kepada siswa mengenai cara pembelajarannya. Ada sesi breakout room agar siswa berdiskusi sesamanya. Guru mempunyai waktu dan materi tambahan untuk siswa berkonsultasi bagi siswa yang kesulitan.

Diferensiasi. Guru mempunyai strategi dalam pemberian tugas (papan pilihan, Hyperdocs, Pembelajaran berbasis project). Guru membuka pilihan untuk siswa melakukan dalam cara yang berbeda dan menghasilkan produk pembelajaran yang berbeda untuk satu tujuan pembelajaran yang sama.

Penilaian otentik dan umpan balik. Ada penilaian formatif dan sumatif yang seimbang. Penilaian formatif dilakukan dengan sering dan beragam dengan menggunakan tools (quizizz, kahoot, mentimeter dll). Penilaian Sumatif guru menilai lewat digital protofolio anak. Guru memberikan umpan balik dalam waktu yang tidak terlalu lama terhadap hasil pekerjaan siswa. Guru menilai aspek HOTS dan LOTS.

Silakan mengunduh rubrik pembelajaran online yang efektif.

7 Penyesuaian cara mengajar guru pasca pandemi

Masuk sekolah pasca pandemi akan terasa sekali bedanya. Merugilah mereka para pendidik yang belum bisa mengambil pelajaran dari situasi yang terjadi hampir dua tahun ke belakang ini.

Ada pertanyaan penarik yang layak diingat. Pertanyaan itu adalah: Siapa yang bisa memuat guru mau dan bersedia belajar kembali mengenai TIK dan pembelajaran kreatif? jawabannya adalah Pandemi Covid 19.

Sebuah jawaban yang unik dan menyakitkan sebenarnya. Dikarenakan mesti ada wabah dahulu yang kemudian membuat pendidik mau mentransformasikan dirinya.

Dengan demikian bukan kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, menteri pendidikan ynag bisa mengubah seorang guru untuk mau mencoba hal yang baru tapi keterpaksaanlah yang kemudian berhasil mengubah seorang pendidik untuk mau bertransformasi.

Apa saja hal yang mesti disesuaikan jika guru ingin membuat situasi sekolah pasca pandemi berjalan dengan lebih baik dari sebelum pandemi?

1. Saatnya guru untuk mengurangi ceramah dan mesti sibuk memuat rekaman video dimana dirinya menerangkan pembelajaran. Sudah terbukti guru berceramah terlalu lama yang membuat sitausi PJJ menjadi kurang kondusif. Membuat video pun tidak perlu yang terlalu ‘wah’ cukup anda berbicara dengan jelas dan menampilkan teks agar siswa bisa konsen.

2. Lebih baik rekam ceramah anda, posting di kelas virtual anda dan biarkan siswa mendengarkan kapan ia suka. Seperti layaknya ia melihat youtube ia bisa mempercepat dan memperlambat mana yang penting.

3. Perencanaan pembelajaran juga mesti diarahkan untuk berskenario pembelajaran berbasis project. Ciptakan situasi dimana siswa mesti berkolaborasi dengan sesamanya4. Pelajaran yang diambil saat PJJ kemarin adalah tidak semua siswa bisa terlibat. Padahal guru bisa dikatakan berhasil jika murid anda si introvert bisa terlibat.

4. Guru menyediakan pilihan online dan offline (Hybrid) yang membuat siswa mudah dalam belajar sesuatu. Ada versi siaran langsungnya dan ada juga versi yang sudah direkam dan siap siswa dengarkan, untuk ia tonton dan pelajari kapan saja lewat kelas virtual.

5. Kurangi kurangi menilai dan ‘menghakimi siswa’ perbanyak memberikan masukan dan umpan balik yang konstruktif. Lebih baik anda mengajar sedikit namun berarti dan bermakna. Pilih hal yang penting dan menjadi inti subyek anda dibanding mengajar banyak hal yang belum tentu berguna bagi siswa di masa depan. Posting di kelas virtul anda dan biarkan siswa mengulang pelajaran yang sudah anda sarikan.

6. Dalam penumpulan tugas anda boleh saja punya deadline. Namun gunakan hati anda jika ada siswa yang serius mengerjakan namun karena satu dan lain hal hasil nya kurang memuaskan. Silakan berikan tambahan waktu karena akan membuat ia semangat memperbaiki pekerjaannya. Sekali lagi lihat usaha dan niat anak tersebut.

7. Cara pemberian test pun mesti banyak penyesuaian. Guru sudah boleh membuat dan memperbanyak test yang ‘open book’ yang membuat siswa pandai dan mampu berargumen. Selama PJJ harus diakui semua pertanyaan yang guru berikan kemudian di googling oleh siswa. Lebih baik lakukan test open book dan pastikan pertanyaan nya tidak bisa dicari siswa di google.

Sekolah perlu mengajak bicara guru gurunya. Minta mereka memetakan kurikulum nya. Keran improvisasi pembelajaran terbuka lebar. Saatnya sekolah memanfaatkan. Sayang sekali jika masuk sekolah pasca pandemi ini hanya mengulang hal yang kurang baik dan konvensional yang terjadi sebelum pandemi.

Selamat mencoba dan terimalah bahwa pasca pandemi ini anda adalah guru yang berbeda. Berbeda dalam cara mengajar, memandang profesi mengajar dan berkiprah dalam dunia pendidikan terkini pasca pandemi.

Hasil Pelatihan dan Rapat Kerja SMP dan SMA Yayasan Pendidikan Sorowako. Hasil karya yang menarik menjadi inspirasi dan pembelajaran di sekolah pasca pandemi.Silakan dilihat di link ini https://padlet.com/agussampurno/10yw6y6hffi854z1