Memperkuat kelemahan siswa atau memupuk apa yang menjadi kekuatan siswa, mana yang anda pilih ?

e8c6276f60fecb50cb4a609f125bc7d7

Di sekolah anda ada eskul? Selamat jika ada. Karena dijaman dunia
hiburan dan olah raga berjaya seperti sekarang ini, akan banyak siswa
kita yang nantinya akan sukses dengan aktivitas yang berhubungan
dengan hobi dan kesukaan. Lalu bagaimana dengan aspek akademis? Aspek
akademis tetap penting, sama pentingnya dengan aktivitas tambahan atau
hobi yang digeluti siswa. Di tengahnya ada bagaimana sekolah dan guru
memupuk katakter-karakter baik yang akan membuat segenap potensi siswa
bersinar saat sekarang dan dewasa nanti.

Saat saya katakan pernyataan diatas yang menjadi judul dari tulisan
ini ada banyak pendapat yang berkaitan dengan pernyataan diatas

Pendidik yang setuju dengan pernyataan ‘memperkuat kelemahan siswa’ beralasan

1. Tugas sekolah dan guru untuk memperkuat siswa di segala bidang
(akademis dan non akademis)
2. Siswa belum tahu apa yang menjadi kelemahan dirinya, tugas guru
lah yang menemukannya, mengatakannya pada siswa yang bersangkutan dan
membenahi dengan segala cara.
3. Fungsi sekolah adalah membenahi  apa yang menjadi kelemahan siswa,
jika itu tidak dilakukan sekolah maka fungsi sekolah menjadi hilang
atau berkurang

Baca lebih lanjut

Apa yang membuat sekolah anda spesial di mata masyarakat?

Sering-seringlah punya pertanyaan seperti ini di dalam hati. Sebagai pemimpin seorang kepala sekolah mesti punya cara untuk memotivasi dirinya sendiri dan anggota teamnya. Salah satunya dengan memberikan pertanyaan yang menantang seperi diatas.

Jangan kaget jika jawabannya beragam, apalagi jika ditanyakan pada staf yang skeptis dan tidak punya ‘passion’ dalam mendidik. Jika menjawab pun maka persoalan fasilitaslah yang paling dikedepankan. Hal yang sama akan muncul jika pertanyaan ini ditanyakan pada orang tua siswa, mungkin kebingungan lah yang akan muncul. Hal ini wajar dikarenakan tipe orang tua siswa yang bermacam-macam, dan yang paling penting untuk mereka adalah kemudahan pencapaian secara lokasi, baru masalah lainnya.

Ada beberapa derajat atau tingkatan dalam menentukan seberapa spesial sebuah sekolah dimata masyarakat. Saya akan memulai dari yang paling rendah dari yang paling tinggi.

  • Sebuah sekolah menjadi spesial karena gratis dan jaraknya dekat dengan pemukiman. Sekolah tipe seperti ini menjadi spesial dikarenakan masyarakat tidak punya pilihan lain. Mau ke sekolah lain jauh dan pastinya memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit dalam soal waktu dan biaya. Pihak sekolah mesti bekerja keras karena input siswa yang masuk biasanya beragam. Sekolah tipe seperti ini biasanya dimiliki oleh pemerintah yang memang mempunyai tugas menyediakan pendidikan bagi masyarakat. Pihak orang tua siswa sering tidak punya hak untuk mengawasi jalannya sekolah dikarenakan pihak sekolah merasa karena sekolahnya sudah gratis maka pihak orang tua siswa mesti menerima saja ‘sajian mutu’ yang sekolah berikan kepadanya

Baca lebih lanjut

6 sosok guru pemimpin

Sebuah sekolah jika dikelola dengan baik akan melahirkan guru pemimpin. Sebenarnya mesti ada berapa pemimpin di sebuah sekolah? Jawabannya sebenarnya jelas, makin banyak makin baik. Kalau dahulu pemimpin diibaratkan konduktor di sebuah orkestra maka sekarang ini seorang pemimpin di sekolah mesti menjadi seorang pemain jazz. Perhatikan seorang pemain jazz, ada waktunya ia akan mempersilahkan pemain lainnya untuk tampil mendominasi untuk kemudian sama sama lagi berharmoni membuat keselarasan dalam komposisi musik.

Sekolah yang membiarkan anggotanya memimpin di saat saat tertentu akan menjadi sekolah yang baik sehat dan membuat anggotanya muncul potensinya. Lalu apa fungsi seorang kepala sekolah, mengibaratkan permainan sepak bola fungsinya lebih pada menjadi penjaga gawang, kapten, wasit, pelatih dan penonton fanatik yang setia. Kesemuanya menyesuaikan keadaan dan situasi dilapangan. Pemimpin yang punya gaya kepimpinan yang menyesuaikan dengan keadaan.

Lalu apa saja ciri yang mesti ada pada seorang guru pemimpin.
1. Selalu mengosongkan gelasnya saat bertemu orang lain atau selalu bersedia belajar kembali. Saat yang sama ia menyediakan dirinya untuk ditugaskan sebagai seorang fasilitator yang mengarahkan pembelajaran rekan-rekannya sesama guru. Dalam suasana pelatihan dan dalam suasana rapat santai yang membahas mengenai sebuah hal yang bersifat profesional pendidik sebagai guru
2. Sosok yang menyenangkan diajak kerja sama, tidak mau menang sendiri dan senang berada dibalik kesuksesan rekan sesama guru. Kerja samanya luas dari sesama guru satu bidang studi sampai sesama guru satu sekolah yang mengajar bidang lain bahkan dengan guru dari sekolah lain yang ia kenal di media sosial.
3. Selalu ingat dimanapun ia berada orang akan menyorotnya sebagai guru. Dengan demikian ia waspada dan berpikir sebelum bertindak
4. Menjadi orang yang berkenan jika dimintakan pendapat, pengetahuan atau bahkan contoh-contoh dokumen dan alamat situs yang berhubungan. Guru seperti ini menjadi tempat bagi rekan lainnya bertanya dan meminta pertimbangan. Ia seorang yang senang berbagi strategi pembelajaran bahkan berbagi. Menguasai kurikulum dengan segala perkembangannya, tidak heran pertimbangannya selalu dari sisi yang beragam.
5. Selalu berorientasi pada praktek-praktek yang terjadi di kelas. Setinggi apapun teori yang ia dapatkan, ia akan berpikir cara terbaik untuk menerapkannya di kelas. Ia adalah seorang pembelajar yang haus pengetahuan sekaligus gemar mencoba hal baru dan menempatkan pertemuan dengan sesama guru sebagai sarana tukar pendapat akan hal atau startegi yang baru.

6. Ada guru baru? Ia tidak segan menjadi kawan belajar dan berperan sebagai mentor. Sekolah yang didalamnya guru baru mempunyai mentor akan menjelma menjadi sekolah yang bernuansa komunitas, setara dalam satu tujuan yaitu mendidik. Tentunya peran sebagai mentor mesti datang dari kepala sekolah .

Resep memotivasi dan mengelola guru senior. 

Guru senior adalah ukuran kriteria bagi guru yang sudah lebih dari 15 tahun mengajar atau bahkan lebih. Dengan pengalaman yang banyak mestinya sosok guru senior bisa menjadi motor perubahan. 
Ada dua jenis guru senior:

1. Ada guru senior yang hebat dan menginspirasi dengan pemikirannya yang terbuka dan pengalamannya yang banyak bisa membuat sesama guru terpacu dan makin mencintai dunia pendidikan. 

2. Guru senior yang selalu berucap ‘buat apa saya belajar dan bekerja keras dalam mengajar toh saya sudah mau pensiun’ atau ‘belajar kembali hanya untuk guru yunior saja’

Beberapa kesalahan sekolah sebagai lembaga terhadap pengelolaan guru senior ini antara lain:

1. Mengangkat mereka sebagai pemimpin hanya karena lama pengalaman bekerja atau senioritas tanpa melihat profesionalitas dan kemampuan.

2. Membiarkan mereka menjadi ‘racun’ bagi guru lainnya dengan perkataan negatif dan omongan di belakang terhadap sekolah. 

3. Mengangkat pemimpin yang tidak bisa atau segan untuk menegur jika guru senior ada kesalahan.

4. Mengirim guru guru senior ke pelatihan atau seminar, tanpa pernah menagih mereka untuk berbagi kepada guru lainnya.

Untuk itu sekolah perlu melakukan hal berikut agar guru senior tetap bisa menjadi agen perubahan

1. Membuat sistem standar sikap sebagai guru profesional. Semacam peraturan (kode etik) yang mengatur bagaimana seorang guru (senior dan yunior) mesti bersikap.

2. Memasangkan guru senior dan guru yunior dalam satu tim agar terjadi alih pengetahuan.


3. Kepala sekolah tampil sebagai sosok yang menghormati guru senior sekaligus tegas dan bersedia membantu terhadap hal yang menjadi kekurangan sikap atau pembawaan dalam guru senior bekerja.

4. Memberikan ‘panggung’ pada guru senior untuk berkiprah dan memimpin dalam event dan kesempatan tertentu di sekolah.

Jika masih terjadi juga hal-hal yang merusak hubungan kerja atau nuansa pekerjaan karena sikap dari guru senior ini, sekolah bisa melakukan:

1. Menawarkan mereka pensiun dini, sekolah bisa lakukan dengan setengah memaksa, dengan alasan sudah tidak ada lagi posisi untuk mereka.

2. Tidak memberikan posisi untuk mereka di awal tahun ajaran sampai sikap mereka berubah dan mau bekerja sama.

Tentunya tahap diatas adalah tahap dimana kondisi sudah sedemikian tidak konstruktifnya. Sekolah perlu menyimpan semua bukti atau saksi dengan demikian sekolah tetap bisa adil dalam mengelola guru senior sekaligus tetap menghargai sumbangsih yang sudah guru senior berikan terhadap sekolah. 

Dengan demikian sekolah tetap punya atmosfir suasana kerja yang sehat dimana guru yunior dan senior saling bahu membahu bekerja demi siswa.

Tips dan trik menggunakan ‘games’ di kelas

  
Permainan atau games di kelas ibarat garam saat seorang koki membuat masakan. Jika terlalu banyak akan membuat masakan tidak enak, sebaliknya jika kurang akan membuat masakan menjadi hambar. 

Saat seorang guru menggunakan games di kelas tujuannya bisa bermacam-macam

1. Membuat suasana yang tadinya kaku menjadi cair.

2. Membuat kelas menjadi hidup.

3. Membuat siswa menjadi lebih paham dengan cara belajar dengan bermain.

4. Alat untuk membagi siswa dalam kelompok. 

5. Membuat siswa menjadi fokus kembali

6. Sarana untuk lakukan review

atau refleksi pembelajaran sebelumnya atau yang baru saja dilakukan.

7. Membuat siswa belajar arti kerja sama sportivitas dan kejujuran.

Beberapa kesalahan guru dalam penggunaan games di kelas adalah

1. Berharap agar kelas menjadi hidup hanya dengan games. Padahal pembelajaran yang kreatif lah yang bisa membuat kelas menjadi hidup.

2. Terlalu banyak menguras tenaga siswa. Jadinya siswa menjadi kehilangan energi saat harus melanjutkan belajar.

3. Mengganggu kelas lain dengan suara atau keributan. Ini terjadi karena tidak ada kesepakatan sebelumnya.

4. Menggunakan games tanpa memberikan insight setelah kegiatan berlangsung.

Ada lagi guru yang bahkan tidak mau sama sekali menggunakan games di kelas karena:

1. Dianggap menghilangkan waktu belajar siswa dan waktu mengajar guru.

2. Orientasi guru yang terlalu mengajarkan text book alias mengejar aspek kognitif.

3. Guru memisahkan antara belajar dan bermain. Padahal trend terbaru dalam dunia pendidikan adalah keterpaduan antara keduanya dengan guru sebagai fasilitator

Berikut ini adalah kumpulan website mengenai games di kelas
http://surabaya.tribunnews.com/2012/09/18/cra-kreatif-membentuk-kelompok-di-kelas
http://cybraryman.com/gamesined.html

8 cara mudah membuat kelas anda menjadi ‘hidup’.

Display yang bagus untuk dipajang di kelas anda. AIH singkatan dari (academic intervention hours)

Sebuah kelas di sebuah sekolah adalah sebuah kumpulan dari siswa (dengan tingkatan usia tertentu) diajar oleh seorang dewasa dengan perannya sebagai seorang guru, pendidik, pengajar dan saat ini adalah seorang fasilitator. Merupakan sebuah keinginan dari semua guru untuk menjadikan kelasnya menjadi kelas yang ideal, menyenangkan dan anak-anak senang belajar di dalamnya. Dalam prakteknya guru dimana saja masih berjuang untuk bisa mencapai hal diatas. Seorang rekan saya di facebook memberi istilah kelas yang ‘hidup’ untuk kelas dengan gambaran diatas.

Lantas bagaimana caranya untuk membuat kelas yang ‘hidup’

  1. guru mesti berperan sebagai orang dewasa yang matang dan menyesuaikan peran dan cara pendidikan dan pengajaran sesuai dengan tingkatan usia siswa yang diajarnya. Untuk itu jika anda guru TK -SD cantumkan di RPP, kisaran umur atau usia murid anda. Atur sikap kapan berperan sebagai orang tua bagi mereka, kapan bersikap sebagai rekan yang kritis atau guru yang mengayomi keingin tahuan mereka.
  2. Atur kata-kata anda selama di kelas saat berinteraksi dengan siswa. Caranya simpel saja, selalu gunakan kata positif, titik beratkan pada perbuatan yang anda ingin siswa anda lakukan dan bukan perbuatan yang anda larang siswa anda untuk lakukan.
  3. lakukan scanning pada siswa anda. Lakukan penggolongan pada anak yang bertipe introvert dan ekstrovert. Lakukan juga pengamatan mana siswa yang belajar dengan cara visual, kinestetik (tactile), auditori, dan logis. Jika semua siswa sudah terdeteksi anda makin punya urat sabar yang panjang terhadap siswa anda.
  4. manfaatkan 6 minggu pertama anda sebagai saat untuk melakukan pembiasaan pada prosedur dan tingkah laku. Buat kesepakatan dan saat yang sama buat konsekuensi. Minta siswa membubuhkan tanda tangan dan tempel di kelas kesepakatan. Lakukan pembuatan konsekuensi dan kesepakatan bersama-sama dengan seluruh murid di hari pertama anda mengajar di tahun ajaran baru. Terapkan tanpa pandang bulu, toh ini konsekuensi dan bukan hukuman, jauh lebih gampang terapkan konsekuensi daripada hukuman. Beri pujian jika siswa sudah lakukan hal yang menjadi kesepakatan.
  5. guru mengerti kapan mesti mengelompokkan siswa, kapan mesti membuat siswa belajar secara individu. Lakukan kedua hal tersebut dengan melihat situasi di kelas.
  6. lakukan perencanaan sekeras dan sedetil mungkin yang anda bisa. semakin anda bisa kejam kepada diri sendiri sebagai guru di kelas dalam melakukan perencanaan, peluang sukses anda sebagai guru yang kreatif semakin besar.
  7. Atur interaksi anda dengan murid di kelas. Hindari berusaha akrab dan menjadi teman mereka. Bersikap standar dan profesional saja pada siswa. Saat yang sama habiskan energi anda dalam perencanaan dan penilaian pembelajaran. Siswa akan langsung dekat dan cinta pada tipe guru seperti ini. Saat yang sama tinggalkan sikap standar dan segeralah berubah menjadi guru yang penuh perhatian, jika ada siswa yang perlu dukungan, perlu support karena hal-hal ada hal buruk yang  terjadi diluar dirinya (kondisi di rumah, kondisi orang tua dll).
  8. Terapkan pendekatan saintifik dikelas dalam konteks pembelajaran walaupun hanya 45 menit, apalagi jika bisa diterapkan dalam 4 sampai 6 minggu. kelas akan hidup dan hiruk pikuk oleh keaktifan siswa.

Penjelasan pendekatan saintifik

Jadi tunggu apalagi terapkan hal diatas dan saya yakin kelas anda akan ‘hidup’, atau punya tips lain sepanjang karir anda sebagai pendidik. Silahkan berbagi di kolom komentar.

4 langkah mudah jika seorang guru ingin jadi pembicara

Pernah mendengar istilah jagoan atau macan di kandang sendiri? Istilah diatas merujuk pada individu yang hanya sibuk berkarya dan jadi orang yang tenar, ngetop atau ahli di lingkungannya (di yayasan atau sekolahnya sendiri). Apakah hal itu salah? Tidak juga, semua orang punya pilihannya sendiri. Namun lain cerita jika kita sudah bicara mengenai kontribusi atau sumbangan apa yang sudah kita berikan pada masyarakat.

Sebagai contoh, ada seorang guru yang bekerja lebih dari 10 tahun di sekolah yang bagus dan mahal. Berbagai pelatihan dalam dan luar negeri telah diikutinya. Ilmunya mumpuni banyak dan canggih. Teori pendidikannya terkini dan tahu perkembangan terbaru. Cara mengajarnya mantap dan bisa dicontoh. Di sekolahnya tempat ia mengajar namanya kokoh berkibar. Kalau orang sebut namanya di sekolahnya sendiri, orang akan jeri, takut dan segan. Karena ia orang lama, senior dan tegas dan keras kepada sesama guru di lingkungan sekolahnya sendiri. Bahkan kepala sekolah pun segan, maklum kepala sekolah kalah senior. Tahun ke tahun pekerjaannya menjadi rutin bahkan bisa dilaksanakan tanpa pikiran dan usaha yang keras.

Jika anda masuk atau hampir mirip dengan kriteria ilustrasi diatas. mari kembali ke soal kontribusi setiap individu kepada masyarakat dan negaranya. Bayangkan jika rekan guru yang menjadi ilustrasi diatas bersedia berbagi pengetahuan, keterampilan dan inspirasi dengan sesama guru. Sebuah hal yang sebenarnya semua orang bisa lakukan karena mudah dan ‘rewarding’.
Baca lebih lanjut