Kunjungi situs Majulah sekolahku .com

majulah sekolahku jpg

Pembaca yang budiman, dunia belajar dan persekolahan semakin seru dan menantang untuk ditelaah, didiskusikan dan diperbincangkan.

Untuk itu situs gurukreatif di wordpress ini akan mulai meluaskan jangkauan ke situs lain yaitu situs www.majulahsekolahku.com
Di dalamnya anda akan temukan artikel khas dan tips gurukreatif yang sejak tahun 2007 telah menemani karier mengajar banyak guru di Indonesia. Bedanya situs majulah sekolahku akan membahas semua tentang bagaimana menjadikan sebuah sekolah menjadi sekolah yang efektif.

Jika anda kepala sekolah, komite sekolah, orang tua siswa serta pengamat pendidikan yang peduli pada pengelolaan sekolah lewat kepemimpinan yang efektif, transparansi anggaran dan efektifitas komunikasi maka situs majulah sekolahku akan jadi tempat untuk bertemu dan berdiskusi

Situs gurukreatif di wordpress ini akan tetap ada. Isinya sebagai catatan pribadi saya selama menjalani moto ‘leading, learning and sharing’.

Posted in Tak Berkategori

3 Tipe kemitraan guru dan kepala sekolah


Di sekolah swasta, seorang guru saat menjalani proses perekrutan hampir pasti akan diwawancarai oleh kepala sekolah. Jika diterima sejak itu akan terjalin pola hubungan kerja yang ada beberapa tipe macamnya.
1. Tipe boss dan karyawan

Hubungan kerja jenis ini rawan konflik karena kepala sekolah hanya akan melakukan kontak dengan gurunya jika gurunya ada kesalahan atau kepala sekolah ingin menyuruh sesuatu. Selama satu tahun ajaran bisa dihitung kapan interaksi terjadi. Interaksi yang formal biasa terjadi saat supervisi.

2. Tipe coach dan mentor

Pola interaksi atau hubungan ini bisa terjadi jika kepala sekolah sadar betul bahwa guru adalah kunci sukses sebuah perubahan di sekolah. Selama satu tahun ajaran beberapa kali guru dan kepala sekolah rutin bertemu. Kedua belah pihak punya semacam catatan yang berisi target serta strategi apa dan dalam jangka waktu berapakah sebuah sasaran akan dicapai. Kepala sekolah mulai dari kelebihan yang dimiliki guru gurunya, guru menjadi terbuka karena ia tahu kepala sekolah peduli dan sudi membantu agar ia sukses dalam berkarier sebagai pendidik.

3. Tipe ahli dan pemberi tugas.

Tipe interaksi ini biasa terjadi pada guru yang dianggap ahli dan mumpuni. Sekolah bahkan tidak memberikan job des pada guru ini. Guru menentukan sendiri target targetnya. Kepala sekolah jadi pihak yang memberi kebebasan dan tinggal memberikan gambaran hal apa yang ia ingin guru tersebut. Secara rutin kedua belah pihak bertemu untuk mengecek target ketercapaian .

Tipe yang manakah yang sedang anda jalani sekarang?

Hal apakah yang menurut anda akan membawa keberhasilan dalam pola kemitraan guru dan kepala sekolah?

Mari berbagi lewat kolom komentar.

Kalau saja saat baru memulai karir saya…..

  
Berapa lama anda sudah ada di profesi sebagai guru? 4 tahun, 3 bulan atau sudah hampir pensiun. Tahun berlalu sangat cepat, tahun ajaran demi tahun ajaran berjalan tanpa mau menunggu seorang guru untuk sudah makin mahir atau belum dalam menapaki karirnya. Ada guru yang berpikir tahun tahun berlalu begitu saja tanpa peningkatan berarti dalam karir dan pendapatan atau ada juga guru yang tersenyum mengingat betapa berwarnanya pengalaman ia sebagai guru, melalui suka duka dalam mendidik anak bangsa.

Berwarna atau hitam putih, datar atau bergelombang, wajar saat melakukan refleksi dalam berkarir seorang guru jika terlintas dalam pikiran kalau saja:
1. Kalau saja saat memulai karir ada sesama guru yang supportif dalam memberikan dukungan dan bimbingan. Hampir pasti karir akan berasa mudah dan makin bangga sebagai guru.
2. Kalau saja pendidikan keguruannya dahulu benar benar persiapkan ia sebagai guru yang profesional yang siap pakai
3. Kalau saja saat baru memulai karir dipimpin oleh kepala sekolah yang mumpuni, yang mahir dalam berikan bimbingan
4. Kalau saja lingkungan sekolahnya supportif, tiada beda antara guru lama dan baru. Guru baru tidak dibiarkan meraba raba semuanya sendirian
5. Kalau saja ada yang mengajari saya mengelola kelas tanpa amarah dan dengan efektif.
6. Kalau saja ada yang memberi contoh saya cara mengatur waktu sebagai guru yang mengatakan bahwa pekerjaan tidak ada habisnya, yang mengatakan pada saya bahwa dahulukan yang utama dan imbang dalam mengatur waktu antara teman dan pekerjaan, antara keluarga dan pekerjaan. Sehingga tidak menjadi guru yang membawa bawa urusan rumah ke kantor dan lain sebagainya.

Memperkuat kelemahan siswa atau memupuk apa yang menjadi kekuatan siswa, mana yang anda pilih ?

e8c6276f60fecb50cb4a609f125bc7d7

Di sekolah anda ada eskul? Selamat jika ada. Karena dijaman dunia
hiburan dan olah raga berjaya seperti sekarang ini, akan banyak siswa
kita yang nantinya akan sukses dengan aktivitas yang berhubungan
dengan hobi dan kesukaan. Lalu bagaimana dengan aspek akademis? Aspek
akademis tetap penting, sama pentingnya dengan aktivitas tambahan atau
hobi yang digeluti siswa. Di tengahnya ada bagaimana sekolah dan guru
memupuk katakter-karakter baik yang akan membuat segenap potensi siswa
bersinar saat sekarang dan dewasa nanti.

Saat saya katakan pernyataan diatas yang menjadi judul dari tulisan
ini ada banyak pendapat yang berkaitan dengan pernyataan diatas

Pendidik yang setuju dengan pernyataan ‘memperkuat kelemahan siswa’ beralasan

1. Tugas sekolah dan guru untuk memperkuat siswa di segala bidang
(akademis dan non akademis)
2. Siswa belum tahu apa yang menjadi kelemahan dirinya, tugas guru
lah yang menemukannya, mengatakannya pada siswa yang bersangkutan dan
membenahi dengan segala cara.
3. Fungsi sekolah adalah membenahi  apa yang menjadi kelemahan siswa,
jika itu tidak dilakukan sekolah maka fungsi sekolah menjadi hilang
atau berkurang

Baca lebih lanjut

Apa yang membuat sekolah anda spesial di mata masyarakat?

Sering-seringlah punya pertanyaan seperti ini di dalam hati. Sebagai pemimpin seorang kepala sekolah mesti punya cara untuk memotivasi dirinya sendiri dan anggota teamnya. Salah satunya dengan memberikan pertanyaan yang menantang seperi diatas.

Jangan kaget jika jawabannya beragam, apalagi jika ditanyakan pada staf yang skeptis dan tidak punya ‘passion’ dalam mendidik. Jika menjawab pun maka persoalan fasilitaslah yang paling dikedepankan. Hal yang sama akan muncul jika pertanyaan ini ditanyakan pada orang tua siswa, mungkin kebingungan lah yang akan muncul. Hal ini wajar dikarenakan tipe orang tua siswa yang bermacam-macam, dan yang paling penting untuk mereka adalah kemudahan pencapaian secara lokasi, baru masalah lainnya.

Ada beberapa derajat atau tingkatan dalam menentukan seberapa spesial sebuah sekolah dimata masyarakat. Saya akan memulai dari yang paling rendah dari yang paling tinggi.

  • Sebuah sekolah menjadi spesial karena gratis dan jaraknya dekat dengan pemukiman. Sekolah tipe seperti ini menjadi spesial dikarenakan masyarakat tidak punya pilihan lain. Mau ke sekolah lain jauh dan pastinya memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit dalam soal waktu dan biaya. Pihak sekolah mesti bekerja keras karena input siswa yang masuk biasanya beragam. Sekolah tipe seperti ini biasanya dimiliki oleh pemerintah yang memang mempunyai tugas menyediakan pendidikan bagi masyarakat. Pihak orang tua siswa sering tidak punya hak untuk mengawasi jalannya sekolah dikarenakan pihak sekolah merasa karena sekolahnya sudah gratis maka pihak orang tua siswa mesti menerima saja ‘sajian mutu’ yang sekolah berikan kepadanya

Baca lebih lanjut

6 sosok guru pemimpin

Sebuah sekolah jika dikelola dengan baik akan melahirkan guru pemimpin. Sebenarnya mesti ada berapa pemimpin di sebuah sekolah? Jawabannya sebenarnya jelas, makin banyak makin baik. Kalau dahulu pemimpin diibaratkan konduktor di sebuah orkestra maka sekarang ini seorang pemimpin di sekolah mesti menjadi seorang pemain jazz. Perhatikan seorang pemain jazz, ada waktunya ia akan mempersilahkan pemain lainnya untuk tampil mendominasi untuk kemudian sama sama lagi berharmoni membuat keselarasan dalam komposisi musik.

Sekolah yang membiarkan anggotanya memimpin di saat saat tertentu akan menjadi sekolah yang baik sehat dan membuat anggotanya muncul potensinya. Lalu apa fungsi seorang kepala sekolah, mengibaratkan permainan sepak bola fungsinya lebih pada menjadi penjaga gawang, kapten, wasit, pelatih dan penonton fanatik yang setia. Kesemuanya menyesuaikan keadaan dan situasi dilapangan. Pemimpin yang punya gaya kepimpinan yang menyesuaikan dengan keadaan.

Lalu apa saja ciri yang mesti ada pada seorang guru pemimpin.
1. Selalu mengosongkan gelasnya saat bertemu orang lain atau selalu bersedia belajar kembali. Saat yang sama ia menyediakan dirinya untuk ditugaskan sebagai seorang fasilitator yang mengarahkan pembelajaran rekan-rekannya sesama guru. Dalam suasana pelatihan dan dalam suasana rapat santai yang membahas mengenai sebuah hal yang bersifat profesional pendidik sebagai guru
2. Sosok yang menyenangkan diajak kerja sama, tidak mau menang sendiri dan senang berada dibalik kesuksesan rekan sesama guru. Kerja samanya luas dari sesama guru satu bidang studi sampai sesama guru satu sekolah yang mengajar bidang lain bahkan dengan guru dari sekolah lain yang ia kenal di media sosial.
3. Selalu ingat dimanapun ia berada orang akan menyorotnya sebagai guru. Dengan demikian ia waspada dan berpikir sebelum bertindak
4. Menjadi orang yang berkenan jika dimintakan pendapat, pengetahuan atau bahkan contoh-contoh dokumen dan alamat situs yang berhubungan. Guru seperti ini menjadi tempat bagi rekan lainnya bertanya dan meminta pertimbangan. Ia seorang yang senang berbagi strategi pembelajaran bahkan berbagi. Menguasai kurikulum dengan segala perkembangannya, tidak heran pertimbangannya selalu dari sisi yang beragam.
5. Selalu berorientasi pada praktek-praktek yang terjadi di kelas. Setinggi apapun teori yang ia dapatkan, ia akan berpikir cara terbaik untuk menerapkannya di kelas. Ia adalah seorang pembelajar yang haus pengetahuan sekaligus gemar mencoba hal baru dan menempatkan pertemuan dengan sesama guru sebagai sarana tukar pendapat akan hal atau startegi yang baru.

6. Ada guru baru? Ia tidak segan menjadi kawan belajar dan berperan sebagai mentor. Sekolah yang didalamnya guru baru mempunyai mentor akan menjelma menjadi sekolah yang bernuansa komunitas, setara dalam satu tujuan yaitu mendidik. Tentunya peran sebagai mentor mesti datang dari kepala sekolah .

Resep memotivasi dan mengelola guru senior. 

Guru senior adalah ukuran kriteria bagi guru yang sudah lebih dari 15 tahun mengajar atau bahkan lebih. Dengan pengalaman yang banyak mestinya sosok guru senior bisa menjadi motor perubahan. 
Ada dua jenis guru senior:

1. Ada guru senior yang hebat dan menginspirasi dengan pemikirannya yang terbuka dan pengalamannya yang banyak bisa membuat sesama guru terpacu dan makin mencintai dunia pendidikan. 

2. Guru senior yang selalu berucap ‘buat apa saya belajar dan bekerja keras dalam mengajar toh saya sudah mau pensiun’ atau ‘belajar kembali hanya untuk guru yunior saja’

Beberapa kesalahan sekolah sebagai lembaga terhadap pengelolaan guru senior ini antara lain:

1. Mengangkat mereka sebagai pemimpin hanya karena lama pengalaman bekerja atau senioritas tanpa melihat profesionalitas dan kemampuan.

2. Membiarkan mereka menjadi ‘racun’ bagi guru lainnya dengan perkataan negatif dan omongan di belakang terhadap sekolah. 

3. Mengangkat pemimpin yang tidak bisa atau segan untuk menegur jika guru senior ada kesalahan.

4. Mengirim guru guru senior ke pelatihan atau seminar, tanpa pernah menagih mereka untuk berbagi kepada guru lainnya.

Untuk itu sekolah perlu melakukan hal berikut agar guru senior tetap bisa menjadi agen perubahan

1. Membuat sistem standar sikap sebagai guru profesional. Semacam peraturan (kode etik) yang mengatur bagaimana seorang guru (senior dan yunior) mesti bersikap.

2. Memasangkan guru senior dan guru yunior dalam satu tim agar terjadi alih pengetahuan.


3. Kepala sekolah tampil sebagai sosok yang menghormati guru senior sekaligus tegas dan bersedia membantu terhadap hal yang menjadi kekurangan sikap atau pembawaan dalam guru senior bekerja.

4. Memberikan ‘panggung’ pada guru senior untuk berkiprah dan memimpin dalam event dan kesempatan tertentu di sekolah.

Jika masih terjadi juga hal-hal yang merusak hubungan kerja atau nuansa pekerjaan karena sikap dari guru senior ini, sekolah bisa melakukan:

1. Menawarkan mereka pensiun dini, sekolah bisa lakukan dengan setengah memaksa, dengan alasan sudah tidak ada lagi posisi untuk mereka.

2. Tidak memberikan posisi untuk mereka di awal tahun ajaran sampai sikap mereka berubah dan mau bekerja sama.

Tentunya tahap diatas adalah tahap dimana kondisi sudah sedemikian tidak konstruktifnya. Sekolah perlu menyimpan semua bukti atau saksi dengan demikian sekolah tetap bisa adil dalam mengelola guru senior sekaligus tetap menghargai sumbangsih yang sudah guru senior berikan terhadap sekolah. 

Dengan demikian sekolah tetap punya atmosfir suasana kerja yang sehat dimana guru yunior dan senior saling bahu membahu bekerja demi siswa.