6 sosok guru pemimpin

Sebuah sekolah jika dikelola dengan baik akan melahirkan guru pemimpin. Sebenarnya mesti ada berapa pemimpin di sebuah sekolah? Jawabannya sebenarnya jelas, makin banyak makin baik. Kalau dahulu pemimpin diibaratkan konduktor di sebuah orkestra maka sekarang ini seorang pemimpin di sekolah mesti menjadi seorang pemain jazz. Perhatikan seorang pemain jazz, ada waktunya ia akan mempersilahkan pemain lainnya untuk tampil mendominasi untuk kemudian sama sama lagi berharmoni membuat keselarasan dalam komposisi musik.

Sekolah yang membiarkan anggotanya memimpin di saat saat tertentu akan menjadi sekolah yang baik sehat dan membuat anggotanya muncul potensinya. Lalu apa fungsi seorang kepala sekolah, mengibaratkan permainan sepak bola fungsinya lebih pada menjadi penjaga gawang, kapten, wasit, pelatih dan penonton fanatik yang setia. Kesemuanya menyesuaikan keadaan dan situasi dilapangan. Pemimpin yang punya gaya kepimpinan yang menyesuaikan dengan keadaan.

Lalu apa saja ciri yang mesti ada pada seorang guru pemimpin.
1. Selalu mengosongkan gelasnya saat bertemu orang lain atau selalu bersedia belajar kembali. Saat yang sama ia menyediakan dirinya untuk ditugaskan sebagai seorang fasilitator yang mengarahkan pembelajaran rekan-rekannya sesama guru. Dalam suasana pelatihan dan dalam suasana rapat santai yang membahas mengenai sebuah hal yang bersifat profesional pendidik sebagai guru
2. Sosok yang menyenangkan diajak kerja sama, tidak mau menang sendiri dan senang berada dibalik kesuksesan rekan sesama guru. Kerja samanya luas dari sesama guru satu bidang studi sampai sesama guru satu sekolah yang mengajar bidang lain bahkan dengan guru dari sekolah lain yang ia kenal di media sosial.
3. Selalu ingat dimanapun ia berada orang akan menyorotnya sebagai guru. Dengan demikian ia waspada dan berpikir sebelum bertindak
4. Menjadi orang yang berkenan jika dimintakan pendapat, pengetahuan atau bahkan contoh-contoh dokumen dan alamat situs yang berhubungan. Guru seperti ini menjadi tempat bagi rekan lainnya bertanya dan meminta pertimbangan. Ia seorang yang senang berbagi strategi pembelajaran bahkan berbagi. Menguasai kurikulum dengan segala perkembangannya, tidak heran pertimbangannya selalu dari sisi yang beragam.
5. Selalu berorientasi pada praktek-praktek yang terjadi di kelas. Setinggi apapun teori yang ia dapatkan, ia akan berpikir cara terbaik untuk menerapkannya di kelas. Ia adalah seorang pembelajar yang haus pengetahuan sekaligus gemar mencoba hal baru dan menempatkan pertemuan dengan sesama guru sebagai sarana tukar pendapat akan hal atau startegi yang baru.

6. Ada guru baru? Ia tidak segan menjadi kawan belajar dan berperan sebagai mentor. Sekolah yang didalamnya guru baru mempunyai mentor akan menjelma menjadi sekolah yang bernuansa komunitas, setara dalam satu tujuan yaitu mendidik. Tentunya peran sebagai mentor mesti datang dari kepala sekolah .

4 langkah mudah jika seorang guru ingin jadi pembicara

Pernah mendengar istilah jagoan atau macan di kandang sendiri? Istilah diatas merujuk pada individu yang hanya sibuk berkarya dan jadi orang yang tenar, ngetop atau ahli di lingkungannya (di yayasan atau sekolahnya sendiri). Apakah hal itu salah? Tidak juga, semua orang punya pilihannya sendiri. Namun lain cerita jika kita sudah bicara mengenai kontribusi atau sumbangan apa yang sudah kita berikan pada masyarakat.

Sebagai contoh, ada seorang guru yang bekerja lebih dari 10 tahun di sekolah yang bagus dan mahal. Berbagai pelatihan dalam dan luar negeri telah diikutinya. Ilmunya mumpuni banyak dan canggih. Teori pendidikannya terkini dan tahu perkembangan terbaru. Cara mengajarnya mantap dan bisa dicontoh. Di sekolahnya tempat ia mengajar namanya kokoh berkibar. Kalau orang sebut namanya di sekolahnya sendiri, orang akan jeri, takut dan segan. Karena ia orang lama, senior dan tegas dan keras kepada sesama guru di lingkungan sekolahnya sendiri. Bahkan kepala sekolah pun segan, maklum kepala sekolah kalah senior. Tahun ke tahun pekerjaannya menjadi rutin bahkan bisa dilaksanakan tanpa pikiran dan usaha yang keras.

Jika anda masuk atau hampir mirip dengan kriteria ilustrasi diatas. mari kembali ke soal kontribusi setiap individu kepada masyarakat dan negaranya. Bayangkan jika rekan guru yang menjadi ilustrasi diatas bersedia berbagi pengetahuan, keterampilan dan inspirasi dengan sesama guru. Sebuah hal yang sebenarnya semua orang bisa lakukan karena mudah dan ‘rewarding’.
Baca lebih lanjut

5 strategi mengubah budaya di sekolah

IMG_9795

School’s Culture.
Aschool’s culture can be defined as the traditions, beliefs, policies, and norms within a school that can be shaped, enhanced, and maintained through the school’s principal and teacher-leaders (Short & Greer, 1997).

Pengertian diatas merujuk pada situasi dimana nilai-nilai yang dianut sekolah berpengaruh dominan pada komunitas didalamnya. Sekolah mesti punya target budaya yang ingin dicapai dikarenakan aspek tata tingkah laku itulah yang kemudian akan melejitkan potensi individu yang ada di sekolah. kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan berperan dalam penerapannya.

Tentunya anda yg tahu apakah budaya di sekolah anda sudah cukup baik, sedang atau malah memprihatinkan. Sebenarnya di sekolah ukurannya jelas yaitu
Kebersihan, keamanan dan kenyamanan, kesemarakkan dan produktivitas.
Jika empat faktor diatas sudah ada, sekolah sudah bisa dikatakan ‘berbudaya’.

Bagaimana jika ternyata anda rasakan sekolah anda belum cukup berbudaya. Berikut ini adalah caranya

1. Perbanyak poster tulisan di sekolah yang menyuarakan budaya yang positif. Kalau mau gunakan bahasa Inggris mesti hati-hati ya, khawatir malah salah atau lucu dibacanya.

2. Kelola bagian kerumah tanggan sekolah dengan baik (kebersihan, keamanan dan kantin). Mereka pegang posisi kunci dalam hal kebersihan.
Tanamkan pada guru dan murid prinsip LISA (Lihat Sampah Ambil)
Baca lebih lanjut

6 cara memajukan sekolah swasta

IMG_9465

Ukuran keberhasilan sekolah swasta adalah diraihnya kepercayaan masyarakat. Sekolah swasta berbeda ‘alam’ dan suasana dengan sekolah negeri. Sekolah swasta punya banyak tantangan dalam upaya pengembangan dan meraih kepercayaan masyarakat.

Banyak cara untuk meraih kepercayaan masyarakat. Cara yang paling mudah adalah dengan promosi besar-besaran atau minta di ‘endorse’ oleh tokoh pendidikan terkenal. Apalagi jika sekolah ada dana, boleh saja sekolah terus membangun agar masyarakat percaya.

Cara tadi boleh boleh saja, dan ada lagi cara yang lebih tahan lama untuk memajukan sekolah sekaligus meraih kepercayaan masyarakat. Tulisan ini akan membahas mengenai cara tahan lama untuk memajukan sekolah swasta.

IMG_9006

1. Sekolah mesti niatkan untuk punya brand.
Memang tidak main-main, dan mesti dirintis secara bersama-sama tanpa menunggu ini dan itu. Secara singkat pengertian brand bagi sebuah sekolah adalah sebuah hal atau ingatan yang melekat dari masyarakat mengenai sebuah sekolah swasta. Bisa dari seragam yang dirancang dengan baik, warna gedung dan logo yang unik, sampai ke mutu lulusan yang dihasilkan.

2. Sekolah fokus untuk meningkatkan standar akademis.
Sebuah sekolah terasa kemajuannya jika punya standar akademis yang dirumuskan bersama. Banyak sekolah yang terjebak ingin meniru keberhasilan sekolah lain dalam memajukan sekolahnya. Misalnya meniru sekolah lain yang unggul prestasi akademisnya padahal input siswa di sekolahnya adalah anak-anak yang justru jiwa seninya baik sekali. Jadi soal akademis, sekolah mesti sabar dan memulai semuanya dari kondisi input siswa yang ada di sekolahnya.
Baca lebih lanjut

Guru melek IT sadar profesi.

IMG_8850

IMG_9448

Bukan merupakan hal yang wah saat ini melihat seorang guru mengoperasikan laptop atau melihatnya aktif di media sosial. Dua buah hal yang saat ini menjadi hal yang wajar mengingat kemajuan teknologi. Profesi guru saat ini sadar atau tidak sadar ada di persimpangan jalan. Sebagai sumber pengetahuan perannya disaingi oleh mesin pencari informasi di internet yang akan memberikan informasi apa saja dalam hitungan detik dan bahkan bisa menawarkan alternatif ilmu pengetahuan lewat tayangan gambar bergerak dan lain sebagainya.

Tulisan ini bukan untuk guru yang defensif jika berbicara soal IT sambil keluh kesah soal listrik dan lain sebagainya yang belum menjangkau sekolahnya. Sebagai guru selalu ada hal yang berada di luar jangkauan kita. Soal kemajuan yang jadi tanggung jawab pemerintah misalnya. Sayang sekali jika kita memilih untuk marah besar pada keadaan dan mengkritik dengan pedas kepada orang yang mengabarkan tentang kemajuan dan hal apa yang bisa dilakukan lebih kepada muridnya sebagai orang yang akan menjadi pemimpin masa depan.

Jika diam saja terhadap perkembangan IT, guru akan terlena dan akan terlihat seperti mendiamkan saja potensi yang sangat besar yang bisa dimanfaatkannya untuk bisa lebih memperlancar tugas dan dedikasinya sebagai guru. Potensi yang saya maksud adalah.

1. Jika seorang guru sadar IT maka, ia mengerti sekali tidak akan berlomba dalam bidang skil dengan muridnya karena pasti kalah jauh, ia akan lebih mengedepankan bagaimana mengajari dan memberi contoh muridnya tentang etika di dunia maya.

2. Jika seorang guru sadar IT maka semua muridnya akan punya kesempatan berbicara dan curah pendapat. Seorang anak pendiam dan tertutup pun akan jadi ekspresif dan terbuka jika sudah menggunakan teknologi.
Baca lebih lanjut

Strategi pengelolaan dana kegiatan acara di sekolah.

IMG_9003

Sekolah punya banyak kegiatan dalam setahun ajaran. Dari perayaan sampai peringatan. Dari rapat sampai seminar. Kesemuanya perlu perencanaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan dan penggunaan anggaran.

Dalam setahun ajaran sebuah sekolah yang efektif akan punya banyak acara. Saatnya sekolah melakukannya dengan efektif agar dana yang sekolah kelola tidak habis di tengah tahun ajaran.

Cara yang bisa dilakukan sekolah dalam melakukan perencanaan anggaran yang berkaitan dengan penyelenggaraan event adalah:

1. Membentuk komite IPA, IPS, Matematika, Bahasa dan Agama minta mereka bertemu sebelum bulan Februari tiap tahun ajaran untuk merencanakan acara di tahun ajaran depannya. Selain itu Komite juga memutuskan media pembelajaran apa yang akan dibeli. Acara yang bisa dilaksanakan misalnya perayaan agama, lomba atau event lain yang menyemarakkan sekolah.

2. Sekolah melakukan keputusan di bulan Mei, dalam menganalisa setiap rangkaian acara yang akan diadakan oleh tiap komite, disetujui atau tidak. Komite sudah memastikan di cawu berapa acara dilaksanakan.
Baca lebih lanjut

4 Pertimbangan bagi sekolah dalam menentukan tema dan program pelatihan bagi guru-gurunya

IMG_9443

Kebutuhan akan pelatihan atau tambahan semangat bagi guru di sebuah sekolah biasanya datang saat awal pergantian tahun ajaran, di tengah tahun atau di pergantian cawu.
Tulisan ini akan membantu para pengelola sekolah dan yayasan atau kepala sekolah dalam merencanakan kebutuhan pelatihan bagi guru di sekolahnya.
Beberapa kesalahan yang biasa terjadi saat proses ini adalah
1. Sekolah asal menentukan tema tanpa perencanaan dan riset yang mendalam. Akibatnya guru kurang merasa terlibat atau memerlukan tema yang diberikan.
2. Sekolah asal mencari pembicara yang terkenal. Pembicara yang sering ada di TV atau di surat kabar mungkin bagus dalam soal wacana namun lemah dalam implementasi. Ia hanya tahu konsep tapi tidak tahu bagaimana cara penerapan dan belum pernah ‘berkeringat’ di kelas sebagai guru. Di lapangan guru perlu implementasi atau program yang aplikatif sehingga memudahkan pelaksanaan proses belajar mengajar yang ia lakukan.

IMG_9380
Baca lebih lanjut