5 Tipe guru yang akan diingat oleh siswa

Ada berita baik di minggu ini. Isinya bahwa jika semua guru sudah selesai di vaksin maka pembelajaran tatap muka akan dilaksanakan di bulan Juli tahun ini. Aamin

Menarik jika kita rasakan bahwa kita semua sudah cukup kuat melalui situasi unik selama setahun ini sampai sampai ada istilah guru dan siswa angkatan corona. Bagaimana anda para guru angkatan corona? Tentunya kita semua tersenyum pahit ketika mendengar istilah tersebut. Nah mari kita berefleksi sambil belajar bagaimana agar anda diingat yang baik baik nya saja oleh siswa siswi kita.

  1. Anda adalah guru yang membuka kesempatan siswa untuk mengekspresikan hasil pembelajaran dan pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran dengan cara yang beragam.
  2. Anda adalah guru yang sadar bahwa siswanya perlu punya portfolio digital dikarenakan dengan situasi saat ini pasti banyak hasil karya mereka
  3. Anda memvariasikan pembelajaran dengan menghadirkan pengalaman belajar yang unik walaupun dengan situasi online dengan cara virtual fieldtrip dan menghadirkan narasumber tamu agar situasi lebih menarik untuk siswa siswinya.
  4. Anda mengajarkan bagaimana berhati hati di internet dengan anda berusaha menjadi contoh bagaimana berinternet sehat
  5. Anda berani menyampaikan bahwa dalam situasi ini anda pun masih belajar dan mengakui bisa saja murid lebih ahli.

Semua profil guru diatas hanya bisa dilakukan saat guru mempunyai mental yang bertumbuh dan positif. Caranya bagaimana?

1. Sadar bahwa situasi saat ini sangat menantang dan bukannya anda pasrah namun memilih untuk belajar walaupun pelan namun dengan tujuan dan arah yang benar.

2. Jika menemui kesulitan hal yang anda lakukan adalah ambil napas dan tenangkan diri dan lanjut teruskan proses.

3. Selalu punya rasa percaya diri. Jika seorang guru punya kepercayaan diri dengan melihat youtube pun ia bisa belajar hal yang baru bagi kelasnya.

Seorang guru untuk bisa sukses melalui sebuah perubahan cara terbaiknya adalah dengan beradaptasi. Dengan cara beradaptasi atau menyesuaikan diri maka guru tidak memposisikan diri harus ini dan itu sampai membuat dirinya tertekan. Ia hanya perlu mengubah sedikit demi sedikit cara ia berkomunikasi dan menghantarkan ilmu.

‘Slow growth’ atau pertumbuhan yang perlahan itu sehat bagi fisik dan mental guru. Asal saja arahnya benar yaitu mengutamakan siswa dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

5 Transformasi Pendidikan Pasca Pandemi

Saat Maret 2020 sekolah diputuskan untuk ditutup, tidak ada sekolah yang siap memasuki masa pandemi. Hampir semua pihak yang peduli pendidikan hanya berharap situasi akan segera pulih. Sampai akhirnya semua sadar bahwa sekolah sampai hari ini tetap belum bisa dilangsungkan dalam format tatap muka.

Jika sekolah dibuka kembali bagaimana kira kira format penyelenggaraan pendidikan yang cocok pasca pandemi? Perlahan namun pasti sekolah dipaksa oleh keadaan untuk mempertanyakan praktek praktek pendidikan yang sudah terjadi selama ini. Saat yang sama sekolah diminta mengembangkan strategi sistem pendidikan yang lebih baik. Tantangan ini berarti sekolah tidak bisa lagi sekedar mengulang hal hal rutin yang sudah dilakukan sebelum pandemi yang tidak efektif. Sebaliknya jika sekolah tidak bisa mengambil pelajaran dan pengalaman selama pembelajaran saat pandemi maka sekolah melewatkan kesempatan emas untuk bertransformasi.

Sal Khan seorang ahli Pendidikan yang terkenal dengan channel Khan Academy di Youtube pernah mengatakan “Let’s teach for mastery, not test scores,” atau mari kita mengajar siswa agar mereka mengerti dan paham, bukan hanya sekedar bagus dalam nilai ujiannya. Untuk itu Pendidikan pasca pandemi perlu mempertimbangkan beberapa hal.

  1. Waktu yang fleksibel (pengaturan waktu ini yang memungkinkan siswa dan guru tetap sehat). Artinya pengaturan waktu perlu dilakukan dengan cara guru focus pada individu dan pengunaan kelas virtual yang memungkinkan waktu konsultasi lewat virtual melengkapi kelas tatap muka. Dengan metode Hybrid Learning atau pembelajaran yang menggabungkan tatap muka dan kelas virtual maka pembelajaran tidak berhenti saat sekolah selesai di akhir hari. Pembelajaran akan dilakukan dengan cara yang lebih fleksibel dan tetap berkualitas karena ad akelas virtual yang bisa diakses kapan saja (24/7) dan dimana saja.
  2. Pembelajaran yang berpusat pada siswa. Suasana pendemi mengajarkan kita semua bahwa dukungan orang tua sangatlah penting dalam keberhasilan siswa. Ada juga siswa yang perlu dukungan lebih dari beragam sisi yang sayangnya belum tersedia. Dari situasi pandemic ini sekolah diharapkan untuk bisa membangun sistem Pendidikan yang berpusat pada siswa dengan berbagai macam kemungkinan.  
  3. Peran guru sebagai pendidik. Terasa sekali bahwa saat ini ada pergeseran dengan guru tidak lagi menjadi satu satunya nara sumber di sekolah atau kelas virtual yang ia adakan. Guru juga tidak bisa santai santai lagi dengan mengatakan bahwa tujuannya mendidik dan mengajar agar siswanya bagus dalam nilai atau lulus ujian. Peran guru saat ini adalah seorang desainer seorang perancang yang menyediakan sumber daya (resources) dan panduan pada siswanya agar siswa bisa belajar dengan cara yang baru dan sumber yang beragam.
  4. Pengembangan kurikulum. Buku teks memang banyak menyediakan sumber dan isi pembelajaran. Saatnya guru tidak hanya bergantung pada buku teks saja namun menggabungkan dari banyak sumber. Saatnya guru mempunyai kendali atas kurikulumnya. Dengan informasi (data) yang tersedia di ujung jari kita melalui ponsel cerdas dan layar komputer, pendidikan perlu beralih dari sekedar transmisi informasi ke penguasaan keterampilan, termasuk kemampuan untuk berpikir logis, meneliti dengan cepat dan efisien, dan banyak lagi yang merupakan kebutuhan nyata di masa depan.
  5. Budaya sekolah. Sebuah sekolah yang efektif bisa berjalan dan sukses dengan tidak mengandalkan pada satu orang saja. Sekolah yang baik menumbuhkan pemimpin melalui sistem yang transparan dan selalu diperbaharui. Pandemi ini adalah saatnya sebuah sekolah untuk menguatkan sistem dan memastikan bahwa sistemnya bisa terus menjawab tantangan zaman pasca pandemi. Dengan cara pembelajaran yang berbasis karakter dan melejitkan potensi siswa akademis dan non akademis.

Pandemi memang belum selesai, namun ia memberikan kesempatan langka bagi dunia Pendidikan untuk berpikir Kembali sambil mereposisikan dirinya apakah sudah cukup membekali siswa menghadapi tantangan masa depan. Transformasi Pendidikan menjadi jawaban dari bagaimana sebuah sekolah bisa melewati dengan sukses dunia yang penuh tantangan pasca covid 19.

7 Resep menjadi pemimpin sekolah yang berhasil di masa pembelajaran jarak jauh.

Dalam situasi sekolah sedang mengalami pembelajaran jarak jauh ini ada banyak hal yang mesti dilakukan oleh seorang pemimpin di sekolah. Sekolah mempunyai komunitas pembelajar yang terdiri dari kepala sekolah, guru dan siswa serta orang tua siswa. Saatnya menhadapi semua ini dengan pikiran jernih dan mengutamakan proses belajar mengajar yang bermakna dan memastikan bahwa siswa tetap menjadi subyek pembelajaran.

Berikut ini adalah cara terbaik dalam memastikan kepala sekolah sebagai pemimpin tetap berperan dalam memastikan sekolahnya tetap efektif selama pembelajaran jarak jauh.

  1. Terus perhatikan bagaimana guru dan siswa menyesuaikan diri terhadap situasi terbaru ini. Hindari menerapkan kebijakan yang mendadak dan membuat repot semua orang. Saat anda memperhatikan dan mengikuti dengan seksama pasti ada saja hal yang memerlukan bantuan anda sebagai pimpinan. Entah itu berupa kebijakan atau dukungan yang berarti bagi memaksimalkan kinerja guru dan siswa dalam pembelajaran.
  2. Setelah yakin bahwa ada satu area yang perlu dukungan segera kerjakan dan selesaikan. Minta umpan balik dari semua yang ada di sekolah. Dijamin akan timbul kepuasan dari semua pihak dikarenakan hal yang penting sudah diselesaikan dan bisa beranjak kepada hal lainnya.
  3. Dalam menghadapi situasi baru ini kepala sekolah mesti bersedia belajar dari siapa saja untuk kemudian memastikan dirinya bersedia juga diberikan masukan oleh siapa saja.
  4. Pemimpin yang baik berbicara dengan siapa saja dan mengontak siapa saja. Ia bukan orang yang pilih pilih dalam berbicara dan meminta pendapat mengenai kinerja sekolahnya. Ia senang menemui orang lain dan mengontak orang lain demi kemajuan sekolahnya.
  5. Minimalisir hal negatif. Ia tahu bahwa semua hal yang negative bisa dimulai dan berasal dari aspek komunikasi. Untuk itu pemimpin sekolah yang berhasil tahu mesti menangani masalah komunikasi dengan baik. Dengan cara itu ia bisa meminimalisir hal yang negatif.
  6. Tetap humoris dan menyenangkan. Ia tahu bahwa kesulitan tetap akan terus ada dan bagaimana cara menghadapinya lah hal yang paling penting. Dengan pemimpin terus bisa melihatnya dari sisi yang menyenangkan maka hal itu akan membuat semangat bangkit kembali.
  7. Guru tetap tahu apa yang kepala sekolahnya lakukan. Saat sulit guru akan ingin tahu apa yang pemimpinnya lakukan. Untuk itu penting bagi kepala sekolah untuk terus lakukan tugasnya sebagai pemimpin, mitra bahkan pelayan bagi guru gurunya. Kepala sekolah bisa ada didepan disamping dan dibelakang guru gurunya memastikan semua kebutuhan guru gurunya terpenuhi.

Tentunya semua hal dibawah ini memerlukan seorang individu yang tulus dan jujur bahwa semua yang ia lakukan adalah demi kemajuan Pendidikan di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya. Selamat mengiringi kinerja guru agar lebih baik.

3 tipe rekan anda di ruang guru

Ruang guru sebagai sebuah sarana bertemu akan menjadi gambaran cerminan komunitas yang ada di sekolah kita. Individu yang mengisi ruang guru bisa macam macam sifatnya. Sebagai guru yang ingin maju anda hanya punya sedikit pilihan anda ingin berteman dengan siapa. Pilihlah sesama guru yang positif tentunya. Asal positif saja? Tentu tidak, tulisan ini akan membahas tipe rekan kerja yang positif. Bagaimana dengan rekan kerja yang negatif, biarlah mereka dengan kenegatifan nya, tugas kita sebagai teman hanya mencontohkan yang baik dan mendoakan mereka.

Tipe Pemimpi.

Enaknya jika punya rekan seperti ini adalah ia adalah tipe yang berpikiran positif all the time. Bahkan di setiap waktu. Ada cerita begini:
Ada seorang teman, Pak Bagus namanya.
Keunikannya adalah bahwa ia selalu berkata, “Bagus itu!” untuk segala hal. Di matanya segalanya adalah karunia.
Hujan? “Bagus itu, banyak berkah, saatnya berdoa”
Sakit? “Bagus itu, saatnya untuk beristirahat”
Tidak naik kelas? “Bagus itu, jadi kamu bisa belajar lebih dalam”
Dipecat? “Bagus itu, saatnya belajar sungguh-sungguh menjadi pengusaha”
“Bagus itu.” tak pernah ketinggalan.
Semua “bagus” dan bisa dibantu untuk “lebih bagus lagi.”
Cerita diatas tentu hanya lelucon.
Punya rekan seperti ini semua jawaban seperti sudah bisa ditebak. Itulah sebabnya ia disebut tipe pemimpi karena semua dianggap positif dan semua diibaratkan sebagai cara untuk untuk peningkatan diri. Berteman dengan tipe ini tidak semua orang suka dikarenakan jika dimintakan pendapat hampir pasti jawabannya positif.

Namun jika ingin semangat dan merasa yakin dan optimis pada sebuah masalah dan situasi kepadanyalah anda harus datang. Masalahnya orang ini sering lupa pernah mengatakan apa pada siapa saking seringnya ia memotivasi semua orang. Terbukti jika kita berterima kasih padanya karena ia pernah memotivasi kita saat sedang lemah terpuruk maka ia akan mengatakan, “memang saya pernah ngomong seperti itu ya?”.

Tipe realistis.

Sepintas ia adalah teman yang menyebalkan. Cirinya adalah tidak mudah percaya dan cenderung menghalangi ide kita dengan pertanyaan yang realistis. Maklum saja saat seseorang bermimpi dan ditanya dengan pertanyaan yang realistis menjadi tidak enak rasanya. Seperti ditarik dengan paksa untuk membumi dengan semua impian yang kita punya. Anda beruntung jika punya rekan seperti ini. Ia bukan tipe yang negative.

Ia adalah tipe yang sering mengatakan jalani saja semua. Ia hanya hidup untuk hari ini. Semboyan orang ini adalah ‘Carpe Diem” adalah sebuah frasa dalam bahasa Latin yang artinya adalah: “Petiklah hari.” (Horatius) Kalimat lengkapnya adalah: “carpe diem, quam minimum credula postero” yang berarti: “petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok.

Jika anda adalah tipe guru yang suka mengonsep sesuatu dan punya rencana besar. Pertama tama pergi dan yakinkan orang ini dahulu atau uji ide ide anda dengan pertanyaan yang biasa ia ajukan. Dijamin ide ide inovasi anda jadi membumi, simple dan mudah diikuti dan dilaksanakan. Jika anda masih tergolong pribadi yang sensi sebaiknya batas pergaulan dengan orang ini, karena walaupun yang ia katakan adalah benar jika anda tidak kuat hati rasanya seperti serangan pada pribadi anda.

Tipe pekerja keras.

Ia adalah seseorang yang menghindari drama dalam kehidupannya. Ia bukan tipe yang sensi dan pundung (ngambek). Jika ada pekerjaan di depannya ia akan kerjakan dan selesaikan sampai bersih. Kepadanya kita bisa mencontoh kinerjanya. Ia senang melakukan pekerjaanya bahkan Ketika ia mesti menjalani peran ganda sebagai ibu misalnya. Tidak pernah ia jadikan anak sebagai alasan. Bagi Sebagian orang mutu pekerjaannya kelihatan asal jadi. Apalagi bagi tipe yang perfeksionis. Contoh lah cara ia bekerja ia selalu focus pada satu hal baru berganti pada pekerjaan yang lain jika satu sudah selesai. Jika anda adalah tipe guru yang suka menunda dengan alasan ingin yang terbaik.

Perhatikan cara orang ini bekerja, hanya dengan focus sebentar pekerjaanya selesai. Bagi Sebagin orang yang buruk sangka tipe seperti ini adalah tipe yang mencari muka kepada atasan. Padahal ia hanya focus saja pada pekerjaannya dan menjadikan atasannya tertarik dengan cara ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan benar. Benar tidak harus sempurna, jika ada ide baru maka atasan akan memberikan koreksinya.

Ketiga jenis orang yang sikapnya positif seperti dijelaskan diatas adalah orang orang terbaik yang kita bisa tiru sesuai kebutuhan. Jika ingin pekerjaan kita lekas selesai tirulah si pekerja keras. Jika merasa diri terpuruk minta saran dari si pemimpi. Sementara jika ingin berhasil dengan semua rencana anda, tantang diri anda untuk menempatkan diri di posisi si Realistis. Sangatlah penting seseorang punya orang orang yang positif di sekitar kita. Tanda bahwa kita telah tepat memilih pergaulan dan interaksi sosial. Tetap semangat guru kreatif

Resep agar guru semangat ikut pelatihan online

Dalam situasi pandemi ini banyak sekali kesempatan untuk guru sebagai pendidik untuk bisa belajar kembali. Aneka webinar bersliweran menanti untuk diikuti oleh pendidik. Sekolah pun tidak mau kalah dengan menghadirkan pelatihan bagi guru gurunya. Semua dengan keberkahan dari situasi saat sekarang ini sebuah pelatihan menjadi lazim dilakukan secara online. Dengan demikian meminimalisir biaya pelatihan tatap muka.

Tulisan ini akan membahas bagaimana agar seorang pendidik mampu dan bisa memaksimalkan pelatihan online bagi dirinya.

Jika anda adalah guru

• Jika diadakan oleh pihak luar sekolah cek dahulu judul webinar dan siapa pembicaranya dan Lembaga yang mengadakannya.
• Hindari asal ikut saja dan sedapat mungkin mempersiapkan diri jika ingin sebuah event pelatihan agar maksimal dalam pelaksanaan.
• Usahakan memberikan tanggapan dan bertanya. Dengan mengusahakan bertanya maka sepanjang sesi anda akan konsentrasi.
• Jika pelatihan dilakukan dan diselenggarakan oleh sekolah tempat anda mengajar. Usahakan anda memberikan usul terhadap pemilihan topik.
• Kerjakan tugas pelatihan dengan baik dan upayakan terus untuk membayangkan scenario jika hasil pelatihan ingin diterapkan di kelas anda mengajar. Sehingga anda konsentrasi dalam mengerjakan dan kritis bertanya.
• Jika ada hal yang asing dan belum tahu atau belum menguasai segera cari tutorial nya di youtube. Dijamin anda akan cepat bisa dan tidak ketinggalan materi.

Jika anda adalah kepala sekolah

• Monitor terus webinar yang menarik yang beredar di media sosial anda. Jika temanya menarik dan aplikatif pastikan keikutsertaan guru anda dengan menunjuk siapa guru yang akan ikut.
• Hindari memilih tema yang berbau wacana atau trend. Tema tersebut kurang tepat diikuti guru. Guru memerlukan topik yang aplikatif dan mudah serta membantu pembelajaran di kelas yang mereka ajar sekarang ini.
• Jika ingin mengundang pembicara, pastikan memilih pembicara yang menguasai perubahan paradigma, tahu cara melakukan coaching dan mentoring kepada guru dan berorientasi pada produk yang guru akan hasilkan di kelas yang ia fasilitasi. Hindari mencari pembicara yang hanya ahli berwacana namun tidak membekali guru dengan tips dan trik.

Jika anda adalah seorang fasilitator pelatihan

• Saat ini guru perlu tips dan trik yang praktis jadi simpan semua wacana tentang Pendidikan untuk dikeluarkan sedikit demi sedikit saja saat anda sedang memberikan pelatihan
• Guru perlu cara yang aplikatif dalam melewati situasi yang tidak mengenakkan dalam pembelajaran jarak jauh, semakin anda punya banyak resep jitu anda akan makin diminati.
• Bagi komposisi pelatihan anda menjadi 10 – 80 – 10 artinya 10 persen wacana atau teori, 80 persen praktek dan 10 persen kuis serta test formatif. Dijamin guru akan bersemangat.
• 3 jam adalah waktu paling lama guru bisa konsen dalam sebuah pelatihan.

Semua resep diatas hanya akan berhasil jika guru bersedia mengosongkan gelasnya terlebih dahulu alias memposisikan dirinya sebagai pembelajar. Mari kita maknai situasi pembelajaran jarak jauh ini dengan guru selalu meningkatkan diri dan belajar yang terbaik dari mana saja dengan cara apa saja.

Guru jika ingin membuat perubahan, mesti mulai dari mana?

Perubahan adalah hal yang pasti dan akan terjadi terus menerus. Untuk itu seorang guru hanya punya dua pilihan menjadi pelaku perubahan atau tergilas oleh perubahan. Untuk menjadi pelaku perubahan pun seorang guru pertama tama perlu melakukan dahulu perubahan pada dirinya sendiri. Dikarenakan hanya dengan cara itulah seorang guru bisa menjadi pelaku perubahan.

Apa perubahan yang paling mudah dan bisa dilakukan oleh seorang guru?

  1. Merubah mindset

Mindset adalah pola pikir yang menentukan Langkah dan gerak seseorang dalam menjalani profesinya. Pola pikir apa saja yang layak dan pantas untuk diubah agar seorang guru bisa melakukan perubahan?

  • Bahwa bakat adalah segalanya. Ternyata terbukti bakat memang penting namun lebih penting adalah usaha. Bakat 5 persen dan usaha 95 persen proporsinya dalam menentukan keberhasilan.
  • Cara memandang kegagalan. Sebuah kegagalan bukan aib ia adalah cara dunia mempersiapkan seseorang untuk bisa sukses di Langkah berikutnya. Ada pepatah Jepang yang mengatakan gagal lah 8 kali namun bangkit lah 10 kali.
  • Kritik adalah celaan. Cuma seseorang yang tidak ingin maju yang memandang sebuah kritikan adalah serangan buat dirinya. Memang tidak enak dikritik namun jika itu jangan ambil hati teruslah berbuat yang terbaik dengan memanfaatkan kritik tsb untuk kemajuan.

2. Cara berdialog dengan diri sendiri

Seseorang tidak akan maju jika didalam dirinya ada sosok yang kejam dan gemar memarahi dirinya sendiri saat ia gagal atau lakukan kesalahan. Orang lain bahkan sudah lupa apa kegagalan kita namun jika didalam diri anda ada sosok yang kejam maka sosok tersebut akan mencela dan menyalahkan anda terus menerus. Jika ingin maju ubahlah cara anda berdialog dengan diri sendiri. Belajar mengatakan hal dibawah ini pada diri sendiri saat anda gagal dan temui kegagalan atau kesulitan.

  • Saya berani hadapi perubahan ini
  • Saya berani keluar dari zona nyaman
  • Kegagalan membuat saya bertumbuh
  • Saya akan coba strategi baru
  • Silakan kritik dan berikan masukan pada saya
  • Semua proses menuju hal yang baik memerlukan waktu dan perjalanan
  • Apa yang bisa saya pelajari dari kegagalan ini, saya orang yang berpikiran terbuka
  • Tujuan saya adalah belajar dan bukan sekedar keberhasilan
  • Kesalahan membuat saya matang
  • Kegagalan membuat saya punya kesempatan mencoba hal baru
  • Kesuksesan orang lain membuat saya terpacu untuk sukses
  • Sah sah saja mengambil resiko

3. Cara memandang dan melihat siswa sebagai orang yang kita ajar

Cara guru memandang siswanya akan menentukan mutu pembelajarannya. Jika guru memandang siswanya tidak tahu apa apa maka guru akan cenderung menerangkan materi saja tanpa mau tahu kapasitas siswa yang diajarnya. Bagaikan mengisi gelas kosong yang rawan sekali untuk tumpah. Itulah analogi Ketika guru sibuk saja mengisi tanpa berpikir cara bagaimana siswanya menelaah pengetahuan yang ia berikan. Jika guru ingin membuat perubahan pada siswanya. Berikut ini adalah caranya

  • Peduli lah pada siapa yang anda ajar dan bukan sekedar anda ingin mengajar apa
  • Mengajar adalah proses dimana guru berusaha keras membuat siswa mau bersuara dan menyatakan perasaannya. Jika siswa belum terfasilitasi dua hal tersebut maka anda belum mendidik siswa dengan baik.
  • Siswa tidak perlu guru yang hebat dan sempurna. Murid lebih memerlukan guru yang membuat mereka antusias dan mau belajar. Membuat siswa nyaman perasaannya dan semangat untuk datang ke sekolah.
  • Hal apa yang perlu terus saya lakukan dan usahakan agar siswa saya menjadi pembelajar yang mandiri.

3 hal diatas semakin meneguhkan bahwa sosok guru hadir bukan sekedar untuk mengajar. Ia datang untuk menginspirasi. Untuk mengubah sosok pribadi yang bernama siswa. Terima kasih bagi semua guru yang telah bersedia untuk selalu mencoba mencari jalan keluar walau sering merasa bahwa yang diusahakannya adalah tidak mungkin. Namun mereka menolak menyerah dan terus berusaha. Sekali lagi terima kasih sudah memilih untuk menjadi guru yang tetap mencoba yang terbaik bagi siswanya.

4 cara membuat siswa punya motivasi dalam pembelajaran jarak jauh

Di tingkat SMP dan SMA dalam pembelajaran jarak jauh guru sering mengeluh bahwa siswanya diam saja selama pembelajaran. Mengapa hal ini terjadi? ada banyak alasan yang mendasari situsi ini.

  1. Intruksi dan pertanyaan anda tidak jelas. Daripada mendadak menanyakan pada siswa “siapa yang mau bertanya”. Lebih baik sampaikan seperti ini “Sebentar lagi, saya akan mengajukan pertanyaan. Mohon kalian berpikir dengan tenang tentang jawaban yang kira kira kalian miliki. Kemudian saya akan meminta tiga sukarelawan untuk membagikan jawabannya kepada kelompok.” Dengan gaya bertanya seperti itu maka mental siswa akan lebih siap dan akan lebih banyak siswa yang bersedia berpartisipasi.
  2. Standar guru masih sama seperti pada saat pembelajaran tatap muka. Banyak guru yang merasa bahwa pembelajaran jarak jauh akan mengaktifkan siswa. Dikarenakan situasi yang baru dan menggunakan teknologi yang dirasa akan akan mengaktifkan siswa. Namun kenyataannya tidak dikarenakan pada siswa timbul kebosanan. Maka salah satu solusi agar siswa aktif adalah melakukan think pair share. Caranya adalah guru memberikan pertanyaan kepada siswa dan meminta mereka berpikir kemudian mengupload di Google Docs jawabannya dengan cara mengetik atau merekam suara mereka. Kemudian guru meminta sukarelawan siswa berbagi dengan semua anggota kelas.
  3. Guru belum mengoptimalkan tools (perangkat) pada media pembelajaran jarak jauh. Zoom dan Google Meet keduanya punya perangkat seperti chat, gambar tangan, stiker dan lain lain yang bisa digunakan sebagai alat untuk meminta siswa menjawab pertanyaan. Cukup meminta siswa menjawab dengan stiker atau gambar tangan yang menunjukkan bahwa mereka masih aktif dan mengikuti pelajaran. Dengan fasilitas chat guru juga bisa memberikan pertanyaan kemudian siswa memberikan reaksi dengan cara menulis B (Benar), S (Salah) atau SS (sangat setuju), STS (sangat tidak setuju) dan lain sebagainya.
  4. Guru membagikan semua materi disaat yang sama pada saat pembelajaran berlangsung. Alih alih siswa akan aktif yang ada siswa akan merasa tidak bisa mengikuti dan berujung pada sikap mereka yang pasif. Untuk mengatasi ini guru bisa merekam dirinya dalam menjelaskan sebuah konsep atau pembelajaran. Guru kemudian membagikan sebelum pelajaran dilakukan dan memberikan kesempatan agar siswa melihat dan mencermati. Guru juga bisa meminta mereka menjawab pertanyaan yang singkat dan pasti mereka bisa jawab. Saat pelajaran dimulai guru bisa membahasnya sedikit dan meminta beberapa perwakilan siswa berikan tanggapan. Dengan demikian siswa akan aktif selama pembelajaran dikarenakan mereka merasa siap dengan jawaban.

Guru akhirnya akan diminta untuk terus menyesuaikan diri dan sedikit mengubah cara dengan tetap memperhatikan tanggapan siswa untuk kemudian terus mencoba mana cara yang efektif. Tujuannya agar jangan lagi guru hanya berceramah dan siswa mendengarkan namun kelas akan terasa hidup dikarenakan ada ‘percakapan’ yang berkualitas antara guru dan siswa serta siswa dan siswa. Siswa yang aktif bukan menjadi tujuan. Tugas guru adalah mencari sebanyak banyak nya metode agar siswa senang terlibat dengan sukarela dan tidak ada paksaan.

Bahasa guru mempengaruhi kinerja siswa

Menjadi guru berarti menjadi panutan dalam bersikap dan berkata-kata. Sebuah kata lahir dari pikiran yang ada pada seseorang. Sebuah pikiran lahir dari cara pandang. Sementara jika cara pandangnya ingin benar maka mindset nya juga mesti benar. Mindset guru adalah bagaimana dirinya menjadi sosok yang menstimulasi siswanya.

The mediocre teacher tells,
Good teacher explains,
Superior teacher demonstrates,
Great teacher inspires.

Guru yang biasa-biasa saja hanya berkata kata saja,
Guru yang baik menjelaskan,
Guru yang unggul mendemonstrasikan,
Guru yang hebat menginspirasi.

Anda ingin jadi guru yang memberi inspirasi? pasti bisa caranya adalah dengan ubah cara anda berkata kata dan berkomunikasi agar kata kata anda bisa menginspirasi. Tentunya sebagai guru anda ingin kelas yang aktif dan siswa yang tinggi motivasi belajarnya. Berikut ini adalah cara agar kata kata anda bisa menginspirasi siswa anda.

  1. Daripada: “Saya ingin kalian bertanya tentang materi ini”. Lebih baik: “Kelas kita akan makin seru jika kalian bersedia berbagi ide, tanggapan atau pertanyaan, silakan”.

2. Daripada: Berkata “Terima kasih ya kamu sudah mau bertanya dan memberikan tanggapan. Lalu meneruskan dengan kata kata, “Ayo siapa lagi yang mau berikan pertanyaan?” Lebih baik: Guru bersikap menjadi pendengar yang baik dan di akhir pemaparan siswa ia berterima kasih dan meminta siswa menunjuk rekannya agar memberikan pendapat.

3. Daripada: Guru mengatakan: “Oke berikan saya pertanyaan yang bagus mengenai materi ini” Lebih baik mengatakan “ayo siapa yang punya tanggapan atau pertanyaan untuk dibagikan?”

4. Daripada: Guru mengatakan “Anak anak saya berharap kalian semua kerjakan …”, Lebih baik: Guru ucapkan “Tantangan kalian berikutnya adalah …”

5. Daripada: Guru berkata “Saya ingin kalian…”, Lebih baik: Guru mengatakan “Apa tujuanmu …”

6. Daripada guru mengatakan “Ini tiga hal yang harus kalian lakukan …”, Lebih baik “Anak anak berikut ini tiga hal yang kalian mesti coba …”

7. Daripada Guru mengatakan “Saya telah membuat beberapa pilihan untuk kalian …”, Lebih baik: “Anak anak kalian memiliki beberapa pilihan untuk kalian pertimbangkan …”

Kita semua ingin siswa kita merasa dirinya dan harga dirinya aman, mampu berkolaborasi dengan baik dengan orang lain, merasa memiliki proses pembelajaran mereka sendiri, dan terlibat dalam pekerjaan mereka dengan gembira. Namun praktek yang guru lakukan di kelas bisa saja malah menjauhkan dari keadaan itu semua. Cara terbaik lepas dari belenggu praktek yang membuat anak menjadi diam saja adalah dengan mengubah cara berbahasa dari berorientasi guru kepada berorientasi kepada siswa. Bahkan intonasi juga memainkan peranan penting. Intinya bagaimana menyuruh siswa tanpa mereka merasa diperintah. Bahasa dan intonasi guru yang membuat kondisi siswa merasa senang berkata kata dan aktif di kelas yang kita ajar.

4 Hikmah yang bisa guru ambil dari situasi mengajar di era pandemi

Menjadi guru di era saat ini sangat menantang dan berbeda dengan era sebelumnya. Saat sekolah mulai menggunakan metode pembelajaran jarak jauh tidak ada pendidik yang menyangka akan sepanjang ini waktu mereka harus melakukan metode ini sampai ke semester 2

Hal ini membuat semua pendidik berusaha mereposisikan dirinya dengan situasi dimana pembelajaran tatap belum boleh dilakukan dan guru mesti belajar hal hal baru agar tugasnya lancar. Lantas apa yang mesti guru lakukan ditengah situasi ini?

  1. Menganggap situasi ini adalah sebuah ‘lari marathon’ yang memerlukan nafas panjang dikarenakan jarak yang panjang. Just do your best semampunya dan sedapatnya.
  2. Punya waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Menjadi pendidik rawan sekali untuk terbawa urusan pekerjaann kedalam urusan sehari hari.
  3. Ingat terus bahwa mendidik adalah sebuah proses relasi antar guru dan murid. Dengan demikian semua metode, pendekatan serta strategi akan mengikuti dan sukses dilaksanakan jika relasi sudah terbangun dan positif.
  4. Ambil senangnya saja. Jika harus belajar hal baru ambil keseruannya. Jika ada hal baru yang tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya lihat sisi apa yang bisa diambil sebagai area peningkatan diri terus menerus.

Silakan menjadi guru yang memaknai semua dengan baik dan sukses dalam menjalani keseharian menjadi guru dengan situasi yang tidak biasa ini

10 Pondasi keberhasilan dalam pembelajaran jarak jauh

Memulai pembelajaran jarak jauh kembali setelah 6 bulan berlalu adalah sebuah hal yang tidak mudah. Saat semester ganjil hampir semua pendidik berharap bahwa situasi akan membaik di Januari 2021. Saat yang sama semua pemerintahan daerah dan kabupaten akhirnya dengan terpaksa melarang kembali pembelajaran tatap muka. Dikarenakan kesehatan adalah hal yang mesti diutamakan.

Pembelajaran jarak jauh diperkirakan akan semakin menjadi kelaziman sampai 4 tahun kedepan. Dikarenakan situasi yang masih belum memungkinkan. Sebenarnya apa yang mesti dijadikan pondasi agar semua hal yang menjadi akar sumber masalah di semester ganjil kemarin tidak terjadi lagi di semester genap ini.

Ada hal yang mesti disetujui bersama dahulu bahwa sekolah tidak “ditutup” di tengah lonjakan virus Corona yang melanda hampir setahun ini. Sekolah tetap buka hanya saja menggunakan dunia maya sebagai sarana interaksi. Ucapan terima kasih bagi semua guru yang bekerja tanpa lelah untuk mewujudkan pembelajaran jarak jauh. Sekolah adalah sebuah bentuk relasi atau hubungan antara guru dan murid, murid dan murid.

Hanya seorang guru yang sadar bahwa sebuah relasi adalah pondasi dari sebuah interaksi pembelajaran baik itu tatap muka maupun virtual yang akan berhasil melewati situasi sulit ini. Sebenarnya seperti apa relasi (hubungan) yang dianjurkan untuk terjadi selama pembelajaran jarak jauh ini. Jika pada saat pembelajaran tatap muka seorang guru adalah seorang yang tidak terlalu peduli pada kualitas hubungan guru dan murid maka di situasi pembelajaran jarak jauh ia adalah orang yang paling kerepotan membuat situasi pembelajarannya menjadi kondusif.

Bagaimana relasi, koneksi dan hubungan menjadi penting dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini?

  1. Guru yang hebat memulai semester ini dengan melakukan koneksi dahulu kepada siswanya. Koneksi yang saya maksud adalah guru bersepakat dahulu dengan siswanya mengenai bentuk pembelajaran, mengapa kita perlu belajar ini dan itu. Bagaimana bentuk komunikasi jika siswa ingin bertanya dan guru ingin menilai mereka. Kapan murid bisa bertanya dan dimana saja pembelajaran virtual akan dilakukan. Semua membuat murid tahu bahwa guru ingin menjalin saling pengertian kepada muridnya. Menanamkan bahwa keberhasilan pembelajaran berasal dari dua belah pihak.
  2. Murid sulit untuk belajar dari orang yang ia tidak sukai. Siswa hanya mau belajar pada orang yang peduli pada mereka. Guru yang berhasil dalam pembelajaran jarak jauh ini adalah guru yang melihat siswanya secara individu.
  3. Saatnya guru berpikir apakah saya sudah berusaha yang terbaik untuk siswa saya? Seberapa sering saya menyerah terhadap situasi sulit sekarang ini? Seberapa sering juga saya bangkit, mencari bantuan dan mencoba sendiri di tengah ketidaktahuan akan metoda baru dan keterampilan baru untuk bisa bertahan dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini.
  4. Pendidik yang masih mengeluhkan disiplin siswa dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini mestinya berefleksi dahulu mengenai bagaimana kualitas hubungan dengan siswanya.
  5. Situasi pembelajaran jarak jauh memerlukan guru yang memang berniat memberikan umpan balik kepada siswanya dengan cara yang jernih dan langsung ke pokok permasalahan dikarenakan guru peduli dan ingin siswanya berhasil melalui situasi ini.
  6. Dalam pembelajaran jarak jauh guru bukan sekedar tutor atau fasilitator. Ia adalah seorang perancang (desainer) yang merancang bentuk interaksi, konten dan konteks pembelajaran sampai berpikir bagaimana membuat siswanya bersedia terus ‘terikat’ secara emosional dengan pembelajaran yang ia lakukan.
  7. Di kelas yang punya relasi yang baik, guru tidak pernah menyuruh ini dan itu. Ia membuat sebuah skenario sampai seorang murid tahu dan mengerti apa yang ia mesti kerjakan dan jelas proses apa yang mesti ia lakukan dan lalui. Guru menjadi seorang yang membuat alur dimana murid dengan sukarela dan tidak terasa berperan dalam situasi pembelajaran dengan pertanyaan pertanyaan serta diskusi yang mengasikkan.
  8. Demi sebuah relasi yang sehat antara guru dan siswanya, guru yang berhasil dalam sebuah pembelajaran jarak jauh tidak ragu untuk terus memodifikasi pembelajarannya. Ia tidak merngubah pembelajarannya karena dirinya ingin lebih berhasil dalam mengajar dan menghabiskan target kurikulum tapi karena ia ingin muridnya bisa aktif dalam pembelajaran.
  9. Guru yang berhasil adalah guru yang tahu dan mengamati perubahan yang terjadi pada siswanya. Ia sensitif dan sadar betul hal apa yang berubah dari siswanya. Ia menggunakan segala kemampuan dan cara agar ia mengetahui perubahan apa yang terjadi pada siswanya.
  10. Gunakan strategi ‘dua kali sepuluh’. Seorang guru membuat target untuk berbicara secara individual dengan siswa yang mengalami kesulitan selama dua menit selama 10 hari berturut turut. Interaksi yang cepat dan terfokus ini dapat membangun hubungan dan memberikan dorongan emosional kepada siswa yang mengalami kesulitan.

Apa bukti bahwa anda sudah sukses dan berhasil dalam sebuah situasi pembelajaran jarak jauh ini ? buktinya adalah sebagai guru anda tidak selalu kelelahan dan siswa pun tidak selalu stres. Sebuah relasi yang sehat dan baik dari sebuah kelas pembelajaran jarak jauh adalah menempatkan guru dan siswa dalam posisi yang sama dan sejajar. Jika guru mesti sehat mentalnya (bebas stress) demikian juga dengan siswanya. Hanya saja guru sering memposisikan pembelajarannya sebagai ‘menghantarkan pengetahuan’ dan bukan dengan segala cara dan merupakan sebuah ‘seni’ dalam membuat siswanya mengerti.