Serba serbi penggunaan buku teks di sekolah

Buku teks adalah mitra saat guru mengajar di kelas. Bagi orang tua siswa buku teks adalah sarana untuk mengukur apa yang anaknya lakukan di sekolah. Tidak jarang orang tua siswa berang apabila buku teks yang sudah dibeli dengan harga mahal tidak terisi penuh. Padahal tugas guru bukan mengabdi pada buku teks. Tugas guru yang sebenarnya adalah mengajar dengan startegi belajar yang menarik dan terkini sehingga murid senang belajar bersamanya. Buku teks mesti di kembalikan kepada porsinya yaitu sebagai mitra guru mengajar dan bukan hal yang utama. Banyak buku teks yang bagus namun untuk ajarkan konsep, guru tetap mesti gunakan alat peraga dan bukan sekedar buku teks.

Beberapa tanda bahwa sekolah dan guru terlalu menggantungkan diri pada buku teks adalah;

  • Keputusan soal pemilihan buku teks tidak melibatkan guru, padahal guru adalah orang yang mestinya bertanggung jawab penuh atas pengajaran di kelas.
  • Guru kadang merasa bahwa buku teks terlalu susah untuk diajarkan atau bahkan terlalu mudah bagi murid-muridnya dan kurang menantang bagi siswanya
  • Siswa yang  kritis dan kreatif, biasanya senang jika gurunya tampil kreatif di kelas, dan akan  mengeluh jika cuma diminta kerjakan buku teks, ‘bosan’ katanya.
  • Masuk kelas guru langsung mengatakan, “anak-anak buka dan kerjakan halaman ……” tanpa menerangkan lebih lanjut dan langsung meminta anak-anak menghapal atau mengerjakan halaman yang ditentukan.
  • Saat kurikulum KTSP tematik untuk SD kelas 1-3 diluncurkan oleh diknas di tahun 2006, alih-alih guru jadi bekerja sama untuk membuat unit pembelajaran, yang terjadinya  guru malah cuma ganti buku teks. Hal yang sama bisa saja terjadi di kurikulum tahun 2013

Akibat dari ketergantungan antara guru dan buku teks yang akan dirasakan oleh guru dan sekolah adalah

  • Pembelajaran di sekolah jadi kurang kreatif dan ‘kurang menggigit’ serta sekolah jadi tidak punya ciri khas. Hal ini benar adanya mengingat pembelajaran antara satu sekolah dengan sekolah yang lain akan sama saja jika mereka menggunakan buku teks yang sama
  • Guru jadi manja dan kurang mau bereksplorasi, padahal ciri guru professional adalah ia seorang sosok yang gemar mencari ide baru dan keluar dari pakem yang selama ini ada demi memuaskan rasa ingin tahu siswanya
  • Orang tua siswa akan stress sendiri melihat buku teks yang materinya terkadang sulit dan membuat orang tua siswa kesulitan mengajarkan kepada anaknya.
  • Sekolah akan stress sendiri dikejar-kejar oleh orang tua siswa yang mengukur keberhasilan belajar anaknya bukan dari pemahaman dan perubahan pengetahuan atau sikap namun dari penuh tidaknya buku teks milik anaknya.
  • Siswa akan terlihat bisa mengerjakan sebuah soal di buku teks namun akan kebingungan jika bentuk soalnya diganti
  • Di rumah bersama guru lesnya, siswa akan dilatih untuk mengerjakan soal di buku teks, bahkan melingkari tipis-tipis atau menghapalkan jawabanya duluan untuk kemudian ia akan terlihat bisa mengerjakan ketika ada di kelas

Untuk mengatasi ketergantungan yang tidak sehat guru terhadap buku teks berikut ini adalah hal yang mesti dilakukan oleh sekolah

  • Minta guru untuk berkelompok dan membentuk komite yang menulis sendiri kurikulum (scope and sequence)nya. Bisa mulai dari bidang studi inti seperti ; IPA, IPS, Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.  Dengan demikian guru punya kemampuan untuk menulis sendiri pembelajarannya. Manfaatnya akan terjadi tahap dan kesesuaian dalam setiap tingkatan kelas. Dan di sekolah akan tercipta guru yang kreatif, yang  pandai memodifikasi buku teks, sebab ia tahu pasti kemampuan dan kualitas siswanya sendiri
  • Sekolah mesti adakan pelatihan mengenai startegi belajar mengajar agar guru punya koleksi strategi yang banyak dalam mengajar siswanya.
  • Saat membuat silabus, guru mesti menghindari untuk hanya berpatokan dengn buku teks siswa agar supaya indicator, SK dan KD nya selaras

Saatnya guru jadikan buku teks hanya sebagai salah satu sumber rujukan,sebagai seorang professional  ia tetap punya proyek pembelajaran dengan muridnya. Buku teks bukan kurikulum, buku teks berisi penafsiran pembuatnya terhadap kurikulum, sebagai seorang professional anda juga bisa lho. Kurikulum terbuka untuk ditafsirkan dipetakan saatnya jadikan buku teks sebagai salah satu mitra dan rujukan dalam mengajar.

 

Menjaga stationary (Alat Tulis Kantor) agar digunakan secara efisien dan efektif di sekolah

 
image

image
image

ATK atau alat tulis kantor adalah alat yang penting dalam mendukung tugas guru dalam mengajar. Guru penting untuk mempunyai keyakinan bahwa sekolah tempat ia mengajar mendukung tugasnya sebagai ujung tombak penyelenggaraan pendidikan di kelas. Bayangkan jika seorang guru kesulitan dalam pengadaan ATK maka ia akan merasa frustasi dan merasa bahwa sekolah tidak mendukung pembelajaran kreatif yang seharusnya bisa ia lakukan sebagai seorang professional di kelas. Di TK dan SD terutama, guru memerlukan ATK untuk memajang karya siswa di kelasnya.

Untuk mendukung efisiensi penggunaan dan pemakaian ATK maka sekolah perlu membuat sistem sebagai berikut;

  • Sekolah melakukan pembelian ATK secara berkala yang kemudian sekolah menyediakan ruang khusus yang di dalamnya berisi kertas-kertas, alat tulis dan lain sebagainya yang diperlukan oleh guru dalam mengajar dan membuat pajangan. Orang yang bertanggung jawab pada ruangan ini dan seisinya adalah petugas khusus atau orang yang dipercayakan di bawah kendali wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana yang juga akan melakukan pembelian kepada supplier yang sekolah tunjuk dan bersaing dari sisi harga dan kembali mengeceknya jika pesanan dari pihak supplier sudah datang.
  • Penting sekali bagi sekolah untuk melakukan pembelian secara berkala dan mempunyai ruang penyimpanan khusus di sekolah mengingat guru biasanya melakukan perencanan seminggu sekali, jika sekolah lambat menyediakan maka tujuan pembelajaran akan menjadi tidak berhasil
  • Jika guru memerlukan material untuk mendisplay ia bisa menulis di form yang sudah disediakan lalu meminta persetujuan kepala sekolah. Tugas kepala sekolah adalah mengecek dan bertanya kembali pada guru yang bersangkutan mengenai penggunaan ATK yang ia pesan.
  • Di awal tahun ajaran, sekolah memberikan ‘starter pack’ yang berisi alat tulis yang akan digunakan memulai tahun ajaran misalnya pulpen untuk mengoreksi, spidol secukupnya untuk menulis, kertas serta hal lain yang sekiranya bisa digunakan untuk guru bisa memulai tahun ajarannya dengan semangat. Guru tetap bisa meminta kembali sekiranya alat tulisnya ternyata sudah habis.
  • Murid juga diberikan starter pack yang berisi alat tulis serta alat mewarnai dan murid dipersilahkan untuk membeli sendiri jika alat tersebut sudah habis. Tentunya sekolah mesti sediakan tempat menyimpan yang layak untuk siswa meletakkannya di kelas.

Demi mengelola pengeluaran yang mesti dibeli oleh sekolah, sebagai institusi pendidikan sekolah mesti melakukan langkah sebagai berikut;

  • Guru mesti diajarkan untuk melakukan efisiensi caranya dengan menggunakan kertas bekas (yang masih kosong sisi satunya untuk print)
    • Guru diberi pelatihan melakukan display karya siswa dengan bahan-bahan bekas dan murah. Guru juga bisa meminta murid untuk membawa, kertas bekas, Koran bekas dan lain-lain dari rumah sebagai bahan display
    • Saat meminta ATK guru mesti bertanya pada dirinya sendiri dahulu ; “apakah jumlah ini diperlukan oleh saya atau bisa dikurangi” atau “bisakah saya mengganti nya dengan bahan lain”
    • Setelah menerima ATK yang dipesan sekolah mesti pastikan digunakan dengan maksimal, gunakan dua sisi bagian kertas dan hanya membuangnya jika sudah menjadi bagian-bagian kecil yang sudah tidak bisa digunakan lagi.

Guru pun juga manusia yang kadang alpa dan tidak maksimal atau malah boros dalam menggunakan ATK, tugas sekolah untuk mengingatkan dan memberi pelatihan agar guru terampil, efisien dan maksimal dalam menggunakan ATK.

Tips menghadapi anak ‘nakal’ dan ‘bandel’

Kalau saja guru tahu latar belakang masalah perilaku muridnya, maka ia akan merasa iba dan kasihan

Saya pribadi tidak setju dengan judul diatas karena cap atau label nakal mudah sekali diberikan guru jika ia merasa tidak sanggup mengendalikan perilaku siswanya. Siswa yang nakal kebanyakan akan menanggung cap tersebut selama tahun-tahun ia berada di sekolah yang sama. Jika seorang anak mendapat cap nakal di tahun pertama ia bersekolah maka lazimnya cap itu akan melekat terus.

Uniknya ukuran nakal tiap guru berbeda-beda. Bagi seorang guru yang mengajar di sekolah yang berbasiskan agama maka semua anak ‘jalanan’ atau yang hidupnya di jalan akan dikatakan sebagai anak nakal. Tidak heran karena di sekolah tsb segala perkataan anak dijaga dan diperhatikan. Anak tidak boleh berkata kasar dan sebagainya. Sedangkan untuk anak yang hidup di jalan, bahasa sehari-hari mereka memang kata-kata yang menurut kita ‘kasar’ dan tidak pada tempatnya.

Dengan demikian mari sebagai pendidik mulai untuk mengurangi memberi cap negatif. Karena cap negatif sangat relatif dan punya standar dan ukuran berbeda.Hal yang bisa guru lakukan adalah mendekonstruksi kembali cap anak nakal.

Menurut saya tidak ada yang namanya anak nakal, yang ada adalah;

  • anak yang kurang kasih sayang orang tua. Ia berulah negatif di kelas karena ia perlu perhatian. Bagi anak seperti ini, teriakan marah guru seperti ‘belaian’ dikupingnya karena dirumah ia bahkan jarang ada yang memperhatikan
  • anak yang terkena bully dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam
  • anak yang kedua orang tuanya mengalami masalah perkawinan. Baginya kehidupan sudah tidak nyaman lagi. Kedua orang tua yang seharusnya melindungi sedang berkonflik hal ini yang menjadikannya tidak fokus saat di kelas dan menjadikannya biang onar di kelas.

Daftar diatas bisa bertambah lagi dengan sederet hal lain yang bisa dipandang sebagai penyebab dari ‘kenakalan seorang’ anak.

Jika di kelas anda ada anak yang berkategori nakal ini saran saya;

  • stop ucapkan atau hentikan cap nakal pada anak tersebut. Katakan “saya pikir yang orang lain katakan tentang kamu itu tidak benar, menurut saya kamu lebih baik dari yang orang bilang” dengan demikian anak tersebut merasa ada orang yang masih percaya padanya.
  • cari terus info lengkap mengenai tara belakang keluarga atau info apapun demi membuat anda jadi lebih pengertian dan sabar dalam menghadapi perilakunya
  • tetap bersabar dan berdoa untuk anak tersebut. Ucapkan nama anak tersebut dalam doa ketika anda selesai beribadah, maka saat menghadapi ulahnya saya yakin guru akan dikaruniai kesabaran.
  • Beri ia kepercayaan. Mulai dari yang kecil, biarkan ia membawakan barang-barang anda ke ruang guru sampai jadikan ia pemimpin dalam suatu kesempatan di kelas.
  • Tangkap basah saat ia berbuat baik, puji ia saat itu juga, atau dengan tulisan dengan secarik kertas.
  • Saat menegur katakan “minggu ini kamu sudah banyak kemajuan, kenapa sekarang kok berulah yang negatif lagi?’
  • Katakan “saya bangga kamu bisa berubah’ bukan “saya senang kamu bisa berubah’. Jika anda katakan senang maka ia akan berubah demi menyenangkan anda sebagai gurunya. Sementara perasaan bangga dari guru murni terjadi karena guru bangga akan sikap yang muridnya perbuat.
  • Katakan “saya percaya kamu pasti bisa memilih hal yang paling baik untuk diri mu sendiri dan bisa berubah’.

Menghentikan sikap anak yang negatif hanya bisa dimulai dengan strategi dengan menggunakan pendekatan hati.

Jika setahun bersama anda ia belum juga berubah percayalah di tahun berikutnya ia akan berubah, jika belum berubah juga percayalah bahwa ia akan ingat ada satu guru yaitu anda yang selalu percaya padanya.

Guru yang baik senang belajar kembali

Perubahan bisa datang dari mana saja. Seorang guru senior yang masa kerja nya lama akan tertegun melihat seorang guru muda begitu lincahnya memanfaatkan komputer untuk mengajar. Sebaliknya seorang guru muda yang bersemangat akan tertegun melihat bagaimana seorang guru senior dengan mudah mengatur perilaku siswanya. Jika guru yang saya sebutkan diatas sadar maka mereka akan berubah.

Perubahan bisa terjadi hanya jika guru belajar kembali. Sebagai contoh guru senior mulai tanya-tanya bagaimana menggunakan komputer, sedang guru yunior belajar mengendalikan siswa tanpa amarah pada guru senior.

Setiap sekolah berisi banyak guru dengan berbagai macam latar belakang. Dahulu ukurannya sempit sekali yang ada hanya

  • guru galak (kepada siapa saja, kepada sesama guru, atasan dan apalagi pada siswanya)
  • guru ‘baik’ (gampangan mudah dikendalikan oleh siswa dan orang tua)
  • guru baik, ikhlas dan bagus cara mengajarnya
  • guru biasa-biasa saja (ada dan tidak ada dia sama saja, cara mengajarnya standar banget)

Nah saat ini ukuran setiap guru bukan lagi pada sifatnya namun pada apa yang ia bisa berikan pada sekolah. Yang saya maksud bisa berikan adalah, apa yang seorang guru bisa inspirasikan teman sejawat.

Banyak sebenarnya yang guru bisa bagi sesamanya lewat ‘sharing’ singkat 20 menit cukup untuk berbagi ilmu pada sesama guru. Bisa dalam acara rapat rutin mingguan, 2 mingguan sampai awal tahun ajaran. Sekolah mesti mulai memikirkan untuk tidak hanya andalkan pelatihan dari diknas dan sejenisnya. Saatnya sesama guru satu sekolah berbagi.

Topik yang bisa dibahas.

  • Penanganan siswa (manajemen perilaku siswa)
  • menggunakan komputer untuk mengajar dan membuat lembar kerja siswa.
  • di SD misalnya cara mengajarkan matematika yang kreatif
  • dan banyak lagi topik yang menarik sesuaikan dengan

Anda bisa tambahkan lagi topik dengan hal lain yang menjadi potensi di sekolah anda. Misalnya di antara guru anda ada guru yang menjadi seorang penulis, minta ia berbagi mengenai karier penulisannya, dan sederet potensi yang kita bisa ambil dari tiap guru yang ada di sekolah kita.

Tulisan ini mengajak kita semua sebagai guru untuk belajar kembali, jeli melihat potensi guru dan terbuka untuk ilmu yang diberikan dari sesama guru.

Selamat belajar dan menjadi pembelajar kembali..

Serba-serbi pemberian PR (Pekerjaan Rumah) kepada siswa

#twitedu pernah membahas soal ini di bulan Oktober 2012. Untuk yang belum tahu soal #twitedu adalah obrolan sore hari di twitter mengenai topik pendidikan tertentu yang digagas oleh @bincang_edukasi

Berikut ini adalah tweet yang saya sarikan untuk anda

@adrianpradana: yg penting PR tujuan utamanya untuk kemandirian, jd jgn sampai diserahkan utk minta dikerjakan oleh orang lain

@Ayesaja: Sepengalaman sy mengajar, #PR tdk selalu menjamin siswa dirik jd lbh mengerti akan materi yg diberikan.

@SapaatHolic PR hrs didesain untuk mmbantu murid memahami konten, bukan sekadar mngerjakan tugas sekolah dipindah ke rumah

@arygoen mnrt sy #PR sifatnya pengayaan sj, jd bkn sbg momok tgas yg memberatkan siswa, sifatnya yg meningkatkan kreativitas saja:)

@adrianpradana PR yang tidak efektif –> soalnya banyak, deadline pengumpulan ketat

@imamsubakti: Tdk mnggunakan PR sbg hukuman krn akan mmbuat siswa membenci PR, dan PR tdk dilihat sbg sebuah kegiatan belajar.

@hilmangraha untuk tingkat SD pemberian PR kurang efektif karena seringkali yang mengerjakan orang tua, kakak, atau bahkan lembaga bimbel

@Lany_Rh PR yg aku kirim biasanya yg membuat anak mesti tanya ke ortu, misal wawancara ttg keadaan rumah, sejarah keluarga, sejarah anak,dll

@amandaiko Wkt si sulung masuk SD, gurunya pesan : Anak2 tiap malam hrs punya wkt bljr 10menit x jenjang kelas (kls 1=10′ 2=20′ dst). Tdk lbh

@itabintk bagi bbrp oknum guru, PR itu bukan utk tujuan biar anak mengulang, wong materinya aja belum dibahas di kelas

@amandaiko Buat sy sbg ortu, PR yg bagus adl yg bikin anak pingin cari tau lbh & yg tdk bisa disub-kon-kan ke (baca : dikerjakan) ortu :p

@arygoen saya biasa ksih PR buat #mindmapping mteri yg sdh dipelajari,biar anak bljar sambil brkarya… kta siswa lbh asyik buat belajar

 Menurut anda sendiri bagaimana pemberian PR apakah masih efektif untuk memberikan rasa tanggung jawab belajar di rumah?

Emosi saat mengajar di kelas? ini yang mesti anda lakukan

Siapa pun bisa marah – marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik – bukan hal mudah.
Aristoteles

Saat mengajar di kelas seorang guru terkadang terpancing emosi nya oleh sikap siswa nya yang dianggap melewati batas kesabaran. Sayangnya batas kesabaran setiap orang itu berbeda, Jadi memang ada istilah guru yang emosional bagi guru yang mudah marah atau naik pitam. Sebaliknya ada juga guru yang sepertinya sabar serta ‘lunak’ di mata siswa, ia akan diam saja ketika siswa berbuat apa pun bahkan jika siswa nya ‘kurang ajar’

Sebenarnya bolehkah guru marah pada siswa? Serta dalam kondisi apa marah pada siswa itu boleh dan tidak diperbolehkan.

  • Jawabannya boleh. Asal penyebabnya bukan karena harga diri guru. Guru boleh marah pada siswa karena sebagai guru ia peduli pada masa depan siswa nya.
  • Silakan marah pada perilaku dan kinerja murid anda. Marah karena anda kesal atau tidak suka pada siswa anda secara pribadi atau karena faktor lain, sangat-sangat ter larang.
  • Marah lah dengan melipat tangan anda ke belakang, ini untuk menghindari ‘tangan melayang’ dari guru kepada siswa nya
  • atur napas dengan baik jika anda merasa sudah marah sekali

saran saya guru marah itu baik, karena berarti guru peduli namun banyak cara untuk membenahi perilaku siswa selain melalui ekspresi marah. Cara nya adalah ;

  • Jika ada anak yang terus ber ulah dan membuat anda kesal, cari tahu latar belakang keluarga dan masalah yang dihadapi anak tersebut. Dijamin anda jadi punya wawasan baru tentang mengapa siswa tsb bersikap menyebalkan.
  • Komunikasi dengan sesama guru untuk cari solusi dan kontak orang tua siswa sebagai cara meredakan masalah.

Sebagai guru kita semua adalah orang yang terpilih untuk bisa mengubah perilaku siswa. Betapa hasil menjadi tidak penting ketika kita bicara soal perilaku karena yang dipentingkan adalah usaha yang terencana, kerja sama semua pihak dan komunikasi yang sehat, maka tiada lagi yang namanya guru emosional yang ada adalah guru yang coba mengerti sambil perlahan membenahi siswa nya.

Seni bekerja sama dengan sesama guru

Guru abad 21 dikenal akan kemampuannya bekerja sama dalam menghasilkan sesuatu yang terbaik sebagai karyawan dan pendidik. Bekerja sama berarti konsentrasi pada tujuan akhir. Soal cara menjadi nomor dua, manakala tujuan akhir di kedepankan dan jadi kesepakatan bersama untuk diwujudkan.

Sebagai karyawan tentu memang sudah kewajiban untuk mampu bekerja sama, dan sebagai guru punya tanggung jawab untuk menjadi contoh pada muridnya bagaimana bekerja sama dengan orang lain di tempat kerja.

Beberapa hal yang mesti dikembangkan dan ditumbuhkan agar nuansa kerja sama bisa selalu tercipta di lingkungan sekolah antara lain

  • menghilangkan jarak dan batas antara guru yunior dan guru senior. Jika jarak tiada maka yang ada hanyalah keinginan untuk tumbuh kembang bersama-sama. Sekolah yang baik dan sehat mengedepankan kolaborasi diatas segala-galanya.
  • sekolah anjurkan kerja sama untuk tujuan-tujuan lain di luar event rutin sekolah. Misalnya acara ke lulusan dan acara seremonial lain yang biasa diselenggarakan oleh sekolah. Minta guru untuk juga untuk bekerja sama dalam membuat kurikulum dan merencanakan pembelajaran serta membuat dokumen pembelajaran yang akan menjadi milik bersama-sama
  • guru perlu contoh pimpinan sekolah yang bisa bekerja sama. Artinya menyuruh itu gampang namun memberi jalan keluar jika guru ada hambatan atau bertanya apakah ada masalah ketika pekerjaan sedang dilakukan bersama-sama akan membuat guru merasa di dampingi
  • bekerja sama bukan berarti mesti tatap muka. Internet memungkinkan segalanya jadi mudah. Rapat dengan cara ‘conference’ di BBm atau chat di gmail serta mengedit dokumen bersama-sama di google drive juga layak dilakukan oleh guru yang mengutamakan hasil

Bekerja sama bisa berarti bekerja dengan bersama-sama atau bekerja sendiri dengan bersama-sama, sepanjang komunikasi yang terjalin baik, maka hasil yang akan diperoleh tentu akan baik juga. Jadi selamat bekerja sama dengan sesama guru.

TEAM = Together We Achieve More

Resep menciptakan budaya positif di kelas

Aura positif di kelas adalah tujuan semua guru yang mengajar di kelas. Kelas yang baik adalah kelas di mana guru dan siswa bisa mengajar dengan baik dan tercapai tujuan pembelajarannya di kelas.

Apa ciri-cirinya di sebuah kelas terjadi aura suasana kelas yang positif

  • Tidak ada istilah ‘biang kerok’ atau trouble maker. Semua siswa dihargai usahanya untuk berbuat baik dan berubah menjadi lebih baik
  • terhadap murid yang berbuat salah guru tidak akan menampilkan namanya di papan tulis atau meneriakkan namanya keras-keras. Jika murid berbuat salah cukup katakan apa tindakannya dan hindari menyebut nama
  • guru menyebut nama siswa yang berbuat atau bersikap baik. Analoginya mesti dibalik, jangan yang ‘bermasalah’ yang terus disebut, sementara yang sudah baik tidak pernah disebut namanya
  • ajak siswa jika keluar untuk memperingatkan jika ia berbuat keterlaluan

Resep di atas terbukti ampuh saat saya laksanakan. Saran saya iringi dengan kesepakatan kelas dan konsekuensi dengan demikian budaya positif di kelas lekas tercipta

Tips dan trik menjadikan siswa kita yang utama

‘Students first..!’ kata-kata itu selalu terngiang saat pertama kali saya mengajar. Kepala sekolah pertama saya yang mengatakannya. Dalam banyak segi sebuah sekolah ada karena ingin melayani kebutuhan belajar siswanya. Secara jumlah pun, pastinya jumlah siswa akan lebih banyak dari jumlah guru dan staff.

Bagaimana cara agar kepentingan siswa selalu diutamakan, berikut adalah tipsnya

Dalam hal fasilitas sekolah;

  • menomor satukan fasilitas sekolah untuk siswa. Anda sedang ada di ruang komputer ketika ada kelas datang, sementara berhenti dulu bekerja baru kemudian lanjutkan lagi setelah kelas selesai
  • toilet dan fasilitas umum lainnya diupayakan agar memenuhi standar bagi siswa. Jika sekolah anda adalah sekolah dasar maka toilet untuk kelas kecil berbeda dengan toilet untuk kelas yang anak-anaknya sudah besar.

Dalam merencanakan pengajaran

  • Tugas guru untuk membuat 3 alternatif startegi pengajaran, jangan dibayangkan strategi yang berlembar-lembar, namun bayangkan 3 jenis kemampuan siswa cepat, sedang dan lambat dan buat solusi singkat mengenai kegiatan yang mesti mereka lakukan dalam satu atau dua jam pelajaran.
  • siapkan sumber belajar semampu dan yang dipunyai sekolah. Syukur jika sekolah punya bahan belajar yang lengkap untuk guru gunakan di kelas, jika tidak pun saatnya guru membuat sendiri alat peraga.
  • mendokumentasikan hasil dan kejadian saat siswa belajar. Berguna sekali saat merencanakan pembelajaran selanjutnya. Guru jadi punya catatan apa yang belum berhasil dan guru jadi punya bayangan akan melakukan apa di pembelajaran yang berikutnya. Bentuknya bisa satu atau dua kalimat yang berisi refleksi hal yang terjadi di kelas. Terapkan prinsip plan—do—see

Menciptakan Siswa Yang berpikir Kritis dan Kreatif « Arief Al Hakim

Menciptakan Siswa Yang berpikir Kritis dan Kreatif

Generasi yang kritis dan kreatif merupakan sebuah keharusan untuk para siswa saat ini. Cara sekolah bisa lahirkan siswa yang kritis dan kreatif sebenarnya tidaklah sulit, asalkan sekolah senang mendengarkan aspirasi dan tidak alergi kritik. Generasi kritis dan kreatif lahir dari guru kreatif yang senang belajar dan haus akan perubahan. Jika guru senang akan perubahan, ia akan surprise, bahkan murid-muridnya jadi mau membantu dan kooperatif. Guru kreatif adalah guru yang berhasil memadukan cara mengajar yang menyenangkan dan target kurikulum yang tercapai.

Tapi ingat, kurikulum adalah peta dan bukan kitab suci, ia bisa dimodifikasi asal tujuan akhirnya sama. Kurikulum terbuka untuk ditafsirkan dan dipetakan, dan kini saatnya jadikan buku teks sebagai salah satu mitra dan rujukan. Buku teks bukan kurikulum, namun berisi penafsiran pembuatnya terhadap kurikulum. Guru juga bisa membuat indikator pembelajaran yang bervariasi dan beragam. Guru kreatif memiliki perencanaan pembelajaran yang baik, manajemen kelas yang mengutamakan komunikasi yang sehat dan rasa hormat.

Baca lebih lanjut