Jati diri seorang guru di dunia media sosial

Gambar
Gambar
Pembaca yang baik , hari ini saya menulis email kepada semua guru-guru di sekolah saya Ananda Islamic School (yang disingkat AIS) saya berharap tulisan singkat untuk staff dan guru-guru saya berguna untuk anda juga.
 
Assalamualaikum
Dear teachers,

Apa sosial media yang anda pakai secara aktif saat ini? BBM, Facebook, Path atau twitter atau yang lain?
Semua individu yang mempunyai alat komunikasi yang terhubung dengan internet hampir pasti punya akun pada salah satu jenis sosial media yang saya sebut diatas.

Semua orang punya kemerdekaan pribadi dalam menaruh statusnya di sosial media miliknya. Namun lain ceritanya jika orang itu punya profesi sebagai guru. Sebagai guru secara singkatnya kita mesti punya filter atau hal-hal yang menyangkut etika sebelum membuat status. Maklum di masyarakat singkatan guru artinya orang yang bisa di ‘gugu’ dan di ‘tiru’. Digugu berarti bisa dijadikan contoh segala tindak tanduknya.

Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri saya juga, bahwa dunia sosial media sekarang sangatlah luas dan tidak terkira jangkauannya. Saat kita membuat status, ‘teman’ dari temannya kita pun akan bisa melihat dan membaca. Bahkan orang bisa dengan mudah mengcapture status dari jenis sosial media yang tertutup seperti ‘path’untuk kemudian disebar di dunia maya.
http://www.kabar24.com/nasional/read/20140417/66/216407/dinda-pengomentar-pedas-ibu-hamil-di-kereta-akhirnya-minta-maaf

Saran saya sebelum membuat status mohon untuk mengingat hal dibawah ini:

1. apakah saya dalam keadaan kesal dan marah pada seseorang? Bagaimana pun perasaan anda dalam membuat status akan berpengaruh pada pilihan kata dan gaya bahasa. Setahu saya tidak ada masalah yang bisa selesai karena status di sosial media, yang ada mungkin malah memperkeruh suasana karena yang merasa tersindir malah bukan orang yang kita tuju. Dan jika masalah itu menyangkut rekan kerja di sekolah, selesaikan dengan baik dan profesional. Mintalah bantuan pada pihak ketiga jika merasa ada kebuntuan komunikasi.

2. Sebelum membuat status ingatlah bahwa, mungkin saja atasan kita akan membaca atau orang tua siswa kita akan membaca atau malah murid kita sendiri yang akan membaca. Anda lah yang menentukan ingin dianggap guru seperti apakah anda oleh orang tua siswa, atasan, sesama rekan kerja atau malah oleh murid kita di kelas.

3. Dunia sosial media adalah soal reputasi, dan reputasi (sedikit mirip dengan pencitraan dalam arti positif) seseorang bisa dilihat dari statusnya. Apakah statusnya menghiba-iba, curhatan atas kesulitan hidup (yang semua orang juga merasakan, bahkan mungkin lebih sengsara) atau inspirasi dan kisah inspiratif yang bisa anda bagi dengan orang lain. Jadilah guru yang pandai meng copas untuk statusnya dari sana-sini sepanjang yang di copas itu adalah ilmu  dan intisari yang bisa bermanfaat bagi orang lain.Karena orang tua siswa kita di AIS pasti akan bangga juga bisa punya guru seperti anda yang selalu optimis dan positif dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Akhirnya selamat menggunakan sosial media dengan bijak dan bagilah inspirasi pada orang lain dan bukan sekedar kata-kata kekesalan dan semua hal yang bisa memperkeruh suasana baik dalam kehidupan maupun dalam pekerjaan

SALAM AIS

Agus

berikut adalah capture email saya
Gambar

Tips menulis blog bagi guru yang sibuk

20140606-223127-81087951.jpg

Hampir semua guru yang saya kenal mengatakan bahwa soal waktu adalah soal yang jadi masalah utama dalam dirinya menjalani profesinya. Artinya lebih banyak guru yang sibuk daripada yang tidak sibuk. Tips dibawah ini bisa jadi bahan masukan bagi guru yang merasa dirinya sibuk namun tetap ingin menulis di blog sebagai ajang berbagi pengetahuan dengan sesama guru serta pemerhati dunia pendidikan.

1. Jika ada ide tulisan, segera tulis di akun twitter anda. Punya akun twitter itu seperti kewajiban bagi guru yang kreatif. Karena twitter itu disebut juga microblogging, atau ngeblog dalam nuansa 141 karakter. Twitter membuat anda bisa tetap tersalurkan hasrat menulis dan tweet tersebut bisa dijadikan ide dasar tulisan atau judul blog anda berikutnya.

2. Tulis paling banyak 3 paragraph saja. Terlalu banyak orang akan berpikir untuk membacanya nanti-nanti.

3. Tulislah solusi dan bukan keluhan. Cuma guru yang ‘move on’ yang menulis solusi. Boleh saja anda menulis keluhan, namun ramu keluhan dengan solusi, kalau bisa dengan solusi yang sudah anda lakukan sendiri.

4. Rajin-rajin mengecek kata kunci apa yang datang ke blog anda. Kata kunci yang anda temukan bisa memberikan ide bagi judul atau materi tulisan yang pasti diminati oleh calon pembaca blog anda. Tulisan saya yang berjudul “Tanda-tanda guru profesional sebelum mengajar, ketika mengajar dan setelah mengajar” saya dapat dari koleksi kata kunci yang masuk ke blog saya

5. Gali ide menulis anda dari sumber yang dekat dengan anda. Jika di sekolah anda menemukan sesama guru yang susah atau anti terhadap perubahan, naah dari situ kita bisa membuat judul antara lain: ‘Cara mengubah rekan sesama guru agar mau berubah’, ‘5 tipe guru yang ada di sekitar kita’ dan ‘Mengapa. sebagai guru kita mesti adaptif terhadap perubahan’. Tentunya kita mesti berhati-hati agar tidak mengangkat sosok individu. Oh ya untuk konten atau isi dari tulisan anda bisa lakukan riset kecil-kecilan di internet. Dan jika memutuskan untuk mengambilnya silahkan menyertakan sumber.

Tanda-tanda guru profesional sebelum mengajar, ketika mengajar dan setelah mengajar

Gambar

Selalu menarik membicarakan mengenai apa dan bagaimana guru profesional itu apalagi membicarakannya dengan sesama guru. Menurut blog pak Akhmad Sudrajat guru profesional itu

Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan mumpuni dalam melaksanakan tugas jabatan guru.

Bila ditinjau secara lebih dalam, terdapat beberapa karakteristik profesionalisme guru. Rebore (1991) mengemukakan enam karakteristik profesionalisme guru, yaitu: (1) pemahaman dan penerimaan dalam melaksanakan tugas, (2) kemauan melakukan kerja sama secara efektif dengan siswa, guru, orang tua siswa, dan masyarakat, (3) kemampuan mengembangkan visi dan pertumbuhan jabatan secara terus menerus, (4) mengutamakan pelayanan dalam tugas, (5) mengarahkan, menekan dan menumbuhkan pola perilaku siswa, serta (6) melaksanakan kode etik jabatan.

Sementara itu, Glickman (1981) memberikan ciri profesionalisme guru dari dua sisi, yaitu kemampuan berpikir abstrak (abstraction) dan komitmen (commitment). Guru yang profesional memiliki tingkat berpikir abstrak yang tinggi, yaitu mampu merumuskan konsep, menangkap, mengidentifikasi, dan memecahkan berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam tugas, dan juga memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Komitmen adalah kemauan kuat untuk melaksanakan tugas yang didasari dengan rasa penuh tanggung jawab.

Lebih lanjut, Welker (1992) mengemukakan bahwa profesionalisme guru dapat dicapai bila guru ahli (expert) dalam melaksanakan tugas, dan selalu mengembangkan diri (growth). Glatthorm (1990) mengemukakan bahwa dalam melihat profesionalisme guru, disamping kemampuan dalam melaksanakan tugas, juga perlu mempertimbangkan aspek komitmen dan tanggung jawab (responsibility), serta kemandirian (autonomy)..

 

Penjelasan diatas sebenarnya cukup untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan guru profesional itu, namun sesuai judul diatas akan saya paparkan beberapa tanda guru profesional;

sebelum mengajar

  • mempersiapkan diri dengan melihat jam, jam berapa ia mesti ada di kelas
  • mengecek selama seharian ia ada di kelas mana saja
  • adakah hal yang ia mesti lakukan selain kewajiban mengajar, misalnya ada janji dengan orang tua murid atau yang lainnya
  • mengecek buku catatan apakah ada yang mesti ia khususkan, misalnya di kelas ada siswa yang perlu bantuan khusus atau yang lainnya
  • mengecek lagi apakah rencana mingguan pembelajarannya sudah lengkap sampai dengan penilaian
  • menambah sumber belajar jika masih ada waktu (foto kopi dll)

ketika mengajar

  • menyapa murid (utamakan murid yang introvert atau tertutup karena murid yang exstrovert akan menyapa anda duluan)
  • memulai dengan berdoa
  • menggunakan cara 30 persen penjelasan di awal, 60 persen aktivitas yang kreatif dan 10 persen refleksi kegiatan
  • berkeliling dan tidak duduk saja di meja guru
  • berbicara dan melihat pekerjaan siswa saat mereka sedang beraktivitas (sempatkan melihat siswa yang cepat bekerjanya, sedang bekerjanya dan yang biasanya lambat dalam bekerja)
  • biasakan tersenyum, berbicara yang jelas dan tahu tidak mudah terpancing jika ada siswa yang berperilaku kurang menyenangkan
  • mengakhiri pengajaran di kelas dengan motivasi sambil mereview apa yang sudah dipelajari

Setelah mengajar

  • langsung lengkapi RPP dan langsung memberi note apa saja yang sudah atau belum berhasil
  • minum air putih untuk mengembalikan stamina
  • jika masuk ke ruang guru yang berisik atau ada obrolan yang diluar konteks pendidikan segera gunakan head set untuk dengarkan musik di HP atau laptop agar diri kita terhindar dari obrolan yang sia-sia
  • lihat jadwal mesti mengajar di kelas mana lagi
  • menulis di blog atau lihat time line twitter anda yang berisi ucapan atau kicauan para pendidik hebat

Sekolah yang kondusif adalah sekolah yang berhasil mengelola dan membina guru-gurunya

Suasana kondusif di sekolah sangat diperlukan dalam membuat sekolah yang efektif. Sekolah terdiri dari komponen individu yaitu guru yang mengajar, orang tua siswa yang percaya dan pengelola sekolah yang memikirkan jalannya operasional sekolah.

Suasana kondusif bukan berarti sekolah berjalan tanpa masalah, sekolah yang hebat justru mampu belajar dan bangkit dari masalah. Berikut hal yang mesti dilakukan agar suasana kondusif tercipta di level sekolah dengan guru sebagai individu yang memiliki posisi kunci.

Guru adalah manusia biasa yang juga punya perasaan dan keinginan. Guru juga bisa sakit hati atau merasa kecewa, tidak dihargai dan lain sebagainya, jika merasa harapannya tidak terpenuhi atau merasa dikecewakan oleh kata dan perbuatan oleh orang lain.

Dalam dunia kerja apalagi di dunia pendidikan, guru yang baik adalah guru yang sensitif. Sensitif terhadap kebutuhan siswa sampai sensitif terhadap omongan kepala sekolah.
Hal yang terakhir ini jangan ditiru yaa.

Cara yang bisa ditempuh oleh sekolah;

– sekolah lakukan komunikasi yang efektif pada saat perekrutan. Guru jelas kewajiban dan haknya. Sekolah haram untuk mengakali guru gurunya. Banyak pengelola sekolah yang sadar betul bahwa tidak banyak guru yang sadar dan tahu peraturan ketenaga kerjaan, demgan demikian ketidak tahuan tersebut malah dimanfaatkan untuk bisa menggaji semurah dan serendah mungkin. Jika guru tidak tahu ia mesti dididik untuk tahu, sehingga apapun yang terjadi ia sadar betul pilihannya untuk bekerja di sekolah itu bukan karena terpaksa atau terlanjur atau bahkan karena sekedar perlu pekerjaan daripada menganggur. Kalau itu yang terjadi jamgan berharap orang tersebut akan jadi guru yang profesional.

- sekolah mengevaluasi gurunya tiap tahun dengan kritis dan obyektif. Hindari naik gaji otomatis (kecuali sekedar naik mengikuti angka inflasi). Sekolah yang lalai lakukan penilaian kinerja pertahun ajaran akan menuai guru guru yang mengajar seenaknya karena merasa bahwa guru yang profesional atau bukan, dihargai dengan gaji yang sama.

- hilangkan gelar atau perlakuan anak emas terhadap guru tertentu. Kepala sekolah yang lemah adalah kepala sekolah yang takut pada guru yang lebih senior dari sisi pengalaman atau usia. Biasanya kepsek jenis ini cenderung mengiyakan dan menganak emaskan karena malas didebat atau takut dimusuhi. Jika ada anak emas berarti ada anak bawang, kepsek mesti siap siap juga dimusuhi oleh anak bawang, atau bahkan ditinggal oleh anak bawang yang potensial.

- sekolah perlakukan guru dengan adil, anggap guru sebagai manusia dan bukan sebagai karyawan atau sebagai aset. Jika guru diperhatikan sebagai manusia, ia akan bekerja dengan baik, amanah dan profesional. Sebaliknya memperlakukan guru cuma sebagai karyawan maka sekolah menunggu nunggu saat kapan bisa memotong gajinya karena ia terlambat atau tidak masuk. Karena hubungannya cuma sekedar hubungan kerja tidak lebih tidak kurang. Padahal banyak sekolah yang berhasil dan dipercaya masyarakat karena memanusiakan guru-gurunya.

20140601-202540-73540882.jpg

Begini cara sekolah lakukan penerapan kurikulum 2013 dan mengiringi guru untuk mau berubah

Sekolah saat ini punya status yang baru sebagai komunitas pembelajar. Situasi yang ada sekarang bukan lagi yang tahu (guru) mengajar yang tidak tahu (murid). Namun lebih kepada yang tahu (guru) mengajarkan sesuatu mulai dari hal yang diketahui oleh siswanya. Teori ini biasa disebut konstruktivisme.   Penerapan kurikulum 2013 hampir pasti akan sampai ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Jika sekolah anda ingin sukses menerapkan hal yang baru ini, berikut ini hal yang mesti diupayakan.

Mental guru yang perlu ditumbuhkan

  • guru mempunyai mental pembelajar dan adaptif terhadap perubahan
  • tidak ada guru senior dan guru yunior, semua guru sama kedudukannya dihadapan ilmu yang baru atau perubahan yang baru.
  • guru mesti punya sikap untuk mendahulukan kepentingan muridnya, dengan demikian ia mau berubah, belajar kembali serta siap bekerja sama dengan guru lain sepanjang akan mempermudah ia dalam menjalani perubahan yang terjadi di sekitarnya sebagai pendidik profesional

Mental guru yang perlu dihilangkan

  • mengajar tanpa persiapan
  • malas bekerja sama dengan guru lain dan menganggap guru lain lebih pintar, lebih ‘hijau’ atau sederet lagi prasangka yang ada di kepala mengenai label negatif pada sesama guru.
  • senangnya yang mudah-mudah saja dan tidak mau ambil resiko, misalnya maunya hanya andalkan buku teks tanpa mau merencanakan pembelajaran.

Hal yang mesti dilakukan oleh kepala sekolah

  • mengatur waktu rapat menjadi kapan rapat seluruh guru dan kapan rapat antar departemen atau kelas paralel. dengan demikian guru difasilitasi dengan meeting yang efektif
  • mengatur anggaran dan budget agar sekolah mampu membiayai kreativitas guru sebagai dampak positif dari peerapan kurikulum 2013
  • membuat komite kurikulum yang bertugas mengatur rapat rutin demi menciptakan kurikulum yang berbasis sekolah. Anggota dari komite ini terdiri dari guru-guru yang mempunyai minat terhadap matematika, bahasa Indonesia, IPA, IPS dan lainnya

Standar dalam kurikulum 2013 adalah standar minimum yang bisa digunakan dari sabang sampai merauke. Melihat kenyataan tersebut terbukalah peluang bagi tiap sekolah untuk memaksimalkannya dengan aktivitas pembelajaran yang kreatif dan bemakna

Selamat mencoba dan menerapkan

Tips bagi sekolah yang ingin menerapkan Kurikulum 2013

 

Gambar

Menerapkan hal yang baru mesti ada tantangannya. Termasuk menerapkan kurikulum 2013, pemerintah dalam hal ini sebagai penentu dan pelaksanaan kebijakan sudah melakukan pelatihan 52 jam secara bergilir kepada guru-guru demi terlaksananya penerapan kurikulum 2013. Tidak itu saja, kepala sekolah pun mesti alami 72 jam pelatihan.

Namun bila sekolah anda belum termasuk yang terpilih atau sudah terpilih namun belum semua, apa yang mesti anda lakukan sebagai kepala sekolah atau pengelola sekolah. Dibawah ini hal yang menjadi pertanyaan mengenai kurikulum 2013 dari sisi guru sebagai pengguna

1. Bagaimana pengembangan materi pelajaran yang kontekstual dan bagaimana penerapan strategi/metode pembelajaran yang berbasis saintifik?

Tips nya

Guru mesti dibekali dengan ketrampilan bagaimana agar membuat siswa mampu bekerja sama lewat pembelajaran yang memunculkan kreativitas.

Kemampuan kreativitas diperoleh melalui:

  • Observing [mengamati]
  • Questioning [menanya]
  • Associating [menalar]
  • Experimenting [mencoba]
  • Networking [Membentuk jejaring]

Cara terbaik adalah guru diminta untuk membuat perencanaan pembelajaran dengan sistem kolegial atau bekerja sama dengan satu team. Dengan demikian di tiap team misalnya team kelas 1 atau kelas 3 mesti ada yang sudah ikut pelatihan kurikulum 2013. Kepala sekolah atau wakil bidang kurikulum juga bisa melakuan mentoring menemani tiap team dalam membuat perangkat pembelajarannya atau jika di SMP dan SMA menemani tiap faculty atau departemen dalam rangka pembuatan perangkat.  Silahkan menganalisa lewat teori Kate Murdoch mengenai Inquiry based learning

GambarGambarGambarGambar

2. Bagaimana melakukan penerapan teknik penilaian autentik dan apa saja jenis instrumennya
Penjelasan:
Penilaian autentik adalah sekolah menggunakan penilaian formatif dan sumatif dan sekuat tenaga menyeimbangkan antara keduanya.
Penilaian formatif dilakukan selama pembelajaran berlangsung, guru melakukan ulasan dan observasi di ruang kelas. Guru menggunakan penilaian formatif dan umpan balik siswa untuk meningkatkan metode pembelajaran selama proses belajar mengajar.
Penilaian sumatif biasanya digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program dan layanan instruksional pada akhir bab atau unit tematik atau pada waktu yang telah ditentukan. Tujuan dari penilaian sumatif adalah untuk membuat penilaian kompetensi siswa setelah fase pembelajaran selesai.

Contoh penilaian autentik:

Penilaian Formatif

Catatan anekdotal siswa,  Kuis dan esai, diagnostik tes, Guru mewawancarai siswa, Role play, guru lakukan Observasi dan Siswa mengevaluasi diri sendiri

Penilaian sumatif
Tes akhir semester, Proyek Pribadi siswa, Presentasi lisan, Pameran siswa, Esay, Tugas Performance / proyek dan Debat

Gambar