Blog ini di buat oleh Agus Sampurno yang mendedikasikan diri sebagai pendidik tunas bangsa di tingkat sekolah dasar di Indonesia. Berbekal pengalaman dari sekolah tercinta Sekolah Global Jaya Jakarta tempat saya berkarya, saya ingin berbagi ide serta saran yang mungkin dapat dipraktekkan dan dijadikan bahan diskusi oleh para guru sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme dalam bekerja di tingkat sekolah dasar.
Dibawah ini saya suguhkan kepada anda, hasil pelatihan yang saya berikan mengenai project based learning atau pembelajaran berbasis proyek. Saya hadirkan karya salah satu kelompok .
Tahun ajaran 2007 dan 2008 hampir lewat, silahkan memperhatikan 9 indikator dibawah ini untuk menjadikan kita guru yang lebih baik dari tahun ajaran kemarin.
Pada beberapa tahun karir saya sebagai pengajar, sekolah tempat saya mengajar mendatangkan seorang ahli pendidikan yang bukan hanya ahli dalam jargon dan paradigma, tetapi juga seorang guru yang mengajar dikelas. Orang tersebut adalah Tony Ryan.
Sabtu tanggal 10 Mei 2008 adalah hari yang bersejarah buat saya. Di hari tersebut saya mendapat gambaran dari hal-hal yang saya pikirkan selama menulis dalam blog ini. Sebuah gambaran yang jelas menarik dan memberikan motivasi. Gambaran itu adalah betapa negara kita mempunyai guru-guru yang berdedikasi dan mempunyai semangat untuk selalu belajar dan meningkatkan diri.
Coba anda lihat definisi sebuah metode pembelajaran dibawah ini;
Proyek perseorangan atau grup, dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk atau sebuah aksi, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa . Menggunakan: pendekatan kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, pembelajaran terpadu, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dan lain-lain
Kata banyak pendidik, sekarang ini jamannya KTSP. Sebuah singkatan yang pasti anda tahu artinya. Dengan segenap prasangka baik saya yakin KTSP dibuat untuk menolong guru, bukan malah mempersulit. Jika yang terjadi di lapangan banyak guru merasa kesulitan dalam menerapkan, mungkin yang harus ditambah adalah semangat guru untuk bereksplorasi dan mencari metode pembelajaran yang baru dan menantang sebagai pelengkap.
Dalam mendidik pernahkah kita merasa mengajarkan dan diajarkan sesuatu yang berada di awang-awang. Coba ingat saat kita sekolah dahulu, peristiwa perang Dipenogoro yang sarat akan makna perjuangan kebebasan dan melawan kesewenang-wenangan direduksi menjadi hanya persoalan tentang tanggal dan tahun terjadinya. Dengan cepat kita bisa menghapal tahun terjadinya perang tersebut, tapi pernahkan guru kita mengajak kita menganalisa, menelaah alasan, memetakan konflik sampai mengapa perang itu bisa terjadi.
Dalam menelisik masalah peng integrasian atau penyatuan TIK (teknologi, informasi dan komunikasi) di sekolah dasar kita harus melihat beberapa peran yang dijalankan oleh pihak-pihak yang berkompeten di sekolah. Pertama peran sekolah sebagai institusi yang melahirkan kebijakan, kedua guru kelas sebagai aktor utama di lapangan dan yang terakhir guru komputer sebagai orang yang mengajar mata pelajaran TIK.
Pembaca sekalian, tulisan ini dibuat menyambut respon dari Ibu Ayu yang menanyakan mengenai indikator pengelolaan kelas yang berhasil. Uniknya melalui upaya menjawab pertanyaan beliau saya malah mendapat hal-hal yang baru. Salah satu yang membuat saya terkejut adalah perihal memberikan siswa konsekuensi, yang ternyata sama dengan mengancam siswa. Semuanya saya dapat dari situs teachers.net. silahkan menikmati indikator-indikator berikut ini.