Blog ini di buat oleh Agus Sampurno yang mendedikasikan diri sebagai pendidik tunas bangsa di tingkat sekolah dasar di Indonesia. Berbekal pengalaman dari sekolah tercinta Sekolah Global Jaya Jakarta tempat saya berkarya, saya ingin berbagi ide serta saran yang mungkin dapat dipraktekkan dan dijadikan bahan diskusi oleh para guru sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme dalam bekerja di tingkat sekolah dasar.
Akrabkah anda dengan kalimat perintah dibawah ini?
· “Anak-anak, bukalah buku cetak kalian halaman sekian…”
· “Anak-anak, buatlah ringkasan lalu garis bawahi hal yang menurut kalian penting didalam buku cetak kalian..”
· “Anak-anak kerjakanlah soal halaman sekian, lalu jika tidak selesai jadikan pekerjaan rumah ya!”
Tentu anda pernah mendengar bahwa kita sebagai pengajar sedang mempersiapkan anak didik kita untuk banyak profesi yang bahkan sekarang belum ada. Berbeda sekali dengan pandangan tradisional yang memandang profesi hanyalah dokter, guru, insinyur, tentara atau polisi. Bukan berarti profesi tersebut akan hilang atau tidak diperlukan lagi, namun sepantasnyalah kita membuka pandangan siswa-siswi kita akan banyak profesi sambil mengingatkan mereka bahwa akan ada banyak profesi bermunculan seiring perjalanan mereka sebagai pembelajar.
Dibawah ini saya suguhkan kepada anda, hasil pelatihan yang saya berikan mengenai project based learning atau pembelajaran berbasis proyek. Saya hadirkan karya salah satu kelompok .
“Terimakasih atas pengetahuan yang sudah bapak berikan”. Itulah isi pesan yang masuk ke kotak surat saya siang menjelang sore tanggal 31 Mei 2008. Surat elektronik yang berisi pesan diatas masuk ke dalam kotak surat saya, dikirim oleh salah satu guru yang hadir pada pelatihan saya mengenai penggunaan Powerpoint, internet dan surat elektronik. Saya terkejut sekaligus senang para guru yang menjadi peserta pelatihan saat itu, langsung mengaplikasikan pengetahuan yang mereka dapatkan dengan mengirimkan saya surat elektronik yang berisi ucapan terima kasih.
Pada beberapa tahun karir saya sebagai pengajar, sekolah tempat saya mengajar mendatangkan seorang ahli pendidikan yang bukan hanya ahli dalam jargon dan paradigma, tetapi juga seorang guru yang mengajar dikelas. Orang tersebut adalah Tony Ryan.
Sabtu tanggal 10 Mei 2008 adalah hari yang bersejarah buat saya. Di hari tersebut saya mendapat gambaran dari hal-hal yang saya pikirkan selama menulis dalam blog ini. Sebuah gambaran yang jelas menarik dan memberikan motivasi. Gambaran itu adalah betapa negara kita mempunyai guru-guru yang berdedikasi dan mempunyai semangat untuk selalu belajar dan meningkatkan diri.
Coba anda lihat definisi sebuah metode pembelajaran dibawah ini;
Proyek perseorangan atau grup, dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk atau sebuah aksi, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa . Menggunakan: pendekatan kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, pembelajaran terpadu, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dan lain-lain
Kata banyak pendidik, sekarang ini jamannya KTSP. Sebuah singkatan yang pasti anda tahu artinya. Dengan segenap prasangka baik saya yakin KTSP dibuat untuk menolong guru, bukan malah mempersulit. Jika yang terjadi di lapangan banyak guru merasa kesulitan dalam menerapkan, mungkin yang harus ditambah adalah semangat guru untuk bereksplorasi dan mencari metode pembelajaran yang baru dan menantang sebagai pelengkap.
Dalam mendidik pernahkah kita merasa mengajarkan dan diajarkan sesuatu yang berada di awang-awang. Coba ingat saat kita sekolah dahulu, peristiwa perang Dipenogoro yang sarat akan makna perjuangan kebebasan dan melawan kesewenang-wenangan direduksi menjadi hanya persoalan tentang tanggal dan tahun terjadinya. Dengan cepat kita bisa menghapal tahun terjadinya perang tersebut, tapi pernahkan guru kita mengajak kita menganalisa, menelaah alasan, memetakan konflik sampai mengapa perang itu bisa terjadi.
Pernyataan diatas adalah jawaban yang paling sering kita dengar saat seorang guru ditanya mengapa melakukan kekerasan pada siswanya sendiri. Banyak sekali praktisi pendidikan percaya bahwa disiplin adalah jalan keluar dari semua masalah perilaku di sekolah dan dikelas. Padahal masalahnya bukan pada disiplin