Blog ini di buat oleh Agus Sampurno yang mendedikasikan diri sebagai pendidik tunas bangsa di tingkat sekolah dasar di Indonesia. Berbekal pengalaman dari sekolah tercinta Sekolah Global Jaya Jakarta tempat saya berkarya, saya ingin berbagi ide serta saran yang mungkin dapat dipraktekkan dan dijadikan bahan diskusi oleh para guru sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme dalam bekerja di tingkat sekolah dasar.
Akrabkah anda dengan kalimat perintah dibawah ini?
· “Anak-anak, bukalah buku cetak kalian halaman sekian…”
· “Anak-anak, buatlah ringkasan lalu garis bawahi hal yang menurut kalian penting didalam buku cetak kalian..”
· “Anak-anak kerjakanlah soal halaman sekian, lalu jika tidak selesai jadikan pekerjaan rumah ya!”
Tentu anda pernah mendengar bahwa kita sebagai pengajar sedang mempersiapkan anak didik kita untuk banyak profesi yang bahkan sekarang belum ada. Berbeda sekali dengan pandangan tradisional yang memandang profesi hanyalah dokter, guru, insinyur, tentara atau polisi. Bukan berarti profesi tersebut akan hilang atau tidak diperlukan lagi, namun sepantasnyalah kita membuka pandangan siswa-siswi kita akan banyak profesi sambil mengingatkan mereka bahwa akan ada banyak profesi bermunculan seiring perjalanan mereka sebagai pembelajar.
Menghadiri seminar atau pelatihan bukan hal yang luar biasa lagi untuk guru. Apalagi di jaman sertifikasi ini. Suka atau tidak, guru akan lebih banyak mengahdiri acara sejenis seminar dan pelatihan daripada sebelumnya. Masalahnya banyak guru yang merasa bahwa kehadirannya di seminar hanya untuk mendengarkan pembicara berbicara panjang lebar dari pagi sampai sore dan melewatkan kesempatan emas membangun jaringan saat rehat atau makan siang. Jangan sangka kaum pemasaran atau kaum bisnis saja yang membutuhkan jaringan, guru juga, agar sebagai professional guru mampu membandingkan apa yang sudah atau belum anda lakukan di kelas bersama siswa.
Dibawah ini saya suguhkan kepada anda, hasil pelatihan yang saya berikan mengenai project based learning atau pembelajaran berbasis proyek. Saya hadirkan karya salah satu kelompok .
Tahun ajaran 2007 dan 2008 hampir lewat, silahkan memperhatikan 9 indikator dibawah ini untuk menjadikan kita guru yang lebih baik dari tahun ajaran kemarin.
“Terimakasih atas pengetahuan yang sudah bapak berikan”. Itulah isi pesan yang masuk ke kotak surat saya siang menjelang sore tanggal 31 Mei 2008. Surat elektronik yang berisi pesan diatas masuk ke dalam kotak surat saya, dikirim oleh salah satu guru yang hadir pada pelatihan saya mengenai penggunaan Powerpoint, internet dan surat elektronik. Saya terkejut sekaligus senang para guru yang menjadi peserta pelatihan saat itu, langsung mengaplikasikan pengetahuan yang mereka dapatkan dengan mengirimkan saya surat elektronik yang berisi ucapan terima kasih.
Pada beberapa tahun karir saya sebagai pengajar, sekolah tempat saya mengajar mendatangkan seorang ahli pendidikan yang bukan hanya ahli dalam jargon dan paradigma, tetapi juga seorang guru yang mengajar dikelas. Orang tersebut adalah Tony Ryan.
Sabtu tanggal 10 Mei 2008 adalah hari yang bersejarah buat saya. Di hari tersebut saya mendapat gambaran dari hal-hal yang saya pikirkan selama menulis dalam blog ini. Sebuah gambaran yang jelas menarik dan memberikan motivasi. Gambaran itu adalah betapa negara kita mempunyai guru-guru yang berdedikasi dan mempunyai semangat untuk selalu belajar dan meningkatkan diri.
Coba anda lihat definisi sebuah metode pembelajaran dibawah ini;
Proyek perseorangan atau grup, dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk atau sebuah aksi, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa . Menggunakan: pendekatan kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, pembelajaran terpadu, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dan lain-lain
Kata banyak pendidik, sekarang ini jamannya KTSP. Sebuah singkatan yang pasti anda tahu artinya. Dengan segenap prasangka baik saya yakin KTSP dibuat untuk menolong guru, bukan malah mempersulit. Jika yang terjadi di lapangan banyak guru merasa kesulitan dalam menerapkan, mungkin yang harus ditambah adalah semangat guru untuk bereksplorasi dan mencari metode pembelajaran yang baru dan menantang sebagai pelengkap.