Blog ini di buat oleh Agus Sampurno yang mendedikasikan diri sebagai pendidik tunas bangsa di tingkat sekolah dasar di Indonesia. Berbekal pengalaman dari sekolah tercinta Sekolah Global Jaya Jakarta tempat saya berkarya, saya ingin berbagi ide serta saran yang mungkin dapat dipraktekkan dan dijadikan bahan diskusi oleh para guru sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme dalam bekerja di tingkat sekolah dasar.
Akrabkah anda dengan kalimat perintah dibawah ini?
· “Anak-anak, bukalah buku cetak kalian halaman sekian…”
· “Anak-anak, buatlah ringkasan lalu garis bawahi hal yang menurut kalian penting didalam buku cetak kalian..”
· “Anak-anak kerjakanlah soal halaman sekian, lalu jika tidak selesai jadikan pekerjaan rumah ya!”
Saat guru dikelas, adalah saat siswa merasakan aura dan pesonanya. Aura yang saya maksud adalah segala tindak tanduk serta perilaku yang tercermin dari saat memasuki kelas sampai mengakhiri kelas setelah mengajar yang membuat sukses tidaknya kelas yang dikelolanya. Hampir semua pendidik dan pengajar ingin kelas yang dipegangnya lancar dan tidak ada hambatan. Namun sadarkah kita jika terkadang hambatan itu datang dari diri kita sendiri? Berikut 6 indikator hambatan yang berasal dari diri guru itu sendiri.
Pembaca yang budiman, ingatlah kembali profil guru yang menurut anda membuat diri anda merasa nyaman dikelas saat anda masih belajar di sekolah dasar dan menengah. Sekarang, mohon berefleksi untuk menjawab pertanyaan saya.
Bagaimana guru itu melakukannya?
Bagaimana perilaku tersebut?
Sejauh mana anda merasa nyaman dikelasnya?
Bagaimana beliau memperlakukan anda dan teman anda dikelas?
Jika ada yang tidak patuh apa yang akan dia lakukan?
Hanya untuk anda, saya cuplikan dari buku legendaris Andreas Hirata, yang berjudul Laskar Pelangi. Sebagai tambahan motivasi kita semua memasuki tahun ajaran baru.
Banyak jalan menuju roma, banyak jalan juga menuju peningkatan kompetensi guru. Saat ini sudah mulai banyak lembaga pendidikan yang mulai merasa membutuhkan peningkatan kompetensi guru dengan gaya yang sama sekali baru. Terkadang pengelola sekolah bahkan guru yang dikirim untuk hadir pada acara seminar atau pelatihan guru pulang hanya dengan wacana-wacana yang jika diaplikasikan dikelas akan mengalami kendala. Entah karena wacana yang sama sekali baru, atau cara mendapatkan wacana di pelatihan yang tidak menarik dan membosankan.
Menghadiri seminar atau pelatihan bukan hal yang luar biasa lagi untuk guru. Apalagi di jaman sertifikasi ini. Suka atau tidak, guru akan lebih banyak mengahdiri acara sejenis seminar dan pelatihan daripada sebelumnya. Masalahnya banyak guru yang merasa bahwa kehadirannya di seminar hanya untuk mendengarkan pembicara berbicara panjang lebar dari pagi sampai sore dan melewatkan kesempatan emas membangun jaringan saat rehat atau makan siang. Jangan sangka kaum pemasaran atau kaum bisnis saja yang membutuhkan jaringan, guru juga, agar sebagai professional guru mampu membandingkan apa yang sudah atau belum anda lakukan di kelas bersama siswa.
Dibawah ini saya suguhkan kepada anda, hasil pelatihan yang saya berikan mengenai project based learning atau pembelajaran berbasis proyek. Saya hadirkan karya salah satu kelompok .
Tahun ajaran 2007 dan 2008 hampir lewat, silahkan memperhatikan 9 indikator dibawah ini untuk menjadikan kita guru yang lebih baik dari tahun ajaran kemarin.
“Terimakasih atas pengetahuan yang sudah bapak berikan”. Itulah isi pesan yang masuk ke kotak surat saya siang menjelang sore tanggal 31 Mei 2008. Surat elektronik yang berisi pesan diatas masuk ke dalam kotak surat saya, dikirim oleh salah satu guru yang hadir pada pelatihan saya mengenai penggunaan Powerpoint, internet dan surat elektronik. Saya terkejut sekaligus senang para guru yang menjadi peserta pelatihan saat itu, langsung mengaplikasikan pengetahuan yang mereka dapatkan dengan mengirimkan saya surat elektronik yang berisi ucapan terima kasih.
Pada beberapa tahun karir saya sebagai pengajar, sekolah tempat saya mengajar mendatangkan seorang ahli pendidikan yang bukan hanya ahli dalam jargon dan paradigma, tetapi juga seorang guru yang mengajar dikelas. Orang tersebut adalah Tony Ryan.