Lompat ke isi

4 Tantangan Menjadi Guru Kreatif

22 Januari 2012

Menjadi guru kreatif menjadi keinginan guru yang mengajar dengan hati. Saya ingat kata-kata rekan saya @mybothsides yang mengatakan ‘dimana ada kemauan disitu ada tantangan. Tantangan apa saja yang bisa seorang guru hadapi jika ia ingin menjadi seorang guru yang kreatif? Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin akan dihadapi;

  • Berani memperkuat motivasi

Bisa dikatakan hal inilah yang banyak membuat banyak guru memilih untuk menjadi guru yang biasa saja. Guru biasa yang saya maksud adalah guru yang hanya memaknai kehadirannya dikelas sebagai rutinitas sambil menunggu gajian. Persoalan motivasi adalah persoalan niat yang datang dari dalam lubuk hati terdalam. Maknai pekerjaan kita sebagai pengajar dan pendidik sebagai panggilan dipastikan motivasi kita akan terus menguat dan menjadi bahan bakar untuk menjadi guru yang kreatif. Sebaliknya ketiadaan motivasi bisa membuat seorang guru lemah bahkan terpikir untuk beralih profesi. Motivasi untuk menjadi guru yang kreatif bisa datang dari rekan sekerja, atasan atau dari siswa kita di kelas. Namun motivasi yang terbaik datang dari diri sendiri.

  • Menganggap biaya itu penting namun bukan yang paling penting

“Jika tidak ada dana, mana mungkin seorang guru jadi guru yang kreatif”, demikian kata-kata yang sering saya dengar saat berbicara soal kreativitas di kalangan guru. Dana memang penting namun itu bukan segala-galanya. Jika seorang guru mengartikan dana adalah uang yang bisa ia gunakan untuk membeli ini dan itu sebagai kelengkapan mengajar agar menjadi lebih kreatif, ia bisa benar bisa juga keliru. Banyak guru kreatif yang saya kenal menggunakan barang bekas ketika mengajar atau merawat kembali alat-alat mengajarnya agar bisa digunakan dilain waktu. Ada juga rekan saya bersikap (maaf) seperti pemulung yang senangnya mengumpulkan ini dan itu (barang bekas) hanya untuk bisa dipakai saat mengajar. Untuk anda ketahui bahkan di sekolah Internasional yang berkelimpahan dana, mereka selalu memakai barang daur ulang dengan alasan selain menghemat juga karena alasan lingkungan. Kreativitas memang perlu dana, namun kreativitas tidak mesti mahal. Banyak guru yang  karena keterbatasan dana malah menjadi sangat kreatif.

  • Merubah cara pandang (cara berpikir) 

Menjadi guru kreatif itu mesti punya title, mesti punya anggaran yang banyak, mesti banyak anak-anak yang pintar di kelasnya dll. Pernyataan tadi lahir dari cara memandang yang keliru soal menjadi guru kreatif.  Pernyataan tersebut benar jika menjadi guru kreatif  adalah masalah menghasilkan ‘produk’ pengajaran yang bagus, atau yang ‘wah’. Hal seperti inilah yang mesti diluruskan. Seorang guru disebut kreatif karena ia menghargai proses yang terjadi di kelasnya. Artinya setelah ia rencanakan pembelajaran di kelasnya, menggunakan sumber pembelajaran sesuai yang dipunyai oleh sekolahnya, tahap berikutnya adalah melihat siswanya berproses. Ketika proses yang terjadi membuat siswanya jadi senang belajar, senang bertanya, percaya diri serta beragam sikap lainnya yang berguna bagi masa depan siswanya, saat itulah seorang guru  berhasil menjadi seorang guru kreatif.

  • Berprasangka baik pada siswa.

Pasti banyak dari anda para guru yang mengernyitkan dahi ketika membaca kata-kata diatas. Berprasangka baik memang menjadi bagian dari tugas guru, namun banyak dari guru yang masih mengatakan, “aah murid saya semua anak desa, untuk apa saya mengajar dengan kreatif?” atau “murid-murid saya tahun ini tidak seperti tahun lalu, mereka nakal-nakal, jadi untuk apa mengajar kreatif?” Sayang sekali jika kita sebagai guru sudah merendahkan potensi siswa. Potensi terbaik ada di setiap siswa, tinggal bagaimana cara kita sebagai guru membangkitkan dan membesarkan potensi itu. Caranya bisa dimulai dengan berprasangka baik pada siswa, karena saya yakin siswa yang diperlakukan dengan prasangka baik akan membalas dengan memberikan support pada guru yang mengajar mereka dengan cara supportif dan aktif saat pelajaran. Kedua hal tersebut adalah prasayarat seorang guru bisa mewujudkan ide-ide kreatifnya saat mengajar.

Apa tantangan yang anda temui sebagai pendidik di kelas, apa tantangan yang membuat anda menjadi semakin yakin bahwa menjadi guru kreatif perlu usaha dan niat yang keras? mari berbagi lewat kolom komentar

8 Komentar leave one →
  1. 22 Januari 2012 1:06 pm

    Assalamu’alaikum
    Dengan segala hormat ,blog ini telah saya anugrahi “The Seven Shadow Award 2012,dimohon untuk meneruskannya ke rekan-rekan blogger lainnya.Ditunggu kunjungannya kesini :http://pengawas20.wordpress.com/2012/01/22/blog-pengawas-sekolah-indonesia-terima-the-seven-shadow-award-2012/

    Wassalam

    • agusampurno permalink*
      23 Januari 2012 8:15 am

      Terima kasih Pak Haji Indra atas awardnya, semoga blog ini bisa selalu jadi rujukan bagi guru yang ingin maju dalam mengajar dan berkreasi di kelas.

  2. 22 Januari 2012 5:23 pm

    sangat bermanfaat gan informasinya …
    ijin untuk menyimak artikelnya …. :)
    salam kenal dan persahabatan …. ;)

    • agusampurno permalink*
      23 Januari 2012 2:32 pm

      Terima kasih atas kunjungannya, salam kenal kembali

  3. 22 Januari 2012 11:05 pm

    Pak, saya ada dua siswa yg sangat mengganggu di kelas. mengganggu disini maksudnya bukan dlm kepentingan saya mengajar, tapi karena mengusik teman-temannya utk tidak fokus pada aktifitas yg sedang mereka lakukan.

    Saya berprasangka baik dgn mencoba memahami background mereka yg memang kurang perhatian di rumah dan cenderung dimanja dan diproteksi berlebihan oleh ortu sehingga jauh dari mandiri. Saya berkomunikasi dgn sangat sabar utk mengalihkan energi mereka yg berlebihan tersebut. Saya melakukan strategi berbeda di kelas utk menghindari mereka bosan.

    Tapi, lama-lama saya jengkel juga, krn ternyata mereka malah semakin “ngelonjak”. Saya agak galau, kalau marah karena sikap tersebut saya jadi nggak obyektif, kalau tidak marah…hahaha…sulit rasanya, krn di kelas gangguan mereka intensitasnya makin meninggi.

    Ada ide, Pak? Thanks. :-)

    • agusampurno permalink*
      23 Januari 2012 2:33 pm

      Pak Rendra yang baik kasusnya juga pernah saya alami, ijinkan saya akan membahas lebih lanjut di artikel khusu yang akan membahas siswa yang sulit.

  4. 25 Januari 2012 7:17 am

    Pak saya sering mempunyai ide-ide untuk memperkaya metode mengajar,tapi terkadang pasilitas yang tidak mendukung,sehingga hal tersebut terkadang membuat saya dan rekan -rekan kami jalan di tempat,bagaimana sulusinya pak?????mohon masukannya,melalui artikel-artikel bapak.trim’s sebelumnya…..

    • agusampurno permalink*
      26 Januari 2012 3:12 am

      Apa kabar bu, saran saya cobalah dulu memilih strategi pembelajaran yg alat peraganya bisa diganti dgn hal-hal yang ada di sekitar kita. Coba dengan metode belajar yang paling mudah dan yang paling mungkin. Dengan demikian ada kesenangan dihati jika sudah bisa mempraktekan, dan ada keinginan lagi utk mencoba metode yang lain.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya.