Tren Pendidikan Internasional Sekolah-Sekolah yang Berwawasan Internasional (Ian Hill)

Translated by: Ibu Wendy, Ibu Elly and Ibu Fitri – Sekolah Global Jaya, Jakarta, Indonesia

Pendidikan inernasional tidak selalu merupakan dominasi sekolah-sekolah internasional. Sejumlah besar sekolah negeri menawarkan program yang sejenis dengan apa yang ditawarkan oleh institusi sekolah internasional. Sebagai konsekwensinya, upaya untuk merumuskan apa yang disebut pendidikan inetrnasional akan terjawab jika kita membedakan usaha untuk merumuskan apa sebenarnya arti sekolah internasional, atau bagaimana seharusnya sekolah internasional itu, dan sebagai gantinya mamusatkan pemikiran kita kepada sekolah-sekolah yang berwawasan internasional. Dr. Hill mendeskripsikan sejumlah besar tipe sekolah berwawasan internasional yang menawarkan program tersebut, terutama sekolah-sekolah negeri atau sekolah-sekolah yang dibiayai oleh pemerintah. Ia menyuguhkan contoh praktis apa yang menjadi dasar dan aspek-aspek utamasebuah sekolah yang berwawasan internasional, terutama pemahaman inter-kultural dan bagaimana hal tersebut dapat diajarkan di sekolah manapun baik nasional maupun internasional.

Sekolah-sekolah internasional bukanlah satu-satunya jenis sekolah yang menyuguhkan pendidikan internasional. Sekolah-sekolah nasional, baik negeri maupun swasta, juga dapat menjadi partner setara. Hal ini mulai nampak pada dekade ’90-andan melalui beberapa penulis, seperti misalnya Peels (1998 halaman 12), telah mengarah kepada hal tersebut. Walker (1995 halaman 14) berkata: “Sekarang ini sejumlah besar sekolah negeri nasional…menggalakkan perkembangan jalur pendidikan internasional”. Menarik untuk disimak bahwasanya 1080 sekolah-sekolah International Baccalaureate Organization (IBO) di bulan Mei 2000, 43% diantaranya adalah sekolah negeri. 57% dari sisanya, sepertiga adalah sekolah swasta nasional. Dengan demikian berarti hanya sepertiga dari seluruh sekolah yang menyelenggarakan program IBO merupakan sekolah-sekolah internasional independen milik swasta. Diskusi menawarkan deskripsi sekolah-sekolah internasional, sekolah-sekolah nasional dan pendidikan internasional; yang dikatakan bahwasanya konsep sekolah-sekolah “international-minded” (berwawasan internasional) lebih cocok dengan peningkatan pendidikan internasional dan upaya untuk mengilustrasikan hal ini melalui sebuah contoh pengajaran yang berupaya membangun pemahaman inter-kultural.

Ciri-Ciri Sekolah Nasional
Sebuah sekolah nasional biasanya mengajarkan kurikulum yang ditetapkan oleh kementrian pendidikan dari negeri yang bersangkutan dan memiliki baik siswa maupun staff dari dalam negeri. Sebagian besar adalah sekolah negeri yang dibiayai oleh pemerintah (tanpa uang sekolah), dan sejumlah besar sekolah swasta (yang menerapkan uang sekolah). Kebanyakan sekolah ini berlokasi di dalam negeri, sebagian di luar negeri yang didirikan untuk warga Negara negeri yang bersangkutan, seprti misalnya sejumlah sekolah Amerika, Inggris dan Perancis.

Dalam beberapa kasus, sekolah nasional akan mengajarkan program pendidikan nasionalnya, program negeri lain atau sebuah program internasional. Beberapa sekolah swasta, seperti sekolah nasional di Afrika Selatan, mengajarkan CCE “A” level sebagai tambahan pembelajaran matrikulasi nasional. Sebagian besar negeri-negeri di Afrika yang berbahasa Perancis memiliki sejumlah kecil sekolah swasta-nasional yang mengajarkan baccalaureat Perancis bersamaan dengan baccaulaureate lokal dimana sekolah itu berada. City Technology College, Kinghust, Birmingham, adalah sebuah sekolah negeri yang manawarkan Program IB Diploma dan tidak menyelenggarakan “A” level (namun menyuguhkan program nasional Inggris lainnya yang berorientasi pada pendidikan vokasional/keterampilan).

Sebuah contoh lain, banyak dari sekolah-sekolah di Amerika Utara yang ada di luar Amerika, menawarkan Program IB sebagai tambahan dari diploma SMA dan ujian Advanced Placement; beberapa diantaranya diberi nama “The American International School of…” yang menandakan bahwasanya mereka mempertahankan etos ke-Amerika-annya namun juga menawarkan dimensi internasional. Sekarang ini, banyak sekolah sekolah Amerika yang berkedudukan di luar negeri yang hanya memiliki sejumlah kecil siswa yang berasal dari Amerika dan sisanya datang dari budaya yang berbeda-beda, namun staffnya sebagian besar adalah warga negara Amerika. Di satu sisi, mereka ini memiliki kualifikasi sebagai sekolah-sekolah internasional, namun mereka mempromosikan budaya dan system pendidikan Amerika dan dengan demikian merupakan sekolah nasional ditinjau dari asal-usul dan etosnya.

Sekolah Internasional – apa artinya?
Sebuah sekolah internasional biasanya melayani siswa yang berasal dari sejumlah besar budaya yang berbeda. Mereka sering berpindah berpindah dari satu negera ke negera lainnya, karena biasanya mereka adalah pegawai salah satu organisasi PBB atau perusahaan swasta multinasional. Staffnya juga terdiri dari orang-orang berbagai bangsa tanpa memiliki satu budaya yang dominan. Sekolah-sekolah sejenis ini biasanya menawarkan satu atau lebih program internasional (namun biasanya bukanlah program dari negeri dimana sekolah ini berada) atau merupakan kombinasi dari keduanya. Sekolah-sekolah ini adalah sekolah swasta yang menerapkan sistem uang sekolah dan tersebar di seluruh dunia. Mereka juga melayani orang tua (kebanyakan orang asing dan juga lokal) yang menginginkan putera-puterinya menerima pendidikan yang berbeda dari program lokal (walaupun ada juga sejumlah kecil sekolah yang tetap menawarkan program lokal, seperti misalnya International School of Geneva yang juga mengajarkan maturite Swiss). Orang tua siswa lokal terkadang juga tertarik oleh percampuran budaya yang terjadi di sekolah yang bersangkutan.

United World Colleges adalah contoh yang tepat untuk sekolah-sekolah internasional, seperti halnya sekolah-sekolah yang didirikan oleh PBB, misalnya: International School of Geneva, the UN International School (New York) dan Bienna International School. Ada juga sekolah-sekolah Uni Eropa (EU) yang untuk pertama kalinya menawarkan European Baccalaureate pada tahun 1959, yang sebagian besar merupakan representasi pembauran berbagai budaya negara-negara anggota Uni Eropa. Program-program sekolah ini menyatukan berbagai aspek kurikulum nasional sehingga setiap siswanya ter-ekspos dengan paling sedikit dua bahasa nasional dan budaya secara mendalam.

Sebuah sekolah internasional murni dapat dikatakan sebagai sebuah sekolah yang tidak melakukan penekanan pada budaya dan sistem pendidikan dari sebuah negara tertentu.

Sekolah Negeri Internasional – jenis ini benar-benar ada
Sebuah institusi hybrid adalah sekolah nasional dengan bagian internasional khusus. Jenis sekolah semacam ini dapat ditemukan di Belanda, Negara-negara Scandinavia seperti (Swedia, Denmark, Norwegia , Finlandia dan Iceland) dan dari Eropah Timur; ada sekitar 75 institusi dengan kurang lebih 45 berada di Negara –negaea Scandinavia. Dari sekolah-sekolah negeri ini yang mengajarkan bahasa nasional, ada bagian khusus yang mengajarkan bahasa Inggris dan menawarkan program eksklusif IB-biasanya untuk tingkat diploma namun secara berkala juga menawarkan Middle Years Programme (MYP). Semuanya, termasuk staff pengajar, disediakan oleh Negara. Di Belanda, seksi internasional sebagian besar dipadati oleh siswa-siswi asing dengan beberapa siswa Belanda yang pernah tinggal di luar negeri. Orang tua membayar uang sekolah yang jumlahnya tidak banyak ditambah dengan uang ujian IB. Di negeri-negeri Scandinavia dan Eropah Timur, seksi internasional ini biasanya melayani siswa-siswi dari dalam negeri tanpa perlu membayar uang sekolah namun tetap membayar ujian IB. Dalam setiap kasus, staff sekolah didominasi oleh orang-orang lokal, dengan sejumlah kecil native speakers bahasa Inggris dari luar negeri.

Perancis juga memiliki 8 lycees (sekolah) negeri yang menawarkan program internasional dengan seksi ingternasional bilingual yang mengajarkan bahasa Inggris dan sebuah bahasa lain. Bergantung pada ukuran sekolah, dapat terjadi bahwa sekolah yang bersangkutan memiliki satu atau lebih seksi internasional, masing-masing dengan bahasa keduanya sendiri contohnya: Bahasa Inggris, Spanyol, Portugis, Jerman, Itali, Jepang, Swedia. Sarana dan fasilitas serta materi disediakan oleh pemerintah Perancis, termasuk guru-guru yang mengajar dalam bahasa Perancis. Program IB Diploma ditawarkan oleh salah satu lycess ini, atau program yang dipakai adalah baccalaureat francais a option internationale (yang dipersiapkan oleh kementrian pendidikan) yang diuji untuk pertama kalinya pada tahun 1984 (terinspirasi oleh IB Diploma). Program ini identik dengan baccalaureate nasional dengan perkecualian bahasa asing yang digantikan dengan kelas sastra pada tingkatan siswa native speakers yang dilaksanakan enam kali seminggu dan 3 kali seminggu untuk sejarah/geografi dalam bahasa lain. Guru-guru pelajaran yang menggunakan bahasa asing (kecuali Inggris) disediakan oleh pemerintah dari negeri yang bahasanya diajarkan., melalui persetujuan bi-lateral dengan kementerian pendidikan Perancis. Native Speakers bahasa Inggris direkrut oleh seksi yang bersangkutan dan dibiayai oleh pembayaran yang ditarik dari orang tua. Seksi-seksi internasional mayoritas terdiri dari siswa asing dengan sejumlah siswa Perancis.

Pengecualian dapat terjadi, namun typolog sekolah ini dapat dipahami jika kita tidak secara otomatis mengasosiasikan pendidikan internasional hanya diberilkan oleh sekolah-sekolah internasional dan sekolah nasional hanya memeberikan pendidikan nasional.

Apa yang dimaksud dengan pendidikan internasional?
Banyak pendidik internasional telah berusaha merumuskan ‘pendidikan internasional’ selama bertahun-tahun. Deskripsi di bawah ini berisi pendekatan-pendekatan yang dimengerti oleh sebagian orang tentang apa itu pendidikan internasional dan menjadi topik utama dalam artikel ini.
Definisi UNESCO tentang pendidikan internasional menekankan kepada pendidikan bagi perdamaian, hak azasi dan demokrasi (UNESCO 1974). Definisi ini dipertegas dengan adanya deklarasi pada konferensi internasional dalam hal pendidikan (ICE), Geneva, 1994 dan disokong oleh konferensi umum UNESCO di Paris tahun berikutnya. ICE dikelola oleh Biro Pendidikan Internasional (UNESCO) dan mengajak serta Menteri Pendidikan dari seluruh Negara. TUjuan dari pendidikan internasional ini diperkenalkan dengan deklarasi ini (UNESCO, 1996, p. 90 untuk mengembangkan :

• Nilai yang universal bagi adanya budaya perdamaian,
• Kemampuan untuk menghargai kebebasan dan tanggung jawab warganegara yang ada didalamnya,
• Pemahaman antar budaya yang mendorong pemersatuan ide dan solusi untuk memperkuat perdamaian,
• Kemampuan untuk memecahkan konflik tanpa kekerasan,
• Kemampuan untuk membuat pilihan-pilihan,
• Menghargai warisan budaya dan pemeliharaan lingkungan,
• Rasa solidaritas dan keadilan pada tingkat nasional dan internasional

Sangat jelas bahwa deklarasi ini dapat diterima oleh para Menteri Pendidikan, yang tentunya merupakan program pendidikan nasional. Harapan UNESCO selalu adalah sistim pendidikan nasional akan memasukkan juga prinsip-prinsip diatas pendidikan internasional yang telah disebutkan diatas.

Bagaimana prinsip-prinsip ini diterjemahkan dalam tindakan ditingkat sekolah? Pendidikan Internasional memiliki kekhawatiran akan keseluruhan pengalaman formal (pembelajaran yang terencana) maupun pengalaman sekolah informal yang didapat.

Hal ini yaitu :

• Isi mata pelajaran yang menyediakan sudut pandang internasional (termasuk isu global dan bahasa asing), pendidikan kewarganegaraan (lewat pelayanan masyarakat, contohnya): isu global termasuk kesadaran akan lingkungan, penyebab konflik, sangsi dari tidak bertoleransi bahaya gerombolan orang banyak dan membuat etika dalam bidang sains, teknologi dan ekonomi:
• Mengenali bahwa dunia meningkatan pendekatan pedagogi yang bertergantungan yang dapat mengembangkan sikap keterbukaan kearah semua budaya, training dalam memecahkan konflik tanpa kekerasan pada semua budaya, dan ketrampilan menganalisa secara kritis untuk membuat pilihan-pilihan
• Aktivitas yang dapat membawa siswa untuk berhubungan dengan orang dari budaya lain dan bagi yang mungkin kurang beruntung, untuk mengembangkan solidaritas pada tingkat lokal maupun internasional dan
• Mengetahui bahwa perdamaian dunia hanya akan datang bila banyak budaya belajar hidup selaras dalam saling memahami dan menghormati yang didasari oleh gkaian nilai kemanusiaan yang universal.

Tujuan utama dari organisasi “Internasional Baccalaurate “ (IBO) adalah menyediakan program pendidikan internasional, kearah mana kriteria diatas dapat dikembangkan , hal ini semua ada diseluruh proram IB namun bukanlah objek diskusi kali ini. Cukuplah dikatakan bahwa George Walker, Direktur Umum IBO yang baru-baru ini diangkat, telah memecahkan pertanyaan rumit mengenai nilai universal dalam sebuah tulisan yang tidak diterbitkan (Walker 1999) dan dalam Jurnal Sekolah Internsional (April 2000). Walaupun mata pelajaran resmi tentang pemecahan konflik tanpa kekerasan hanya sedikit (Atlantic College, Wales telah mengembangkan Sekolah IB diploma berdasarkan silabus yang disebut ‘Pembelajaran tentang perdamaian dan konflik beberapa tahun lalu), prinsip dasar akan timbul ketika siswa menghormati pandangan-pandangan dari pihak lain, sebagai hasilnya mereka memodifikasi pandanagan mereka sendiri, dan berusaha keras untuk mendapatkan konsensus atau berkompromi dimana tidak ada yang menah atau kalah. Penyataan misi IBO menyebutkan komponen-komponen yang ada dalam pendidikan internasional, seperti yang sudah dijabarkan UNESCO, hanya dalam bentuk yang berbeda.
Untuk kepentingan artikel ini, diasumsikan bahwa The Primary years Programme (PYP), The Middle years Programme (MYP) dan The Diploma Programme (DP) dari IBO mewakili program pendidikan internasional sejajar dengan definisi diatas, seperti ketidak sempurnaan program-program diatas mungkin dalam memahami tujuan-tujuan yang dimaksud

Program IBO bukan satu-satunya program menuju gerbang pendidikan internasional walaupun hal itu menjadi prinsip utama dan filosofi mereka.
Secara jelas program nasional, patut dihargai, dapat memasukkan komponen-komponen yang ada dalam pendidikan internasional. Memang beberapa pemerintahan telah berusaha untuk memasukkan dimensi internasional kedalam sistem sekolah negara bagian mereka seperti yang dinyatakan dalam diskusi sekolah negeri bertaraf internasional. Program nasional bagaimanapun dapat ditundukkan oleh paksaan politik Negara tersebut. Dan tekananpun muncul, sebagai contoh, pengajaran sejarah harus sejajar dengan pemahaman pemerintah, dimana sebuah bahasa dibebankan atau ditekankan pada alasan politik atau dimana kesusasteraan tidak dapat diajarkan karena bertentangan dengan ideologi dari sebuah pemerintahan. Di beberapa negara pendekatan pedagogi menekankan pada hafalan dengan sedikit atau bahkan tidak sama sekali diberikan dorongan untuk bertanya dan berdiskusi tentang sudut pandang yang berbeda. Nyata benar, bahwa siswa dapat dihukum bila mereka tidak menjawab test yang diberikan sesuai dengan jawaban yang diharapkan.
Sulit untuk membayangkan bagaimana ketrampilan berpikir kritis- yang penting kaitannya dengan keterbukaan pandangan dari pendidikan internasional- dapat diciptakan dalam keadaan dan situasi seperti tersebut di atas.

Sekolah internasional versus Pendidikan internasional

Hayden dan Thompson telah menulis sebuah artikel yang sangat membantu dalam menyimpulkan literatur yang memiliki kekhawatiran tentang pemahaman akan sekolah internasional dan pendidikan internasional. Mereka menyimpulkan bahwa hubungan keduanya diatas membingungkan (Hayden & Thompson, 1995 p342). Keadaannya akan menjadi semakin jelas jika kita menerima bahwasanya tidaklah perlu ada hubungan antara pendidikan internasional dan sekolah internasional, dan juga berhenti untuk membuat seolah-olah hubungan tersebut ada.

Biarkanlah itu berlaku sebagaimana mestinya. Kita sudah terlalu lama, mencoba untuk membuat satu definisi dari pendidikan internasional melalui sekolah internasional, dan ternyata hal tersebut tidak membuahkan solusi. Kita, berasumsi bahwa sekolah internasional menawarkan pendidikan internasional. Kebanyakan sekolah internasional ya, tapi tidak semua. Hubungan tersebut sangat lemah.
Adalah lebih produktif dan realistis untuk melihat pendidikan internasional dan sekolah internasional sebagai konsep yang tidak berhubungan dan memperlakukan keduanya secara terpisah. Haydern (2000 p 53) mengatakan bahwa di kemudian hari, lebih baik kita mendedikasikan energi kita ‘ tidak untuk mengembangkan network (hubungan kerja) antara sekolah internasional, tetapi lebih kepada mengembangkan hubungan kerja antara sekolah-sekolah…….yang bertujuan untuk mempromosikan pendidikan internasional.

Robert Belle-Isle (1986 p30) mengatakan: ‘Sebuah sekolah tidak dapat mengklaim sebagai sebuah institusi internasional hanya karena 70% atau 80% dari kliennya berasal dari berbagai warganegara, ras dan budaya. Jika sekolah dapat menerima kehadiran berbagai warganegara diatas sebagai standar yang memadai untuk label tersebut, dan kebanyakan sekolah melakukannya, maka sekolah itu dapat dianggap sekolah internasional.

Ketidaksetujuan Robert Belle-Isle didasarkan pada ekspektasinya (yang sangat beralasan) bahwa pembentukan institusi yang disebut ‘ sekolah internasional’ akan mengacu secara kuat pada prinsip-prinsip dari pendidikan internasional. Merupakan satu realita dimana penggunaan kata ‘internasioanl’ didalam nama sekolah adalah untuk satu atau beberapa alasan di bawah ini, khususnya alasan yang pertama:

1. merefleksikan populasi sekolah dengan kearagaman bangsa dan Negara;
2. mengindikasikan bahwa institusi tersebut beroperasi di luar negeri dikhususkan untuk bangsa-bangsa dari Negara asal yang programnya diajarkan di sekolah itu.
3. karena sekolah tersebut berbagi prinsip-prinsip secara ideologi dan pedagogi dari pendidikan internasional dan hal tersebut diperlihatkan;
4. karena istilah ‘internasional’ sangat menarik perhatian dan memberikan pemasaran yang lebih baik dalam menjaring siswa.

Matthew (1988 p83-84) membedakan antara sekolah yang ‘berlandaskan ideologi’ dengan sekolah yang ‘berlandaskan pemasaran’. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat kriteria diatas. Sebuah sekolah dapat memiliki karakteristik keduanya. The United World Colleges jelas adalah sebuah grup dari sekolah-sekolah yang ‘berlandaskan ideologi’, tidak menggunakan istilah ‘internasional’ didalam nama mereka tetapi mereka memberikan pendidikan internasional dan memiliki latar budaya yang beragam, baik dilihat dari siswa maupun gurunya.

Segera setelah kita melepaskan hubungan antara pendidikan internasional dengan sekolah internasional, maka definisi dari sekolah internasional tidak akan menjadi masalah besar, dan sebenarnya tidak terlalu berarti (lihat Murphy, E, April 2000).
Hayden dan Thompson membuat pernyataan berikut (1995 p338): ‘Apakah kita memilih atau tidak memilih untuk mendefinisikan sekolah-sekolah tertentu sebagai sekolah-sekolah internasional, mungkin menjadi kurang penting bila dibandingkan dengan pendidikan itu sendiri yang dialami siswa di sekolah-sekolah tersebut.

CIMS ( Conference of Internationally Minded Schools) – Konferensi Sekolah Berwawasan Internasional

Pada tahun 1949, atas usulan Kees Boeke, direktur dari Werkplaats International Children’s Community di Buthoven (Belanda), sekelompok kepala sekolah dari sekolah-sekolah yang tertarik dengan pendidikan internasional dipertemukan untuk pertama kalinya oleh UNESCO. Dari 21 pendidik yang hadir di pertemuan ini, yang berikut patut untuk disebutkan: Kurt Hahn dari Gordonstoun School (Skotlandia) yang kemudian menemukan Atlantic College di Wales, Madame Hatinguais dari Centre International d’Etudes yang akhirnya sangat aktif di perkembangan awal IB Diploma Program, Monsieur Roquette dari Salem School, Jerman (sebelumnya dipimpin oleh Kurt Hahn), dan Messieurs Theis dan Trocme dari College Ceveriol (Perancis) yang hingga tahun 1995 menjadi IB Diploma School. Dr. Cheng Chi-Pao, menjabat sebagai Kepala Departemen Pendidikan UNESCO, menyatakan di pidato pembukaannya bahwa pertemuan ini adalah pertemuan pertama yang pernah diadakan berkaitan dengan pendidikan internasional.
Pertemuan ini disusul oleh pertemuan kedua yang diadakan di tahun 1951, dimana pada pertemuan inilah Sekolah Berwawasan Internasional (CIMS) didirikan. Sekertaris pertamanya adalah Mr. Frank Button dari Badminton School, Inggris. Para kepala sekolah dari negara-negara berikut juga turut menghadiri: Perancis, Jerman, Belanda, HongKong, India, Yordania, Swiss, United Kingdom dan Amerika Serikat. Mengingat bahwa dimasa ini sistem komunikasi canggih belum diciptakan, pertemuan ini merupakan prestasi yang luar biasa. UNESCO menyediakan tempat pertemuan tahunan dan sekertariat untuk perkumpulan ini.
Anggota-anggota dari perkumpulan ini terdiri dari beberapa sekolah internasional dan sekolah-sekolah negeri maupun swasta yang memiliki tujuan pendidikan yang sama. Yaitu untuk memajukan perdamaian dunia dan pengertian akan dunia internasional. Perkumpulan ini menyelenggarakan diklat-diklat untuk melatih para guru dalam mempromosikan pengertian dunia internasional, menjadi orang tua angkat dari program pertukaran pelajar antar sekolah anggota di seluruh dunia dan bekerja sama untuk merealisasikan persamaan ujian masuk perguruan tinggi di seluruh dunia. Tujuan dari keanggotaan CIMS adalah untuk memecahkan masalah, siapa sebenarnya yang dapat menyediakan pendidikan bertaraf internasional. Sangat disayangkan bahwa keberadaan CIMS kurang diakui oleh para kaum intelektual di masa itu. CIMS pada akhirnya diakui oleh International Schools Association (yang juga didirikan di tahun 1951, tetapi secara independen) di tahun 1969. Tetapi keduanya berfungsi secara terpisah hingga saat itu.

PENDIDIKAN INTERNASIONAL-Sebuah pola pikir

Sebuah sekolah lokal dapat menawarkan kurikulum dan pendekatan pedagogi yang dibutuhkan dari pendidikan internasional apabila staff di sekolah tersebut di latih untuk berpikiran terbuka. Pendidikan internasional pada dasarnya adalah sebuah pola pikir.
CIMS sudah mengerti akan hal ini pada tahun 1951. hal ini juga disampaikan oleh Gellar (1993 p6) yang menyatakan: “Kita mendefinisikan pendidikan internasional dengan melihat apa yang dilakukan sekolah tersebut dalam menumbuhkan pemahaman [multikultural]. Oleh karena itu, sekolah manapun di seluruh dunia ini, baik itu negeri ataupun swasta, dapat menawarkan pendidikan internasional. Pendapat yang serupa juga dilontarkan oleh Cole-Baker (1989) di tahun 60-an. Ketika ditanya untuk mendefinisikan arti dari pendidikan internasional, ia menjawab: “Di dalam sebuah sekolah internasional yang sebenarnya pendidikan internasional diciptakan dari lingkungan; di sebuah sekolah lokal pendidikan internasional diciptakan melalui cara berpikir’.
Atas dasar pendapat para ahli diatas semakin banyak sekolah, negeri ataupun swasta, yang turut mengadopsi program IBO untuk menajamkan persepsi internasional dari para murid dan gurunya, dan juga untuk memajukan pengertian akan keanekaragaman budaya. Sang penulis percaya bahwa komunitas saja (ini yang dimaksud Cole-Baker dengan berbagai macam kebangsaan) tidaklah cukup untuk merangsang pertumbuhan pola berfikir yang mendunia di sebuah sekolah internasional; hal tersebut haruslah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kepentingan kita, tentunya dengan tidak mengesampingkan kekuatan dari kedekatan pribadi dalam pembentukan sikap. Sekolah yang memiliki murid dan karyawan dari berbagai warganegara namun tidak mengeksploitasi kekayaan budaya tersebut melalui sebuah kurikulum yang tertata apik, kurang pendekatan internasionalnya bila dibandingkan dengan sekolah lokal yang menggunakan berbagai macam cara untuk menangkap setiap kesempatan yang ada agar para murid dan karyawan dari sekolah tersebut berwawasan internasional.
Kesulitan inilah yang saya temukan dari pandangan umum pendidikan internasional Hayden dan Thompson (1996 p55). Dalam penelitiannya, mereka mensurvey lebih dari 3000 murid dan 300 guru sekolah-sekolah internasional dalam rangka mengidentifikasi ciri-ciri dari sebuah pendidikan internasional. Bahwa hanya sekolah-sekolah internasional saja yang di survey memberikan kesan hanya sekolah internasional yang memiliki pendidikan internasional. Kita mengetahui bahwa hal ini tidak benar adanya. Hasil penelitiannya dapat menjadi berbeda apabila beberapa sekolah lokal diikutsertakan dalam analisis finalnya. Keanekaragaman budaya dalam sebuah sekolah belum tentu menandakan adanya pendidikan internasional ( meskipun hal ini dapat mendukung), karena hal ini dapat digantikan. Hal tersebut merupakan salah satu contoh permasalahan dalam mencoba untuk mendefinisikan pendidikan internasional dan sekolah internasional kedalam satu bagian.
Dalam artikelnya di kemudian hari, Hayden dan kawan-kawan (2000 p120) menarik beberapa faktor yang diartikan oleh para murid dan guru sebagai hal-hal yang menyumbang kepada pengertian internasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwasanya banyak faktor penting yang dianggap berhubungan dengan cara berfikir. Dengan berfikir untuk menjadi internasional, orang-orang yang ditanyakan untuk mengidentifikasi karakteristik pendidikan internasional dalam sebuah sekolah akan memberikan respon yang beragam. Penelitian tersebut memberikan lebih banyak ciri ciri yang lebih akurat mengenai pendidikan internasional yang sebenarnya. Hal inilah yang mengubah pengertian para responden dari teori ke perbuatan.

BAGIAN INTI DARI PENDIDIKAN INTERNASIONAL: PEMAHAMAN KEANEKARAGAMAN BUDAYA

Kontak personal antara para guru dan murid yang berbeda warganegara di sebuah sekolah akan membawa para murid berhadapan langsung dengan keanekaragaman budaya. Agar pengalaman ini dapat berlanjut menjadi pemahaman keanekaragaman budaya, dibutuhkan agar hal ini dimasukkan ke dalam konteks kurikulum resmi. Disini para guru lebih memeperhatikan fakta bahwa perbedaan pendapat dapat terjadi yang dikarenakan oleh latar belakan budaya. Oleh karena itu ketika berdiskusi di dalam kelas para murid dapat memberikan contoh dari kebudayaan lain yang tidak terwakilkan di dalam kelas, kemudian bersama-sama menelusuri lebih dalam mengapa hal itu dapat terjadi. Para guru diharuskan untuk berlaku sensitif terhadap perbedaan budaya dan mampu mengarahkan diskusi agar murid-murid mengerti bahwa banyak terdapat perbedaan sudut pandang, meskipun hal tersebut asing bagi kepercayaan mereka dan meskipun mereka siap atau tidak untuk menerimanya. Berusaha untuk mengerti asal mula budaya dari perbedaan sudut pandang adalah hal yang mendasar dalam pemahaman keanekaragaman budaya, dan hal ini tidak seharusnya dibiarkan terjadi begitu saja.
Dimisalkan sebuah sekolah dengan kebangsaan yang homogen ( tidak berarti semua memiliki budaya yang sama) di suatu negara. Kontak informal diantara para muridnya belum tentu menjurus kepada pengalaman keanekaragaman budaya. Di sekolah tersebut seorang guru (dengan kebangsaan yang sama dengan para murid) ingin mendiskusikan sikap-sikap terhadap lansia sebagai bagian dari mempelajari kehidupan manusia. Sang guru membuat sebuah pelajaran yang menggunakan contoh-contoh bagaimana orang-orang di negara lain bereaksi terhadap lansia. Untuk itu para murid diminta untuk berhubungan secara rutin melalui e-mail dengan murid-murid lain di berbagai negara, orang-orang yang berbeda kebangsaan diundang ke sekolah untuk mendiskusikan topik ini, beberapa murid bahkan tinggal dengan orang tua angkat di negara lain untuk dua minggu dan meneliti lebih lanjut sudut pandang keluarga angkat mereka terhadap topik ini. Kelas ini menutup pelajarannya dengan mempelajari perbandingan sikap dan sudut pandang berbagai bangsa terhadap kaum manula (dan dengan kelompok umur yang berbeda). Kita tentu akan berkata “bagus sekali” kepada guru tersebut. Bukankah ini bagian penting dari pendidikan internasional? Tidak, karena hal ini belum lengkap. Landasannya memang sudah diciptakan tetapi elemen yang paling penting justru tidak ada; refleksi dan diskusi bagaimana perbedaan sudut pandang itu tercipta. Dengan membicarakan ini, para murid akan menemukan aspek sejarah, sosial, ekonomi dan politis atau akar kebudayaan itu sendiri. Hal inilah yang menjurus kepada pemahaman dan penghargaan terhadap sebuah perbedaant anpa harus menerimanya. Mencari tahu dari mana asal sudut pandang tersebut dan mengetahui mengapa sebuah kebudayaan memiliki sebuah kepercayaan juga sangatlah penting. Para murid butuh dibimbing untuk menggali lebih dalam kedua perbandingan tersebut, karena disanalah letak sesungguhnya jawaban dari pendidikan internasional. Apabila seorang guru mengambil langkah ekstra yang penting ini, maka sang guru tersebut telah menangkap kesempatan yang tercipta. Hasil yang serupa juga dapat diraih di sebuah kelas dengan beraneka ragam budaya, dimana jawaban-jawaban dengan muatan kebudayaan yang berbeda dianalisa secara sensitif, dirayakan dan didiskusikan bersama agar para guru dan murid dapat belajar dari satu sama lain. Diharapkan agar sekolah lokal dapat menggantikan keanekaragaman budaya yang tidak didapat dari para murid dan karyawannya seperti di sebuah sekolah internasional, dengan hal lainnya.

Bila di sekolah negara bagian yang sama menawarkan 3 program IBO secara keseluruhan dan bukannya menawarkan program nasional maka dapat dikatakan sekolah tersebut menganut filosofi pendidikan internasional yang dirumuskan oleh IBO. Bahkan bila sebuah sekolah menawarkan program campuran antara program IBO dengan program nasional dimana hal ini banyak dilakukan oleh sekolah-sekolah di negara bagian, maka sekolah tersebut telah mengambil langkah penting kearah penyediaan sebuah dimensi internasional yaitu dengan adanya muatan dan pendekatan internasional. Dalam kedua kasus ini dapat dikatakan sekolah tersebut berwawasan internasional. Kearah mana wawasan ini dapat ditingkatkan untuk dapat langsung mencakup seluruh populasi sekolah hal ini tentunya berkenaan dengan tingkatan dan pengaruh.

Jadi sekolah yang bagaimana yang dapat menyelenggarakan pendidikan internasional?
Dengan banyaknya tenaga pengajar dari berbagai kewarganegaraan di suatu sekolah, pesta makanan antar budaya atau dengan adanya perayaan hari-hari nasional, maka sekolah tersebut belumlah cukup untuk dapat dikatakan dan menyediakan pendidikan internasional. Hal ini dapat dikatakan tidak selayaknya bahkan merupakan indikator yang dangkal. Pemahaman tentang pendidikan internasional yang sebenarnya adalah justru lebih dalam lagi dari sekedar hal-hal yang telah disebutkan diatas. Indikator ini dapat menjadi penting dan bermakna bila sekolah menjadikannya sebagai fokus pembelajaran dan memasukkannya kedalam kurikulum yang formal berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan internasional seperti yang disarankan dalam diskusi terdahulu.
Charles Gellar, Direktur Sekolah-Sekolah Dasar berbahasa Inggris di Brussel, dan juga merupakan ‘Co-editor’ dari ISJ, mengusulkan logo ‘IB World School’ bagi sekolah-sekolah yang telah diakreditasi untuk mengajarkan 1 atau lebih dari program IBO. IBO baru-baru ini menggunakan idenya tersebut dan sekolah yang telah diakreditasi dapat memasang logo ini. Logo ini menandakan pendekatan secara filosofi dan pedagogi yang sejalan dengan prinsip IBO tentang pendidikan internasional dengan mengabaikan adanya komposisi staff pengajar dan siswa itu sendiri yang datang dari berbagai budaya.
‘IB World School’ merupakan sekolah yang berwawasan internasional- hal inilah yang berarti. Dan itulah pula gunanya konferensi sekolah-sekolah berwawasan internasional. Seperti telah dinyatakan diatas, kita seharusnya jelas bahwa sekolah-sekolah internasional tidaklah secara otomatis menyediakan pendidikan berwawasan internasional, walau banyak sekolah yang melakukannya. Kita juga harus sama jelasnya bahwa sekolah-sekolah nasional (baik di dalam negri maupun di luar negri) dapat saja menyediakan pendidikan berwawasan internasional. IBO dalam hal ini mewakili sekumpulan sekolah berwawasan internasional di seluruh dunia.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s