Beda ‘guru yang pintar’ dan ‘guru yang bodoh’

2009 Oktober 30

Terlalu Banyak Ide – “guru yang pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan di kelasnya. Sedangkan “guru yang bodoh”  mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan dalam usahanya membelajarkan siswa dengan cara yang menyenangkan sambil tetap mencari metode yang lain untuk diterapkan.

Miskin Keberanian untuk berubah memulai metode yang baru – “guru yang bodoh”  biasanya lebih berani dibanding  ”guru yang pintar”, kenapa ? Karena  “guru yang bodoh”  sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya,  “guru yang pintar”   terlalu banyak pertimbangan.

Terlalu Pandai Menganalisis – Sebagian besar “guru yang pintar”   sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide pembelajaran, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari teori, caranya sampai pengaruhnya dikelas .  “guru yang bodoh”  tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai dan menerapkan sebuah hal yang baru di kelas.

Ingin Cepat Sukses –  “guru yang pintar”   merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkan hasil pembelajaran yang sukses. Sebaliknya,  “guru yang bodoh”  merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.

Tidak Berani Mimpi Besar –  “guru yang pintar”   berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai.  “guru yang bodoh”  tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut  lain.

Berpikir Negatif Sebelum Memulai –  “guru yang pintar”   yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah gaya atau hal baru dalam hal pembelajaran, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan  “guru yang bodoh”  tidak sempat berpikir negatif karena harus segera memberikan yang terbaik bagi siswanya.

Maunya Dikerjakan Sendiri –  “guru yang pintar”   berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”, sedangkan  “guru yang bodoh”  menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus bekerja sama dan di bantu  elemen lain di sekolah. Misalnya orang tua sesame guru dan kepala sekolah.

Tidak Fokus –  “guru yang pintar”   sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara  “guru yang bodoh”  tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada pembelajaran di kelas dan pengembangan profesinya.

Tidak Peduli Konsumen –  “guru yang pintar”   sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen (orang tua siswa, siswa dan kepala sekolah).  “guru yang bodoh”  ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.

Abaikan Kualitas – “guru yang bodoh”  kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu (oleh orang tua siswa atau kepala sekolah) bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sedangkan  “guru yang pintar”   sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.

Tidak Tuntas – “guru yang pintar”   dengan mudah beralih dari kegiatan mengajar, karena menjadi guru hanya batu loncatan saja atau daripada tidak ada kerjaan yang lain. Hal ini dikarenakan  punya banyak kemampuan dan peluang.  “guru yang bodoh”  mau tidak mau harus menuntaskan dan berkonsentrasi pada pembelajaran dan pilihan profesinya saja sebagai guru.

Tidak Tahu Prioritas –  “guru yang pintar”   sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan.  “guru yang bodoh”  ? Yang paling mengancam kualitas pembelajaran dikelasnya lah yang akan dijadikan prioritas

Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas – Banyak  “guru yang bodoh”  yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berkarier sebagai pendidik. Dilain sisi kebanyakan  “guru yang pintar”   malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,

Tidak punya kecerdasan finansial – Se “guru yang pintar”   sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan keuangan untuk pengembangan profesi. Salah satu tandanya adalah uang tunjangan sertifikasi digunakan untuk membeli barang secara konsumtif, dan bukan dipakai untuk hal yang berhubungan dengan pengembangan profesi, seperti mengikuti workshop/seminar pendidikan , berlangganan internet atau membeli buku.

 

Mudah Menyerah –  “guru yang pintar”   merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan.  “guru yang bodoh”  seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut di kelasnya.

Disadur dari tulisan Bob Sadino

2 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Oktober 31

    guru bodoh lebih pede karena merasa masa bodoh dengan pa yang dilakukan dengan kebodohannya..

    menarik bu Rini, terkadang merasa bodoh malah membuat kita mau belajar lagi dan lagi

    • 2009 November 5
      totok permalink

      Tuhan ga pernah membedakan orang, orang itu sendiri yang memcoba membedakan orang yang satu dengan yang lain, apalagi membuat batasan antara bodoh dan pinter, apalagi seorang guru…saya yakin semua guru pinter nggak ada yang bodoh..semua guru baik nggak ada yang jahat… itu kalo kita percaya…kalo nggak ya nggak apa-apa…
      tulisannya bagus…lebih bagus lagi jika tidak mencoba melabeli diri sendiri apalagi teman-teman seprofesi…berbuatlah dengan iklas karena semua itu berasal dariNya..

      Thanks Pak Totok, sekali lagi ini hanya ‘gimmick’ tulisan yang saya buat berdasarkan artikel dari begawan kewirausahaan yaitu Om Bob Sadino. Terima kasih sudah mampir ya

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS