Mengambil inspirasi dari sebuah film, mari menyongsong tahun ajaran baru dengan optimisme.

2009 Juli 13

Sekarang saya ingin anda untuk merobek  halaman-halaman di buku itu. Ayo, robek  seluruh halaman. Anda mendengar saya, robek. Robek! Terima kasih Dalton. Ayo anak-anak, saya ingin memberitahu: tidak hanya halaman awal yang dirobek, robek juga seluruh halaman pengenalan. Saya ingin si pengarang pencipta buku ini pergi, pergi hingga tinggal sejarah.. Robek! Enyah, J. Evans Pritchard, Ph.D. enyah..pergi … Saya ingin mendengar apa-apa kecuali buku Mr.Pritchard yang terobek. Buku ini tidak berisi ayat suci. Anda tidak akan pergi ke neraka hanya karena ini.


Tokoh seorang guru yang bernama Keating dalam film ‘Dead Poets Society’  unik  karena dia tidak mengajar dengan cara dan metode yang umum diharapkan dari seorang guru yang konvensional.
Untuk banyak dari kita sebagai pendidik, berkaca pada pendekatan guru Keating mengajar, ia banyak sekali melakukan interaksi, memupuk antusiasme, beradaptasi, fleksibel,  fokus pada siswa sebagai pembelajar dan semangat untuk berubah dan maju.
Ia adalah seorang pengambil risiko. Kita memang tidak mungkin melakukan aksi robek buku seperti yang tergambar di film ini, namun mari kita  mendorong diskusi di kelas, melakukan analisis, evaluasi dan kreativitas – sebuah urutan tertinggi dari kegiatan belajar dan berpikir.
sumber:

http://www.bloglines.com/blog/andrewch?id=611

8 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Juli 15
    azizah permalink

    ga ngerti postingannya kali ini….

  2. 2009 Juli 16

    Abis copas doang. Gud, buat guru. Saya juga guru SD di daerah pedalaman, di NTB. Sekolah sy di bawah gunung gitu. Salam buat guru2 indonesia

  3. 2009 Juli 20

    kok susah dimengerti maksudnya ya….

  4. 2009 Juli 22

    pemikirannya beda yah, saya suka guru seperti itu :)
    memang seharusnya semua guru belajar dari film tersebut…

  5. 2009 Juli 25
    abuiza permalink

    Luar biasa sebuah terobosan baru..

  6. 2009 Agustus 6

    Sayang gak sempat nontont filmnya. Tapi resensinya di sebuah surat kabar beberapa tahun yang lalu sangat menginspirasi saya.

  7. 2009 Agustus 31

    Kalo itu dilakukan di Indonesia, mungkin guru tersebut dikatakan “stress”, kalo tidak gila hehehe. Tapi esensinya adalah bagaimana ilmu yang terkandung secara fisik dalam deretan huruf dalam berlembar2 kertas- yang bisa membuat “mual” tersebut dapat ‘dibumikan” atau “difahami” oleh siswa. Buku hanyalah sebuah media fisik yang masih memerlukan “proses” atau “metode” untuk memahami isinya. Dan itu sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang guru sebagai fasilitator atau motivator yang bisa menjadikan siswa menjadi mahkluk pembelajar :)

  8. 2009 September 12

    saya teuju sekali denagan pendekatan tersebut. karena kalau ingin menjadikan siswa yang kreatif seorang guru harus memiliki trobsan-trobosan yang berati bagi siswa-siswanya. kita harus bisa mengajak siswa untuk keluar dari zona nyaman, yang penting kita juga harus turut membimbing dan memotivasi siswa dengan baik.

    Setuju Pak Ahmad, sebagai guru kita memang mesti bisa memberi contoh berubah menjadi lebih baik

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS