3 jurus dalam melayani guru

Guru juga manusia. Semboyan ini banyak dikumandangkan saat kondisi sosial ekonomi guru ditelaah dan dibahas. Guru sebagai sebuah profesi punya bayak sisi untuk dibahas. Salah satu hal yang akan saya bahas adalah bagaimana sekolah melayani guru. Istilah melayani disini adalah memberikan guru hal-hal yang sesuai haknya sebagai tenaga professional, sebagai ujung tombak dari pembelajaran dikelas. Tugas sekolah sebagai institusi punya peranan dalam melayani guru. Hal ini disebabkan disekolah tempat guru bernaung dan berkarya sebagai pendidik.
Beberapa hal yang menjadi catatan dalam melayani guru antara lain;


1. Guru berhak dilatih bukan diberi ceramah.


Salah satu hal penting dalam melayani guru adalah meningkatkan kompetensi guru. Salah satu cara yang banyak ditempuh adalah melalui pelatihan atau penataran guru. Namun sayang kebanyakan yang terjadi adalah guru dijejali informasi terkini tanpa tahu bagaimana penerapannya dikelas. Gaya penyampaiannya pun ala kadarnya, selayaknya penyampaian diruang kuliah dan ceramah. Padahal, sebagai orang dewasa, guru pasti punya ambang batas untuk duduk diam dalam sebuah forum saat seseorang ‘pakar’ memberi wejangan. Sebagus apapun kabar atau ilmu yang dibawakan pakar itu akan kurang terasa manfaatnya apabila hanya disampaikan dalam komunikasi yang satu arah. Undanglah seseorang yang biasa membawakan pelatihan dalam bentuk yang membuat peserta aktif dan tidak membosankan serta bisa langsung diterapkan dikelas. Sebagai pengelola sekolah anda pasti tidak ingin mempunyai guru yang hanya ahli berkomunikasi dalam satu arah saja bukan?

2. Dinilai kinerjanya secara berimbang.


Organisasi yang baik baru akan menambah penghargaan atau rewards bila terbukti karyawannya menampilkan kinerja yang baik satu tahun penuh. Sebagai seorang professional guru butuh untuk dinilai secara professional dan berimbang. Bila ada kesalahan yang dibuat, segeralah tegur sambil melihat tempat dan waktu yang tepat, tanpa menunggu akhir tahun untuk mengungkapkan kekeliruan yang guru lakukan. Penilaian guru yang baik meliputi;
• Adanya criteria dan dokumen yang telah disetujui bersama
• Gunakan penilaian dari teman (peer assessor)
• Adanya proses wawancara, saat yang tepat guru memperlihatkan dokumen yang nantinya akan mendukung penilaian.
• Umpan balik diberikan secara tertulis.
• Observasi pembelajaran guru dikelas
• Areal yang diberikan penilaian antara lain; manajemen kelas, pengelolaan kurikulum dan penanganan perilaku siswa.

3. Suasana kerja yang mendukung.


Apakah guru dapat bekerja dengan baik? Apakah bahan ajar sudah diatur dengan baik. Walaupun sedikit, pengelolaan bahan ajar yang baik akan terasa manfaatnya. Apakah dibudayakan saling tegur, sapa dan salam. Sudahkan semua ruangan difungsikan sesuai dengan tempatnya? Dimana tempat guru bekerja, mengobrol dan bertemu orang tua siswa untuk urusan yang penting?

About these ads

12 thoughts on “3 jurus dalam melayani guru

  1. entah… tetapi di sekolah negeri, pola pikir pengelolanya masih terkooptasi dengan model pemikiran yang usang, bahwa guru adalah “pekerjaan” untuk mengahasilkan uang semata… sehingga fokus terhadap visi pendidikan menjadi buram…

  2. Tentu guru yang hanya berpikir bahwa bekerja untuk uang saja, bukan gambaran dari pribadi guru yang ini (Pak Agus,red). Tulisan beliau ini menggambarkan kalau beliau punya antusiasme pada visi pendidikan kita. Semoga makin banyak guru seperti itu di negeri ini. :)

  3. seyogyanya swasana kurang bagus begini diakhiri secepatnya……
    pekerjaan guru itu mulia sekali,
    di hargai di dunia juga
    dimuliakan di akherat, bukannya sebagian kecil tugas keNabian, dilakukan oleh Guru?

    tugas pemerintah, mensejahterakan harkat-martabat profesi,guru & keguruan
    tugas masyarakat, memberi & menyediakan potensi terbaik yang ada dengan nawaitu
    panggilan jiwa/hati, bukan asal-asalan.

    mutu guru, tergantung bobot,bibit bebet
    nya, jika masuk pabrik Guru itu lulusan terbaik SLTA/kejuruan,selama ini pilih masuk PTN/PTS bergengsi, beralih ke [IKIP], tentu 5 tahun kemudian lahirlah
    Guru-guru berkualitas tinggi ; bukan
    mereka tersisa dan terlempar dari keras nya kompetisi UMPTN/apalah namanya/atau
    ketimbang sulit nyari kerja mending jadi Guru..[tips/jurus merusak reputasi guru]

    tak ada kata terlambat, jika mau…ubah mindset guru Umar Bakri-ne Iwan Fals menjadi lebih layak secara ekonomis, tanpa harus menggadaikan mental idealismenya seorang pendidik.
    siapapun pejabat negeri ini berhutang
    sama pak & bu guru, apa mereka bersedia dibilang anak durhako..?

    guru juga butuh asupan gizi baik, sepertinya telah disajikan dengan bagus oleh Pak Sampurno…
    sekarang tinggal, bagaimana caranya melahirkan guru kaya Pak Sampuno-2 yang lain… begitu..barangkali ya….

    salam
    pangapunten jangan ada tersinggung lho

  4. yup yup yup…
    dan dalam point satu, guru perlu untuk mendengar bahwa mereka pribadi yang berharga. guru harus memiliki self concept yang benar tentang dirinya, secara, guru adalah leader di kelas, kalo sang leader tidak memiliki self concept yang benar, bahwa mereka pribadi yang berharga, layak dan wajib memiliki visi dan jadi pribadi yang selalu ingin berkembang…gimana murid2 yang dipimpinnnya di kelas…bukankah guru selain sebagai manager kelas juga sebagai pemimpin yang harus memberi inspirasi dan motivasi ke murid.

    sebagai murid, saya terinspirasi ketika guru saya, ‘haus’ membaca, menginformasikan hal-hal baru yang dia temui melalui jendela buku dan internet… itu bikin kami jadi ingin menemukannya sendiri… seru banget ketika guru kami bersemangat menanggapi hal-hal baru yang kami temui, atau sama-sama surfing di internet…

  5. ups… kita tarik ke akar deh… kalo ngobrolin leader, maka yang pertama harus jadi inspirator di skul adalah…eng…ing…eng…bapak ato ibu kepala sekolah.
    baru deh turun ke guru…lanjut ke murid…training buat kepsek perlu tuh Pak :)
    baru deh turun ke murid-murid…tapi kalo yang atas belum dapet konsep ini…gak masalah sapa yang bisa memulai…jadi guru yang inspire or student yang inspire sangat gak ada salahnya…

    semangat buat insan-insan indonesia!!!

  6. Salam, kenal. Saya sangat berbahagia bisa menjadi seorang pendidik (guru), tapi selama saya mengajar ketiga jurus yang bapak kemukakan di ‘3 jurus dalam melayani guru’ dibanyak sekolah sangat jarang dilakukan.
    Dan saya berharap semua pihak mau melakukannya demi semangat para guru di dalam melakukan tanggungjawabnya.
    Pak, saya juga baru punya blog, saya mau mempostingkan, artikel ini.

    Terimakasih jika diizinka.

    Salam sukses selalu Cikgu.

    cafestudi061.wordpress.com

    Salam sukses kembali Pak Maruli, silahkan memuat tulisan saya.

  7. Alhamdulillah, terimaksih buat rekan-rekan Bapak/Ibu Guru yang di muliakan. Mari kita membangun kekayaan khasanah tempat kita mengabdi dengan ketulusan hati menyumbangkan kekayaan milik kita masing-masing untuk berkooperatif menjadi kekuatan untuk kemajuan akselerasi profesianal sehingga visi pendidikan kita lebih jelas dan cepat di dapai. Penyelenggara pendidikan akan merespon dengan baik apabila kita optimal dalam menyumbangkan kekayaan profesional kita.

  8. Makanya justru di negeri ini sering terjadi penghinaan terhadap guru, padahal guru itu sudah berjuang untuk mencerdaskan anak didiknya. Siapa yang disalahkan kalau seorang siswa tidak bisa mengerjakan soal ujian, tentu saja tidak lain yang disalahkan gurunya. Jadi berlapang dadalah wahai bapak-ibu guru, berjuanglah tanpa berhenti untuk mencerdaskan bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s